Senin, 29 Desember 2014

Ciptakan Keluarga Idaman dengan Ibadah Berjamaah


Tulisan sudah dipindah ke Pendidikan Anak.

Kamis, 18 Desember 2014

Tanda-tanda Taubat yang Diterima

Bertaubat yang sempurna adalah taubat yang dibarengi dengan menyampaikan alasan dilakukannya perbuatan dosa. Yang dimaksud dengan penyampaian alasan di sini adalah kita hendaknya mengatakan dalam hati dan lisan ungkapan-ungkapan yang mengandung makna keterusterangan mengenai jati diri kita sendiri.

Tanda-tanda taubat yang benar dan diterima oleh Allah SWT diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Orang yang bertaubat, perilakunya akan meningkat daripada sebelumnya.
  2. Hidupnya senantiasa dihantui oleh perasaan takut akan siksa Allah, dan sebagai balasannya, pada hari kiamat perasaan takutnya itu akan berubah menjadi kebahagiaan , malaikat berkata, “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS. Fushilat:30).
  3. Sering menangis di hadapan Allah SWT.
    Hancurnya hati kita tatkala mengenang dosa-dosa kita kepada Allah merupakan indikasi bahwa taubat kita akan diterima, karena dengan demikian kita akan merasa rendah dan hina di hadapan Allah Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa, dan Allah SWT sangat mencintai hamba-Nya yang merasa rendah di hadapan- Nya. Umar bin Dzarr mengatakan,” semua kesedihan itu adalah musibah, kecuali kesedihan orang yang bertaubat dari dosa-dosanya.”
  4. Jika berdosa, ia akan merasakan hidupnya begitu sempit.
    Hal ini seperti peristiwa yang menimpa tiga sahabat Nabi Saw, yang mangkir dari perang Tabuk, kemudian mereka merasa berdosa dan terbebani hidupnya selama taubat mereka belum mendapatkan keputusan dari Allah SWT. Hal ini sebagaimana diungkapkan Al Quran, “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allahlah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. At Taubah:118)


  5. Menjauhi orang-orang yang buruk perangainya.
    Orang yang telah bertaubat kemudian dia tidak bisa menghentikan kebiasaannya untuk bergaul dengan orang-orang yang berperangai buruk, maka taubatnya tersebut menjadi sia-sia. Bahkan mungkin mungkin akan terjebak kembali kepada dosa yang telah dilaluinya, bahkan bisa jadi dia termasuk kepada golongan hamba yang berdusta atas janjinya.

    Syaqiq Al Balkhi mengatakan, “Tanda taubat yang benar itu adalah menangis atas dosa yang pernah dilakukan, takut terjerumus kembali ke dalam lembah dosa, menjauhi orang-orang yang buruk perangainya, dan senantiasa bergaul dengan orang-orang terpilih atau shaleh.”

Taubat yang terbaik adalah taubat “Nashuha”, yaitu taubat yang dapat mengubah kebiasaan buruk kita, sehingga kita tidak terjerumus untuk kedua kalinya dalam lembah dosa. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa taubat Nashuha dapat diidentifikasi dengan tiga hal. Yaitu pertama, bertaubat atas seluruh dosa yang pernah dilakukan selama hidup tanpa pilih-pilih. Kedua, berjanji dengan sejujur-jujurnya untuk tidak kembali melakukan dosa. Ketiga, menetralisir taubat kita dari berbagai unsur yang dapat merusaknya.

Artinya kita tidak boleh bertaubat dengan tujuan untuk menggapai kebutuhan duniawi kita, seperti kedudukan, kehormatan di mata umum, kekayaan, atau untuk menghindari penghinaan yang dilontarkan oleh orang lain, dan lain sebagainya. Apabila ketiga hal ini dapat kita realisasikan, maka dipastikan taubat kita tersebut merupakan taubat yang paling sempurna.

Oleh : Dodi Budiana
Sumber:
Buku Beribadah dengan Hati Nurani karya Muhammad bin Hasan Tahdzib Madarik As Salikin, h 178-179
Sumber Foto: Majalah Bulanan Ummi ,edisi bulan juli 2010

Selasa, 16 Desember 2014

Mendidik Anak dengan Berenang, Menunggang Kuda, dan Memanah


Tulisan sudah dipindah ke Pendidikan Anak.

Senin, 10 November 2014

Mengenal Tanah Haram Mekah

Kita sering mendengar istilah Tanah Haram, mungkin ada yang bertanya, kenapa justru di Tanah Haram rangkaian ibadah haji dilakukan dan munajat seseorang dengan mudah dikabulkan Allah SWT. Tanah Haram berarti tanah yang disakralkan atau tanah suci. Yang terdiri dari dua tempat. Mekah dan Madinah.

Tanah Haram Mekah luasnya kurang lebih 350 km2, dengan titik pusat kota Mekah. Sesuai dengan tradisi di sana, penguasa di kerajaan Arab Saudi digelari Khadimul Harain (Pelayan dua tanah suci). Kenapa tanah Haram diistimewakan umat islam? Di mana batas-batas Tanah Haram.

Diriwayatkan, Mekah merupakan kota yang pertama kali ada di bumi. Menurut catatan sejarah Islam, di sinilah manusia pertama, Nabi Adam alaihi salam, diturunkan dan hidup bersama pasangannya Siti Hawa, ketika Nabi Adam bar tinggal di Mekah, ia memohon kepada Allah SWT agar diselamatkan dari iblis yang telah mencelakakannya di surga.

Doa Nabi Adam terkabul, dan kemudian Allah menurunkan para malaikat untuk turun ke bumi untuk melindungi tempat Nabi Adam tinggal dengan tujuan utama menjaga agar iblis tidak dapat mencapainya. Sekarang tempat malaikat berjaga itulah yang selanjutnya menjadi batas-batas Tanah Haram, yakni arah utara Masjidil Haram 7 km, selatan 13 km, barat 25 km, dan timur 25 km.

Versi lain menyebutkan, seperti yang ditulis Abbas Zarrah dalam buku Mekah Maktabah Markaz Al Haramain At Tijari, batas-batas tanah haram sebagai berikut. Pertama, dari arah Jedah adalah Hudaibiyah, 16,1 km dari Ka’bah. Kedua, dari arah Madinah adalah Tan’im, 6,4 km dari Ka'bah. Ketiga, dari arah Thaif adalah Arafah, 17,7 km dari Ka'bah. Keempat, dari arah Ja’ranah sampai kampung Syi’ib Abdullah Ibnu Khalid, 14,5 km dari Ka'bah. Kelima, dari arah Irak adalah Tsaniyah Al Khal, 11,3 km dari dari Ka’bah. Keenam, dari arah Yaman adalah Adhah, 9,7 km dari Ka'bah.

Dalam tarikhnya, hingga tahun 8 Hijriyah (623 Masehi), Mekah masih bisa ditempati atau dikunjungi oleh orang-orang Nasrani, Yahudi ataupun Non Muslim lainnya. Namun karena orang-orang kafir banyak yang melakukan tindakan- tindakan munafik, ingkar janji dan memusuhi serta menodai syi’ar Islam. Maka sama sekali mereka dilarang masuk Islam setelah tahun 9 Hijriyah.


Ka’bah di Masjidil Haram

Perintah di atas dilandaskan pada firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis (jiwanya dianggap kotor karena mempersekutukan Allah) maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram sesudah tahun ini (9H).” (QS. At Taubah :28).

Selain alasan historis tersebut, Tanah Haram menjadi istimewa karena di tempat inilah Allah menetapkan Ka'bah dan Masjidil Haram dibangun dan Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Masjidil Haram tercatat sebagai masjid tertua di dunia yang dibangun oleh Rasulullah. Masjid ini berbentuk empat persegi dan dibangun mengelilingi Ka'bah serta ditetapkan menjadi kiblat shalat bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Dan yang tidak boleh dilupakan, di kawasan Tanah Haram ini adanya larangan memburu binatang, dilarang merusak pepohonan, tanah dan batunya tidak boleh dibawa keluar area, serta non muslim tidak boleh memasukinya.

Oleh : Dodi Budiana
Sumber naskah:
-Ensikopedia Sejarah Islam
-Al Quran
-Abbas Zarrah dalam buku Mekah Maktabah Markaz Al Haramain At Tijari
-Majalah variasari edisi bulan juni 2006
Sumber Foto:
Majalah Variasari edisi bulan juni 2006

Jumat, 07 November 2014

Memahami Sisi Medis Shalat

Bila kita kaji lebih jauh, shalat yang diamanatkan Allah kepada para nabi-Nya itu bukan sekedar gerakan dan bacaan. Gerakan dan bacaan itu, sengaja dikreasi dengan penuh keseimbangan. Dalam setiap gerakan dan bacaannya, kaya akan khazanah kekuatan supranatural, terapi kesehatan, dan hukum syar’i.

Kaum sufi, ahli fiqih, dan pakar medis, bila diminta bicara tentang shalat, tentu akan berlainan sudut pandangannya, walau tidak saling bertentangan. Mereka bicara berdasarkan ilmu dan pengalaman spiritual masing-masing. Kaum sufi mungkin akan berbicara metafisis dan bathiniyah. Menurut kaum sufi, shalat merupakan wahana meditasi dan penyegar atas dahaga rohani. Ia bisa memejamkan mata hati, shalat juga momen penting berhadapan dengan Sang Pencipta.

Ahli fikih berbicara lain, shalat akan sah bila gerakannya sesuai dengan kaidah fikih. Satu saja gerakan shalat hilang. Maka batal shalatnya. Bacaan shalat juga sudah diatur, dimulai ucapan takbir, sampai bacaan salam. Gerakan dan jumlah rakaat dalam shalat mutlak tidak bisa kurang atau lebih.

Gerakan shalat sangat unik dan menyehatkan. Diinspirasi gerakan shalat itu, kemudian muncul senam ergonomik yang mirip dengan gerakan shalat. Setelah senam ini, biasanya dilakukan pemijatan, hingga pegal dan linu berkurang. Gerakan senam ini, menjamin kesehatan seumur hidup. Begitulah shalat, selalu menginspirasi banyak hal.

Gerakan shalat melenturkan urat saraf, mengaktifkan kelenjar keringat, dan sistem pemanas tubuh. Diawali dengan takbiratul ihram, dengan mengangkat kedua tangan sejajar bahu. Gerakan ini membuka dada dan menarik nafas untuk mengaliri darah dari lengan ke otak, mata, dan telinga, sehingga terjadi keseimbangan tubuh. Dilanjutkan bersedekap dengan menjepit pembuluh darah balik di lengan kiri. Gerakan ini, mencegah pengapuran pada pergelangan tangan, karena di sini banyak saraf sensorik dan motorik.


Shalat merupakan wahana meditasi dan penyegar

Saat ruku, telapak tangan diletakkan di atas lutut. Bila dilakukan dengan tenang dan maksimal akan merawat kelenturan tulang belakang yang berisi sumsum tulang belakang sebagai saraf sentral manusia. Ruku juga memelihara tuas sistem keringat di punggung, pinggang, paha, dan betis belakang. Tulang leher, tengkuk, dan saluran saraf memori dapat pula terjaga kelenturannya dengan ruku.


Ruku memelihara tuas sistem keringat di punggung, pinggang, paha, dan betis belakang. Tulang leher, tengkuk, dan saluran saraf memori.

Saat berdiri dari ruku, mata kita tetap menatap ke tempat sujud. Saat berdiri dengan mengangkat tangan, darah dari kepala akan turun, sehingga tekanan darah ke otak berkurang. Ini berguna menjaga saraf keseimbangan dan pencegah pingsan tiba-tiba. Kemudian ketika sujud, kepala kita berada di bawah, itu berarti posisinya lebih rendah dari jantung. Dengan posisi seperti itu, darah segar mengalir deras ke otak, mata, telinga, pundak, dan leher.

Otak kita butuh oksigen secara kontinyu,. Dengan sujud , berliter-liter darah yang membawa oksigen masuk ke otak. Sujud juga mencegah sumbatan pembuluh darah ke jantung. Resiko terserang jantung koroner dapat kita cegah dengan sujud yang optimal. Setelah itu ada duduk diantara dua sujud, gerakan ini menyeimbangkan sistem elektrik dan saraf tubuh. Kelenturan saraf paha bagian dalam, cekungan lutut, cekungan betis, sampai jari kaki ikut terjaga.

Oleh : Dodi Budiana
Sumber : Majalah Bulanan Variasari edisi bulan oktober 2006
Sumber Foto : koleksi foto M Husen, Majalah Variasari

Kamis, 06 November 2014

Kecanggihan Terapi Ikhlas

Judul Buku : Terapi 1 Menit
Penulis : ABU ZIYAD HSDS
Penerbit : Internusa Publishing
Tahun Terbit : Januari, 2013
Halaman : xi + 158 halaman

TERNYATA masalah yang kita hadapi saat ini baik itu fisik maupun emosi adalah kenangan yang masa lalu yang muncul kembali, dia datang dengan memberi kita satu kesempatan lagi untuk menyikapinya dengan cara yang lebih baik.

Saat anda mulai mencari solusinya, jawaban anda bisa muncul dari dua sumber, yaitu dari pengalaman anda (memori masa lalu) atau dari inspirasi (masa depan) yang berasal dari Allah. Inilah makna yang digagaskan penulis dalam sebuah bukunya yang berjudul “Terapi 1 Menit.” Buku mini ini memiliki ukuran Panjang 15 cm dan lebar 10. Dalam bukunya Abu Ziyad HSDS berusaha menghadirkan sebuah rahasia kesembuhan penyakit Emosi dan Fisik dalam waktu 1 menit dengan sebuah keajaiban Ikhlas dan EFT (Emotional Freedom Technique).

