Rabu, 25 Juni 2014

Hal-Hal yang Dapat Menguatkan Keimanan (Bagian 1)

Keimanan adalah sebuah keyakinan yang membuat kita mantap dan termotivasi untuk melaksanakan ketaatan kepada Allah. Iman itu tumbuh dalam diri seseorang. Kadarnya bisa bertambah, bisa berkurang dan bahkan bisa dicabut kembali oleh Sang Maha pemberi hidayah. Imam Ali ra mengatakan bahwa iman itu bertambah karena ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. Oleh karena itu, mari bersama-sama berikhtiar untuk memperbaharui keimanan. Tentunya tidak lupa memohon kepada Allah agar menjaga dan menguatkan keimanan yang ada dalam diri kita. Berikut dalam artikel ini kita akan membahas 7 hal yang dapat menguatkan keimanan kita.

Menuntut Ilmu

Keimanan pada dasarnya adalah sebuah keyakinan. Kita akan yakin dengan sesuatu ketika kita tahu dan paham ilmunya dengan baik. Demikian juga dengan keimanan. Keimanan dalam hati kita akan semakin kokoh ketika kita memiliki dasar yang kokoh mengapa kita harus beriman, apa yang kita imani dan bagaimana cara mengimaninya. Itulah yang disebut dengan ilmu atau pengetahuan, yaitu hal-hal yang membuat kita mengerti.

Oleh karena itu, menuntut ilmu adalah salah satu ikhtiar yang dapat dilakukan untuk menguatkan iman. Pelajarilah banyak ilmu baik yang berkaitan dengan agama maupun ilmu-ilmu umum. Terutama ilmu tauhid yang mengajarkan kita pada keesaan Allah. Pelajari Al quran dan sunnah yang menjadi sumber primer hukum-hukum dan keyakinan islam. Belajarlah dari guru yang mumpuni yang bisa membantu kita untuk lebih memahami ilmu-ilmu tersebut dengan benar. Ilmu-ilmu tersebut insya Allah akan semakin mengokohkan keimanan kita kepada Allah Swt.

Membaca dan Mentadabburi Al Quran

“Dan Kami turunkan dari Al Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Qur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” (QS. Al Isra’: 82).

Membaca Al quran atau tilawah Al quran adalah salah satu bentuk dzikir kita pada Allah Swt. Cara untuk menyucikan hati dan mendekatkan diri pada Allah Swt. Seperti disebutkan dalam ayat di atas, bacaan Al quran yang kita lantunkan akan menjadi penawar serta menjadi sebab turunnya rahmat (kasih sayang) Allah swt pada kita. Sehingga, Allah akan meneguhkan keimanan yang ada dalam hati kita.

Tidak hanya sebatas membaca, kita juga dianjurkan untuk mentadabburi Al quran. Apa yang dimaksud dengan tadabbur Al quran? Menurut Ibnu Katsir tadabbur Al quran adalah memahami makna dari lafal-lafal Al quran dan memikirkan apa yang ditunjukkan oleh ayat-ayat Al quran ketika tersusun, serta apa yang terkandung di dalamnya, dan seterusnya. Intinya adalah bagaimana kita bisa mengambil makna, ilmu, ibroh serta pelajaran yang terdapat dalam untaian ayat-ayat Al quran yang kita baca. Sehingga kita semakin paham dengan pesan-pesan dan pelajaran dari Allah yang disampaikan melalui ayat-ayat tersebut. Pemahaman inilah yang akan menguatkan keimanan dan keyakinan kita kepada Allah swt.

Dzikir dan Pikir

Dzikir adalah proses mengingat Allah Swt. Dzikir bisa dilakukan dengan hati, lisan dan perbuatan. Dzikir dengan hati dilakukan dengan cara mengingat Allah dalam hati. Sementara dzikir dengan lisan dilakukan dengan cara menyebut-nyebut asma Allah. Misalnya dengan mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah, asmaul husna, berdoa, membaca Al quran dan lainnya. Sementara dzikir dengan perbuatan yaitu segala aktivitas yang dilakukan dalam rangka mengingat Allah swt. Seperti menuntut ilmu, mengikuti pengajian, melaksanakan ibadah dan lain sebagainya.

Sementara pikir adalah sebuah aktivitas yang mengacu kepada renungan terhadap ciptaan Allah swt. Berpikir adalah aktivitas otak. Di mana dari aktivitas pikir tersebut kita bisa memahami, mengaitkan dan mengambil kesimpulan dari hal-hal yang kita temui dalam kehidupan ini. Berpikir adalah aktivitas yang mengantarkan kita pada pemahaman yang utuh. Sehingga, ketika dzikir dan pikir dipadukan akan melahirkan keyakinan dan keimanan yang kokoh pada Allah swt.

Bersambung ke bagian 2

Oleh: Neti Suriana

Kamis, 19 Juni 2014

Celakanya Alim Yang Fajir

Jika dituduh sebagai pembohong, tentu manusia akan berhujjah dan segera menunjukkan kepandaiannya dalam berbantah yang tidak lain hanya untuk membela dirinya sendiri. Bahkan tanpa sadar, kemahiran orang untuk berbicara panjang lebar dengan ilmunya akan melahirkan sikap sombong dan congkak. Kesombongan tersebut bisa tampak nyata dan tersirat dari perkataan serta perbuatannya yang seolah-olah laiknya alim yang ahli ibadah.

Dan tak jarang pula ahli ibadah yang menjadi guru agama, ustad, kyai, dan orang-orang yang diberikan kemuliaan justru tidak bisa menunjukkan akhlak yang pantas untuk menjadi suri tauladan yang baik. Sehingga tidak mengherankan jika ahli ibadah malah menjadi sumber pemberitaan di berbagai media massa dengan berbagai macam fitnah dan mereka cenderung menyibukkan diri untuk urusan dunia. Padahal orang yang ahli ibadah sudah seharusnya mengikat dirinya untuk terjaga dari hal-hal yang memperturutkan hawa nafsu, keinginan, syahwat, dan berbagai kesenangan dan kelezatan dunia. Karena hal tersebut menjadi ujung pangkal dari godaan iblis dan bala tentaranya. Itulah mengapa Rosulullah bersabda, “Yang paling utama dari jihad adalah jihad melawan hawa nafsu.”

Sementara dewasa ini, banyak sekali kyai, ustad, dan para ahli ibadah yang memang sibuk dengan berbagai macam kegiatan ritual ibadah dalam majelis-majelis dzikir dan ilmu. Bahkan ada pula yang pandai menafsirkan Al Qur’an dan hafal dengan sunah-sunah yang diajarkan oleh Rosulullah, namun mereka berada dalam keadaan lengah karena kesibukan terhadap dunia dengan segala perhiasannya. Seperti sabda Rosulullah, “Demi Allah! Bukan kefakiran yang aku khawatirkan, tetapi kalau dilapangkan kepadamu dunia ini sebagaimana telah dilapangkan pada orang-orang sebelummu. Lalu kamu berlomba-lomba pada dunia itu sebagaimana mereka telah berlomba-lomba terhadap dunia. Akhirnya dunia mencelakakanmu sebagaimana ia telah mencelakakan mereka.”

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Syaqiq Al Balkhi dalam kitab Uyunil Akhbar mengategorikan tiga kebohongan yang kerap dilakukan manusia atas keingkaran dari ucapan mulutnya, yakni; Pertama, mereka berkata,”Kami adalah hamba-hamba Allah.” Namun mereka berbohong karena perbuatannya seperti orang yang merdeka, bukan orang yang menghamba kepada Allah dan takut kepada-Nya. Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah telah berfirman, “Tidak Aku kumpulkan pada seorang hamba-Ku dua buah rasa takut dan tidak juga dua buah rasa aman. Barangsiapa takut kepada-Ku di dunia, maka Aku beri rasa aman di akhirat. Dan barangsiapa yang merasa aman dari-Ku di dunia, maka akan Aku beri rasa takut besok pada hari kiamat.”

Kedua, mereka berkata, “Allah menanggung rezeki kami.” Namun tidak merasa tenang dan tenteram hatinya jika tidak mengumpulkan harta dan mengejar dunia. Kekhawatiran Rosulullah terhadap umatnya tampak jelas dan gamblang dalam sabdanya yang berbunyi, “Bakal datang di akhir massa, orang-orang dari umatku yang datang ke masjid-masjid, mereka duduk di sana bergerombol. Tetapi zikir mereka masalah duniawi dan cinta dunia. Janganlah kamu berkumpul dengan mereka, karena Allah tidak membutuhkan mereka.” Dan dalam hadits qudsi Allah pun berfirman, “Ambillah dari dunia ini untuk sekedar makan, minum, berpakaian. Janganlah kamu menimbun untuk hari esok dan langgengkanlah zikir kepada-Ku.”

Ketiga, mereka berkata, “Kematian adalah suatu hal yang pasti.” Namun perbuatan mereka seperti orang yang tidak percaya kampung akhiran dan lupa terhadap mati. Hal ini pula yang pernah diucapkan oleh Rosulullah ketika ada beberapa orang laki-laki sedang memuji seorang kawan karena kebaikannya. Lalu Rosulullah bertanya, “Bagaimana ingatan kawanmu itu tentang mati?” kemudian dijawabnya, “kami hampir tidak pernah mendengarnya mengingat kematian.” Maka beliau pun bersabda, “Kalau begitu kawanmu itu bukanlah orang yang layak mendapatkan pujian.”

Sehingga hal tersebut sejalan dengan sabda Rosulullah, “Sesungguhnya ada orang alim yang benar-benar disiksa dengan sebuah siksa. Dan mengelilinginya penghuni-penghuni neraka karena menganggap besar terhadap kedahsyatan siksanya, yakni orang alim yang fajir (menyimpang).” Sedangkan dalam sabda yang lain, Rosulullah bersabda, “Akan didatangkan seorang alim pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka. Terburailah usus-ususnya, lalu ia berkeliling dengan menyeretnya sebagaimana seekor keledai berputar membawa penggilingan.” Dan gambaran tentang orang tersebut adalah orang yang menyuruh kebaikan, namun dia sendiri tidak mau melakukannya. Sehingga hal ini pula yang mendatangkan rasa was-was dari Umar ra, “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan diantara hal-hal yang paling aku khawatirkan terhadap umat ini ialah orang munafik yang alim.”

Berangkat dari sini maka sudah sepatutnya ahli ibadah itu mampu menjaga diri dari segala macam kesenangan dunia hingga tidak lahir fitnah terhadap mereka. sehingga akhlak terpuji menjadi identitasnya, kealiman berkat kepandaian ilmunya menjadi penuntun umat pada jalan yang lurus, sedang zuhudnya terhadap dunia menjadikan kefahamannya terhadap agama mengilhami kebenaran yang mengantarkan umat memperoleh taufik dan hidayah dari Allah.

Oleh : mayshiza widya
Sumber; hadits shoheh Bukhari dari kitab Mukasyafatul Qulub, Imam Ghazali.

Rabu, 18 Juni 2014

Kode Etik Hakim dalam Islam - 2(Habis)

Kode Etik Hakim

Hakim adalah penentu selamat atau lepasnya seseorang dari perkara. Karena itu seorang hakim harus sungguh-sungguh dalam menetapkan keputusan atau hukuman dengan seadil-adilnya. Ia harus menjadi firman Allah SWT, “Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan seadil-adilnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 58), sebagai pedoman dalam menetapkan keputusan.

Bila ditelusuri sumber hukum, baik al-Qur’an dan Hadis, ada lima hal. Pertama, wajib mencari keadilan dalam mengadili manusia. Perilaku ini dicontohkan Allah Swt. di dalam al-Qur’an, “Dan (Ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, ketika keduanya memberi keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu. Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat), dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu…” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 78-79)

Menurut riwayat Ibnu Abbas, kisah yang dimuat di dalam ayat tersebut muncul disebabkan ada sekelompok kambing telah merusak tanaman pada waktu malam. Pemilik tanaman mengadukan hal tersebut kepada Nabi Daud as. Ia memutuskan bahwa kambing-kambing itu harus diserahkan kepada pemilik tanaman sebagai ganti tanaman yang rusak. Tetapi Nabi Sulaiman as. memutuskan agar kambing-kambing itu diserahkan sementara kepada pemilik tanaman untuk diambil manfaatnya. Dan pemilik kambing diharuskan mengganti tanaman itu dengan tanaman yang baru. Apabila tanam yang baru telah dapat diambil hasilnya, pemilik kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali. Keputusan Nabi Sulaiman as. yang lebih tepat.

Artinya, keadilan dalam mengadili manusia harus menjadi prioritas utama hakim dalam menetapkan keputusan, sehingga ia tidak melakukan kesalahan. Karena menjadi hakim itu sesuatu yang sangat berat. Maka wajar bila Rasulullah Saw. bersabda dengan diksi yang tegas, “Siapa yang dijadikan hakim di antara manusia maka sungguh ia telah disembelih dengan tidak memakai pisau.”

