Minggu, 11 Februari 2018

Islam Memuliakan Perempuan

Sudah terbit di: https://steemit.com/pelitaillahi/@puncakbukit/islam-memuliakan-perempuan

Halo, sahabat pembaca yang budiman.

Islam adalah agama yang bersifat rahmatan lil alamin. Artinya, Islam adalah rahmat bagi seluruh alam semesta. Tidak hanya manusia saja, melainkan hewan, tumbuh-tumbuhan dan makhluk hidup lainnya di luar bumi yang kita huni ini. Islam adalah agama yang sudah terbukti keotentikan dan kebenarannya dari dahulu hingga sekarang. Walaupun Islam adalah agama yang paling benar di muka bumi ini, kita tidak boleh memaksa orang kafir masuk Islam dengan jalan kekerasan (laa ikraha fid-din).

Islam adalah agama universal. Ada banyak pengetahuan yang tersimpan di dalamnya. Namun penulis menyadari bahwa dalam catatan ini, penulis hanya ingin berbagi pengetahuan agar hidup kita saling menyinari satu sama lain. Dalam catatan ini, penulis fokus pada satu hal, yaitu, “Islam datang untuk mengangkat derajat dan martabat kaum perempuan”.



Sekilas sejarah kelam derajat kaum perempuan

Sebelum masa kenabian, atau lebih tepatnya nabi Muhammad belum diutus menjadi Rasul, terdapatlah suatu kaum yang mulia, yaitu kaum Quraisy. Kaum ini disegani oleh penduduk kota Mekah, tempat Rasulullah dilahirkan.

Dahulu di kota Mekah, budaya yang mengerikan adalah para orang Quraisy menganggap punya anak perempuan akan terlihat sebagai aib dan kelemahan bagi sebuah keluarga di mata orang lain. Namun sebaliknya, orang yang punya anak laki-laki akan merasa bangga dan dianggap mulia oleh keluarga lain. Berhubung dulu adalah masa jahiliyah (masa kebodohan), maka jika ada seorang keluarga Quraisy yang melahirkan anak perempuan, anak perempuan tersebut tidak akan diberi nama oleh ayahnya. Melainkan yang memberi nama adalah ibunya. Dan apabila anak perempuan tersebut sudah sampai umur remaja, ia boleh dijual untuk dijadikan budak, kalau tidak mau ia boleh dibunuh.

Astaghfirulloh. Melihat dan membayangkan kelakuan keji tersebut memberikan kita pelajaran bahwa orang jahiliyah dulu sangat kejam. Namun itu adalah peristiwa yang terjadi di masa sebelum nabi diutus menjadi Rasul. Masa di mana cahaya Islam belum masuk ke lubuk hati orang-orang Quraisy Mekah. Di tengah kegelapan tersebut, Allah memberikan petunjuk kepada kaum Quraisy di Mekah melalui keberadaan nabi Muhammad yang membawa ajaran Islam.

Bersamaan dengan itu, derajat kaum perempuan tidak lagi direndahkan. Banyak ungkapan Islam yang memberikan gelar kemuliaan bagi kaum perempuan. Seperti contoh peran perempuan dalam pendidikan, seperti ungkapan, “Ibu adalah madrasah pertama bagi anak-anak di rumah”, dan ada juga ungkapan “Surga dibawah telapak kaki ibu”. Bahkan nabi Muhammad pernah bersabda bahwa seorang anak harus mematuhi ibunya dengan panggilan tiga kali baru mematuhi ayahnya.

Persoalan warisan perempuan yang hanya separuh dari pria

Masalah pembagian warisan yang di dalam Al-Qur’an berupa “Perempuan mendapatkan separuh dari bagian laki-laki” adalah masalah yang seringkali muncul dan dianggap mengganggu bagi kehidupan kaum hawa, dan hal ini adalah wajar. Maka dari itu, penulis hendak mencoba memberikan solusi dan pencerahan, dengan harapan bisa membuat kaum hawa men-syukuri “bagian yang hanya separuh dari pria” sebagaimana disebutkan dalam Alqur’an. Jadi, begini. Kita tahu bahwa dalam Islam, seorang wanita tidak memiliki kewajiban keuangan, sehingga tanggung jawab ekonomi terletak di pundak seorang pria. Sebelum seorang wanita menikah, adalah tugas dari ayah atau saudaranya untuk mengurusi kehidupan, pakaian, dan kebutuhan keuangan dari wanita itu.

Setelah dia menikah, itu menjadi tugas dari suami atau anak laki-lakinya. Dalam Islam, prialah yang bertanggung jawab secara finansial untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Untuk dapat memenuhi tanggung jawab itu, maka laki-laki mendapatkan dua kali lipat bagian warisan. Sebagai contoh, jika seorang pria wafat meninggalkan sekitar $ 150.000, dan meninggalkan dua orang anak (yaitu satu putra dan satu putri). Jadi putranya mewarisi $ 100.000 dan putrinya hanya $ 50.000. Dari $ 100.000 yang diwarisi putranya, sebagai tugasnya terhadap keluarganya, ia mungkin harus menggunakan uangnya hampir seluruh jumlah atau katakanlah misalnya sekitar $ 80.000, dan dengan demikian hanya tersisa $ 20.000 dari warisan untuk dirinya sendiri.

Di sisi lain, seorang putri, yang mewarisi $ 50.000, tidak bertanggung jawab untuk menggunakan sepeser pun pada siapa pun. Dia bisa menyimpan seluruh uangnya untuk dirinya sendiri. Apakah Anda lebih suka mewarisi $ 100.000 dan membelanjakan $ 80.000 dari itu, atau mewarisi $ 50.000 dan semuanya untuk Anda sendiri?