Di zaman yang serba modern ini banyak sekali lembaga-lembaga yang berlomba untuk menyembuhkan segala penyakit dan tempat pengaduan segala keluhan-keluhan yang sedang dialami, baik itu ke rumah sakit, klinik, tempat praktik kesehatan herbal maupun tradisional yang sudah menjadi hal yang lumrah kita saksikan dari setiap media massa baik televisi maupun majalah.



Berbeda hal nya dengan sang motivator spiritual Abu Ziyad ini, ia berusaha mengais keberkahan hidup, kesembuhan penyakit, dan penyakit hati dari sebuah teknik simpel dan menarik yaitu Quantum Ikhlas dan teknik pengontrolan emosi. Karena sejatinya penyakit itu tidak hanya disebabkan oleh makanan atau kecelakaan fisik melainkan juga bisa disebabkan kurangnya spiritualisme setiap individu dan juga krisisnya hati untuk menjadikan ikhlas dan Allah adalah penolong utama yang luar biasa hebatnya.

Teknik EFT (Emotional Freedom Technique) terbagi atas tiga bagian yaitu : The set up atau kalimat pasrah, Tune In atau fokus pada masalah, Tapping atau menetralisir gangguan emosi. Ini adalah sebagian kecil teknik yang difokuskan penulis dalam bukunya. Bahwasanya penyakit hati atau fisik dapat disembuhkan dengan menguasai Quantum ikhlas.

Sesungguhnya hal yang paling menarik yang penulis ciptakan yaitu, buku ini dilengkapi dengan contoh kasus penyembuhan EFT dan bagaimana supaya menjadi insan yang senantiasa Ikhlas menghadapi cobaan, hadis-hadis yang relevansi untuk di konsumsi, Serta tata cara mempraktikkan terapi dengan metode gerakan yang cukup ringan. Teknik Ikhlas sejatinya telah mampu mendobrak kecanggihan ilmu kedokteran yang sudah mapan saat ini. Hanya saja kita kaum muslimin kurang yakin dan percaya tentang mujarabnya sifat ikhlas. Seandainya saja kita semua bisa memahami ikhlas dengan sepenuh hati maka tidak ada lagi kesedihan dan tidak ada lagi emosi yang berpotensi menimbulkan penyakit hati dan fisik.

Menarik untuk dicermati bila kita berbicara tentang ikhlas, ikhlas dalam hati, perbuatan dan perkataan memang kelihatan ‘sepele’ tapi sulit diaplikasikan dalam kehidupan. Contoh dari teknik ikhlas yang penulis angkat dalam bukunya yaitu: “ Ya Allah... meskipun saya cemas karena dikejar-kejar hutang, saya ikhlas menerima kecemasan saya ini, saya pasrahkan kepada Mu, ketenangan hati saya dan solusi dari masalah saya ini.” (hal. 44). Sekelumit statement ikhlas yang dilisankan ketika mendapat cobaan, yang sekaligus bisa diterapkan dalam kehidupan kita, karena dengan ikhlas solusi dari Allah akan muncul, karena ketika kita ikhlas kita berdamai dengan diri kita sendiri, dan karena saat kita ikhlas keajaiban Allah akan mulai bekerja.

Buku mini penuh inspirasi ini sangat menarik untuk dipelajari dan dimiliki oleh semua kalangan, dengan cerdas penulis berusaha menghadirkan gagasan-gagasan penting yang disajikan dalam literatur bahasa yang renyah dan nikmat untuk dinikmati. Pembaca tidak akan bosan dan juga khawatir atas masalah yang kian menjenuhkan dan melelahkan, pasalnya cukup dengan membaca buku Terapi 1 menit ini akan membuka alam bawah sadar kita bahwa Allah telah memberikan cobaan dengan solusi yang benar-benar ada jalannya dan mendapat berkah dari Nya jika kita ikhlas dan ridho menjalaninya. Tidak perlu menghabiskan uang yang banyak untuk bisa sembuh dari penyakit. Buku dengan 23 bab dan 158 halaman ini sangat dapat memberi kita pengetahuan dan dorongan yang sifatnya persuasif bahwa setiap masalah datangnya tidak ada maksud lain kecuali untuk menguji dan mengangkat kehidupan kita. “Mintalah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan sholat. Sesungguhnya hal itu adalah berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” (QS. Al Baqoroh : 45)

Oleh : Ade Sundari

Kamis, 30 Oktober 2014

Bagaimana Hukum Euthanasia?

Sebelum mengulas lebih dalam mengenai Euthanasia, akan dipaparkan terlebih dahulu pengertian dari Euthanasia. Euthanasia dapat diartikan suatu tindakan menghilangkan nyawa manusia dengan sengaja tanpa merasakan sakit, di mana didasari dengan rasa kasih sayang. Adapun tujuannya untuk meringankan sakit yang dialami si penderita. Dalam bahasa arab Euthanasia disebut “qatl rahmah” yakni membunuh karena kasih sayang.

Euthanasia ini dapat dibagi menjadi tiga macam di antaranya euthanasia agresif (al – fa’al), euthanasia pasif (al – munfa’il), lalu euthanasia non agresif. Yang pertama, Eutanasia Agresif (al – fa’al) yakni suatu perbuatan yang dilakukan secara sengaja oleh ahli medis untuk menyudahi hidup si pasien atau si penderita, dengan menyuntikan zat – zat mematikan ke tubuh pasien, memberinya obat – obatan secara overdosis, atau obat – obatan yang mematikan. Di mana eutanasia pada bentuk ini, dipecah menjadi dua :

  1. Hukumnya haram apabila tanpa persetujuan pasien dan sangat bertentangan dengan kemauan pasien. Bahkan tindakan tersebut teramat bertentangan dengan firman Allah SWT berikut :

    “Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar.” (QS. Al Israa : 33).

    Dari paparan ayat tersebut, bahwa nyawa manusia adalah suci dan tak boleh melenyapkan kecuali dengan alasan yang sesuai dalam syariat Islam, layaknya orang yang murtad dan dalam hukum qishas, lalu hukuman rajam bagi muhsan (sudah menikah) yang berzina. Sebaliknya membunuh pasien yang dilandasi kasih sayang, tidak masuk dalam kategori tersebut, maka dapat dikatakan perbuatan yang haram. Perlu diingat juga, bahwa yang menghidupkan dan mematikan hanya Allah SWT seperti dalam firmanNya :

    “Allah menghidupkan dan mematikan. Dan Allah melihat apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Ali Imran : 156).

  2. Dengan persetujuan atau keinginan pasien sendiri, yakni seorang pasien yang memiliki sakit keras, sedangkan si pasien sudah tak sanggup lagi menahannya dan meminta dokter untuk segera menyudahi hidupnya. Perbuatan ini tergolong haram karena termasuk tindakan bunuh diri. Dan juga bertentangan dengan firmanNya :

    “Hai orang – orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu, dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu, dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (Qs. An Nisa’ : 29).

Kemudian yang kedua Euthanasia Pasif (al – munfa’il) adalah tidak dilakukan langkah – langkah aktif secara medis yang diharapkan dapat memperpanjang hidup pasien. Maka hal ini seharusnya dilihat dulu. Tindakan ini diambil oleh ahli medis seusai berbagai upaya yang dilakukan terhadap pasien. Namun tak ada tanda – tanda perkembangan dari pasien serta harapan yang pasti, maka ahli medis tak melakukan langkah – langkah selanjutnya, kecuali menyerahkan urusannya hanya kepada Sang Khalik. Berikut alasan atas tindakan ini :

  • Dokter sudah melakukan segala upaya, dan Allah tidak membebani seseorang melewati batas kemampuannya.
  • Tak ada niatan untuk membunuh si pasien, kecuali menyerahkan urusan tersebut hanya kepada Allah SWT.

Dan yang terakhir Euthanasia Non Agresif yaitu si pasien menolak secara terang – terangan mengenai perawatan medis. Hal ini harus dilihat dulu berikut :

  • Apabila seorang pasien merasa putus asa hingga ia menolak segala bentuk perawatan medis, maka digolongkan perbuatan haram karena termasuk perbuatan bunuh diri.
  • Namun jika pasien menolak perawatan, dikarenakan ia meyakini jika kesembuhan bisa didapat karena Allah dan bertawakal kepada Allah semata, dan tak ada sama sekali niat untuk mengakhiri hidup, perbuatan ini dibolehkan dalam Islam. Perlu disampaikan juga, bahwa hukum berobat atas penyakit sendiri masih diperdebatkan oleh para ulama. Ada yang mengatakan mubah hukumnya, mustahab, bahkan sebagian kecil mengatakan wajib.

Oleh : Ardan Esand
Sumber : Majalah Islam Ar – Risalah Edisi 89 Vol. VIII No.5

Rabu, 15 Oktober 2014

Amalan yang Dianjurkan pada Bulan Dzulhijjah

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan dari bulan haram dalam islam. Pada bulan ini terdapat beberapa hari tasyrik dan hari-hari yang memiliki keutamaan besar. Amal-amal sholeh yang dilaksanakan di bulan ini sangat dicintai oleh Allah Swt. Banyak amal sholeh yang bisa kita laksanakan di bulan ini. Namun, amal sholeh yang secara khusus dianjurkan untuk dilaksanakan oleh setiap mukmin/mukminah di bulan ini adalah:

Puasa Sunnah

“…puasa hari arafah, saya berharap kepada Allah agar menjadikan puasa ini sebagai penebus (dosa, pen.) satu tahun sebelumnya dan satu tahun setelahnya..” (HR. Ahmad dan Muslim).

Amalan pertama yang dianjurkan untuk dilaksanakan di bulan Dzulhijjah adalah puasa sunnah, yakni puasa Arafah. Puasa Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah, bertepatan ketika jamaah haji sedang melaksanakan wukuf di Arafah. Puasa ini disunnahkan bagi mereka yang sedang tidak melaksanakan ibadah haji. Sedangkan bagi mereka yang sedang haji (wukuf di Arafah) dianjurkan untuk berbuka.

Memperbanyak Amal Shalih

“Tidak ada hari di mana suatu amal salih lebih dicintai Allah melebihi amal salih yang dilakukan di sepuluh hari ini (sepuluh hari pertama Dzulhijjah, pen.).” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, termasuk lebih utama dari jihad fi sabilillah? Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Termasuk lebih utama dibanding jihad fi sabilillah. Kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad), dan tidak ada satupun yang kembali (mati dan hartanya diambil musuh, pen.).” (HR. Bukhari, Ahmad, dan At-Turmudzi).

Amal shalih di sini sifatnya sangat umum. Yaitu semua kebaikan yang memang diniatkan semata untuk mendapatkan ridho dari Allah swt semata. Seperti sedekah, tilawah Al quran, menuntut ilmu, berbagi ilmu, berwajah cerah, dan kebaikan-kebaikan lainnya.

Sholat Sunnah Iedul Adha

“Laksanakanlah salat untuk Rab-mu dan sembelihlah kurban.” (QS. Al-Kautsar: 2).

Ummat islam memiliki dua hari raya, yakni Iedul Fitri dan Iedul Adha. Iedul Adha dikenal juga dengan sebutan hari raya qurban. Karena pada hari tersebut, ummat islam diperintahkan untuk menyembelih hewan Qurban. Pada pagi hari raya, ummat islam diperintahkan untuk melantunkan takbir dan menunaikan sholat sunnah Iedul Adha secara berjamaah. Sebagaimana firman Allah dalam Al quran surat Al Kautsar di atas.

Menyembelih Hewan Qurban

“Siapa yang memiliki kelapangan namun dia tidak berkurban maka jangan mendekat ke masjid kami.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah. Dihasankan Al-Albani).

Iedul Adha disebut juga dengan hari raya qurban. Setelah sholat ied, selama hari tasyrik dianjurkan untuk menyembelih hewan qurban. Khususnya bagi mereka yang memiliki kelapangan rezeki. Saking utamanya ibadah qurban ini, sampai-sampai Rasulullah Saw dalam hadist di atas mengancam mereka yang enggan untuk berkurban agar tidak mendekati masjidnya kaum muslimin. Artinya, orang yang enggan melaksanakan ibadah qurban bukanlah bagian dari kaum muslimin.

Haji dan Umroh

….. Dan sempurnakan ibadah haji dan umroh karena Allah…..(QS al-Baqoroh 2:196)
…. Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah yaitu bagi orang-  orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah.
(QS al-Imran 3:97)

Iedul Adha disebut juga dengan hari raya haji. Karena hari tersebut merupakan puncak dari pelaksanaan prosesi ibadah haji di tanah suci. Bagi muslim yang sudah memiliki kemampuan, baik secara fisik maupun finansial diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji ke tanah suci. Bulan Dzulhijjah menjadi momen tepat bagi ummat islam untuk melaksanakan haji dan umroh.

Demikianlah amalan utama di bulan Dzulhijjah yang perlu kita ketahui. Semoga kita senantiasa diberi hidayah dan kekuatan oleh Allah Swt untuk melaksanakan amal-amal shalih di bulan ini. Aamiin.

Oleh: Neti Suriana

Senin, 13 Oktober 2014

Dunia di Tangan dan Akhirat di Hati

Suatu hari Umar bin Khattab berkunjung ke rumah Rasulullah Saw. Ia mendapati Rasulullah Saw sedang berbaring pada selembar tikar. Setelah masuk dan duduk di samping Rasulullah, Umar bin Khattab mengetahui bahwa tidak ada apa-apa yang menjadi alas tidur Rasulullah selain selembar tikar dan sehelai mantel. Umar bin Khattab bisa melihat dengan jelas bekas guratan tikar pada kulit tubuh Rasulullah.