Kedua, harus memiliki kesopanan dalam menghukum. Artinya, hakim harus tetap sopan santun. Ia tidak boleh memutuskan perkara dalam kondisi marah. Karena marah dapat menimbulkan kezaliman. Rasulullah Saw bersabda, “Hakim tidak boleh menjatuhkan hukuman kedua orang yang berperkara ketika ia sedang marah.” Selain itu, tidak boleh juga hakim menjatuhkan hukuman dalam kondisi lapar, sakit, mau buang air dsb. Karena bisa mengurangi keseriusannya dalam menetapkan hukum.

Ketiga, hakim juga harus menyamakan pertanyaan, tempat duduk dan sebagainya antara dua orang yang berperkara. Hal ini dilihat dari tindakan Rasulullah Saw. saat menjatuhkan hukuman terhadap dua orang yang berselisih atau berperkara di depannya. Keempat, harus mendengarkan dengan baik keterangan dua belah pihak secara bergantian. Hal ini dapat dilihat dari perilaku Ali bin Abi Thalib yang selalu melakukan pengadilan di depan khalayak ramai.

Kelima, hakim dilarang menerima suap karena bisa memengaruhi perkara yang diadili. Bahkan Rasulullah Saw. dengan tegas mengutuknya, “Rasulullah Saw. mengutuk orang yang memberi suap, atau yang menerimanya dalam perkara hukum.”

Jika kelima kode etik ini dipegang dengan kuat oleh hakim, maka ia tergolong orang yang mampu mengamalkan firman Allah Swt. “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maaidah [5]: 8). Semoga di hari Kehakiman tahun ini menjadi jalan bagi hakim muslim untuk berlaku adil dalam memutuskan perkara. Amin

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

Senin, 16 Juni 2014

Membincang Karakter Orang Fasik - 2 (Habis)

“[ialah] orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 27)

Kedua, salah satu orang fasik yang digambarkan di dalam ayat di atas adalah, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk menyambungnya. Contoh sederhananya, hubungan kasih sayang (shilah al-arhaam) dan hubungan kekeluargaan (al-qaraabat).

Yang dimaksud dengan al-arhaam adalah keluarga dekat, dan Islam sangat menganjurkan untuk memelihara hubungan baik terhadap sanak saudara, dan orang-orang yang memutuskan silaturrahmi sangat dicela di dalam agama Islam. Seperti di dalam firman Allah Swt, “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) agama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan takutlah dari memutuskan silaturrahmi.” (QS. An-Nisa: 1)

Yang dimaksud dengan al-qarabaat adalah hubungan silaturrahmi yang terbentuk atas dasar kekeluargaan. Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadis Qudsi, “Aku adalah Allah. Aku adalah Dzat yang Maha Pengasih. Aku ciptakan ‘rahim’. Aku ambilkan kata itu dari namaku. Siapa yang membina hubungan dengan sanak famili (silaturrahmi) aku akan menyambungkan ia dengan namaku. Dan siapa yang memutuskannya, aku juga akan memutuskan hubungan dengannya.”

Hal ini selaras dengan apa yang dimaktubkan Allah di dalam al-Qur’an,“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Rasulullah Saw. juga bersabda, “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan dan sambunglah persaudaraan (tali silaturrahmi), dan shalatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Bahkan di dalam keterangan riwayat hadis disebutkan bahwa di akhirat kelak, Allah Swt. tidak akan mau melihat wajah beberapa golongan umat manusia. Di antaranya adalah, mereka yang telah memutuskan hubungan silaturrahmi dengan keluarga dan kerabatnya sendiri.

Ketiga, dalam ayat tersebut juga disebutkan bahwa orang-orang fasik seringkali membuat kerusakan, baik yang bersifat fisik maupun moral. Mereka kerap kali menyebarkan fitnah, melakukan maksiat, mengadu domba, dan melakukan perbuatan keji lainnya. Semua yang mereka lakukan tidak ada yang membawa kebaikan maupun manfaat. Sehingga, mereka tergolong orang yang rugi dan terus merugi.

Salah satu bukti nyata orang fasik yang kerap kali kita saksikan adalah, merusak alam dengan pembakaran hutan dan sebagainya. Orang muslim tentu tahu bahwa alam, yang terdapat di dalamnya bumi, sungai dan laut, adalah amanah Allah yang mesti dipelihara. Artinya, hanya orang-orang fasik yang suka merusak alam ini.

Meninggalkan Shalat

Bila dikaji di dalam kitab Lubabun Nuqul fi Asbabun Nuzul karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi dimaktubkan, bahwa sebab turun surat al-Baqarah ayat 27 adalah, ketika kaum munafik mempertanyakan dan memperolok-olok firman Allah Swt yang memberikan perumpamaan di dalam QS. Al-Hajj: 73 dan QS. Al-‘Ankabuut: 41 berupa lalat dan laba-laba, dan menganggap bahwa ayat tersebut bukanlah firman Allah, akan tetapi hanya sebatas ucapan Muhammad bin Abdullah semata.

Padahal, maksud yang sebenarnya dari perumpamaan-perumpamaan tersebut adalah untuk meningkatkan ketebalan iman kaum muslimin. Sehingga, orang-orang yang beriman akan menilai segala apa yang terdapat di dalam al-Qur’an sebagai suatu kebenaran (al-haq). Sedangkan bagi orang fasik yang menolak petunjuk Allah dan tidak dapat menghayati perumpamaan-perumpamaan tersebut, maka mereka akan menjadi semakin sesat.

Mereka mendapatkan kerugian dikarenakan tidak adanya rasa kebahagiaan di dalam hati mereka kecuali hanya terisi dengan hawa nafsu yang menggiring diri mereka menuju kondisi kegelapan jiwa yang dihinggapi rasa was-was yang berlebihan dan keragu-raguan serta kerusakan akhlak.

Dalam disiplin ilmu fikih, bagi seorang muslim yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja, tanpa ada alasan yang diperbolehkan untuk tidak melaksanakan shalat, maka ia sudah dapat digolongkan sebagai orang kufur atau orang yang mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena shalat merupakan suatu pembeda antara seorang hamba yang beriman kepada Allah dengan seorang makhluk yang kufur kepada-Nya, seperti hadits Nabi Saw dari Jaabir yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Abu Daud, “Garis pemisah antara seorang yang beriman dan seorang yang kufur adalah shalatnya.

Hal tersebut dikarenakan shalat fardhu adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan umat Nabi Muhammad Saw. pada waktu-waktu yang telah ditentukan, yaitu lima kali sehari semalam dengan tidak adanya satu alasan pun untuk melalaikannya kecuali bila ajal menjemput.

Apalagi, sudah jamak dimafhumi, bahwa shalat nantinya akan menjadi pertanyaan yang pertama kali ditanya oleh Allah Swt. kepada manusia di Hari Kiamat. Hadis Rasulullah Saw. dari Abu Abdullah bin Qurthin menyebutkan, “Yang pertama kali akan ditanyakan bagi seorang hamba Allah di Hari Kiamat adalah masalah shalat. Maka jika shalatnya dinilai baik, seluruh amalnya dipandang baik dan jika shalatnya dinilai buruk, dipandang buruklah semua amalnya. Pertanyaannya sekarang, masihkah kita tidak melaksanakan shalat dengan tidak baik dan benar?

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

Kamis, 12 Juni 2014

Cara Mengukur Kadar Cinta dan Rindu Allah Kepada Kita

Manusia diciptakan untuk bertakwa kepada Allah. Meski sudah dinyatakan dengan jelas, namun banyak orang yang masih mengingkari pernyataan tersebut. Banyak diantara mereka yang merasa Allah itu tidak adil. Mereka sudah bekerja keras, namun hasilnya tidak sesuai keinginan. Kalau sudah begitu, mereka akan menyebut bahwa Allah itu tidak menyayangi kita. Padahal, sudah jelas diterangkan dalam Asma’ul Husna bahwa Allah itu bersifat “Ar Rahman” yang berarti allah itu Maha Pengasih terhadap seluruh Makhluk. Tanpa kita sadari, Allah sayang dan selalu merindukan kita. Lalu, bagaimana cara kita mengetahui besarnya kadar cinta dan Rindu Allah kepada kita? Berikut akan saya jelaskan tentang cara mengukur kadar cinta dan rindu Allah kepada kita.

  1. Ujian

    Tahukah anda? Bahwa saat Allah merindukan hambanya, Dia akan mengirimkan sebuah hadiah spesial untuk hamba tersebut. Dan hadiah tersebut dinamakan “UJIAN”. Hal ini dijelaskan dalam hadist qudsi yang menyebutkan bahwa Allah memerintah malaikat Jibril untuk datang kepada hamba yang Dia rindukan untuk menimpakan berbagai ujian hidup karena Allah merindukan rintihan hamba tersebut.

    Abu said dan Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah berkata bahwa segala bentuk penderitaan, kegundahan, kesedihan, kerisauan yang orang muslim alami merupakan wujud dari penebusan dosa yang ia lakukan. Jadi, semakin banyak ujian yang kita alami, semakin rindu Allah kepada kita. Mendekatlah Padanya dan Pujilah namaNya.

  2. Sakit

    Dalam hidup, tak selamanya kita akan selalu sehat. Kadang kala kita juga akan mengalami penurunan kondisi tubuh yang menyebabkan kita menjadi sakit. Dalam sakit, kita akan meminta kepada-Nya untuk memberikan kesehatan pada kita. padahal, saat itu kita tidak bisa memberikan amalan yang maksimal karena kondisi tubuh yang tidak memungkinkan. Kemudian Allah menyembuhkan kita. Dan menariknya, sakit adalah cara Allah untuk menghapus dosa kita. Sungguh Allah maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

  3. Nyawa

    Manusia memiliki 1 nyawa untuk sekali kesempatan hidup di dunia. Dengan nyawa tersebut, Allah mengharapkan agar kita memanfaatkannya semaksimal mungkin. Namun, seringkali kita lalai akan hal tersebut. Untuk itu, kita yang masih diberi waktu untuk beriman kepada-Nya harusnya bisa memanfaatkan semaksimal mungkin. Pernah seseorang bermimpi dia Meninggal. Dia melihat jasadnya ditangisi oleh banyak orang. Ia melihat jasadnya dimandikan, disholati, dikafani dan dikubur. Ketika berada di alam kubur, ia merasa ketakutan yang amat sangat karena dihampiri malaikat penanya kubur.Kemudian dia terbangun dari tidurnya. Di saat itu, dia mengucap beribu kali syukur karena yang ia alami hanyalah mimpi. Melihat hal ini, kita harus sadar bahwa kita harus memanfaatkan sisa waktu kita sebaik mungkin.

  4. Kekecewaan

    Kita seringkali terbuai akan gemerlap dunia. Kita lalai dengan semua kewajiban kepada Allah. Karena itulah, Allah mengingatkan kita. Dia berikan rasa kecewa kepada kita akan suatu hal agar kita kembali memintanya untuk melepaskan kekecewaan itu. Kemudian, Allah mengabulkan permintaan kita dengan mengganti kekecewaan kita dengan hal yang lebih indah.

Itulah Cara Mengukur Kadar Cinta dan Rindu Allah kepada kita. Dia ingatkan kita agar tetap berjalan di jalan yang benar. Dia ingatkan kita dengan rasa kecewa, sakit, dan berbagai ujian yang lainnya. Kemudian setelah kita sadar, kita akan dibebaskan dari ujian tersebut. Allah menyayangi kita. Dia anugerahkan nafas yang panjang pada kita. Dia ingin kita manfaatkan sisa waktu kita untuk senantiasa bertakwa pada Nya. Sungguh Allah adalah Dzat yang maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Oleh : Audis Maharsi

Tilawah 1 Juz Per Hari, Sulitkah?

Berapa target tilawah Anda per hari? Satu juz, dua juz atau kah masih dalam hitungan halaman?

Menyelesaikan bacaan Al quran 1 juz per hari tidaklah sulit. Bahkan bagi seseorang yang belum lancar sekalipun. Satu juz Al quran itu tidaklah banyak. Tidak lebih dari 10 lembar atau 20 halaman Al quran pojok yang rata-rata digunakan di Indonesia. Seandainya saja kita membiasakan tilawah setiap selesai sholat fardhu, hal itu berarti kita hanya perlu tilawah 2 lembar atau 4 halaman setiap selesai sholat sholat fardhu untuk menyelesaikan target tilawah Al quran 1 juz per hari.

Lalu, pertanyaannya adalah mengapa terkadang kita masih sulit mengkhatamkan tilawah Al quran satu kali per bulan? Seharusnya, jika target 1 juz per hari terpenuhi dengan baik, maka target mengkhatamkan Al quran 1 kali per bulan itu juga bisa tercapai dengan mudah. Bukankah Al quran itu terdiri dari 30 juz? Lalu mengapa target khatam Al quran kita bisa molor? Termasuk saya (Penulis) terkadang sering molor dua hingga tiga bulan untuk mengkhatamkan satu Al quran. Terutama di luar bulan Ramadhan. Padahal menyelesaikan (mengkhatam) bacaan satu kali per bulan merupakan target tilawah paling ringan bagi seorang muslim.