Di samping itu pula, penulis masih ingat jawaban Dosen yang saat mengajar kuliah di kelas tentang masalah “mengapa perempuan hanya dapat bagian separuh dari laki-laki?” dan jawabannya saya catat dan ingat sampai sekarang ini. Jawabannya atas permasalahan “mengapa perempuan hanya dapat bagian separuh dari laki-laki?” adalah kita harus melihat sejarah sebelum Islam.

“Jika tidak ada Islam, tentu derajat dan martabat perempuan akan selalu rendah dan direndahkan. Seperti di kubur hidup-hidup saat remaja seperti kisah sahabat Umar bin Khottob yang mengubur anak perempuannya sebelum masuk Islam. Jika tidak ada Islam, perempuan akan dijadikan budak seksual bagi manusia yang hanya berfikiran hawa nafsu tanpa aturan pernikahan yang sah”.

Semoga bermanfaat bagi kaum hawa. Wallohu a’lamu bishowab.

Penulis: Abdullah Muis
(Kirim pesan ke penulis)

Sumber gambar:
https://pixabay.com/en/model-women-s-islam-muslim-2649605/

Rabu, 20 Desember 2017

Cara Wanita Muslim Terhormat Menyikapi Berjabat Tangan Dan Bersentuhan ( Part 2 )

Sudah terbit di: https://steemit.com/pelitaillahi/@puncakbukit/cara-wanita-muslim-terhormat-menyikapi-berjabat-tangan-dan-bersentuhan-part-2

Contoh Dan Cara Menyikapi Berjabatan Tangan Para Wanita Muslim Terhormat


Gambar 1. Berjabat Tangan

Dan dari keseluruhan pandangan tersebut dalam pembahasan di artikel sebelumnya, dapat diketahui bahwa berjabatan tangan pada yang bukan mahram dengan usia muda tentu sudah pasti dilarang, namun untuk berjabat tangan dengan ayah, saudara laki - laki, paman sudah tentu diperbolehkan sebab termasuk mahramnya. Memang untuk menerapkan kebiasaan baru seperti ini tidaklah terlihat mudah, tetapi tidak ada salah dan ruginya jika kita mencoba, awalnya pasti akan terasa canggung dan terasa memperlakukan orang dengan tidak baik dan tidak enak hati. Tetapi cobalah pikirkan kembali anda selalu saja memikirkan perasaan yang segan kepada seseorang, coba sekali - kali anda pikirkan rasa segan anda ketika anda tidak menjalankan sabda Rasulullah, jadi sekarang lebih berat segan yang mana ?. Lantas bagaimana cara wanita muslim untuk menyikapi kebiasaan ini, karena aktivitas yang dilalui setiap harinya pasti mendorong wanita untuk melakukan kebiasaan ini, seperti :

  1. Saat dihadapkan pada situasi pertemuan dengan orang yang lebih tua
    Misalnya saja ketika berpapasan dengan guru di sekolah, sebagai seorang siswi pasti mengucapkan salam serta salim sebagai bentuk menghormati guru.

  2. Saat dihadapkan pada situasi pertemuan dengan orang yang lebih senior atau atasan
    Misalnya saja ketika situasi wawancara kerja, saat pertama kita disambut datang keruangannya maka pewawancara secara otomatis akan mengulurkan tangannya, sebagai bentuk dari etika kesopanan maka pasti anda akan menyambut uluran tangannya dan berjabatan tangan.

  3. Saat datangnya hari besar
    Misalnya ketika datangnya hari Raya Idul Fitri, maka tradisi ini pun sulit dihindari setiap orang akan datang dan saling berjabatan tangan, yang pada umumnya tanpa disadari berjabat tangan tanpa melihat batasan mahramnya.

  4. Dan contoh lainnya yang juga mesti dihindari dalam lingkungan pergaulan yang masih termasuk ke dalam jenis sentuhan yaitu menggoda, yang kemudian akan berlanjut pada tindakan menyentuh bagian tangan dan juga merangkul.

Maka dari itu untuk menjauhi hal - hal tersebut sebaiknya anda sebisa mungkin menghindari suatu kegiatan yang menuju pada kebiasaan bersentuhan, seperti apabila anda dihadapkan pada sebuah situasi untuk melakukan tradisi berjabat tangan anda bisa saja langsung memposisikan kedua telapak tangan anda dengan mensedekapkannya. Seperti pada kebiasaan model berjabat tangan orang jawa, tetapi bedanya posisi tangan tetap dan tidak dimajukan kepada orang yang bersalaman, pada umumnya orang tersebut akan mengerti jika anda tidak bisa berjabatan tangan dengan yang bukan mahramnya.

Atau jika anda masih merasa sungkan dengan kebiasaan ini cobalah untuk membiasakan berjabatan tangan dengan cara yang cepat terlebih dahulu, kemudian berikanlah penjelasan dengan tegas dan sopan dan jika perlu jelaskan secara diplomatis.
Selamat mencoba menjalankannya sahabat, salam wanita muslim terhormat.

Oleh : Ayuni Sena
(Kirim pesan ke penulis)

Referensi :
1. https://rumaysho.com/10109-hukum-berjabat-tangan-dengan-lawan-jenis.html
2. https://rumaysho.com/11415-menolak-jabat-tangan-dengan-lawan-jenis-pada-hari-raya.html
3. https://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090608065628AAv56TB

Sumber Gambar :
https://pixabay.com/id/matahari-terbenam-matahari-terbit-1938201/
 
Template designed by Liza Burhan