Umar bin Khattab mengamati kondisi rumah Rasulullah. Sangat sederhana. Di pojok rumah Umar melihat satu takar gandum. Di dinding tergantung satu lembar kulit yang sudah di samak. Umar menitikkan air mata menyaksikan kesederhanaan manusia yang mulia ini. “Mengapa Engkau menangis wahai Ibnul Khattab?” tanya Rasulullah.

“Ya Rasulullah, bagaimana aku tidak menangis. Melihat gurat-gurat tikar di lambung Engkau dan rumah yang hanya diisi barang-barang itu. Padahal Kisra dan Kaisar hidup dalam gelimang harta kemewahan. Engkau adalah Nabi Allah, manusia pilihan. Seharusnya Engkau jauh lebih layak mendapatkan kemewahan yang lebih.”

“Wahai Ibnul Khattab, apakah Engkau tidak ridha, kita mendapatkan akhirat, sedang mereka hanya mendapatkan dunia?” (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dari Anas ra.)

======

Dunia beserta isi dan dinamikanya adalah perhiasan. Keindahannya tak jarang melenakan hati. Hingga hari demi hari hanya dihiasi oleh motivasi duniawi yang tiada bertepi. Banyak manusia yang kemudian lupa dengan tujuan hakiki hidup ini. Banyak jiwa yang lalai dengan kehidupan akhirat yang abadi.

Rasul dan sahabat adalah generasi terbaik sepanjang masa. Kesederhanaan yang mereka contohkan bukan karena terpaksa. Tidak berharta bukan karena kurang usaha. Melainkan pilihan hidup yang bersahaja. Jika mereka cenderung pada dunia, mereka bisa saja memiliki kemewahan seperti raja dan kaisar yang dipuja-puja. Tapi mereka memilih untuk hidup mulia di jalan dakwah. Mereka meletakkan dunia di tangan dan memeluk akhirat kuat-kuat di hatinya.

Hidup zuhud dan bersahaja, itulah yang Rasul ajarkan pada umatnya. Kita adalah generasi islam yang selayaknya meneladani jalan hidup beliau. Tidak mudah memang hidup bersahaja di tengah gemerlap dunia menggoda. Apalagi bagi kita generasi yang hidup di era milenium ini. Di mana manusia berlomba-lomba mengejar kekayaan duniawi yang tak bertepi.

Hidup zuhud dan bersahaja bukan berarti kita harus menarik diri dari dunia. Kita tetap butuh dunia untuk meraih kebahagiaan akhirat. Dunia adalah ladang yang harus ditanami dengan amal-amal hasanah untuk kebahagiaan di hari akhir. Hanya saja, kita tidak boleh terpenjara oleh ambisi dunia yang membutakan hati. Rebutlah kesuksesan dunia dengan ikhtiar yang diridhoi-Nya. Yakin dan terus menguatkan keyakinan bahwa rezeki dunia tidak akan jatuh ke tangan orang lain.

Hidup zuhud dan bersahaja bukan berarti menutup diri dari hiruk pikuk urusan dunia. Kita tetap membuka diri dengan kehidupan dunia. Namun kita harus memiliki tameng yang kuat agar tidak larut dalam hiruk pikuk dunia yang melenakan diri tersebut. Hidup zuhud dan bersahaja artinya mampu menutup diri dari pintu keburukan dalam meraih rezeki duniawi. Seperti menutup diri dari budaya korupsi, suap menyuap, tipu menipu dan budaya buruk lain demi kemewahan duniawi.

Membuka diri pada dunia, namun tetap waspada. Itulah esensi dari hidup zuhud dan bersahaja. Ketika kita menjemput dunia sebagai pedagang, maka jadilah pedagang yang jujur. Seperti pedagang kaki lima yang tidak mengurangi timbangan, dan pedagang buah yang tidak menyembunyikan cacat pada barang dagangannya. Ketika kita menjemput dunia sebagai pejabat, maka jadilah pejabat yang jujur dan profesional. Seperti Umar bin Abdul Aziz yang tidak berani menggunakan cahaya lentera negara untuk kepentingan pribadi dan keluarga. Ketika kita memegang dunia sebagai pemimpin, jadilah pemimpin yang adil dan bersahaja. Seperti Umar bin Khattab yang rela hidup seadanya karena ingin berlaku adil terhadap rakyatnya.

Jadi, apapun profesi dan posisi kita di dunia, teladanilah hidup zuhud dan bersahaja ala Nabi dan sahabat. Karena, gaya hidup inilah yang akan mengantarkan kita pribadi yang dicintai oleh penduduk langit dan bumi. Gaya hidup inilah yang akan membawa kita menjadi orang yang beruntung di dunia dan akhirat.

“Zuhudlah terhadap dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada di tangan manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah).

Sebagaimana Rasulullah Saw menggambarkan dalam hadistnya di atas. Ketika kita mampu zuhud terhadap dunia, maka Allah dan penduduk langit akan mencintai kita. Sementara ketika kita mampu zuhud pada apa yang di tangan manusia, niscaya manusia dan penduduk bumi akan mencintai kita.

Hidup zuhud adalah hidup yang bersahaja dan membahagiakan. Orang yang zuhud berusaha untuk mensyukuri apa yang dimiliki dan bersabar dengan apa yang tidak dimiliki. Menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak berguna bagi diri, demikian juga dengan hal-hal yang dapat merugikan orang lain.

Semoga kita bisa mencontoh gaya hidup zuhud dan bersahaja yang dicontohkan oleh Rasul dan sahabat. Hingga kita layak menjadi pribadi yang dicintai di dunia dan akhiran. Wallahu’alam.

Oleh: Neti Suriana
Referensi:
Al-Kandahlawy, S.M.Y. 1998. Sirah Shahabat, Keteladanan Orang-orang di Sekitar Nabi. Jakarta: Pustaka Al-kautsar.

Kamis, 09 Oktober 2014

Keutamaan Melaksanakan Amal Shalih di Hari Arafah

Memasuki bulan Dzulhijjah, ummat islam dianjurkan untuk memperbanyak amal shalih. Terutama pada hari-hari yang memiliki keutamaan besar seperti hari Arafah. Pada hari tersebut kita dianjurkan untuk berpuasa, memperbanyak sedekah, berdoa dan berdzikir pada Allah swt.

Hari Arafah jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah. Yakni hari di mana orang-orang yang sedang melaksanakan ibadah haji sedang wukuf di padang Arafah. Hari Arafah memiliki keutamaan yang sangat besar. Diriwayatkan, bahwa dinamakan hari arafah karena pada malam tarwiyah (sehari sebelum hari arafah) Nabi Ibrahim pernah diperintahkan dalam mimpinya untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Mimpi tersebut sempat membuat Nabi Ibrahim bimbang dan bersedih. Apakah ini benar-benar perintah dari Allah, atau hanya sekedar mimpi biasa. Nabi Ibrahim mohon petunjuk pada Allah Swt. Pada malam berikutnya, Nabi Ibrahim kembali bermimpi hal yang sama dalam tidurnya. Sehingga Nabi Ibrahim pun ‘arafa (mengetahui dan meyakini), bahwa mimpi tersebut benar-benar perintah dari Allah swt. Karena itu disebutlah hari itu sebagai hari Arafah, yakni hari yang mulia dan memiliki keutamaan yang besar.

Puasa di hari Arafah sangat dianjurkan, terutama bagi mereka yang sedang tidak melaksanakan ibadah haji. Sedangkan bagi mereka yang sedang melaksanakan ibadah haji, menurut mayoritas ulama disunnahkan untuk berbuka. Mengingat, pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) tersebut, jamaah haji sedang melaksanakan ibadah wukuf di Arafah. Dikhawatirkan kalau dipaksakan terus berpuasa di hari tersebut, bisa mengganggu kekhusukan ibadah mereka di Arafah.

Dalam salah satu hadist diriwayatkan bahwa, Ibnu Umar pernah mengatakan; “Aku pernah menunaikan ibadah haji bersama Rasulullah Saw dan beliau tidak berpuasa pada hari Arafah. Juga pernah bersama Abu Bakar, di mana ia juga tidak berpuasa. Demikian juga bersama Umar dan Ustman, yang mereka juga tidak berpuasa pada hari itu. Untuk itu, aku tidak berpuasa pada hari itu dan tidak juga memerintahkan atau melarangnya.” (HR. At-Tirmidzi).

Dalam riwayat lain Abu Hurairah mengatakan; “Rasulullah Saw melarang berpuasa pada hari Arafah di Arafah.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasa’I dan Ibnu Madjah).

Namun, puasa sunnah Arafah sangat utama dan dianjurkan untuk dilaksanakan bagi kaum muslimin yang sedang tidak melaksanakan rangkaian ibadah haji. Dalam salah satu hadis-nya Rasulullah Saw pernah mengatakan tentang keutamaan puasa Arafah, yakni dapat menghapus dua selama dua tahun, yakni satu tahun yang lalu dan tahun yang akan datang.

“Puasa pada hari Arafah itu dapat menghapuskan dosa selama dua tahun, satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.” (HR. Imam Muslim).

Hari Arafah adalah hari yang penuh dengan keutamaan dan kemuliaan. Hari di mana Nabi Ibrahim mendapatkan keyakinan dan keteguhan hati untuk melaksanakan perintah besar dari Tuhan-nya. Tidak hanya ibadah puasa yang disukai oleh Allah Swt pada hari tersebut. Semua amal shalih yang dilaksanakan dengan ikhlas karena Allah akan mendapatkan keutamaan yang besar di sisi Allah.

Oleh: Neti Suriana
Referensi:
Hamdi, A. tanpa tahun. Berkah dan Keajaiban Ibadah Puasa, Rahasia Islam untuk Menggapai Kebahagiaan Dunia dan Akhirat. Jakarta: Sandro Jaya.
Uwaidah, S. K. M. 1998. Fiqh Wanita. Jakarta: Penerbit Al Kautsar.

Rabu, 08 Oktober 2014

Cara Cerdas Lepas dari setiap Kesulitan menurut Islam - 2 (Habis)

Kehidupan di dunia selain menawarkan kebahagiaan, dia juga mampu memaksa kita untuk menelan pil pahit kehidupan. Setiap ujian yang Dia berikan harus kita sikapi dengan cerdas dengan menggunakan “tools” yang berguna di dalam membantu kita menemukan jalan keluar dari setiap problematika kehidupan ini. Alat-alat yang dimaksud adalah :

Doa

Dan Tuhanmu berfirman: " Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina." (QS Al Mukmin : 60)


Doa itu intinya ibadah, doa juga merupakan senjatanya kaum mukminin, oleh karena itu perbanyaklah berdoa kepada-Nya dalam setiap keadaan, terlebih lagi di kala kita sedang menghadapi banyak masalah. Sebab, kepada siapa lagi kita berharap dan menggantungkan diri kalau bukan kepada Allah SWT, Dzat Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, Dialah Allahus shamad, Janganlah sekali-kali kita menggantungkan harapan kepada manusia, karena pasti akan berakhir dengan kekecewaan. Berdoalah di saat hujan rintik-rintik turun, atau berdoalah di antara adzan dan iqamah, atau di sepertiga malam terakhir, atau pada saat sujud di akhir shalat, atau di saat berbuka puasa, karena di saat-saat itulah merupakan saat yang mustajabah. Berdoalah dengan menyertakan hati yang tertuju kepada-Nya disertai ketundukan dan kepasrahan, jadikan diri kita selemah-lemahnya makhluk di hadapan Allah SWT.

Tawashul

Carilah jalan atau perantara yang dapat menyebabkan kita memperoleh keberkahan hidup, seperti dengan jalan sadaqah jariyah, tidak ada seorang pun ahli sadaqah mengalami kebangkrutan, melainkan dia akan memperoleh keberkahan dan bertambahnya harta. Sadaqah mampu memperpanjang umur dan juga mampu mencairkan hati yang keras dan gelap, dia juga mampu memberikan jalan keluar dari setiap kesulitan dan juga mampu menolak bala atau keburukan, bagi para pelakunya, atas perkenan Allah SWT.

Tawashul juga bisa dilakukan dengan memohon doa kepada para alim ulama yang dekat kepada Allah, memohonlah agar kita didoakan menjadi hamba yang saleh dan dilepaskan dari setiap kesulitan oleh beliau (ulama). Insyaallah dengan wasilah doanya kita akan memperoleh keberkahan hidup.

Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)." Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS Yusuf : 97-98)

(Rasulullah saw. meminta di doakan oleh sahabat Umar ra.)
Dari Umar bin Alkhaththab r.a., katanya: "Saya meminta izin kepada Nabi s.a.w.untuk menunaikan umrah, lalu beliau mengizinkan dan bersabda: "Jangan melupakan kami,wahai saudaraku, untuk mendoakan kami…" Hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.

Oleh : Ahmad Ginanto
31 Agustus 2014
Sumber Kutipan Hadist Anas ra. Hasan bin Ali Assqqaf, Mukjizat Surah-Surah Al Quran, hal : 45.
Sumber Kutipan Hadist Umar ra. Imam Nawawi, Riyyadus shalihin jilid 1, 44 : 204.