Jadi, di mana kesulitannya?

Ternyata, yang paling sulit dan berat bagi kita untuk tilawah 1 juz per hari adalah menjaga semangat untuk terus konsisten dan rutin tilawah Al Quran. Mungkin, di awal kit bisa saja sanggup tilawah 1 juz per hari bahkan lebih. Namun, apakah hal tersebut akan bertahan pada hari-hari selanjutnya? Ternyata, ini lah tantangan terberatnya. Semangat kita seringkali jatuh di hari-hari selanjutnya.

Mulai dari berkurangnya target yang dicapai dalam satu hari, lupa, hingga perasaan malas yang menyerang. Kelemahan-kelemahan ini lah yang banyak menghalangi kita untuk bisa konsisten mencapai target tilawah Al quran satu hari satu juz. Akibatnya, target satu bulan satu kali mengkhatam Al quran pun sulit untuk diraih.

Nah, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar kita bisa konsisten tilawah satu juz per hari? Kunci utamanya adalah dengan menjadikan tilawah Al quran sebagai kebutuhan bukan kewajiban. Ketika kita menjadikan Al quran sebagai kebutuhan, maka akan terasa ada yang kurang ketika melewati hari tanpa tilawah Al Quran. Kita akan merasa belum nyaman sebelum menunaikan tilawah Al quran dengan baik. Sehingga Al quran pun menjadi hal pertama yang kita sentuh sebelum menyentuh pekerjaan lain. Al quran menjadi hal pertama yang kita baca sebelum membaca yang lain.

Untuk mencapai itu semua dibutuhkan niat dan tekad yang kuat untuk menjadikan kebiasaan tilawah Al quran 1 juz per hari sebagai sebuah kebutuhan. Tanpa itu semua, apa pun tips dan trik yang dianjurkan di luar sana tidak akan ada artinya. Jadi, mumpung masih berada di Bulan Ramadhan, Syahrul Qur’an, ada baiknya kita mulai memperbaharui niat dan tekad untuk semakin memperbaiki interaksi dan kecintaan kita dengan Al quran. Sehingga, pada waktunya kita bisa merasakan betapa indahnya menjadikan Al quran sebagai sebuah kebutuhan.

Oleh: Neti Suriana

Orangtua, Pintu Jannah Yang Paling Tengah

Akhir-akhir ini begitu marak pemberitaan di televisi, tentang seorang anak tega membunuh orangtuanya sendiri hanya karena masalah sepele, misalnya saja hanya karena orangtua tidak sanggup memenuhi apa yang si anak mau. Mungkinkah pertanda akhir zaman? astagfirullahal’adzim. Di mana rasa terima kasih sang anak kepada orangtua yang telah membesarkan serta mendidik kita dengan penuh kasih sayang? Bahkan ketika kedua orangtua kita baru saja menikah kehadiran kita jua lah yang sangat mereka tunggu-tunggu. Tak henti-hentinya kedua orangtua kita mengucap syukur ketika kita baru ada tanda tanda ada dalam rahim seorang ibu.

Detik-detik ketika kita akan terlahir seorang ibu rela bertaruh nyawa hanya demi melihat kita merasakan keindahan dunia. Ibu yang tak pernah mengeluh menggendong kita ke mana mana bahkan sejak kita berada dalam kandungan, ibu yang mengajarkan kita berjalan dari mulai proses merangkak, berdiri hingga kita mampu berjalan dengan sempurna, ibu yang pertama kali mengajarkan kita bicara, ibu yang memandikan kita setiap hari, ibu yang menyuapi kita dengan tepat waktu sekalipun tanpa kita minta karena khawatir anaknya jatuh sakit, ibu yang rela terjaga ketika kita tertidur karena harus menyusui kita, ibu yang memeluk kita ketika kita menangis karena terjatuh. Sementara ayah seakan tak pernah lelah mencukupi segala kebutuhan untuk kita – anaknya, bekerja dari pagi hingga malam hari dan tak jarang dari pagi hingga pagi lagi, terkadang semalaman tidak tidur. Ayah selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kita - anaknya, berapa pun biayanya. Dari mulai biaya persalinan, perlengkapan bayi, susu formula. Saat kita mulai menginjak usia 5 tahun biaya yang harus dikeluarkan orangtua pun semakin besar karena ditambah lagi dengan biaya pendidikan. Disekolahkan mulai dari sekolah taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas bahkan hingga ke perguruan tinggi, belum lagi les privat sana sini. Tak lupa, orangtua juga membekali kita dengan pendidikan agama. Selain disekolahkan, tak jarang seorang anak juga diajarkan mengaji, dipesantrenkan agar kita tidak hanya menguasai ilmu dunia tapi juga paham dengan ilmu akhirat agar kelak kita dapat memberi syafa’at untuk keduanya di hari yang sudah dijanjikan dalam Al-qu’an.

Pernahkah seorang ibu mengungkit-ngungkit jasanya terhadap kita agar dilakukan hal serupa ketika ibu sudah mulai beranjak tua? Pernahkah seorang ayah merinci total seluruh biaya yang sudah dikeluarkannya dari semenjak kita terlahir ke dunia sampai detik ini untuk kita ganti? Jangankan mengganti, untuk menghitungnya saja, mungkin kita tidak akan pernah bisa karena biaya yang dikeluarkannya sudah tidak terhingga.

Karena itulah orangtua adalah pintu jannah, bahkan pintu yang paling tengah diantara pintu-pintu yang lain. Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Orangtua adalah pintu jannah yang paling tengah. Terserah kamu telantarkan ia apa kamu hendak menjaganya” (HR Tirmidzi)

Al-Qadhi berkata, “maksud pintu jannah yang paling tengah adalah pintu yang paling bagus dan paling tinggi, Dengan kata lain sebaik-baik sarana yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam jannah dan meraih derajat yang tinggi adalah dengan menaati orangtua dan menjaganya”.

Bersyukurlah jika kita masih memiliki orangtua, karena di depan kita ada pintu surga yang lebar menganga. Terlebih bila orangtua berusia lanjut, dalam kondisi tidak berdaya atau bahkan pikun atau tak mampu merawat dirinya sendiri seperti bayi yang baru lahir.

Rata-rata manusia begitu antusias dan bersuka cita tatkala memandikan bayinya dan merawatnya dengan wajah ceria. Berbeda dengan sikapnya terhadap orangtuanya yang kembali menjadi seperti bayi. Rasa malas, bosan mungkin kesal seringkali terungkap dalam kata dan perilaku. Mengapa? Mungkin karena ia hanya berorientasi kepada dunia. Si bayi bisa diharapkan nantinya produktif, sementara orangtua yang renta tidak diharapkan lagi kontribusinya. Andai saja kita berorientasi akhirat. Sungguh kita akan memperlakukan orangtua kita yang tua renta dengan baik, karena hasil yang akan kita panen lebih banyak dan lebih kekal.

Sungguh terlalu, orang yang mendapatkan orangtuanya berusia lanjut, tapi ia tidak masuk jannah, padahal kesempatan begitu mudah baginya. Rasulullah SAW bersabda :

“Sungguh celaka…sungguh celaka… sungguh celaka…”, lalu dikatakan, “Siapakah itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “ Yakni orang yang mendapatkan salah satu orangtuanya berusia lanjut namun ia tidak masuk jannah.” (HR Muslim)

Ia tidak masuk jannah karena tidak berbakti, tidak menaati perintahnya, tidak berusaha membuat senang hatinya, tidak meringankan kesusahannya, tidak menjaga kata-katanya dan tidak merawatnya saat mereka tak mampu lagi hidup mandiri. Saatnya kita berkaca diri, sudahkah kita layak disebut sebagai anak berbakti?

Oleh : Aini Nur Latifah
Referensi : Majalah Arrisalah (Abu Umar.A)

Gaya Hidup Sehat Rasulullah



Buku : Hidup Sehat Ala Rasulullah SAW Jasmani dan Rohani
Penulis : Muhammad Safrodin
Penerbit : Pustaka Marwa, Yogyakarta
Tahun Terbit : 2012
Halaman : X + 148 halaman
Resentator : Rahmat Hidayat Nasution

Di dalam al-Qur’an, Allah Swt. mengingatkan kita untuk senantiasa mengikuti Rasulullah. Karena janji yang diberikan, jika mengikuti Rasulullah, adalah cinta Allah Swt. Mengikut Rasulullah tak hanya sebatas ajarannya saja, tapi juga gaya hidupnya. Pasalnya, kemampuan Rasulullah Saw. senantiasa kuat dan mampu beribadah kepada Allah tak luput dari kesehatan yang dimilikinya.

Bayangkan saja, semasa hidupnya Rasulullah Saw. jarang sekali mengalami sakit. Tentu saja, ini menjadi potensi utamanya sehingga mampu beribadah kepada Allah. Jika kita ingin memiliki ibadah seperti Rasulullah, maka hendaklah menjaga fisik dan rohani kita seperti Rasulullah. Karena kesehatan Rasulullah tak terlepas dari mampunya menjaga kesehatan fisik dan rohaninya.

Adalah buku yang dikarang oleh Muhammad Safrodin ini memberikan petunjuk kepada pembacanya ihwal gaya hidup sehat Rasulullah Saw. Plus, penulis juga membeberkan bukti ilmiah terhadap gaya hidup yang dijalani Rasulullah Saw. selama hidupnya. Sungguh, tak ada satu pun bukti ilmiah yang menyalahkannya. Malah, mendukung gaya hidup sehat Rasulullah Saw.

Buku yang memiliki ukuran 130 x 200 mm ini, dibagi oleh penulis menjadi 6 pembahasan. Yaitu, menggapai hidup sehat secara holistik, Rasulullah jarang sakit, Gaya hidup sehat ala Rasulullah sehat fisik, sehat jiwa dan mental, dan sehat secara sosial.

Salah satu contoh bahasannya terdapat di dalam sub pembahasan “Gaya hidup sehat ala Rasulullah sehat secara fisik”. Penulis mencantumkan data-data bahwa Rasulullah Saw. adalah orang yang membudayakan berolahraga. Salah satu contohnya adalah, Rasulullah sangat menyukai olahraga jalan kaki. Diriwayatkan, pernah suatu hari saat Rasulullah Saw. pergi ke makam di Baqi’, yang jaraknya sekitar 3 km dari pusat kota Madinah, dengan berjalan kaki. Padahal bukanlah urusan yang sulit baginya untuk meminta fasilitas kendaraan sehingga beliau tidak perlu jalan kaki. Tapi Rasulullah Saw. bukanlah tipe demikian. Rasulullah tidak suka hidup manja.

Dalam bukti ilmiah, setiap orang dianjurkan untuk melangkah, minimal 10.000 langkah setiap hari. Menurut analisis para dokter, melangkah minimal 10.000 langkah dapat mengurangi resiko munculnya penyakit-penyakit berbahaya seperti jantung, kanker, diabetes dan depresi. (hal. 35-36)

Sejatinya, melalui buku ini pembaca secara tidak langsung diajarkan bahwa Islam benar-benar agama komprehensif. Islam tidak hanya mengatur urusan ibadah saja, tapi juga mendorong manusia agar mampu meraih kesempurnaan hidup, baik bagi individu maupun masyarakat. Apa yang dikatakan Rasulullah Saw. “Kesehatan merupakan salah satu hak bagi tubuh manusia,” benar-benar dijelaskan dengan gamblang di buku melalui pribadi Rasulullah beserta penelitian ilmiah tentang apa saja yang dilakukan Rasulullah untuk kesehatan tubuhnya.

Buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca. Selain sangat bermanfaat, harga buku ini juga tergolong murah. Tidak sampai Rp. 30.000 rupiah. Siapa pun yang membaca buku ini bakal mendapatkan banyak manfaat. Apalagi bahasa dan diksi yang digunakan sangat mudah dicerna, plus desain layout bukunya juga sangat bagus.

Oleh : Rahmat Hidayat Nasution

6 Tanda Taubat Anda Diterima Allah SWT

Kehidupan manusia di dunia ini tidak luput dari dosa besar dan dosa kecil. Banyak orang yang menyesal atas dosa yang telah ia lakukan. Untungnya, Allah selalu mau menerima taubat dari orang yang bersungguh – sungguh. Taubat yang diterima Allah adalah taubat nasuha. Taubat nasuha adalah taubat seseorang yang benar- benar ingin memperbaiki kesalahannya tanpa mengulangi kesalahan yang sama sedikitpun. Bahkan, Allah telah menjelaskan dalam surat Al-Baqarah ayat 275 bahwa Allah menyukai orang yang bertaubat dengan bersungguh sungguh dan melaknat umat yang mengulangi kesalahan yang sama setelah bertaubat.

Begitu sayangnya Allah terhadap umat muslim, hingga Allah menjamin akan menggantikan segala keburukan manusia dengan kebaikan jika kita mau bertaubat dengan sungguh – sungguh. Begitu janji Allah dalam firmanNya. Lalu... bagaimana ciri orang yang taubatnya diterima oleh Allah? Berikut akan saya jelaskan tentang tanda orang yang taubatnya diterima oleh Allah.

  1. Hidupnya jauh dari perbuatan maksiat

    Hal ini merupakan wujud dari firman Allah, yaitu bahwa Dia akan menggantikan kemaksiatan dengan ketaatan bagi umatnya yang mau bertaubat nasuha.
  2. Merasa bahagia dan selalu dekat dengan Allah

    Orang yang taubatnya diterima, hatinya akan terasa damai dan tenang sehingga kebahagiaan akan muncul. Hal ini bisa terlihat dari cara bagaimana ia berbicara dan bertingkah laku.
  3. Selalu dekat dengan orang sholeh

    Orang yang sudah bertaubat nasuha dan diterima oleh Allah pasti memiliki keyakinan untuk menjauhi orang – orang ahli maksiat. Ia telah merasa mantap dengan kata hatinya untuk tidak lagi mengulangi kesalahan yang sama. Berbekal niat tersebut, ia kemudian mencari sahabat – sahabat yang baik dan taat terhadap Allah.
  4. Kurang puas dengan amalan

    Orang yang taubatnya diterima Allah, akan merasa sangat puas dengan apa yang diperolehnya di dunia walaupun pas – pasan. Kemudian ia akan merasa selalu kurang dalam berbuat sholeh untuk mengumpulkan bekal akhiratnya kelak.
  5. Sibuk dengan urusan akhirat

    Orang yang taubatnya diterima, hati dan pikirannya selalu dipenuhi dengan perbuatan yang bisa lebih membuat dia dekat dengan Allah SWT.
  6. Menjaga lisan

    Karena ia sudah berjanji untuk menapaki hidup di jalan Allah, ia akan berhati – hati dalam berbicara. Ia akan selalu menyesali kesalahan – kesalahan yang pernah ia perbuat sehingga Allah murka kepadanya. Ia akan selalu tafakur.

Kita harus senantiasa ingat bahwa kita diciptakan untuk menyembah Allah. Setan ada untuk menghalangi jalan kita ke arah yang benar. Setan akan menjerumuskan kita ke dalam dosa – dosa besar agar kita bisa masuk neraka bersamanya. Sungguh kita harus selalu berlindung kepada Allah agar terhindar dari godaan setan. Taubatlah dengan bersungguh – sungguh selagi anda masih diberi kesempatan oleh Allah, Tuhan yang Maha pengampun dan penyayang.

Oleh : Audis Maharsi

Hal Ihwal Ahli Dzikir



Buku : Karomah Ahli Dzikir (Beragam Manfaat Zikir dalam Kehidupan Seorang Mukmin)
Penulis : Mustafa Syaikh Ibrahim Haqqi
Penerbit : Multazam. , Solo
Tahun Terbit : November, 2013
Halaman : X + 256 halaman
Resentator : Rahmat Hidayat Nasution

Berzikir adalah salah satu anjuran atau bahkan ada yang menjadikannya kewajiban untuk dilakukan setiap hari dan setiap saat. Karena dengan berzikir bisa membuat hati menjadi tenang. Pasalnya, zikir adalah senjata dan sarana untuk meraih kebahagiaan sejati di dunia dan di akhirat. Apalagi, manusia ditakdirkan Allah senantiasa diuji ketika ia sudah menyatakan beriman kepada-Nya.

Sebagai mukmin, jika tidak rajin berzikir kepada Allah, setiap kali menghadapi musibah yang menyesakkan dada dan menyakitkan hati, ia bisa menjadi orang frustrasi dan stres. Hal tersebut dikarenakan begitu kering dan rapuh jiwanya. Hidupnya benar-benar terasa sempit. Persis apa yang difirmankan Allah SWT. “Dan, barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya di hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha [20]: 124)

Melalui buku “Karomah Ahli Zikir: Beragam Manfaat Zikir dalam Kehidupan Seorang Mukmin”, Mustafa Syaikh Ibrahim Haqqi mengajak para pembaca untuk gemar berzikir. Karena orang yang berzikir hatinya akan tenang, jiwanya akan bahagia dan batinnya akan terasa nyaman. Karena zikir kepada Allah mengandung makan berserah diri kepada-Nya, percaya dan bergantung kepada-Nya, kembali kepada-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, menantikan jalan keluar dari-Nya, Dia Maha dekat, Dia Maha mendengar saat dipanggil dan diseru, memperkenankan permohonan saat diminta. (hal. 61)

Siapa pun yang rajin dan gemar berzikir akan senantiasa mendapatkan perlindungan dan karomah (kemuliaan) dari Allah SWT. Kemuliaan tersebut bukanlah hal yang diminta, tapi memang diberikan oleh Allah SWT. Artinya, tak boleh juga zikir dijadikan alat untuk mendapatkan karomah. Karena karomah tersebut memang hanya diberikan Allah kepada orang yang dicintainya. Inilah yang dialami oleh Abu Muslim Al-Khaulani yang tak pernah jemu lisannya dari berzikir. Zikir yang dilakukannya hanya semata-mata karena Allah SWT, bukan yang lainnya.

Ketika Al-Aswad al-Unsi melemparkan Abu Muslim ke dalam kobaran api, ia tak jemu membaca hasbunallah wani’mal wakil. Saat jatuh di kobaran api, api menjadi dingin dan menyelamatkan Abu Muslim al-Khaulani. Peristiwa ini terjadi di masa khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ketika ia datang dari Yaman lalu disambut oleh Khalifah Abu Bakar, saat itu di dekatnya ada Umar dan sejumlah sahabat. Umar lalu berkata, “Selamat datang orang yang dijadikan Allah laksana Ibrahim al-Khalil di tengah-tengah umat Muhammad”. (hal. 119-120)

Buku ini bukanlah buku yang hanya membicarakan karomah (kemuliaan) para ahli zikir saja. Buku ini juga mengupas tentang hakikat zikir, tingkatan-tingkatan zikir, kondisi-kondisi para ahli zikir, zikir dan perlindungan diri yang bersumber dari al-Qur’an dan hadis, manfaat-manfaat zikir, kisah-kisah zikir dan lain-lain.

Karena itu, saya merekomendasikan bagi siapa saja, tua maupun muda, untuk membacanya. Pasalnya, buku ini memang memberikan bekal yang luar biasa dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Dengan mengingat Allah akan memberikan keyakinan yang mantap bahwa hanya Allah yang berkuasa, tempat meminta pertolongan dan memiliki segalanya. Selamat membaca!

Oleh : Rahmat Hidayat Nasution

6 Kunci Sukses Meraih Ketenangan Jiwa

Kehidupan memang tak selamanya berjalan dengan mulus. Berbagai cobaan dan ujian kerap kali menghampiri diri kita. Keluhan selalu datang ketika cobaan dari Allah sedang mendera.Padahal, kita tau sendiri bahwa Allah pasti memberi ujian untuk umatnya sesuai dengan kemampuan diri umat tersebut. Namun, walau kita sudah mengetahui tentang hal itu, kita masih saja seringkali mengalami kegundahan yang selalu membuat jiwa menjadi tidak tenang. Untuk meminimalisir kejadian seperti itu, di sini saya akan berbagi tentang rahasia agar kita senantiasa diberi ketenangan hati oleh Allah SWT.

  1. Percaya Diri

    Jadilah pribadi yang percaya akan kemampuan diri kita sendiri. Dengan percaya diri, secara otomatis otak kita akan terpola untuk menjadi pribadi yang mandiri. Hal ini penting untuk mengurangi tingkat ketergantungan kita terhadap bantuan orang lain.
  2. Positif Thinking

    Pikiran yang selalu positif akan membawa dampak yang positif pula. Banyak buku – buku . inspirasi yang telah membahas mengenai dahsyatnya kekuatan positif thinking. Dalam buku – buku tersebut, dikatakan bahwa kenyataan pada kehidupan kita ini adalah sesuai dengan prasangka yang kita pikirkan. Jika kita berfikir positif, maka kita akan mendapati sesuatu yang positif pula. Dan sebaliknya, jika kita berpikiran negatif akan kehendak Allah, maka hal negatif itu akan terjadi pada diri kita. Maka dari itu, positif thinking adalah komponen yang sangat penting untuk membangun ketenangan hati yang tentunya akan membawa manfaat yang baik pada diri kita.
  3. Jangan Sesali Masa Lalu

    Jangan lagi mengingat kesalahan – kesalahan masa lalu anda. Hal itu hanya akan menimbulkan rasa penyesalan yang semakin besar. Jika anda pernah melakukan kesalahan di masa lalu, ambil pelajarannya kemudian gunakan pelajaran itu untuk melanjutkan hidup anda dengan jauh lebih baik.
  4. Hapus Rasa Dendam

    Jika anda benar – benar ingin menciptakan suasana tenang di hati, anda tidak boleh melewatkan hal ini. Rasa dendam hanya akan menghancurkan rasa persaudaraan kita antar sesama. Dendam juga akan membuat kita lupa akan tujuan awal hidup kita, yaitu senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Melihat banyak dampak negatif yang ditimbulkan oleh rasa dendam, kita diimbau untuk segera menyingkirkan rasa itu dari hati kita. Pikirkan saja bagaimana cara agar kita bisa sukses di dunia dan akhirat.
  5. Hargai waktu

    Kita adalah insan yang diciptakan dengan batas waktu tertentu. Kita bisa mati kapan pun Allah mau. Allah hanya ingin kita bertakwa kepadaNya. Jangan sia – siakan waktu yang anda miliki untuk mengejar hal – hal yang tidak penting. Jangan hanya mengejar gemerlap dunia, karena dunia adalah sesuatu yang bersifat sementara. Manfaatkan sisa waktu anda untuk beribadah kepada Allah, karena dengan begitu, Allah akan melimpahkan rasa tentram pada hati dan jiwa kita.
  6. Jangan Khawatirkan Hari Esok

    Selama kita ada pada jalan Allah, saya yakin anda akan bisa lebih menikmati hidup ini. Jangan khawatirkan hari esok karena hari esok adalah hasil dari apa yang kita lakukan hari ini. Jika hari ini anda menanamkan sebuah kebaikan, maka anda akan memetik hasilnya pada esok hari.

itulah 6 kunci sukses meraih ketenangan jiwa. Intinya, gunakan waktu anda untuk hal – hal yang positif saja dan jangan pernah lalai dalam beribadah kepada Allah. Dengan menjalankan 6 tips di atas, Insyaallah rasa tenang akan melekat pada hati anda. Anda akan bisa lebih menikmati hidup ini. Sekian dari saya, semoga memberi banyak manfaat.

Oleh : Audis Maharsi

Mendidik Anak Saleh: Berawal dari Orang Tua


Tulisan sudah dipindah ke Pendidikan Anak.

Menggagas Masyarakat yang Baik Versi al-Qur’an

Tak ada seorang rakyat di muka bumi ini yang tak ingin memiliki lingkungan yang diberkahi. Lingkungan tersebut hanya bakal terwujud bila berada di poros yang diajarkan oleh agama. Di dalam Islam, konsep masyarakat yang baik sudah diajarkan di dalam al-Qur’an. Hanya tinggal, mau atau tidak umat muslim untuk merujuk dan mengamalkannya.

Allah Swt. berfirman, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini sejatinya mengajarkan tiga faktor tentang terciptanya masyarakat yang baik dan diberkahi Allah.

  1. Pemimpin Yang Lemah Lembut Dan Pemaaf

    Kenapa penilaian terhadap pemimpin yang menjadi garis start untuk terciptanya masyarakat yang baik? Jawabannya, karena pemimpin yang paling bertanggungjawab. Maka dari itu, pemimpin harus bisa menjadi orang yang tetap lemah lembut dan pemaaf meski rakyat melakukan kesalahan.

    Namun, sifat lemah lembut dan pemaafnya bukanlah menjadi alasan utama untuk tidak bertindak tegas. Pemimpin mesti tegas, namun memaafkan. Inilah yang dicontohkan Rasulullah Saw. saat mengalami kekalahan dalam Perang Uhud.

    Yaitu, di saat pasukan pemanah yang berada di puncak bukit Uhud lupa dengan tugasnya di saat para pasukan muslim yang berada di bawah bukit Uhud mengambil harta-harta yang dimiliki masyarakat kafir yang kalah berperang saat itu.

    Para pasukan pemanah terpesona dengan harta tersebut hingga ikut turun dan akhirnya diketahui oleh kaum kafir yang dikomandoi oleh Khalid bin Walid. Akhirnya, kaum kafir pun melakukan serangan balik sehingga pasukan muslim pun mengalami kekalahan.