Selasa, 07 Oktober 2014

Cara Cerdas Lepas dari setiap Kesulitan menurut Islam - 1

Kehidupan di dunia selain menawarkan kebahagiaan, dia juga mampu memaksa kita untuk menelan pil pahit kehidupan. Manis pahitnya kehidupan ini akan terus bergulir di sepanjang kehidupan kita, roda berputar, ada masanya kita mengalami masa-masa bahagia sampai kita lupa bahwa kebahagiaan itu hanyalah sementara. Ada pula masanya kita mengalami kepahitan hidup yang menyebabkan kehidupan ini terasa begitu lama. Islam memandang keduanya,kebahagiaan dan kesedihan, sebagai suatu bentuk ujian yang diberikan Allah SWT kepada setiap hambanya. Setiap ujian yang Dia berikan harus kita sikapi dengan cerdas dengan menggunakan “tools” yang berguna di dalam membantu kita menemukan jalan keluar dari setiap problematika kehidupan ini. Alat-alat yang dimaksud adalah :

Al Quranul Karim

Al quran menawarkan berbagai ayat yang mampu membantu kita terlepas dari setiap masalah kehidupan di dunia, maka bacalah dia setiap hari-hari kita. Sebagai contoh, jika kita mempunyai hutang yang besar, bacalah ayat 26 Surat Ali Imran, sebagaimana hadist berikut ini,

Dari Sayyidina Anas ibnu Malik, Rasulullah saw. Bersabda kepada Muadz,”Maukah kamu aku ajarkan satu doa, yang andaikan kamu mempunyai tanggungan hutang sebesar Gunung Uhud pasti Allah membayarnya untukmu! Bacalah Muadz, Allahuma malikal mulki….dst.(HR Ath-Thabrani)

Asmaullah Al Husna

Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. (QS Al-A’raaf :180)


Asmaullah Al Husna (Nama-nama Allah Yang Terbaik) itu di dalamnya terdapat ismullah al ‘adzhom, yang dengannya setiap doa akan dikabulkan. Jadikan asmaul husna ini sebagai dzikir harian, boleh semuanya dibaca atau boleh juga diambil salah satu nama saja yang kita jadikan sebagai dzikir harian, misalnya bagi orang yang sedang menderita penyakit berat, atau sedang berduka, atau sedang mengalami masa-masa sulit maka perbanyaklah dzikir dengan mengucapkan Ya Lathif (Yang Maha Halus), jika ingin dilapangkan rezekinya oleh Allah maka perbanyaklah membaca Ya Karim (Yang Maha Mulia) atau Ya Wahhab (Yang Maha Pemberi Karunia).

Shalat

Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah shalat dan sabar sebagai penolongmu,sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. ( QS Al Baqarah : 153)

Shalat merupakan alat manusia untuk bermikraj kepada Allah, dengan shalat yang khusyuk setiap masalah yang kita hadapi akan diberikan jalan keluarnya. Dalam sebuah hadist dinyatakan bahwa Rasulullah saw. selalu melakukan shalat jika menghadapi masalah berat. Lakukanlah shalat tahajjud di sepertiga malam terakhir. Perbanyaklah berdoa pada saat sujud, karena sujud merupakan jarak terdekat antara seorang hamba dengan Allah SWT. Atau guru saya menganjurkan agar kita memperbanyak membaca wardzuqni pada saat duduk iftirasy agar Allah melapangkan rezeki kita.

Shalawat

Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi, Hai orang-orang yang beriman , bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. (QS Al Ahzab : 56)

Ulama mengatakan perbanyaklah bershalawat kepada Rasulullah karena dengannya kita akan memperoleh syafaat Rasulullah di hari pembalasan, dia juga menenteramkan hati yang gelisah serta mempermudah segala urusan.
(Bersambung)

Oleh : Ahmad Ginanto
31 Agustus 2014
Sumber Kutipan Hadist Anas ra. Hasan bin Ali Assqqaf, Mukjizat Surah-Surah Al Quran, hal : 45.
Sumber Kutipan Hadist Umar ra. Imam Nawawi, Riyyadus shalihin jilid 1, 44 : 204.

Rabu, 01 Oktober 2014

Kriteria Hijab Syar’i

Saudari muslimah, sudahkah Anda berhijab? Hijab bukan hal yang asing lagi dewasa ini. Hampir setiap hari kita bisa menyaksikan para muslimah berhijab di mana-mana. Baik di masjid, sekolah, tempat kerja, pasar tradisional hingga supermarket. Kaum muslimah berlomba-lomba mengenakan busana muslimah sebagai wujud ketundukan pada syariat sekaligus .identitas diri seorang muslimah yang baik.

Namun, pertanyaannya adalah sudah sesuai syariatkah hijab yang kita gunakan? Yah, sebagaimana dimaklumi, hijab yang digunakan muslimah dewasa ini banyak yang keluar dari koridor syar’i. Seperti maraknya fenomena jilboob atau jilbab lepat di tengah-tengah remaja putri kita. Nah, sudahkah hijab yang digunakan sesuai syar’i? Yuk intip 5 kriteria hijab syar’I berikut ini:

Menutupi Seluruh Tubuh

Hijab yang syar’I harus menutupi seluruh tubuh, sebagaimana firman Allah dalam Al quran:

“Hendaklah mereka mengulurkan jilbab mereka ke seluruh tubuh mereka.” (QS. Al Ahzaab: 59).

Terkait kriteria menutupi seluruh tubuh ini memang masih ada perbedaan pandangan di kalangan ulama. Apakah yang dimaksud seluruh tubuh itu termasuk muka dan telapak tangan atau tidak? Namun, sebagian ulama memfatwakan diperbolehkan memperlihatkan muka dan telapak tangan. Menutup wajah (menggunakan cadar) dan telapak tangan adalah sunnah, bukan suatu hal yang diwajibkan. Jadi, menutupi seluruh tubuh yang dimaksud oleh ayat di atas adalah seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan.

Tebal, Tidak Transparan

Hijab syar’I haruslah terbuat dari kain yang tebal, dan tidak tipis. Karena tujuan menggunakan hijab adalah untuk menutupi aurat. Jika hijab yang digunakan masih memperlihatkan aurat, artinya hijab yang digunakan belum sesuai syar’i. Nah, hijab yang tipis dan transparan masih memperlihatkan anggota tubuh yang ditutupinya.

Rasulullah Saw bersabda, “Diantara yang termasuk ahli neraka ialah wanita yang berpakaian tapi telanjang, yang berjalan dengan lenggak lenggok untuk merayu dan untuk dikagumi. Mereka ini tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium harumnya.” (HR. Muslim)

Longgar, Tidak Ketat

“Diantara yang termasuk ahli neraka ialah wanita yang berpakaian tapi telanjang, …” (HR. Muslim).

Hijab syar’I haruslah longgar, tidak ketat dan tidak membentuk lekuk tubuh. Lengan baju tidak membentuk lengan, demikian juga bagian badan, pantat dan kaki. Jika pakaian yang Anda gunakan masih membentuk tubuh, sebaiknya ditutupi dengan pakaian luar yang bisa menutupi lekuk-lekuk tubuh tersebut. Inilah yang disebut oleh Rasulullah Saw dalam haditsnya sebagai ‘berpakaian tapi telanjang’.

Tidak Menyerupai Pakaian Lelaki

Kriteria hijab syar’I lainnya adalah tidak menyerupai pakaian laki-laki. Dalam salah satu hadist-nya Rasulullah Saw bersabda:

“Nabi melaknat seorang laki-laki yang berpakaian seperti perempuan dan seorang perempuan yang memakai pakaian seperti laki-laki.” (HR. Abu Daud dan Nasa’i)

Tidak Dimaksudkan Untuk Perhiasan Diri

Hijab untuk perhiasan diri maksudnya adalah hijab yang terbuat dari bahan-bahan yang gemerlap sehingga memancing decak kagum dari orang lain yang melihatnya. Hijab sendiri tujuannya adalah untuk menutupi dan menjaga perhiasan atau keindahan dari wanita tersebut. Sebagaimana firman Allah Swt:

“dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya.” (QS. An Nuur: 31)

Demikian 5 karakteristik hijab syar’I yang perlu diketahui. Semoga bermanfaat!

Oleh : Neti Suriana

Senin, 29 September 2014

Kabar Gembira Untuk Para Wanita

Jika seorang wanita telah memiliki banyak anak, bisa saja muncul perasaan bosan dan tak mau hamil lagi. Sementara sang suami masih ngebet untuk memiliki seorang anak laki – laki maupun perempuan. Sebaiknya semua itu dikomunikasikan terlebih dahulu, sang suami juga harus melihat kondisi kesehatan istri baik secara fisik maupun psikis. Apabila kesehatan sang istri tak mengkhawatirkan, kiranya bisa untuk menambah momongan lagi. Perlu diketahui, banyak keutamaan yang bisa diraih saat hamil dan melahirkan.

Berikut hadits Nabi mengenai besarnya pahala wanita yang bersabar ketika hamil atau melahirkan. Dari Ibnu Umar Radialllahu Anhu, bahwa Rasulullah bersabda, “Seorang wanita itu bila hamil sampai ia melahirkan dan sampai ia menemui kematiannya, seperti seorang yang ribath fi sabilillah. Bila ia meninggal dalam kondisi tersebut maka mendapat pahala syahid.” (HR. Thabrani).

Di lain hadits disebutkan, bahwa wanita pengasuh Ibrahim bin Muhammad berkata, “Wahai Rasulullah, engkau telah banyak memberi kabar gembira pada kaum laki – laki, tapi tidak para wanita.” Maka Nabi bersabda “Apakah kalian tidak suka bila salah seorang dari kalian hamil dengan mendapatkan kecintaan dari suami, bahwa baginya pahala orang yang berjuang fi sabilillah dalam keadaan shaum? Dan bila ia merasakan sakit (ketika melahirkan), maka semua penghuni langit dan bumi akan memberitahukan apa yang tersembunyi dari sesuatu yang diinginkannya.

Bila ia melahirkan, maka tidak keluar darinya setetes susu dan satu isapan air susu kecuali dari setiap tetesan dan isapan susu tersebut bernilai kebaikan. Bila ia terbangun di malam hari sebab anaknya, maka baginya pahala seperti orang yang telah memerdekakan tujuh puluh budak fi sabilillah.” (HR. Thabrani).

Ketika mengomentari hadits syahidnya wanita yang meninggal ketika hamil, Ibnu Hajar berucap “Yaitu wanita yang meninggal dan di dalam perutnya ada seorang bayi.” Imam An – Nawawi berkata, “Mereka yang mendapatkan pahala syahid karena pedih dan beratnya rasa sakit yang mereka rasakan.” Lalu Ibnu Ath – Thin berkata “Mereka yang mendapatkan pahala syahid merupakan keutamaan yang telah Allah berikan, lalu menjadi pembersih dosa – dosa, dan menambah pahala mereka, sehingga mencapai derajat syahid.”

Diampuni Segala Kesalahannya.

Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa wanita yang tengah mengandung itu menanggung beban yang amat berat. Dalam hadits pula dijelaskan, kesusahan yang menimpa setiap mukmin akan menjadi kafarat atau tebusan baginya atas dosa – dosanya. Rasulullah bersabda “Tidaklah seorang mukmin ditimpa sakit, atau siksaan, atau cobaan, atau kesedihan, sampai sebuah kesusahan yang dialaminya, kecuali akan diampuni kesalahan – kesalahannya.“ (HR. Muslim)

Pilih Tambah Momongan

Begitu besarnya pahala bagi wanita yang sedang hamil, tak ada salahnya jika seorang wanita untuk menambah buah hati lagi, di mana keinginannya untuk mendapatkan semua pahala yang telah dijanjikan oleh Allah melalui hadits – hadits yang telah dipaparkan sebelumnya. Rasulullah pun teramat senang kepada umatnya yang memiliki keturunan yang banyak. Menjadi sebuah kemestian bagi keluarga muslim adanya keinginan besar memiliki banyak keturunan, lebih didasari oleh adanya kesadaran untuk menerapkan anjuran Rasulullah. Dengan niat yang tulus, Insya Allah akan dimudahkan urusan dan rezekinya.

Oleh : Ardan Esand

Jumat, 22 Agustus 2014

7 Sifat Manusia Penyebab Dosa Besar / Bag. 2

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan bagian pertama berjudul tujuh sifat manusia penyebab dosa besar. Sifat manusia lainnya yang dapat menjadi penyebab dosa besar adalah sebagai berikut :

Nafsu birahi yang berlebihan

Salah satu insting manusia yang diciptakan Allah adalah insting seksual atau birahi. Pernikahan adalah wadah yang disediakan bagi manusia untuk menyalurkan insting birahi tersebut. Di dalam Surat Ali’ Imraan ayat 14, Allah berfirman bahwa wanita adalah salah satu perhiasan dunia. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, Yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).”

Berdasarkan ayat tersebut, manusia memang diciptakan untuk saling tertarik dengan lawan jenisnya. Namun, jika manusia tidak dapat mengendalikan nafsu birahinya, maka manusia akan terjebak ke dalam perbuatan seks bebas atau perzinaan. Bukan hanya sekedar perzinaan, manusia pun akan melakukan perbuatan homoseksual atau lesbianisme yang merupakan perbuatan zalim atau perbuatan merusak diri sendiri. Semua itu disebabkan oleh nafsu birahi yang tidak mampu dikendalikan. Perzinaan dan perbuatan zalim homoseksual atau lesbianisme termasuk ke dalam perbuatan keji dan dosa besar

Sifat marah

Salah satu sifat alami manusia adalah sifat marah. Tidak sedikit manusia yang memiliki sifat pemarah. Marah adalah sifat manusia yang lumrah. Namun, sifat ini pun dapat menjadi dosa besar. Tidak sedikit manusia yang berbuat dosa besar karena tidak mampu menahan amarah di hatinya. Misalnya membunuh orang lain, karena tidak mampu menahan marah. Sifat menahan marah lebih baik daripada menjadi orang dengan sifat pemarah. Berhati-hatilah dengan sifat marah. Hadits berikut ini adalah dalil tentang pentingnya menahan marah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam, “Berilah saya nasihat.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari).  “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thobrani)

Sifat rakus atau berlebihan-lebihan

Rakus dapat diartikan sebagai sifat yang berlebihan-lebihan dari sewajarnya. Tidak sedikit manusia yang terjebak di dalam perbuatan yang berlebihan-lebihan. Hedonisme dan materialisme merupakan contoh dari perbuatan ini.