    Dengan kekalahan ini, Rasulullah Saw. tetap bertindak tegas. Ia mengingatkan apa yang menyebabkan pasukan muslim mengalami kekalahan, namun ia tetap memaafkan kesalahan para pasukannya. Sungguh, sikap seperti ini yang mesti dimiliki oleh seorang pemimpin. Tegas, namun tak lupa memberikan kemaafan agar rakyatnya bisa memperbaiki dirinya. Karena Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang tidak memiliki sikap lemah lembut, niscaya dia akan diharamkan dari segala kebaikan.”

    Karena itu, untuk mewujudkan masyarakat yang baik, maka rakyat mesti memiliki pemimpin yang lemah lembut dan pemaaf. Ia tak mudah emosional dan tak mudah mengeluh. Apa yang terjadi meski disikapi dengan bijak. Ia mesti memimpin karena Allah, bukan karena yang lainnya.
  2. Menegakkan Asas Musyawarah

    Sebagai pemimpin dalam mengambil keputusan harus dilakukan dengan cara bermusyawarah. Musyawarah yang dilakukan lebih mempertimbangkan kepentingan masyarakat banyak. Jika pun harus melakukan keputusan yang sulit, namun ia tetap melihat pada sisi sedikitnya kesulitan atau mudharat yang diterima masyarakat yang dipimpinnya. Artinya, pemimpin senantiasa mengambil kebijakan pada kemaslahatan atau kebaikan yang sangat bermanfaat bagi masyarakatnya.

    Ini juga dicontoh oleh Rasulullah Saw. Beliau selalu memanggil dan mengajak para sahabatnya untuk bermusyawarah dalam problem atau masalah yang tidak dijelaskan hukumnya lewat wahyu. Bahkan, Beliau pun tak segan untuk mengikuti pendapat sahabatnya. Misalnya dalam perang Badar. Rasulullah Saw. mengikuti pendapat Hubbab bin Munzir yang memberikan masukan kepada Rasulullah Saw. untuk menguasai dan menempati daerah Badar yang mengandung banyak air.

    Namun dalam bermusyawarah, hendaklah pemimpin mencari teman bermusyawarah yang takut kepada Allah. Bukan bermusyawarah kepada orang yang ingin mengambil keuntungan. Karena itu memang tidak diajarkan di dalam agama. Carilah yang benar-benar takut kepada Allah. Sehingga ketika memberi pendapat, fokusnya mutlak pada kemashlahatan. Pantas sekali bila Umar bin Khattab berkata, “Minta nasihatlah kepada orang-orang yang takut kepada Allah!”
  3. Tawakkal kepada Allah

    Setelah ditempa pemimpin yang selalu lemah lembut, pemaaf dan suka bermusyawarah, hendaklah pemimpin dan masyarakat yang dipimpin senantiasa bertawakkal kepada Allah. Segala kejadian yang terjadi dan segala keputusan yang diambil tetap diserahkan kepada Allah. Ingatlah selalu bahwa apa pun yang dilakukan dan terjadi tak luput dari qudrat (kuasa) Allah. Apalagi, Allah di dalam al-Qur’an sudah menegaskan, jika bertawakkal kepada-Nya akan dibukakan jalan keluar.

    Allah Swt. berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar”. (QS. Ath-Thalaq: 2)

    Tawakkal di sini bukan saja diperuntukkan kepada pemimpin, tapi juga kepada masyarakat. Tawakkal sendiri pun bukan hanya dibangun di saat hasil musyawarah ditetapkan, tapi bangunlah di saat masalah muncul. Sehingga kesiapan diri menerima apa yang sudah ditakdirkan Allah menjadi jalan untuk terbukanya solusi. Sungguh, pemahaman tawakkal yang tepat akan membentuk kualitas iman yang baik dan terbuka dengan lebarnya jalan keluar terhadap masalah tersebut.

Inilah tiga faktor penting yang mesti dimiliki oleh pemimpin dan rakyat bila ingin memiliki lingkungan dan negara yang diberkahi Allah. Bila keluar dari ketiga ini, tak mengherankan bila terjadi banyak musibah dan bencana. Musibah dan bencana bukanlah tanda tidak sayang Allah kepada makhluknya. Tapi kehadirannya adalah, untuk mengingatkan kembali ihwal ketauhidan kepada Allah SWT., dan mengingatkan ketiga faktor penting yang mampu menciptakan masyarakat yang baik. Wallahua’lam.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

Surat An-Nashr: Surat Allah untuk Mukmin yang Sukses

Setiap awal tahun, sebagian orang menjadikannya titik awal menggagas resolusi yang ingin dilaluinya di tahun tersebut. Ada yang bentuknya mempertahankan apa yang sudah diraih, mengembangkannya dan bahkan ada yang ingin terus berusaha meraih sesuatu yang dicita-citakannya, yang belum berhasil di tahun-tahun sebelumnya. Pertanyaannya, adakah di dalam al-Qur’an surat khusus yang membincang ihwal mengapa seorang muslim sulit meraih apa yang dicita-citakannya?

Adalah surat An-Nashr menjadi jawaban untuk pertanyaan di atas. Surat yang, boleh dikatakan, hampir setiap orang muslim sering mendengar dan bahkan menghapalnya. Bila dilihat dari sebab turunnya (asbabunnuzul), surat An-Nashr secara eksplisit tidaklah berbicara ihwal solusi terhadap sulitnya meraih apa yang dicita-citakan. Tapi, bila dikaji dengan metode tafsir isyari, surat An-Nashr sedang membicarakan ihwal apa yang menyebabkan seseorang susah meraih apa yang dicita-citanya serta solusinya.

Penulis berani menilai demikian, karena mengamini apa yang dikatakan Ibnu Atha’illa as-Sakandari di dalam kitab al-Hikamnya. Yaitu, ada tiga cara menggapai kekhusu’an saat membaca al-Qur’an. Salah satunya adalah, bacalah al-Qur’an seakan-akan kamu mendengarkannya langsung dari Allah SWT. Artinya, cobalah pahami surat al-Ashar seakan-seakan kita sedang mendengarkannya langsung dari Allah SWT. Bayangkan seolah-olah Dia sedang mengingatkan kita.

Tafsir Isyari Surat An-Nashr

Allah Swt. berfirman, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan” (QS. An-Nashr: 1). Ayat ini, sejatinya, sedang mengingatkan orang-orang yang beriman, bahwa yang memberikan kemenangan atau kesuksesan hanyalah Allah Swt. Tanpa pertolongan-Nya tak akan ada seorang pun yang berhasil. Hanya Dia yang membuat manusia bisa berhasil dan sukses.

Sungguh, ayat pertama ini berbicara tentang ketauhidan, bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Esa. Karena sesuai dengan hakikat Tuhan yang kerap dimafhumi bahwa Dia tidak butuh kepada sesuatu apa pun tapi sesuatulah yang membutuhkan-Nya. Artinya, manusia yang membutuhkan Allah untuk meraih kesuksesannya, bukan Allah yang butuh kepada kesuksesan manusia. Hanya Allah yang bisa membuat seseorang menjadi sukses atau menang, bukan usaha mutlak manusia. Makanya, redaksi ayat ini didahului kata “pertolongan Allah” daripada kata “kemenangan”.

Penafsiran ayat pertama ini yang konsentrasinya membahas tentang ketauhidan selaras dengan apa yang ditafsirkan oleh para ulama di dalam kitab-kitab tafsir. Salah satunya adalah penafsiran Imam al-Qurthuby di dalam kitabnya Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. Maksud dari ayat tersebut adalah, pertolongan Allah untuk Nabi SAW. terhadap semua orang kafir yang memeranginya, hingga pada akhirnya kemenangan berada di pihak Nabi Saw.

Demikian halnya dengan siapa saja yang ingin meraih kesuksesan. Ia tak akan bisa sukses meraih impiannya tanpa pertolongan Allah. Karena itu, jemputlah pertolongan-Nya dengan menggunakan cara-cara yang sudah dijelaskan-Nya. Jangan pernah melupakan-Nya, karena akan sulit meraih kesuksesan. Sekiranya pun tercapai akan dibayang-bayangi oleh istidraj.

Adalah sunnatullah dalam meraih kesuksesan, bahwa setiap usaha yang dilakukan, biasanya, diawali dengan kesulitan. Bila sudah datang pertolongan Allah SWT., baru kemudahan dan kemenangan itu hadir. Makanya, ayat pertama ini diawali dengan kata “idza”. Dalam kajian linguistik bahasa Arab, kata “idza” adalah khitab (arah pembicaraan) yang menunjukkan kepastian. Ayat ini jelas menunjukkan kepastian datangnya pertolongan Allah SWT dan manusia akan meraih kemenangan atau kesuksesan, jika ia memenuhi syarat yang dianjurkan-Nya.

Muhammad Abduh menuliskan di dalam tafsir Juz ‘Ammanya, bahwa Nabi SAW. dan para sahabatnya merasa pesimis dan mengalami kegoyahan pikiran karena terlalu besarnya rintangan yang mereka hadapi dalam menyampaikan dakwah Islam. Sudah pasti pesimisme kegoyahan tersebut membawa keterlambatan pertolongan Allah terhadap kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Seolah-olah “terselip” kelalaian terhadap janji Allah yang menguatkan agama-Nya, makanya di dalam surat an-Nashr tercantum anjuran Rasulullah untuk beristighfar dan memuji Allah Swt. “maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan memohon ampun kepada-Nya. Sungguh, dia adalah penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 3)

Bila dihubungkan dengan kesuksesan yang ingin diraih, ayat ini memang layak untuk dibaca selalu. Karena ia mengingatkan mekanisme untuk meraih kesuksesan dalam versi agama Islam. Tak ada makhluk yang diciptakan Allah dalam kondisi kegagalan. Hanya saja makhluk yang selalu lalai mengingat Allah sehingga lambat untuk mendapatkan pertolongan-Nya untuk meraih kesuksesan.

Karena itu, mari jemput kesuksesan tersebut dengan memperbanyak bertasbih dan beristighfar. Karena pesimisme kita bisa meraih kesuksesan yang dicita-citakan tanpa disadari telah membuat kita seakan meragukan ke-Mahakuasaan Allah. Padahal, tak ada satu pun yang terjadi di dunia tanpa izin-Nya. Bila Dia sudah menetapkan, maka tak ada satu makhluk pun yang dapat menghalangi.

Bahkan bentuk dari kesuksesan yang diraih pun diajarkan oleh Allah SWT lewat surat ini. Yaitu, firman Allah SWT, “Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” Ayat ini arah pembicaraannya (khitab) tentang keberhasilan dakwah Rasulullah SAW. Di dalam tafsir Ath-Thabari dimaktubkan bukti nyata ramai orang memeluk agama Islam saat itu adalah, dengan berdatangan masyarakat Yaman ke kota Mekah, sekitar tujuh ratus orang, yang langsung menyatakan dirinya beriman dan taat kepada Allah SWT.

Sungguh, ayat ini juga mengajarkan, ketika kesuksesan sudah diraih seseorang maka akan berbondong-bondong orang mendatanginya. Tapi semua itu berhasil berkat kesadaran diri lewat mendekatkan diri kepada Allah. Yaitu, degan selalu memuji-Nya dan memohon ampunan-Nya. Ingatlah selalu, tak ada kesuksesan yang diraih tanpa pertolongan-Nya.

Meski demikian, kesuksesan tetap berada pada dua aturan. Yaitu, berusaha dengan semaksimal mungkin dan diiringi dengan terus memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang pernah dilakukan atau keraguan terhadap-Nya yang pernah terlintas di hati. Sehingga ketika kesuksesan berhasil diraih tak pernah lupa bahwa semuanya adalah karunia Allah. Maka tasbih pun akan terlantun dari lisan persis seperti apa yang dimaktubkan di dalam surat An-Nashr. Inilah indahnya meraih kesuksesan dalam bingkai iman kepada Allah SWT.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

Muslim Mesti Bekerja Seperti Rasulullah Saw - 2

7 Kunci Rasulullah Saw. dalam Bekerja

Rasulullah Saw. adalah uswatun hasanah (tauladan yang baik) bagi umatnya. Termasuk dalam hal bekerja. Rasulullah Saw. sebelum diangkat menjadi Rasul Allah juga terkenal sebagai pekerja yang tangguh. Sehingga kesuksesannya dalam berdagang dan memelihara hewan tak diragukan lagi. Karena itu, menjadi penting bagi umatnya untuk meniru bagaimana Rasulullah Saw. bekerja. Meski profesi berbeda, tapi kunci keberhasilannya tetap sama.

Ada tujuh kunci sukses Rasulullah Saw. dalam bekerja. Pertama, Rasulullah Saw. selalu bekerja dengan profesional yang terbungkus dalam cara yang baik dan tidak asal-asalan. Persis seperti Sabda Nabi Muhammad Saw.,”Sesungguhnya Allah menginginkan jika salah seorang dirimu bekerja hendaklah meningkatkan kualitasnya.” Kedua, Muhammad bin Abdullah tak pernah menyia-nyiakan kesempatan sekecil apa pun. Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang dibukakan pintu kebaikan, hendaklah ia mampu memanfaatkannya karena ia tidak tahu kapan ditutupkan kepadanya.” Maka tak heran bila dalam bekerja Nabi Saw. kerap menggunakan manajemen yang baik, perencanaan yang matang dan jelas, memiliki tahapan-tahapan dan punya skala prioritas. Ketiga, Nabi Muhammad Saw. dalam bekerja orientasinya adalah masa depan. Sehingga di dalam dirinya terkandung karakter visioner yang dalam bekerja selalu dilakukan dengan benar-benar terarah dan fokus. Hal ini senada dengan firman Allah Swt., “Hai orang-orang yang bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya, Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 8)

Keempat, Rasulullah Saw. adalah sosok orang yang tak suka menunda-nunda pekerjaan. Beliau selalu bekerja dengan tuntas dan berkualitas karena menerapkan ayat al-Qur’an yang diwahyukan kepadanya. Firman Allah Swt., “Maka jika kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain.” (QS. Al-Insyiraah [94]: 7) Kelima, bila pekerjaan yang dilakukan secara berkelompok, Rasulullah Saw. kerap membentuk tim solid dan percaya pada cita-cita bersama. Allah Swt. berfirman, “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103)

Keenam, Rasulullah Saw. adalah pribadi yang sangat menghargai waktu. Tak pernah berlalu waktu dalam hidupnya kecuali menjadi nilai plus bagi diri Rasulullah Saw. dan umatnya. Ini aktualisasi dari firman Allah Swt.,” Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al-Ashar: 1-3) Ketujuh, Yang paling penting bagi Rasulullah Saw. adalah, ia dapat menjadikan pekerjaannya sebagai aktualisasi dari keimanan dan ketakwaan. Makanya tak pernah kelihatan Rasulullah Saw. sibuk menumpuk harta kekayaan. Padahal, ia adalah bisnisman yang sukses. Punya usaha dengan skala besar. Namun, usahanya tersebut tak membuatnya terpesona dengan dunia dan isinya.

Oleh karena itu, marilah kita bekerja seperti Rasulullah Saw. agar hidup kita sejahtera. Sejahtera bukan hanya untuk diri sendiri, tapi bagi keluarga dan umat Islam. Tak ada kebahagiaan yang tertinggi kecuali kita menjadi manusia yang bermanfaat untuk orang lain.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

Muslim Mesti Bekerja Seperti Rasulullah Saw - 1

Percayakah Anda jika Allah menjadikan bumi ini memang untuk manusia? Jika benar, seharusnya hidup kita sejahtera. Namun, sudahkah kita menjadi manusia sejahtera? Jika belum, kita pantas bertanya pada diri sendiri kenapa kita belum bisa sejahtera? Kenapa hidup terasa amat susah dan tidak berada di posisi nyaman? Kenapa rasanya ingin selalu berpangku tangan kepada orang lain?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, pantas rasanya bila kita membaca dan merenungi firman Allah Swt. yang termaktub di dalam surat al-Mulk ayat 15, “Dialah zat yang menjadikan bumi ini mudah buat kamu. Karena itu berjalanlah di permukaannya dan makanlah dari rezekinya.” Artinya, Allah yang Maha Pengasih dan Maha Pemberi Rezeki mewajibkan kita memanfaatkan bumi ini. Menjadikan bumi ini sebagai lahan untuk mencari anugerah Allah berupa rezeki yang halal.

Ayat tersebut sebenarnya ‘menyentak’ kita, bahwa tidak halal bagi seorang muslim bermalas-malasan dalam mencari rezeki dengan dalih karena sibuk beribadah atau tawakkal kepada Allah. Tidak halal juga bagi seorang muslim hanya menggantungkan dirinya dari sedekah orang. Orang yang seperti ini yang disetarakan Rasulullah dengan orang yang sedang memungut bara api. Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang meminta-minta padahal tidak begitu memerlukan, sama halnya dengan orang yang memungut bara api.” (HR. Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah)

Jangan bingung jika ada yang menyatakan, tugas manusia yang diperintahkan Allah Swt. cuma beribadah. Benar, bekerja juga bisa menjadi sesuatu yang bernilai ibadah jika dilaksanakan dengan niat yang ikhlas, cara yang benar dan tujuannya untuk mendapatkan ridha Allah Swt. Ketiga hal inilah etos kerja Islami.

Kita bakal menjadi manusia yang sejahtera manakala kita bisa memanfaatkan bumi dengan baik. Caranya adalah, dengan bekerja karena Allah Swt. Tak sedikit di antara kita yang memiliki pola pikir bahwa bekerja hanya untuk hasil saat itu juga. Jelas ini akan menyiksa diri. Tak akan pernah membuat diri kita sejahtera. Tapi bekerjalah dengan sebaik-baiknya, masalah hasil bisa dinikmati sekarang atau tidak, itu urusan belakangan.

Bahkan, bisa jadi hasil dari kerjanya tersebut tidak dinikmatinya secara langsung, mungkin generasi kemudian yang menikmati hasil atau makhluk Allah yang lainnya. Hal ini bisa disebut sedekah bagi dirinya yang bekerja. Bahkan, menurut Rasulullah Saw., seandainya seseorang sudah memiliki bibit yang hendak ditanam sementara kiamat akan segera terjadi, dia harus tetap menanamnya. Allah akan menilai kerja bukan hasilnya. Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak seorang Muslim menanam tanaman kecuali dia mendapat pahala sedekah dari apa yang bisa dimakan dari tanaman tersebut. Apa yang dicuri dari tanaman tersebut adalah sedekah bagi penanamnya. Apa yang dimakan oleh binatang buas dari tanamannya tersebut adalah sedekah bagi penanamnya. Apa yang dimakan oleh burung adalah sedekah bagi penanamnya, dan tidaklah makan itu dikurangi (dirusak) oleh serangga melainkan menjadi sedekah bagi penanamnya.” (HR. Muslim)

Makanya, pantas bila kita senantiasa mengingat-ingat firman Allah Swt, “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah [9]: 105), sebelum bekerja. Tujuannya, agar kita senantiasa produktif dalam bekerja.

Bersambung ke Bagian 2

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

Bersedekahlah, Karena Ada Keajaibannya



Buku : 9 Keajaiban Shadaqoh
Penulis : Muhammad Syafi’i
Penerbit : Klik Publishing
Tahun Terbit : Juni, 2011
Halaman : 147 halaman
Peresensi : Rahmat Hidayat Nasution

Istilah shadaqoh atau sedekah bukanlah hal yang asing didengar. Mau muslim atau non muslim, sudah akrab dengan kata tersebut. Karena hakikatnya, memberi atau berbagi dengan orang lain. Keberadaan sedekah sendiri sesuai dengan kebutuhan manusia. Bukan hanya bagi yang menerima, tapi juga terhadap yang memberi.

Sehingga bersedekah tidak seharusnya membuat manusia takut kekurangan, malah yang terjadi adalah sebaliknya. Sedekah juga mampu menciptakan keharmonisan di dalam hidup, karena di dalamnya ‘terselip’ nilai mencintai dan menyayangi. Mencintai dan menyayangi sangat dibutuhkan manusia sama halnya dengan keinginan dicintai dan disayangi. Sedekah cukup berperan untuk membangun keduanya. Artinya, sedekah memang menjadi kebutuhan utama manusia, kebutuhan untuk hidup tentram dan mulia. Karena kemuliaan sendiri bisa lahir dari diri sendiri, harta benda, kepandaian ataupun kemuliaan disebabkan ilmu pengetahuan. Sedekah menjadi jalur untuk mendapatkan kemuliaan melalui harta benda.

Buku 9 Keajaiban Shadaqoh yang ditulis oleh Muhammad Syafi’I ini akan mengupas keajiban demi keajaiban yang didapat dari sedekah. Karena itu, penulis sengaja membagi kandungan buku ini menjadi 7 bagian. Yaitu, motivasi bersedekah dalam al-Qur’an dan Sunnah, Apa saja yang bisa disedekahkan, 9 sedekah yang paling dahsyat dirahasiakan, 9 keajaiban sedekah, 4 langkah menggapai keajaiban sedekah, bagaimana bersedekah yang efektif, Tips dan triks membangun budaya bersedekah.

Kajian yang cukup padat dikupas penulis dalam buku ini jelas akan menuntun pembaca menjadi pribadi yang aktif sedekah. Dengan mengenal ke-9 keajaiban sedekah yang dikemukakan penulis sungguh membuat pembaca menjadi gemar bersedekah. Ke-9 keajaiban sedekah tersebut adalah, Sedekah dapat melipat gandakan rezeki, sedekah jalan untuk mendapatkan kebahagiaan, sedekah itu menyehatkan, sedekah mampu menolak balak, sedekah janjikan surga, sedekah menjadi bukti keimanan dan keislaman, sedekah merupakan amal yang tidak putus pahalanya dan sedekah menjadi solidaritas umat menuju kemajuan.

Semua yang dikupas penulis dalam buku ini tak luput dari rujukan yang sangat otentik. Yaitu, al-Qur’an dan hadis Rasulullah Saw. Sehingga, buku penuh muatan isi yang tak diragukan. Isi dari buku ini pun layak dijadikan modal dakwah oleh para da’I, karena ayat dan hadis yang dijadikan rujukan dicantumkan bahasa Arabnya, artinya dan ada barisnya setiap hadis yang dimuat.

Oleh karena itu, buku ini layak dimiliki oleh siapa saja. Karena buku ini bahasanya cukup sederhana. Tak sampai berpikir panjang untuk memahami gagasan demi gagasan yang diungkapkan penulis dalam buku. Semoga dengan membaca buku ini pembaca bakal menjadi pribadi yang gemar bersedekah dan masuk dalam kategori firman Allah SWT., “Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah [2]: 245)

Oleh : Rahmat Hidayat Nasution

Pentingnya Menuntut Ilmu



Buku : Lezatnya Menuntut Ilmu (Begini Seharusnya Anda Menuntut Ilmu)
Penulis : Qosim Nursheha Dzulhadi
Penerbit : Indie Publishing
Tahun Terbit : Maret, 2012
Halaman : vi + 136 halaman
Peresensi : Rahmat Hidayat Nasution

Di dalam Islam telah ditetapkan bahwa menuntut ilmu hukumnya wajib bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun wanita. Kewajiban tersebut diperkuat dengan dalil-dalil qath’I, baik al-Qur’an maupun Sunnah. Malah, berdasarkan dalil-dalil tersebut, Imam Al-Ghazali berani menyatakan dengan tegas, “al-‘ilm bila ‘amal junun, wa ‘amal bila ‘ilm la yakun” (Ilmu tanpa amal gila, dan amal tanpa ilmu sia-sia)

Bagi para penuntut ilmu, di dalam belajar ada beberapa etika yang mesti dimiliki. Tujuannya, agar menjadi pribadi yang mulia bukan saja di sisi manusia tapi juga di sisi Allah Swt. Karena Allah, jika ingin memberikan kebaikan kepada seseorang maka akan diarahkannya menjadi orang yang berilmu. Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa saja yang dikehendaki oleh Allah mendapat kebaikan, Dia akan menjadikannya orang yang paham dalam urusan agama dan ilham (inspirasi)”. (Muttafaq ‘Alayh)

Adalah buku “Lezatnya Menuntut Ilmu: Begini Seharusnya Anda menuntut Ilmu” yang ditulis Oleh Qosim Nursheha Dzulhadi ini memaparkan segala hal yang berkaitan dengan para penuntut ilmu. Di antaranya, ihwal pandangan Imam al-Nawawi tentang tiga adab seorang murid dalam menuntut ilmu. Yaitu, (1) jangan manja ketika diserang penyakit yang sepele; (2) harus serius dalam mendapatkan buku-buku yang dibutuhkan untuk mempertajam pengetahuan yang sudah dimilikinya, baik dengan cara membeli atau meminjam; (3) Dianjurkan untuk berterima-kasih kepada orang yang telah meminjamkan buku. (hal. 33-35)

Selain itu, penulis yang juga seorang guru di Pondok Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Sumatera Utara juga memuat kisah-kisah para penuntut ilmu yang masyhur namanya, seperti Imam as-Syafi’I, Imam al-Ghazali, Ibnu Taimiyyah hingga Buya Hamka. Dari kisah-kisah tersebut para pembaca dimotivasi untuk tak pernah berhenti menuntut ilmu. Plus, beberapa sikap teladan yang mesti dimiliki oleh para penuntut ilmu. Hampir setiap tokoh yang diceritakan tak pernah luput untuk mengikat apa yang mereka tahu dan pelajari dengan menuliskannya kembali. Di sinilah salah satu letak kekuatan ilmu para ulama terdahulu. Sehingga tak mengherankan kenapa mereka mampu menulis buku berjilid-jilid. Tak ada kepuasan para ulama terdahulu dalam menuntut ilmu. Mereka benar-benar haus akan ilmu pengetahuan.