Apabila manusia tidak bisa menghindar dari sifat rakus, maka pada akhirnya manusia akan menghalalkan segala cara untuk mendapatkan segala sesuatu. Selain itu sifat rakus adalah awal dari mengambil bagian yang bukan menjadi haknya. Korupsi adalah salah satu perbuatan rakus. Sudah tentu, korupsi adalah perbuatan dosa besar.

Ayat berikut ini adalah penjelasan tentang sifat rakus atau berlebih-lebihan. “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid. Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan."(Al-A'raf:31).

Sifat serakah

Tidak sedikit manusia yang senang mengumpulkan harta lalu menghitungnya. Tidak sedikit pula manusia yang menjadi kikir, karena harta yang berlebih. Kedua hal tersebut adalah contoh dari perbuatan serakah dari aspek ekonomi. Selain perbuatan serakah dari aspek ekonomi, perbuatan serakah pun dapat ditinjau dari aspek psikologis, misalnya manusia egois yang selalu mengutamakan ego pribadinya.

Sifat serakah adalah awal dari perbuatan dosa besar, karena manusia serakah akan cenderung menggantikan keberadaan Tuhan dengan materi sehingga termasuk perbuatan syirik yang termasuk perbuatan dosa besar. Manusia dengan sifat serakah pun adalah awal dari sifat takabur manusia. Di dalam surat Al-Humazah ayat satu sampai tiga, Allah berfirman bahwa mengumpulkan harta hanya akan mendatangkan malapetaka.

Kesimpulan

Perbuatan dosa besar tentunya dimulai dari sifat buruk manusia. Tanpa disadari bisa saja sifat buruk tersebut ada di dalam manusia sehingga menjadi penyebab perbuatan dosa besar. Tulisan ini menjelaskan beberapa sifat buruk, penyebab dosa besar, yang harus dihindari setiap umat muslim.

Oleh : Rahadian

Kamis, 21 Agustus 2014

7 Sifat Manusia Penyebab Dosa Besar / Bag.1



Dosa besar merupakan hal yang harus dihindari oleh setiap umat muslimin. Dosa besar tersebut tentunya tidak akan terjadi apabila setiap muslim mampu menjaga dirinya dari sifat yang buruk. Dengan menjaga diri dari sifat tersebut berarti mencegah untuk tidak melakukan perbuatan dosa besar.

Berikut ini adalah tujuh sifat yang harus dihindari karena bukan tidak mungkin sifat tersebut akan menjadi penyebab munculnya perbuatan dosa besar

Iri hati

Menurut berbagai literatur Islam, Iri hati merupakan salah satu penyakit hati yang kronis dan sangat berbahaya daripada penyakit fisik. Jika manusia sudah terjebak ke dalam sifat iri hati akan muncul sifat dengki sehingga bukan tidak mungkin manusia akan menghalalkan berbagai cara untuk melampiaskan rasa dengki dan rasa iri hati, misalnya dengan memfitnah atau membunuh. Memfitnah dan membunuh termasuk ke dalam kategori dosa besar

Rasulullah pun bersabda: “Sungguh iri hati akan menghabiskan seluruh perbuatan kebaikanmu bagaikan api yang membakar kayu bakar”. (HR Ahmad dan At-Tirmidzi). Selain itu dalil tentang menjauhi sifat iri terdapat di Surat An Nisa ayat 32, ayat tersebut adalah

"Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." Dengan demikian, sifat iri harus dihindari.

Sifat malas

Sifat malas merupakan salah satu sifat manusia. Jika manusia tidak mampu mengendalikan sifat malas, maka manusia pun akan menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa mau berusaha sedikit pun. Korupsi, mencuri, merampok, adalah beberapa perbuatan dosa besar, karena manusia tidak mau berusaha untuk mendapatkan harta.

Menurut literatur Islam, malas adalah salah satu sifat setan. Setan akan terus menggoda manusia agar tetap malas. Manusia pun harus minta perlindungan kepadaNya untuk menghindari sifat malas.

Hadits berikut ini menjelaskan tentang sifat malas. Hadis riwayat Anas bin Malik RA., dia berkata, Rasulullah SAW. biasa berdoa, “Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, sifat pengecut, menyia-nyiakan usia, dan dari sifat kikir. Aku juga berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan dari fitnah kehidupan serta kematian.” (HR. Muslim, 4878)

Sifat Sombong atau Takabur

Sebagai umat Islam, tentunya harus menjauhkan diri sifat sombong atau takabur. Bukan tidak mungkin karena sifat takabur, manusia akan merasa lebih hebat dari sesama manusia dan akan merendahkan manusia lainnya serta merasa lebih kuasa sang pencipta.

Karena ingin merasa lebih hebat dari orang lain, bukan tidak mungkin manusia akan membunuh manusia lain yang menurutnya akan melebihi kehebatannya. Pada akhirnya, bukan tidak mungkin pula manusia akan berbuat syirik atau melupakan sang pencipta. Syirik adalah dosa besar yang tidak akan diampuni oleh Allah SWT.

Hadits berikut ini adalah penjelasan tentang sifat takabur. “Takabur adalah menentang kebenaran dan meremehkan (merendahkan) manusia” (HR Muslim)

Bersambung ke bag. 2

Oleh : Rahadian

Selasa, 19 Agustus 2014

3 Macam Puasa dalam Syariat Islam

Puasa adalah salah satu ibadah yang disyariatkan dalam islam. Secara bahasa puasa adalah ash-shiam yang maknanya sama dengan al-imsak yaitu menahan. Jadi puasa artinya adalah menahan diri dari melakukan sesuatu. Sementara itu secara istilah pengertian puasa adalah menahan diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa –seperti makan, minum, berhubungan suami istri—dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari. Sebagaimana firman Allah dalam Al quran yang artinya:

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu hingga malam hari.” (QS. Al Baqaroh: 187)

Kita baru saja selesai melaksanakan kewajiban puasa Ramadhan yang telah disyariatkan dalam islam. Apakah dengan berakhirnya bulan Ramadhan selesai pula syariat puasa bagi kita? Tentu saja tidak. Selain puasa Ramadhan, dalam syariat islam kita juga mengenal bentuk ibadah puasa yang bisa kita jalankan di buat lain. Ibadah puasa di luar bulan Ramadhan ada yang hukumnya wajib dan ada juga yang hukumnya sunnah.

Apa saja bentuk ibadah puasa yang disyariatkan dalam islam? Nah, dalam artikel ini kita akan membahas tentang 3 macam puasa yang dikenal dalam syariat islam, yaitu:

Puasa Fardhu (Puasa Wajib)

Puasa Fardhu adalah bentuk ibadah puasa yang wajib (harus) dikerjakan oleh setiap muslim yang mukallaf. Ibadah puasa ini wajib dilaksanakan dan berkonsekwensi. Puasa fardhu jika dilaksanakan akan berpahala, sebaliknya jika ditinggalkan akan mendapat dosa. Adapun ibadah puasa fardhu ini meliputi:

  • Puasa Ramadhan yaitu ibadah puasa yang disyariatkan untuk dilaksanakan selama bulan Ramadhan.
    “Telah datang pada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan, di mana Allah mewajibkan kalian berpuasa, dibuka pintu-pintu syurga dan ditutup pintu-pintu neraka dan syetan-syetan dibelenggu…….” (HR. Ahmad, Nasa’I dan Baihaqi).
  • Puasa nadzar, yaitu ibadah puasa yang diwajibkan ketika berniat puasa karena sesuatu. Misalnya, Anda berniat puasa jika berhasil meraih sesuatu. Maka niat puasa tersebut adalah hutang yang wajib Anda lunasi setelah meraih sesuatu tersebut. “Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang adzabnya merata di mana-mana.” (QS. Al Insan: 7)
  • Puasa kifarat (puasa denda), yaitu ibadah puasa yang harus dilakukan karena melanggar syariat Allah. Seperti bersenggama di siang Romadhan, maka pelakunya wajib membayar denda (kifarat) sebanyak 2 bulan berturut-turut.

Puasa Tathawwu’ (Puasa Sunnah)

Puasa Tathawwu’ atau puasa sunnah adalah puasa yang dianjurkan bagi setiap muslim untuk dilaksanakan. Ada keutamaan bagi siapa saja yang dengan niat ikhlas karena Allah melakukannya. Namun, tidak ada dosa bagi siapapun jika ditinggalkan. Puasa sunnah ini banyak jenisnya, diantaranya yaitu: puasa 6 hari di bulan Syawal (puasa enam), Puasa senin kamis, puasa ‘Asyura, puasa Daud, puasa ‘Arafah dan lainnya.

“Rasulullah Saw pernah ditanya tentang puasa pada hari Arafah, beliau menjawab: puasa itu menghapus dosa tahun yang lalu dan tahun yang akan datang. Dan beliau ditanya tentang puasa Asyura, beliau menjawab: puasa itu menghapus dosa tahun yang lalu. Beliau ditanya tentang puasa senin kamis, lalu beliau menjawab: pada hari itu adalah hari di mana aku dilahirkan, aku dijadikan seorang utusan (Rasul) dan pada hari itu juga aku menerima wahyu.” (HR. Muslim dari Abu Qatadah al-Anshariy ra.)

Puasa yang Diharamkan

Terakhir adalah puasa yang diharamkan. Yaitu ibadah puasa yang dilarang untuk dilaksanakan oleh seorang muslim. Siapa saja yang melaksanakannya tidak akan mendapat pahala, akan tetapi justru akan berdosa. Adapun bentuk puasa yang diharamkan dalam islam antara lain: puasa di hari raya, puasa sepanjang masa, puasa yang dikhususkan pada hari sabtu, puasa yang dikhususkan pada hari jum’at, puasa hari tasy’rik dan lainnya.

Dari ‘Aisyah ra. ia berkata, “Rasulullah Saw melarang dua jenis puasa, yakni puasa pada hari raya ‘Idul Fitri dan Puasa pada hari raya ‘Idul Adh-ha.” (HR. Muslim).

Nah, demikianlah tiga macam puasa yang dikenal dalam syariat islam. Semoga bermanfaat.

Oleh : Neti Suriana

Senin, 18 Agustus 2014

Wahai Muslimah, Berhijablah!

Muslimah dan hijab adalah dua hal yang semestinya tidak terpisahkan. Hijab bagi seorang muslimah bukan sekedar kain penutup aurat. Akan tetapi hijab merupakan bukti ketaatan seorang hamba pada sang khalik. Tanpa ketaatan tidak mudah bagi seorang muslimah untuk mengenakan hijab. Akan tetapi, dengan ketaatan dan ketundukan menjadi sebuah kebutuhan bagi seorang muslimah. Mengapa Muslimah Harus Berhijab?

“Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al Ahzab : 59)

Alasan pertama mengapa wanita muslimah harus berhijab adalah karena berhijab perintah Allah. Allah dalam Al quran Surat Al Ahzab ayat 59 memerintah kepada istri-istri Nabi, anak-anak perempuan Nabi, dan istri-istri orang mukmin agar mengulurkan jilbab ke seluruh tubuhnya. Artinya, setiap wanita mukminah wajib menutup aurat mereka dengan hijab yang syar’i.

Abu Malik dalam Fiqhu Sunnah li Nisaa’ berpesan kepada para muslimah: “Ketahuilah wahai para muslimah bahwa para ulama sudah sepakat tentang wajibnya bagi kaum perempuan untuk menutup seluruh bagian tubuhnya, dan sesungguhnya terjadi perbedaan pendapat hanyalah dalam hal menutup wajah dan dua telapak tangan.”

Jadi, mengenakan hijab bagi seorang muslimah adalah kewajiban yang tidak terbantahkan. Dalam Al quran Allah menegaskan secara gamblang tentang kewajiban berhijab ini dalam beberapa ayat secara khusus. Seperti Al Quran Surat Al Ahzab ayat 59 dan Al quran surat An Nur ayat 31. Para ulama juga sudah sepakat tentang kewajiban berhijab bagi para muslimah ini.

Alasan kedua yaitu karena hijab merupakan lambang kemuliaan seorang muslimah. Allah swt berfirman dalam Al quran:
“Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah untuk perhiasan. Dan pakaian takwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat.” (QS. Al A’raaf: 26).

Allah memberikan begitu banyak nikmat dan kesenangan pada manusia di dunia ini. Salah satu bentuk kenikmatan tersebut adalah pakaian dan perhiasan yang indah. Mengenakan pakaian takwa sesuai dengan syariat Allah adalah salah satu bentuk rasa syukur pada Allah. Maka dengan pakaian takwa itulah Allah akan memuliakan seorang hamba di dunia dan akhirat.

Kita punya banyak pilihan jenis, bahan dan model pakaian yang bisa kita gunakan. Demikian juga dengan aneka perhiasan yang bisa dipilih untuk mempercantik penampilan. Namun, Allah sudah menggariskan bahwa sebaik-baik pakaian adalah pakaian takwa. Hijab adalah bentuk pakaian takwa bagi seorang muslimah. Dan Allah akan memuliakan kita dengan pakaian takwa tersebut. Muslimah yang berhijab dengan sempurna cenderung lebih dihormati dan disegani di hadapan manusia dari pada wanita yang dengan mudah mempertontonkan auratnya. Inilah bukti bahwa hijab merupakan lambang kemuliaan seorang muslimah.