Buku yang memiliki ukuran 13 x 19 cm ini dibagi penulis menjadi lima bagian. Yaitu, keutamaan ilmu dalam Islam, kemuliaan para penuntut ilmu, mengamalkan ilmu, teladan para penuntut ilmu, dan nasihat bagi para penuntut ilmu.

Akan memberikan pemahaman yang tepat ihwal menuntut ilmu, ketika selesai membaca buku ini dilanjutkan dengan membaca buku “Surat Cinta Ghazali” yang ditulis oleh Islah Gumian. Karena di dalam buku yang diterbitkan oleh Mizania tersebut terdapat juga banyak nasehat yang layak dimiliki oleh para penuntut ilmu. Bila mengamalkan kedua isi buku tersebut akan menjadikan Anda pribadi penuntut ilmu yang mulia. Mulia di sisi manusia dan mulia di sisi Allah Swt.

Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja yang sedang menuntut ilmu, terlebih istimewa untuk para remaja, baik yang duduk di bangku sekolah menengah maupun di perguruan tinggi. Karena di tangan para remaja masa depan bangsa dan agama yang suci ini. Selamat membaca!

Oleh : Rahmat Hidayat Nasution

Larangan Riba Dalam Islam

Seperti yang diketahui riba merupakan tambahan dari modal yang dimiliki tanpa melalui usaha seperti bekerja ataupun berdagang. Contoh usaha yang mengandung riba adalah rentenir yang meminjamkan uangnya kepada yang membutuhkan dengan pengembalian uang yang dipinjamkan beserta bunganya. Riba telah lama dikenal mulai zaman Rasulullah SAW dahulu.

Larangan riba telah tertulis secara eksplisit di dalam Al-qur’an. Yaitu:

“Tuhan menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS 2:275)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba, jika kamu orang-orang yang beriman” (QS 2:278-281)

Kaum Kafir Quraisy terkenal dengan kemampuan berdagangnya. Sehingga Mekah yang merupakan pusat peribadatan di jazirah arab menjadi tempat yang cukup strategis untuk berdagang. Karena setiap saat banyak turis maupun penduduk lokal Mekah yang bertransaksi di pasar Mekah. Namun, perlu diperhatikan penduduk Mekah telah terbiasa dengan sistem jual beli ataupun utang dengan cara riba. Adapun jenis-jenis riba yang dimaksud adalah:

  1. Riba Utang (riba duyun).

    Riba utang ini kerap dipraktekkan oleh para tengkulak dan rentenir pada saat ini. Keuntungan dari rentenir adalah tambahan bunga yang ditetapkan oleh rentenir sebelumnya. Biasanya jika peminjam tidak dapat membayar sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan maka bunganya akan bertambah. Hal ini dilakukan rentenir sebagai punishment kepada yang berutang untuk tepat waktu membayar utangnya. Namun, kenyataannya hal ini dilakukan untuk memeras harta peminjamnya. Saat ini banyak rentenir meminjamkan uangnya kepada orang miskin yang jelas-jelas memiliki kesulitan untuk membayar utang. Kemudian begitu utangnya telah menggunung rentenir tersebut akan menyita aset orang miskin dengan mengambil tanah, sawah, bahkan rumahnya sekalipun.
  2. Riba Jual-Beli (riba buyu’).

    Dalam riba jual-beli terdapat Riba Fadhl dan Riba Nasi’ah.

    • Riba Fadhl, merupakan tambahan atau kelebihan. Riba ini terjadi ketika terjadi penukaran barang dengan kuantitas yang tidak sesuai. Pada masa Rasulullah SAW terjadi hal ini. Ketika seseorang ingin memiliki sekeranjang kurma baik, kemudian dia ingin menukarkan 2 keranjang kurmanya yang memiliki kualitas biasa. Namun, Rasulullah SAW melarang hal tersebut. Karena terdapat kelebihan jumlah kuantitas dalam hal yang mau dipertukarkan. Oleh karena itu, Rasulullah SAW kemudian menyuruh kepada pemilik 2 keranjang kurma biasa ini untuk menjualnya terlebih dahulu kemudian baru membeli kurma yang baik kepada penjual lainnya.
    • Riba Nasi’ah, memiliki makna penundaan atau penangguhan. Riba ini biasa dilakukan karena ketidakmampuan peminjam dalam memenuhi kewajibannya dalam membayar sesuai dengan tempo waktu yang diberikan. Sehingga diberikan tambahan dari penangguhan tersebut sebagai kompensasi.

Jenis-jenis riba di atas masih dapat kita temui di kehidupan sehari-hari saat ini. Walaupun dalam bahasa dan istilah yang berbeda-beda. Rasulullah SAW melarang keras riba karena riba memiliki dampak yang sangat buruk kepada peminjam dan yang meminjamkan. Bagi yang meminjamkan akan selalu was-was karena haramnya harta yang ia miliki. Ia tidak akan pernah puas dan biasanya kasar terlebih kepada orang miskin yang meminjam, juga pelit dan tidak mau berbagi. Sedangkan bagi yang menerima pinjaman, akan terus dililit utang dan terus bergantung kepada utang. Kehidupannya sulit membaik karena aset yang ia miliki suatu saat akan disita.

Karena banyaknya mudharat yang ditimbulkan dari riba ini islam melarang dengan keras praktek riba dalam segala aspek kehidupan. Terlebih saat ini banyak praktek riba yang tersamarkan dan memiliki arti yang berbeda-beda. Bunga bank juga termasuk riba sesuai dengan fatwa MUI bahwa bunga bank termasuk riba dan itu haram. Oleh karena itu, sebagai umat muslim kita harus sadar betapa pentingnya mengenal jenis riba dan menghindarinya dari kehidupan kita sehari-hari agar kita terbebas dari laknat Allah SWT.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan

Mengenal Orang Pintar di Dunia dan di Akhirat - 2 (Habis)

Abdullah bin Salam adalah salah satu orang yang menjuluki para sahabat Nabi dengan sebutan bodoh. Ia dan kawan-kawannya dari komunitas rahib (pendeta) di Madinah menilai bodoh kaum Muhajirin karena dianggap terlalu gegabah memusuhi kaum dan keluarga di Mekah, serta rela meninggalkan kampung halaman hanya untuk ikut Muhammad. Kaum Anshar juga diklaim bodoh oleh mereka, lantaran rela membagikan harta benda dan rumah mereka untuk menolong kaum Muhajirin.

Ejekan dan cacian Abdullah bin Salam ini sejatinya sama seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir di Mekah. Sebab, pikiran mereka tidak waras. Pikiran mereka membalikkan pengertian sebenarnya. Masalah yang baik dianggap mereka buruk, dan masalah yang buruk mereka anggap baik. Inilah bentuk safih (bodoh) mereka. Hal ini disebabkan karena mereka tidak tahu apa manfaat iman. Mereka hanya melihat apa yang tampak di depan mata saja.

Ketika kaum Muhajirin rela meninggalkan kota Mekah demi mengikuti jejak Muhammad hijrah ke Madinah, maka inilah yang dianggap bodoh oleh kaum Munafik. Begitu juga dengan apa yang dilakukan kaum Anshar yang rela berbagi kehidupan dengan kaum Muhajirin. Ini juga dikategorikan tindakan bodoh oleh orang-orang munafik dan fasik di masa Rasulullah Saw.

Padahal, apa yang diduga oleh mereka tersebut adalah salah besar. Ahmad Mustafa al-Maraghi di dalam kitab Tafsir al-Maraghi justru memaktubkan bahwa kaum Muhajirin dan Anshar adalah kelompok orang beriman yang sangat pandai. Mereka adalah orang yang mengikuti akal sehat, sebab telah menapaki jalan kebenaran yang hakiki. Orang seperti ini di dadanya penuh dengan perasaan iman, yang menjadi tumpuan segala perbuatan. Mereka adalah kelompok orang yang pintar di dunia dan di akhirat.

Diklaim sebagai kelompok yang pintar di dunia, karena mampu meyakini bahwa apa yang mereka miliki adalah milik Allah. Harta adalah dunia. Kaum muhajirin dan Anshar meyakini bahwa harta tersebut di akhirat akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Mereka meninggalkan harta demi agama Allah, kelak di akhirat jika ditanya ke mana harta tersebut dinafkahkan, dengan serta-merta kaum Muhajirin dan Anshar dengan mudah menjawab. Yaitu, Digunakan di jalan Allah.

Selain itu, kaum Muhajirin dan Anshar juga telah mendengar sabda Rasulullah Saw, “Dua perkara yang paling ditakuti anak Adam. Yaitu, mati. Padahal, mati itu lebih baik dari ujian. Harta yang sedikit. Padahal, harta yang sedikit tersebut akan meringankan hisab di hari penghisaban kelak.” Iman yang menjadi barometer kaum Muhajirin dan Anshar sehingga mereka siap berhijrah dan berbagi dengan sesama kaum mukminin. Iman juga yang menjadikan mereka menjadi kaum yang pintar di dunia dan di akhirat.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Adalah menjadi pelajaran bagi kita saat ini, bahwa Allah Swt. telah menunjukkan seperti apa karakter orang pintar dan bodoh. Orang pintar adalah orang yang tetap menapaki jalan yang telah ditetapkan Allah, baik melalui kitab yang diturunkan-Nya maupun dari hadis yang tuturkan oleh nabi-Nya, Muhammad Saw.

Jika ada yang melenceng dan menilai orang yang tetap dan senantiasa berpegang kepada apa yang diatur oleh Allah Swt. sebagai orang bodoh, maka sejatinya ia sendiri telah menjadi orang bodoh. Karena ia telah menapaki jalan kaum munafik dan fasik yang disebutkan Allah Swt. di dalam surat Al-Baqarah ayat 13. Malah, dengan tegas Allah Swt menyebutkan di dalam ayat tersebut bahwa kaum munafik dan fasik yang sebenar-benarnya orang bodoh, hanya saja mereka tidak menyadari dan mengetahuinya. Wallahu ‘alam.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

Mengenal Orang Pintar di Dunia dan di Akhirat - 1

“Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman, “mereka menjawab: “Akankah kami beriman sebagaimana orang-orang bodoh itu beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah: 13)

Di dalam kitab Lubabun Nuqul fi Asbaabin Nuzul, Imam Jalaluddin as-Suyuthi menuliskan bahwa ayat ini mengutarakan ihwal ejekan dan cemoohan kaum munafik dan fasik terhadap orang-orang yang beriman. Yang dimaksud munafik adalah orang yang bermuka dua. Sedangkan yang dimaksud dengan fasik adalah orang yang senang mencampuradukkan perkara yang haq dengan yang bathil. Di zaman Nabi, ketika Nabi Saw. dan para sahabat tinggal di Madinah, banyak kaum Munafik Madinah menyebut kelompok Islam sebagai orang bodoh. Ketika para sahabat mengajak kaum pribumi Madinah untuk meninggalkan agama terdahulu dan kemudian beriman kepada Allah dan rasul-Nya, mereka tak menggubrisnya sedikitpun. Malah, mereka menilai bahwa ajakan tersebut adalah seruan kebodohan. Oleh Allah Swt., peristiwa ini dimaktubkan di dalam al-Qur’an.

Siapa yang Bodoh?

Kata ‘as-sufaha’ (orang-orang bodoh) yang termaktub di dalam surat Al-Baqarah ayat 13 adalah bentuk jamak dari kata tunggal safihun. Kata ini persis seperti kata ‘ulama (orang-orang pintar) merupakan bentuk jamak dari kata ‘aalimun. Secara bahasa, kata safihun berarti bodoh secara akal, lemah pikiran dan tidak bisa mengetahui mana yang berguna dan mana yang berbahaya. Dengan masuknya alif lam ta’rif pada kata sufaha’, maka menunjukkan bahwa orang bodoh yang dimaksud tidak keseluruhan, melainkan pada sebagian atau kelompok tertentu.

Kata as-sufaha’ juga disebutkan di dalam al-Qur’an pada surat An-Nisa’ ayat 5. Namun, di dalam ayat tersebut, para ulama tafsir sepakat bahwa kata sufaha’ ditujukan kepada kaum wanita dan anak-anak kecil, karena mereka lemah akal dan tak banyak tahu tentang baik dan buruk dalam mengelola harta kekayaan.

Yang membedakan surat al-Baqarah ayat 13 dengan surat An-Nisa ayat 5 adalah pembicaraan ayat sebelumnya. Surat an-Nisa’: pembicaraannya tentang harta kekayaan, sedangkan Al-Baqarah: 13 pembicaraannya tentang perilaku orang munafik. Salah satunya adalah sindiran dan cemoohan mereka terhadap kaum Muhajirin dan Anshar.

Ibnu Katsir mengemukakan pendapat ini di dalam kitab Tafsir-nya. Yang mengucapkan tuduhan tersebut adalah, orang munafik yang tinggal di Kota Madinah. Bagi mereka, para sahabat Nabi dianggap membelot dari ajaran nenek moyang kaum Arab. Itulah sebabnya umat Islam dianggap bodoh. Senada dengan pandangan ini adalah Ibnu Abi Hatim dalam kitab Tafsirnya, Imam As-Suyuthi dalam kitab Ad-Durr al-Mantsur dan Asy-Syaukani dalam kitab Fath al-Qadiir.