Saudariku kaum muslimah yang dimuliakan Allah…
Masih adakah alasan bagimu untuk tidak mengenakan hijab?

Oleh : Neti Suriana

Selasa, 12 Agustus 2014

Pentingnya membiasakan Anak Belajar Membaca Alquran dan Mengamalkannya


Tulisan sudah dipindah ke Pendidikan Anak.

Rumus Penunjang Kebiasaan Membaca Alqur’an untuk Anak Usia Dini


Tulisan sudah dipindah ke Pendidikan Anak.

Jumat, 01 Agustus 2014

Membangun gaya hidup Islami

Islam tidak bisa hanya dipandang sebagai agama saja tetapi juga mengajarkan seluruh sisi kehidupan manusia termasuk gaya hidup atau lifestyle. Gaya hidup Islami memang berbeda dengan gaya hidup pada umumnya terutama gaya hidup masyarakat sekuler yang hedonisme. Gaya hidup Islami tidak hanya berorientasi kepada dunia saja tetapi juga kepada akhirat.

Tidak sedikit manusia yang ingkar dan mengambil jalan yang salah karena gaya hidup yang salah. Dengan mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam tentang gaya hidup, maka hidup anda pun semakin bermakna dan bernilai serta menjauhkan anda dari kekufuran. Berikut ini adalah beberapa ajaran Islam tentang gaya hidup yang dapat anda terapkan di hidup anda.

Menjaga silaturahmi

Berbeda dengan gaya hidup masyarakat barat yang cenderung individualistik, gaya hidup Islami dibangun oleh nilai-nilai silaturahmi..Gaya hidup yang penuh dengan nilai-nilai silaturahmi akan mendatangkan kebaikan bagi manusia.

Hadits di bawah ini menerangkan tentang bagaimana pentingnya silaturahmi bagi manusia.

"Tahukah kalian tentang sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan ataupun keburukan? 'Sesuatu yang paling cepat mendatangkan kebaikan,' sabda Rasulullah SAW, 'adalah balasan (pahala) orang yang berbuat kebaikan dan menghubungkan tali silaturahmi, sedangkan yang paling cepat mendatangkan keburukan ialah balasan (siksaan) bagi orang yang berbuat jahat dan yang memutuskan tali persaudaraan" (HR Ibnu Majah).

Salah satu kebaikan dari silaturahmi adalah terbangunnya ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan yang kuat dan erat sesama umat muslim.

Membangun ketaatan

Ketaatan merupakan gaya hidup yang harus dibangun oleh setiap muslim. Ketaatan artinya melaksanakan perintahnya dan menjauhi larangannya. Dengan ketaatan yang kuat, maka manusia akan dijauhkan dari perbuatan maksiat. Tanpa ada ketaatan, maka manusia akan terbiasa dengan perbuatan maksiat yang pada akhirnya akan membinasakan manusia tersebut.

Berbeda dengan gaya hidup khas westernisme yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan, gaya hidup Islam dibangun oleh ketaatan yang kuat.

Surat Al-Anfaal ayat ke-20 menerangkan tentang pentingnya ketaatan.

“Hai orang-orang yang beriman, taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, dan janganlah kamu berpaling dari pada-Nya, sedang kamu mendengar (perintah-perintah-Nya)”

Dengan demikian, gaya hidup seorang muslim harus dibangun oleh ketaatan.

Tidak berlebih-lebihan

Islam melarang umatnya untuk berlebih-lebihan dalam segala hal. Sifat boros dan hedonistik merupakan contoh sifat berlebih-lebihan. Makan dan minum dalam porsi yang sangat banyak pun merupakan contoh dari sifat berlebih-lebihan.

Ayat di bawah ini merupakan dalil Al-Quran tentang dilarangnya gaya hidup berlebih-lebihan

“ Dan Janganlah kamu sekalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.“(QS. Al-An’am/6:141) “Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syetan dan syetan itu adalah sangat ingkar terhadap Tuhannya”. (QS. 17 : 27). 

Berdasarkan ayat 17:27, gaya hidup yang berlebih-lebihan sama dengan perbuatan ingkar. Gaya hidup yang berlebih-lebih sama saja dengan menyia-nyiakan rizki yang sudah diberikanNya. Oleh karena itu hidup dengan sederhana, secukupnya, dan seperlunya harus menjadi gaya hidup muslim.

Oleh : Rahadian

Senin, 21 Juli 2014

Inilah Alasan Mengapa Kita Harus Melaksanakan Ibadah Puasa (Bagian 2)

Sarana untuk Berempati dengan Sesama

Ibadah puasa mengingatkan kita pada saudara-saudara kita yang kondisi ekonominya masih lemah. Kaum fakir dan miskin yang selalu kekurangan dalam hidupnya. Melalui ibadah puasa kita bisa merasakan betapa beratnya menahan keinginan untuk menikmati makan dan minum untuk menguatkan tubuh. Kita yang berpuasa mungkin hanya menahan rasa lapar selama belasan jam saja. Tapi, mereka yang kekurangan, boleh jadi menahan rasa lapar selama berhari-hari.

Jadi, ibadah puasa adalah sarana bagi kita untuk ikut merasakan beratnya menahan haus dan lapar seperti yang dirasakan oleh saudara-saudara kita yang kekurangan. Hal ini akan menumbuhkan rasa empati, menyayangi dan keinginan untuk meringankan beban mereka. Dengan cara berbagi sedikit atau banyak rezeki yang dimiliki.

Puasa Itu Penghapus Dosa dan Penyirna Kejahatan

Dalam salah satu hadis-nya Rasulullah Saw bersabda:

“Bertakwalah kepada Allah, di manapun engkau berada. Dan ikutilah kejelekan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya. Dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang terpuji” (HR. Tirmidzi dari Abi Dzar dan Mu’adz bin Jabal).

Dalam hadist ini Rasulullah Saw mengajarkan pada kita agar mengikuti setiap kejelekan dengan kebaikan. Jika kita sudah terlanjur melakukan sebuah kejelekan, maka bersegeralah melakukan amal kebaikan sebagai gantinya. Insya Allah amal kebaikan itu akan menutupi dosa dan kesalahan yang kita lakukan pada saat berbuat kejelekan. Ibadah puasa adalah salah satu bentuk kebaikan yang disenangi oleh Allah Swt. Ramadhan adalah bulan di mana kita dimotivasi untuk memperbanyak amal kebaikan. Inilah kesempatan bagi kita untuk memperbanyak amal kebaikan sebagai penebus (kafarat) atas dosa-dosa dan keburukan yang telah kita lakukan sebelumnya. Artinya ibadah puasa selama bulan Ramadhan berikut amal sholeh yang menyertainya adalah ikhtiar bagi kita untuk mendapatkan ampunan dari Allah swt atas dosa-dosa yang telah lalu. Ibadah puasa juga mendidik kita untuk taat pada Allah swt. Sehingga syahwat untuk berbuat jahat dan kemungkaran akan terkikis sedikit demi sedikit.

Puasa Itu Menyehatkan

Secara jasmani puasa itu menyehatkan. Saat puasa kita mengosongkan perut dari semua materi yang merusak tubuh, meringankan kerja organ-organ penting tubuh, mengistirahatkan sistem pencernaan dan membersihkan darah. Puasa membuat kerja hati dan jantung kembali normal, ruh menjadi bersih dan akhlak kembali terbina. Jadi, tidak diragukan lagi bahwa puasa itu menyehatkan, baik secara lahir maupun batin.

Puasa adalah Jihad Melawan Hawa Nafsu

Puasa adalah salah satu bentuk jihad seorang muslim dalam melawan hawa nafsu. Ketika seorang muslim mampu menjalankan ibadah puasa dengan baik, maka sesungguhnya ia sudah menang melawan hawa nafsu dan dirinya sendiri. Kemenangannya itu sendiri adalah setengah dari sabar. Sebaliknya, barangsiapa yang tidak mampu menjalankan ibadah puasa pada bulan Ramadhan tanpa uzur, berarti ia belum mampu mengalahkan hawa nafsunya dan belum mampu mengendalikan dirinya.

Puasa bagi seorang muslim adalah sarana latihan bagi jiwa agar siap menanggung beban dan persoalan yang lebih berat. Ahli puasa adalah orang-orang yang siap mengerjakan tugas-tugas besar di medan dakwah. Termasuk tugas besar untuk terjun ke medan jihad fi sabilillah yang mengharuskan seorang muslim untuk berkorban, tidak hanya hartanya akan tetapi juga jiwanya.

Jadi, dari rincian di atas bisa disimpulkan bahwa ibadah puasa adalah ibadah pembinaan fisik dan non fisik, pembinaan pribadi dan sosial, serta memperbaiki habluminallah dan habluminannas. Banyak hikmah yang bisa kita ambil dari syari’at puasa ini. Di mana muara dari semuanya adalah untuk meraih derajat takwa di sisi Allah swt.

Oleh: Neti Suriana

Kamis, 17 Juli 2014

Inilah Alasan Mengapa Kita Harus Melaksanakan Ibadah Puasa (Bagian 1)

Ada anak bertanya pada bapaknya..
Buat apa berlapar-lapar puasa
Ada anak bertanya pada bapaknya
Tadarus tarawih apalah gunanya….

Lirik lagu Bimbo di atas mungkin juga pernah terbersit dalam hati kita. Buat apa sih lapar-lapar puasa? Singkatnya, mengapa kita harus melaksanakan ibadah puasa? Satu hal yang pasti, setiap amalan yang disyariatkan oleh Allah pasti ada hikmah dan tujuannya. Demikian juga dengan ibadah puasa. Ada banyak rahasia di balik disyariatkannya ibadah puasa. Diantara rahasia, tersebut ada yang diketahui oleh akal manusia namun tak sedikit juga yang belum mampu dijangkau oleh akal.

Nah, berikut adalah beberapa alasan mengapa kita harus melaksanakan ibadah puasa.

Perintah Allah

Puasa, khususnya puasa Ramadhan adalah salah satu rukun islam yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim. Puasa Ramadhan hukumnya wajib bagi setiap mukmin yang sudah baligh dan berakal. Kewajiban puasa ini termaktub dalam firman Allah dalam Al quran surat Al Baqaroh ayat 183.

Sarana Menuju Ketakwaan

Allah Swt berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa.” (Al-Baqaroh: 283)

Puasa merupakan salah satu sarana bagi seorang mukmin untuk meraih predikat takwa. Ibadah puasa merupakan bentuk ketaatan seorang hamba para Tuhan-nya. Di mana ketika berpuasa seorang hamba berada pada posisi terdekat dengan Tuhan-nya. Pada saat perut kosong, hati akan bersih dan merasakan kesyukuran tertinggi pada Rabb-nya.

Puasa adalah ibadah khusus yang Allah sendiri yang akan menilainya. Dalam sebuah hadist qudsi yang sahih disebutkan bahwa Allah swt berfirman tentang keistimewaan ibadah puasa ini:

“Setiap amal ibadah putra Adam untuk dirinya, kecuali puasa. Ia adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

Perisai Diri dari Gangguan Syetan

Salah satu hikmah dan tujuan ibadah puasa adalah untuk mempersempit aliran makanan dan darah. Konon, aliran makanan makanan dan darah merupakan tempat masuknya syetan dalam diri manusia. Dengan demikian, puasa bertujuan untuk mempersempit jalan masuknya syetan dalam tubuh. Sehingga, tubuh terlindungi dari bisikan dan gangguan syetan yang masuk melalui aliran darah tersebut.

Media Pendidikan Jiwa dan Pengendalian Hawa Nafsu

Rasulullah Saw bersabda:

“Wahai para pemuda, barangsiapa diantara kalian telah mampu untuk menikah, hendaknya ia menikah. Sebab nikah dapat mengendalikan pandangan mata dan dapat menjaga kesucian faraj. Orang yang tidak mampu, hendaknya ia berpuasa. Sebab puasa baginya menjadi penawar.” (HR. Jama’ah)

Puasa merupakan salah satu media pendidikan jiwa, menyucikan hati, pengendalian pandangan dan menjaga anggota tubuh dari dosa. Puasa juga berfungsi untuk melemahkan syahwat jahat, dan keinginan untuk bermaksiat. Sehingga, mukmin yang berpuasa diri dan hatinya lebih terjaga dan ruh menjadi suci tidak ternoda.

Bersambung ke bagian 2

Oleh: Neti Suriana

Kamis, 03 Juli 2014

5 Keutamaan Ramadhan

Ramadhan adalah bulan istimewa bagi ummat islam. Bulan yang dihadiahkan oleh Allah swt secara khusus pada ummat Muhammad Saw. Sebagai ummat islam sudah selayaknya kita bersuka cita dengan kehadiran bulan ini. Tidak cukup dengan bersuka cita saja, kita juga harus memanfaatkan kehadiran bulan ini dengan sebaik-baiknya. Tentunya dengan memperbanyak amal shalih dan meraih sebanyak-banyaknya rahmat dan ampunan Allah di bulan ini.

Nah, agar kita lebih termotivasi melaksanakan ibadah di bulan mulia ini, yuk kita intip apa saja keutamaan Ramadhan tersebut. Berikut adalah lima keutamaan Ramadhan yang perlu kita ketahui.

Bulan Penuh Rahmat dan Maghfiroh

“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka dosanya di masa lalu pasti diampuni.” (HR. Bukhari & Muslim).

Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat dan ampunan (maghfiroh). Di bulan ini Allah melipatgandakan kasih sayangnya pada hamba-hamba yang beriman dan beramal sholeh. Allah menjanjikan ampunan dan pembebasan dari api neraka bagi hamba-hamba-Nya yang berpuasa karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah Swt.

Bulan yang Penuh dengan Keberkahan

“Sungguh telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi.” (HR. Ahmad dan An-Nasai).

Ramadhan menjadi bulan istimewa bagi ummat islam, karena dipenuhi dengan keberkahan. Bulan di mana setiap kebaikan dinilai ibadah dan dilipat gandakan pahalanya oleh Allah Swt. Dalam hadist-nya yang lain Rasulullah Saw juga mengatakan bahwa di bulan ini pintu-pintu syurga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup dan syetan-syetan dibelenggu.

Pahala Dilipat Gandakan

“…. Barangsiapa pada bulan itu mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa mengerjakan satu ibadah wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan lain.” (HR. Al Uqaili, Inu Humazah, Al Baihaqi, Al Khaib dan Al Asbahan).

Bulan Ramadhan adalah kesempatan bagi orang-orang meng-upgrade kualitas penghambaannya kepada Allah swt. Di sinilah kesempatan kita untuk meraup pahala Allah sebanyak-banyak-nya. Karena di bulan ini Allah melipat gandakan pahala sekecil apapun amal kebaikan kita. Setiap amalan sunnah dinilai Allah dengan pahala amalan wajib. Sedangkan setiap amalan wajib pahalanya dilipatgandakan hingga 70 kali pahala amalan wajib yang dilakukan di bulan lainnya.

Terdapatnya Lailatul Qadar

“Barangsiapa yang mendirikan sholat pada Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah swt, niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari Muslim).

Keutamaan lainnya adalah di bulan ini Allah meletakkan lailatul qadar yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barang siapa yang melaksanakan ibadah di malam ini dengan iman dan keikhlasan, pahalanya sama dengan beribadah selama seribu bulan. Tidak cukupkah ini untuk memotivasi kita dalam beribadah di bulan ini?

Surga Ar-Royan Sebagai Ganjaran

“Dari Sahl bin Sa’d ra. bahwa Rasulullah Saw bersabda; “sesungguhnya di surga ada satu pintu yang disebut Ar Royyan. Itulah pintu yang pada hari kiamat dikhususkan bagi orang-orang yang berpuasa.” (HR. Bukhari Muslim).

Surga adalah impian tertinggi setiap muslim. Ibadah puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang istimewa. Allah telah menyiapkan surga yang dikhususkan bagi para ahli puasa, yakni surga Ar Royyan.

Demikianlah 5 keutamaan Ramadhan yang mulia ini. Semoga informasi ini bisa memotivasi kita untuk lebih bersungguh-sungguh meraih rahmat Allah di bulan Ramadhan ini. Aamiin.

Oleh: Neti Suriana
Referensi:
Hamdi. A.tt. Berkah dan Keajaiban Ibadah Puasa, Rahasia Islam untuk Menggapai Kebahagiaan Dunia dan Akhirat. Jakarta: Penerbit Sandro Jaya.
Majalah UMMI edisi Juli 2010

Rabu, 25 Juni 2014

Hal-Hal yang Dapat Menguatkan Keimanan (Bagian 1)

Keimanan adalah sebuah keyakinan yang membuat kita mantap dan termotivasi untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah. Iman itu tumbuh dalam diri seseorang. Kadarnya bisa bertambah, bisa berkurang dan bahkan bisa dicabut kembali oleh Sang Maha pemberi hidayah. Imam Ali ra mengatakan bahwa iman itu bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Oleh karena itu, mari bersama-sama berikhtiar untuk memperbaharui keimanan. Tentunya tidak lupa memohon kepada Allah agar menjaga dan menguatkan keimanan yang ada dalam diri kita. Berikut dalam artikel ini kita akan membahas 7 hal yang dapat menguatkan keimanan kita.

Menuntut Ilmu

Keimanan pada dasarnya adalah sebuah keyakinan. Kita akan yakin dengan sesuatu ketika kita tahu dan paham ilmunya dengan baik. Demikian juga dengan keimanan. Keimanan dalam hati kita akan semakin kokoh ketika kita memiliki dasar yang kokoh mengapa kita harus beriman, apa yang kita imani dan bagaimana cara mengimaninya. Itulah yang disebut dengan ilmu atau pengetahuan, yaitu hal-hal yang membuat kita mengerti.

Oleh karena itu, menuntut ilmu adalah salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan untuk menguatkan iman. Pelajarilah banyak ilmu baik yang berkaitan dengan agama maupun ilmu-ilmu umum. Terutama ilmu tauhid yang mengajarkan kita pada keesaan Allah. Pelajari Al quran dan sunnah yang menjadi sumber primer hukum-hukum dan keyakinan islam. Belajarlah dari guru yang mumpuni yang bisa membantu kita untuk lebih memahami ilmu-ilmu tersebut dengan benar. Ilmu-ilmu tersebut insya Allah akan semakin mengokohkan keimanan kita kepada Allah Swt.

Membaca dan Mentadabburi Al Quran

“Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra’: 82).

Membaca Al quran atau tilawah Al quran adalah salah satu bentuk dzikir kita pada Allah Swt. Cara untuk menyucikan hati dan mendekatkan diri pada Allah Swt. Seperti disebutkan dalam ayat di atas, bacaan Al quran yang kita lantunkan akan menjadi penawar serta menjadi sebab turunnya rahmat (kasih sayang) Allah swt pada kita. Sehingga, Allah akan meneguhkan keimanan yang ada dalam hati kita.

Tidak hanya sebatas membaca, kita juga dianjurkan untuk mentadabburi Al quran. Apa yang dimaksud dengan tadabbur Al quran? Menurut Ibnu Katsir tadabbur Al quran adalah memahami makna dari lafal-lafal Al quran dan memikirkan apa yang ditunjukkan oleh ayat-ayat Al quran ketika tersusun, serta apa yang terkandung di dalamnya, dan seterusnya. Intinya adalah bagaimana kita bisa mengambil makna, ilmu, ibroh serta pelajaran yang terdapat dalam untaian ayat-ayat Al quran yang kita baca. Sehingga kita semakin paham dengan pesan-pesan dan pelajaran dari Allah yang disampaikan melalui ayat-ayat tersebut. Pemahaman inilah yang akan menguatkan keimanan dan keyakinan kita kepada Allah swt.

Dzikir dan Pikir

Dzikir adalah proses mengingat Allah Swt. Dzikir bisa dilakukan dengan hati, lisan dan perbuatan. Dzikir dengan hati dilakukan dengan cara mengingat Allah dalam hati. Sementara dzikir dengan lisan dilakukan dengan cara menyebut-nyebut asma Allah. Misalnya dengan mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah, asmaul husna, berdoa, membaca Al quran dan lainnya. Sementara dzikir dengan perbuatan yaitu segala aktivitas yang dilakukan dalam rangka mengingat Allah swt. Seperti menuntut ilmu, mengikuti pengajian, melaksanakan ibadah dan lain sebagainya.

Sementara pikir adalah sebuah aktivitas yang mengacu kepada renungan terhadap ciptaan Allah swt. Berpikir adalah aktivitas otak. Di mana dari aktivitas pikir tersebut kita bisa memahami, mengaitkan dan mengambil kesimpulan dari hal-hal yang kita temui dalam kehidupan ini. Berpikir adalah aktivitas yang mengantarkan kita pada pemahaman yang utuh. Sehingga, ketika dzikir dan pikir dipadukan akan melahirkan keyakinan dan keimanan yang kokoh pada Allah swt.

Bersambung ke bagian 2

Oleh: Neti Suriana

Kamis, 19 Juni 2014

Celakanya Alim Yang Fajir

Jika dituduh sebagai pembohong, tentu manusia akan berhujjah dan segera menunjukkan kepandaiannya dalam berbantah yang tidak lain hanya untuk membela dirinya sendiri. Bahkan tanpa sadar, kemahiran orang untuk berbicara panjang lebar dengan ilmunya akan melahirkan sikap sombong dan congkak. Kesombongan tersebut bisa tampak nyata dan tersirat dari perkataan serta perbuatannya yang seolah-olah laiknya alim yang ahli ibadah.

Dan tak jarang pula ahli ibadah yang menjadi guru agama, ustad, kyai, dan orang-orang yang diberikan kemuliaan justru tidak bisa menunjukkan akhlak yang pantas untuk menjadi suri tauladan yang baik. Sehingga tidak mengherankan jika ahli ibadah malah menjadi sumber pemberitaan di berbagai media massa dengan berbagai macam fitnah dan mereka cenderung menyibukkan diri untuk urusan dunia. Padahal orang yang ahli ibadah sudah seharusnya mengikat dirinya untuk terjaga dari hal-hal yang memperturutkan hawa nafsu, keinginan, syahwat, dan berbagai kesenangan dan kelezatan dunia. Karena hal tersebut menjadi ujung pangkal dari godaan iblis dan bala tentaranya. Itulah mengapa Rosulullah bersabda, “Yang paling utama dari jihad adalah jihad melawan hawa nafsu.”

Sementara dewasa ini, banyak sekali kyai, ustad, dan para ahli ibadah yang memang sibuk dengan berbagai macam kegiatan ritual ibadah dalam majelis-majelis dzikir dan ilmu. Bahkan ada pula yang pandai menafsirkan Al Qur’an dan hafal dengan sunah-sunah yang diajarkan oleh Rosulullah, namun mereka berada dalam keadaan lengah karena kesibukan terhadap dunia dengan segala perhiasannya. Seperti sabda Rosulullah, “Demi Allah! Bukan kefakiran yang aku khawatirkan, tetapi kalau dilapangkan kepadamu dunia ini sebagaimana telah dilapangkan pada orang-orang sebelummu. Lalu kamu berlomba-lomba pada dunia itu sebagaimana mereka telah berlomba-lomba terhadap dunia. Akhirnya dunia mencelakakanmu sebagaimana ia telah mencelakakan mereka.”

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Syaqiq Al Balkhi dalam kitab Uyunil Akhbar mengategorikan tiga kebohongan yang kerap dilakukan manusia atas keingkaran dari ucapan mulutnya, yakni; Pertama, mereka berkata,”Kami adalah hamba-hamba Allah.” Namun mereka berbohong karena perbuatannya seperti orang yang merdeka, bukan orang yang menghamba kepada Allah dan takut kepada-Nya. Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah telah berfirman, “Tidak Aku kumpulkan pada seorang hamba-Ku dua buah rasa takut dan tidak juga dua buah rasa aman. Barangsiapa takut kepada-Ku di dunia, maka Aku beri rasa aman di akhirat. Dan barangsiapa yang merasa aman dari-Ku di dunia, maka akan Aku beri rasa takut besok pada hari kiamat.”

Kedua, mereka berkata, “Allah menanggung rezeki kami.” Namun tidak merasa tenang dan tenteram hatinya jika tidak mengumpulkan harta dan mengejar dunia. Kekhawatiran Rosulullah terhadap umatnya tampak jelas dan gamblang dalam sabdanya yang berbunyi, “Bakal datang di akhir massa, orang-orang dari umatku yang datang ke masjid-masjid, mereka duduk di sana bergerombol. Tetapi zikir mereka masalah duniawi dan cinta dunia. Janganlah kamu berkumpul dengan mereka, karena Allah tidak membutuhkan mereka.” Dan dalam hadits qudsi Allah pun berfirman, “Ambillah dari dunia ini untuk sekedar makan, minum, berpakaian. Janganlah kamu menimbun untuk hari esok dan langgengkanlah zikir kepada-Ku.”

Ketiga, mereka berkata, “Kematian adalah suatu hal yang pasti.” Namun perbuatan mereka seperti orang yang tidak percaya kampung akhiran dan lupa terhadap mati. Hal ini pula yang pernah diucapkan oleh Rosulullah ketika ada beberapa orang laki-laki sedang memuji seorang kawan karena kebaikannya. Lalu Rosulullah bertanya, “Bagaimana ingatan kawanmu itu tentang mati?” kemudian dijawabnya, “kami hampir tidak pernah mendengarnya mengingat kematian.” Maka beliau pun bersabda, “Kalau begitu kawanmu itu bukanlah orang yang layak mendapatkan pujian.”

Sehingga hal tersebut sejalan dengan sabda Rosulullah, “Sesungguhnya ada orang alim yang benar-benar disiksa dengan sebuah siksa. Dan mengelilinginya penghuni-penghuni neraka karena menganggap besar terhadap kedahsyatan siksanya, yakni orang alim yang fajir (menyimpang).” Sedangkan dalam sabda yang lain, Rosulullah bersabda, “Akan didatangkan seorang alim pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka. Terburailah usus-ususnya, lalu ia berkeliling dengan menyeretnya sebagaimana seekor keledai berputar membawa penggilingan.” Dan gambaran tentang orang tersebut adalah orang yang menyuruh kebaikan, namun dia sendiri tidak mau melakukannya. Sehingga hal ini pula yang mendatangkan rasa was-was dari Umar ra, “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan diantara hal-hal yang paling aku khawatirkan terhadap umat ini ialah orang munafik yang alim.”

Berangkat dari sini maka sudah sepatutnya ahli ibadah itu mampu menjaga diri dari segala macam kesenangan dunia hingga tidak lahir fitnah terhadap mereka. sehingga akhlak terpuji menjadi identitasnya, kealiman berkat kepandaian ilmunya menjadi penuntun umat pada jalan yang lurus, sedang zuhudnya terhadap dunia menjadikan kefahamannya terhadap agama mengilhami kebenaran yang mengantarkan umat memperoleh taufik dan hidayah dari Allah.

Oleh : mayshiza widya
Sumber; hadits shoheh Bukhari dari kitab Mukasyafatul Qulub, Imam Ghazali.

Rabu, 18 Juni 2014

Kode Etik Hakim dalam Islam - 2(Habis)

Kode Etik Hakim

Hakim adalah penentu selamat atau lepasnya seseorang dari perkara. Karena itu seorang hakim harus sungguh-sungguh dalam menetapkan keputusan atau hukuman dengan seadil-adilnya. Ia harus menjadi firman Allah SWT, “Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan seadil-adilnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 58), sebagai pedoman dalam menetapkan keputusan.

Bila ditelusuri sumber hukum, baik al-Qur’an dan Hadis, ada lima hal. Pertama, wajib mencari keadilan dalam mengadili manusia. Perilaku ini dicontohkan Allah Swt. di dalam al-Qur’an, “Dan (Ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, ketika keduanya memberi keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu. Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat), dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu…” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 78-79)

Menurut riwayat Ibnu Abbas, kisah yang dimuat di dalam ayat tersebut muncul disebabkan ada sekelompok kambing telah merusak tanaman pada waktu malam. Pemilik tanaman mengadukan hal tersebut kepada Nabi Daud as. Ia memutuskan bahwa kambing-kambing itu harus diserahkan kepada pemilik tanaman sebagai ganti tanaman yang rusak. Tetapi Nabi Sulaiman as. memutuskan agar kambing-kambing itu diserahkan sementara kepada pemilik tanaman untuk diambil manfaatnya. Dan pemilik kambing diharuskan mengganti tanaman itu dengan tanaman yang baru. Apabila tanam yang baru telah dapat diambil hasilnya, pemilik kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali. Keputusan Nabi Sulaiman as. yang lebih tepat.

Artinya, keadilan dalam mengadili manusia harus menjadi prioritas utama hakim dalam menetapkan keputusan, sehingga ia tidak melakukan kesalahan. Karena menjadi hakim itu sesuatu yang sangat berat. Maka wajar bila Rasulullah Saw. bersabda dengan diksi yang tegas, “Siapa yang dijadikan hakim di antara manusia maka sungguh ia telah disembelih dengan tidak memakai pisau.”

Kedua, harus memiliki kesopanan dalam menghukum. Artinya, hakim harus tetap sopan santun. Ia tidak boleh memutuskan perkara dalam kondisi marah. Karena marah dapat menimbulkan kezaliman. Rasulullah Saw bersabda, “Hakim tidak boleh menjatuhkan hukuman kedua orang yang berperkara ketika ia sedang marah.” Selain itu, tidak boleh juga hakim menjatuhkan hukuman dalam kondisi lapar, sakit, mau buang air dsb. Karena bisa mengurangi keseriusannya dalam menetapkan hukum.

Ketiga, hakim juga harus menyamakan pertanyaan, tempat duduk dan sebagainya antara dua orang yang berperkara. Hal ini dilihat dari tindakan Rasulullah Saw. saat menjatuhkan hukuman terhadap dua orang yang berselisih atau berperkara di depannya. Keempat, harus mendengarkan dengan baik keterangan dua belah pihak secara bergantian. Hal ini dapat dilihat dari perilaku Ali bin Abi Thalib yang selalu melakukan pengadilan di depan khalayak ramai.

Kelima, hakim dilarang menerima suap karena bisa memengaruhi perkara yang diadili. Bahkan Rasulullah Saw. dengan tegas mengutuknya, “Rasulullah Saw. mengutuk orang yang memberi suap, atau yang menerimanya dalam perkara hukum.”

Jika kelima kode etik ini dipegang dengan kuat oleh hakim, maka ia tergolong orang yang mampu mengamalkan firman Allah Swt. “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maaidah [5]: 8). Semoga di hari Kehakiman tahun ini menjadi jalan bagi hakim muslim untuk berlaku adil dalam memutuskan perkara. Amin

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

Senin, 16 Juni 2014

Membincang Karakter Orang Fasik - 2 (Habis)

“[ialah] orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 27)

Kedua, salah satu orang fasik yang digambarkan di dalam ayat di atas adalah, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk menyambungnya. Contoh sederhananya, hubungan kasih sayang (shilah al-arhaam) dan hubungan kekeluargaan (al-qaraabat).

Yang dimaksud dengan al-arhaam adalah keluarga dekat, dan Islam sangat menganjurkan untuk memelihara hubungan baik terhadap sanak saudara, dan orang-orang yang memutuskan silaturrahmi sangat dicela di dalam agama Islam. Seperti di dalam firman Allah Swt, “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) agama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan takutlah dari memutuskan silaturrahmi.” (QS. An-Nisa: 1)

Yang dimaksud dengan al-qarabaat adalah hubungan silaturrahmi yang terbentuk atas dasar kekeluargaan. Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadis Qudsi, “Aku adalah Allah. Aku adalah Dzat yang Maha Pengasih. Aku ciptakan ‘rahim’. Aku ambilkan kata itu dari namaku. Siapa yang membina hubungan dengan sanak famili (silaturrahmi) aku akan menyambungkan ia dengan namaku. Dan siapa yang memutuskannya, aku juga akan memutuskan hubungan dengannya.”

Hal ini selaras dengan apa yang dimaktubkan Allah di dalam al-Qur’an,“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Rasulullah Saw. juga bersabda, “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan dan sambunglah persaudaraan (tali silaturrahmi), dan shalatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Bahkan di dalam keterangan riwayat hadis disebutkan bahwa di akhirat kelak, Allah Swt. tidak akan mau melihat wajah beberapa golongan umat manusia. Di antaranya adalah, mereka yang telah memutuskan hubungan silaturrahmi dengan keluarga dan kerabatnya sendiri.

Ketiga, dalam ayat tersebut juga disebutkan bahwa orang-orang fasik seringkali membuat kerusakan, baik yang bersifat fisik maupun moral. Mereka kerap kali menyebarkan fitnah, melakukan maksiat, mengadu domba, dan melakukan perbuatan keji lainnya. Semua yang mereka lakukan tidak ada yang membawa kebaikan maupun manfaat. Sehingga, mereka tergolong orang yang rugi dan terus merugi.

Salah satu bukti nyata orang fasik yang kerap kali kita saksikan adalah, merusak alam dengan pembakaran hutan dan sebagainya. Orang muslim tentu tahu bahwa alam, yang terdapat di dalamnya bumi, sungai dan laut, adalah amanah Allah yang mesti dipelihara. Artinya, hanya orang-orang fasik yang suka merusak alam ini.

Meninggalkan Shalat

Bila dikaji di dalam kitab Lubabun Nuqul fi Asbabun Nuzul karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi dimaktubkan, bahwa sebab turun surat al-Baqarah ayat 27 adalah, ketika kaum munafik mempertanyakan dan memperolok-olok firman Allah Swt yang memberikan perumpamaan di dalam QS. Al-Hajj: 73 dan QS. Al-‘Ankabuut: 41 berupa lalat dan laba-laba, dan menganggap bahwa ayat tersebut bukanlah firman Allah, akan tetapi hanya sebatas ucapan Muhammad bin Abdullah semata.

Padahal, maksud yang sebenarnya dari perumpamaan-perumpamaan tersebut adalah untuk meningkatkan ketebalan iman kaum muslimin. Sehingga, orang-orang yang beriman akan menilai segala apa yang terdapat di dalam al-Qur’an sebagai suatu kebenaran (al-haq). Sedangkan bagi orang fasik yang menolak petunjuk Allah dan tidak dapat menghayati perumpamaan-perumpamaan tersebut, maka mereka akan menjadi semakin sesat.

Mereka mendapatkan kerugian dikarenakan tidak adanya rasa kebahagiaan di dalam hati mereka kecuali hanya terisi dengan hawa nafsu yang menggiring diri mereka menuju kondisi kegelapan jiwa yang dihinggapi rasa was-was yang berlebihan dan keragu-raguan serta kerusakan akhlak.

Dalam disiplin ilmu fikih, bagi seorang muslim yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja, tanpa ada alasan yang diperbolehkan untuk tidak melaksanakan shalat, maka ia sudah dapat digolongkan sebagai orang kufur atau orang yang mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena shalat merupakan suatu pembeda antara seorang hamba yang beriman kepada Allah dengan seorang makhluk yang kufur kepada-Nya, seperti hadits Nabi Saw dari Jaabir yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Abu Daud, “Garis pemisah antara seorang yang beriman dan seorang yang kufur adalah shalatnya.

Hal tersebut dikarenakan shalat fardhu adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan umat Nabi Muhammad Saw. pada waktu-waktu yang telah ditentukan, yaitu lima kali sehari semalam dengan tidak adanya satu alasan pun untuk melalaikannya kecuali bila ajal menjemput.

Apalagi, sudah jamak dimafhumi, bahwa shalat nantinya akan menjadi pertanyaan yang pertama kali ditanya oleh Allah Swt. kepada manusia di Hari Kiamat. Hadis Rasulullah Saw. dari Abu Abdullah bin Qurthin menyebutkan, “Yang pertama kali akan ditanyakan bagi seorang hamba Allah di Hari Kiamat adalah masalah shalat. Maka jika shalatnya dinilai baik, seluruh amalnya dipandang baik dan jika shalatnya dinilai buruk, dipandang buruklah semua amalnya. Pertanyaannya sekarang, masihkah kita tidak melaksanakan shalat dengan tidak baik dan benar?

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

Kamis, 12 Juni 2014

Cara Mengukur Kadar Cinta dan Rindu Allah Kepada Kita

Manusia diciptakan untuk bertakwa kepada Allah. Meski sudah dinyatakan dengan jelas, namun banyak orang yang masih mengingkari pernyataan tersebut. Banyak diantara mereka yang merasa Allah itu tidak adil. Mereka sudah bekerja keras, namun hasilnya tidak sesuai keinginan. Kalau sudah begitu, mereka akan menyebut bahwa Allah itu tidak menyayangi kita. Padahal, sudah jelas diterangkan dalam Asma’ul Husna bahwa Allah itu bersifat “Ar Rahman” yang berarti allah itu Maha Pengasih terhadap seluruh Makhluk. Tanpa kita sadari, Allah sayang dan selalu merindukan kita. Lalu, bagaimana cara kita mengetahui besarnya kadar cinta dan Rindu Allah kepada kita? Berikut akan saya jelaskan tentang cara mengukur kadar cinta dan rindu Allah kepada kita.

  1. Ujian

    Tahukah anda? Bahwa saat Allah merindukan hambanya, Dia akan mengirimkan sebuah hadiah spesial untuk hamba tersebut. Dan hadiah tersebut dinamakan “UJIAN”. Hal ini dijelaskan dalam hadist qudsi yang menyebutkan bahwa Allah memerintah malaikat Jibril untuk datang kepada hamba yang Dia rindukan untuk menimpakan berbagai ujian hidup karena Allah merindukan rintihan hamba tersebut.

    Abu said dan Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berkata bahwa segala bentuk penderitaan, kegundahan, kesedihan, kerisauan yang orang muslim alami merupakan wujud dari penebusan dosa yang ia lakukan. Jadi, semakin banyak ujian yang kita alami, semakin rindu Allah kepada kita. Mendekatlah Padanya dan Pujilah namaNya.

  2. Sakit

    Dalam hidup, tak selamanya kita akan selalu sehat. Kadang kala kita juga akan mengalami penurunan kondisi tubuh yang menyebabkan kita menjadi sakit. Dalam sakit, kita akan meminta kepada-Nya untuk memberikan kesehatan pada kita. padahal, saat itu kita tidak bisa memberikan amalan yang maksimal karena kondisi tubuh yang tidak memungkinkan. Kemudian Allah menyembuhkan kita. Dan menariknya, sakit adalah cara Allah untuk menghapus dosa kita. Sungguh Allah maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

  3. Nyawa

    Manusia memiliki 1 nyawa untuk sekali kesempatan hidup di dunia. Dengan nyawa tersebut, Allah mengharapkan agar kita memanfaatkannya semaksimal mungkin. Namun, seringkali kita lalai akan hal tersebut. Untuk itu, kita yang masih diberi waktu untuk beriman kepada-Nya harusnya bisa memanfaatkan semaksimal mungkin. Pernah seseorang bermimpi dia Meninggal. Dia melihat jasadnya ditangisi oleh banyak orang. Ia melihat jasadnya dimandikan, disholati, dikafani dan dikubur. Ketika berada di alam kubur, ia merasa ketakutan yang amat sangat karena dihampiri malaikat penanya kubur.Kemudian dia terbangun dari tidurnya. Di saat itu, dia mengucap beribu kali syukur karena yang ia alami hanyalah mimpi. Melihat hal ini, kita harus sadar bahwa kita harus memanfaatkan sisa waktu kita sebaik mungkin.

  4. Kekecewaan

    Kita seringkali terbuai akan gemerlap dunia. Kita lalai dengan semua kewajiban kepada Allah. Karena itulah, Allah mengingatkan kita. Dia berikan rasa kecewa kepada kita akan suatu hal agar kita kembali memintanya untuk melepaskan kekecewaan itu. Kemudian, Allah mengabulkan permintaan kita dengan mengganti kekecewaan kita dengan hal yang lebih indah.

Itulah Cara Mengukur Kadar Cinta dan Rindu Allah kepada kita. Dia ingatkan kita agar tetap berjalan di jalan yang benar. Dia ingatkan kita dengan rasa kecewa, sakit, dan berbagai ujian yang lainnya. Kemudian setelah kita sadar, kita akan dibebaskan dari ujian tersebut. Allah menyayangi kita. Dia anugerahkan nafas yang panjang pada kita. Dia ingin kita manfaatkan sisa waktu kita untuk senantiasa bertakwa pada Nya. Sungguh Allah adalah Dzat yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Oleh : Audis Maharsi
 
Template designed by Liza Burhan