Para ulama tafsir sepakat lantaran ditopang oleh beberapa riwayat hadis. Salah satunya adalah riwayat yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas. Kata Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan ‘orang-orang bodoh’ pada ayat tersebut adalah tuduhan orang munafik kepada para sahabat Nabi, lantaran mereka iri terhadap perkembangan umat Islam yang begitu pesat di Madinah.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

Mengenal Strategi Setan Menggoda Manusia - 2 (Habis)

Akan tetapi, begitu mereka melihat teman-teman mereka di bawah memperoleh kemenangan dan saling berebut memunguti harta benda pasukan Musyrik yang ditinggal lari oleh pemiliknya, akhirnya regu pasukan pemanah itu terlena dengan harta benda tersebut dan lupa daratan sehingga meninggalkan perintah Nabi SAW. agar tetap pada posisinya sebagai benteng pertahanan di bukit Uhud. Akibatnya, bukit Uhud itu kosong dari penjagaan regu pemanah, dan pasukan Musyrik mengetahuinya dari kejauhan, sehingga dengan segera pasukan Musyrik di bawah komando Khalid bin Walid melakukan serangan balik yang mematikan sehingga segera berbalik dan kaum Muslimin menderita kekalahan akibat serangan balik tersebut.

Kisah ini memberi pelajaran ketika sudah cinta dengan dunia akan membuat manusia mudah dikalahkan. Bisa membuat manusia menjadi jauh dari Allah SWT. Ambillah dunia seperlunya, khususnya untuk memperkuat ibadah kepada-Nya. Jangan sampai membuat diri menjadi budak dunia sehingga akhirnya dengan mudah diperbudak Setan. Allah SWT. menjelaskan seperti apa penyesalan orang yang begitu cinta dengan dunia saat mereka di hari kiamat kelak. “Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; pada hari itu sadarlah manusia, tetapi tidak berguna lagi kesadaran itu. Dia berkata, ‘Alangkah baiknya sekiranya dahulu aku mengerjakan kebajikan untuk hidupku ini’. Maka pada hari itu tidak ada seorang pun yang mengazab seperti azab-Nya (adil), dan tidak ada seorang pun yang mengikat seperti ikatan-Nya.” (QS. Al-Fajr: 23-26)

Ketiga, menggoda dari sebelah kanan dengan menanamkan keraguan terhadap syariat. Godaan ini mengakibatkan manusia menjadikan kehidupan dunia sebagai persoalan sepele saja. Ia menganggap bahwa ibadah-ibadah yang dilakukan tidaklah bermanfaat untuknya. Bahkan, shalat tidak dianggapnya sebagai kewajiban. Ia menganggap shalat hanyalah sebagai tanda bahwa ia seorang muslim. Sehingga ketika terlupa atau tidak shalat, ia menganggapnya sebagai hal yang biasa. Begitu juga dengan ibadah-ibadah fardhu yang lain, seperti puasa, zakat dan haji.

Bahkan godaan Setan dari sebelah kanan bisa membuat manusia sepele dengan agamanya, yaitu sepele degan segala hukum-hukum yang terkandung di dalamnya. Di sinilah seseorang tidak lagi memandang efek samping atau dosa yang dilakukannya ketika korupsi. Ia memandang bahwa mencuri atau mengambil hak orang lain itu hukumannya tidak ada. Padahal, Allah sudah menggariskan apa hukuman yang akan diterima pencuri atau pengambil hak orang lain. Di sinilah, seseorang yang terbujuk rayuan setan dari sebelah kanan menganggap bahwa semua aturan yang ditetapkan Allah SWT sebagai permainan saja. Allah Swt. berfirman, “Dan janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan. Ingatlah nikmat Allah kepada kamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu, yaitu Kitab (al-Qur’an) dan Hikmah (Sunnah), untuk memberi pengajaran kepadamu. Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 231)

Keempat, menyesatkan manusia dari kiri, yaitu dengan merangsang manusia untuk berbuat maksiat. Sehingga kemaksiatan dan dosa dianggap sebagai sesuatu yang menyenangkan, indah, menguntungkan dan membahagiakan. Allah SWT. berfirman, “ Maka apakah pantas orang yang dijadikan terasa indah perbuatan buruknya, lalu menganggap baik perbuatannya itu? Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Faathir: 8)

Walhasil, menjadi keharusan kita untuk berlindung kepada Allah Swt. dari segala godaan setan. Tujuannya, agar tidak tersesat dan mengalami penyesalan nantinya di hari kiamat.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

Mengenal Strategi Setan Menggoda Manusia - 1

Di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia “Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu”. (QS. Al-Baqarah: 168). Sedangkan Setan sendiri setelah dimurkai Allah SWT bertekad untuk menggoda dan menyesatkan manusia dengan beragam cara. Hal ini diceritakan Allah di dalam al-Qur’an, “(Iblis) menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkanku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raaf: 16-17)

Di dalam tafsir Ibnu Katsir dimaktubkan pernyataan Ibnu Abbas ra. yang menyebutkan ada empat strategi Setan dalam menyesatkan manusia. Pertama, menggoda dari depan dengan cara menanamkan keraguan tentang kehidupan akhirat. Efek sampingnya, manusia tidak yakin adanya hari berbangkit dan tidak menyiapkan perbekalan untuk menghadapi hari penghisaban atau hari kiamat kelak dengan amal shaleh yang banyak sehingga akan memperoleh azab dari Allah Swt.

Proses penggodaan Setan dari depan ini bisa melahirkan dua ‘wajah’ manusia. Yaitu, menjadi kafir atau menjadi muslim yang gemar berbuat maksiat. Menjadi kafir akan menghantarkan mereka seperti orang kafir Quraish ketika Rasulullah SAW. menyampaikan adanya hari berbangkit, namun mereka menolak dengan mentah-mentah. Inilah yang dipaparkan Allah SWT. di dalam surat An-Naba’ ayat 1-30. Sedangkan orang muslim yang berbuat maksiat, ia tetap menyatakan keimanan tentang hari akhirat hanya saja ia tidak aktif atau menyibukkan dirinya dengan amal ibadah untuk menghadapi hari tersebut. Ia seolah-olah berpikir bahwa hidup di dunia ini yang paling penting, karena hidup di akhirat tidak tahu kapan dialaminya. Sehingga persiapan yang dipikirkannya adalah. hanya persiapan apa yang dihadapinya saat ini.

Karakter pribadi seperti ini hanya akan sibuk dengan apa yang dibutuhkannya saja. Orang yang seperti ini pun akan senantiasa memandang baik perbuatan buruk. Kadar kepercayaannya terhadap hari akhir ada, tapi lebih mendominasi keraguannya tentang terjadinya tersebut. Inilah yang dijelaskan Allah Swt. di dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami jadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka (yang buruk), sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan.” (An-Naml: 4)

Kedua, menggoda dari belakang dengan menumbuhkan rasa cinta terhadap dunia. Ini adalah penyakit terbesar dari manusia, termasuk umat Islam. Bahkan bisa menghilangkan kekuatan umat sehingga umat ini, seperti makanan lezat yang diperebutkan orang yang lapar.

Kondisi ini pernah terjadi di masa Rasulullah SAW. Yaitu, umat Islam memenangkan peperangan dalam perang Badar dengan jumlah mereka yang sedikit yaitu 313 pasukan menghadapi pasukan kaum Musyrikin Quraisy yang berjumlah 1000 pasukan. Akan tetapi pada waktu peperangan Uhud, umat Islam dengan jumlah sekitar tujuh puluh pasukan Muslim yang gugur sebagai martir. Pada waktu perang Uhud, pasukan Muslim berjumlah 700 orang, sementara kaum Musyrik berjumlah 3000 orang. Dalam peperangan tersebut, kaum Muslim menderita kekalahan karena sebagian kaum muslim, yaitu regu pasukan pemanah, melanggar perintah Rasulullah SAW. agar tetap pada posisinya di atas benteng Uhud sebagai benteng pertahanan, baik ketika teman-teman mereka memperoleh kemenangan atau kekalahan.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution
(Bersambung)

Kode Etik Hakim dalam Islam - 1

Secara sederhana, hakim adalah oknum yang memiliki wewenang untuk memutuskan suatu perkara di pengadilan dengan bukti-bukti dan keyakinan yang ada. Sebagai muslim layak mengkaji bagaimana saat Rasulullah Saw. menjadi hakim dan kode etik hakim berdasarkan al-Qur’an dan hadis Rasulullah Saw.

Dengan adanya pengkajian kode etik hakim, diharapkan menjadi ‘terang’ cara menetapkan keputusan yang dilakukan oleh hakim yang beragama Islam. Karena hal ini bisa mengagas diri hakim sebagai hakim yang masuk surga, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, “Hakim itu ada tiga tipe. Satu masuk ke dalam surga dan dua lagi masuk ke dalam neraka. Hakim yang masuk ke dalam surga adalah hakim yang paham dan mengerti akan yang benar dan memutuskan hukum dengan benar. sedang dua hakim yang masuk ke dalam neraka adalah hakim yang mengerti akan kekuasaan, lalu dilakukannya penindasan dalam menetapkan hukum dan hakim yang menghukum manusia karena ketidaktahuannya.”

Artinya, dua hakim yang masuk ke dalam neraka adalah hakim yang mau disuap agar tidak memenangkan pihak yang benar dan hakim yang tidak tahu mengenai hukum terhadap perkara yang dihadapi namun dengan berani ditetapkannya hukum. Dan yang masuk surga adalah hakim yang tahu dan paham tentang hukum secara benar dengan bukti-bukti yang kuat dan memutuskan dengan benar. Hakim yang masuk surga adalah hakim yang tak menerima intervensi dari siapa pun. Ia hanya menetapkan hukum dengan bukti dan keyakinan yang ada pada dirinya.

Maka wajar, bila para ulama takut menjadi hakim, bila masih ada yang lebih pantas. Ini pernah terjadi di masa Khalifah Utsman bin Affan. Ia pernah meminta Ibnu Umar menjadi hakim namun ia tidak mau karena masih ada yang lebih patut dan dia takut jika tidak bisa memutuskan dengan benar. Demikian halnya juga terjadi di khalifah al-Mansyur. Ia meminta imam Abu Hanifah untuk menjadi hakim, namun ditolaknya hingga akhirnya ia dipenjarakan.

Hukum Menjadi Hakim

Menurut disiplin ilmu fikih, hukum menjadi hakim adalah fardhu kifayah. Jika ada yang layak menjadi hakim dan dia bersedia, maka lepas tuntutan masyarakat dari kewajiban tersebut. Namun yang menjadi hakim mesti orang yang mumpuni di bidang hukum, karena ada keputusan yang dilakukan oleh hakim berdasarkan ijtihadnya.

Kasus seperti ini pernah terjadi pada Mu’az bin Jabal ketika diutus Rasulullah Saw. ke Yaman. “Bagaimana caramu mengadili?” tanya Rasulullah Saw. Mu’az menjawab, ‘Aku menghukum dengan apa yang ada di dalam kitab Allah’. lalu Rasulullah Saw. bertanya lagi, “Jika tidak ada di dalam kitab Allah?” Mu’az menjawab, “dengan Sunnah Rasulullah?” Rasulullah kembali bertanya, “Jika tidak ada di dalam sunnah Rasulullah?” Mu’az menjawab, “aku berijtihad menurut pikiranku. Rasulullah Saw menjawab, ‘Alhamdulillah yang telah memberi taufik terhadap utusanku.”

Karena berhubungan dengan ijtihad, maka hukum menjadi hakim fardhu kifayah. Tidak semua orang dapat berijtihad. Ia harus memiliki syarat-syarat mujtahid dan cara mujtahid menetapkan hukum. Namun, akan menjadi berdosa suatu masyarakat bila tidak ada seorang pun yang mau menjadi hakim.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

Meneladani Gaya Lebaran Nabi

Bagi umat muslim tentunya hari raya Idul fitri yang jatuh setiap tanggal 1 Syawal disambut dengan kegembiraan. Sehingga berbagai persiapan pun dilakukan untuk menjadikan momentum lebaran sebagai sesuatu yang meninggalkan kesan baik. Terlebih bagi para pelancong yang bekerja jauh dari kampung halaman, maka mudik menjadi hal yang tidak mampu dipisahkan dari tradisi berlebaran masyarakat Indonesia. Tak ayal acara mudik pun kerap dilakukan dengan mempersiapkan segala sesuatu yang serba baru. Seperti; baju baru, kue lebaran, bingkisan lebaran, angpau atau uang fitrah, dan sebagainya.

Di samping itu, meroketnya kebutuhan pokok di bulan Ramadhan dan menjelang lebaran menjadikan masyarakat yang ingin merayakan hari kemenangan merasa khawatir. Apalagi subsidi BBM telah dicabut oleh pemerintah, sehingga harga-harga kebutuhan sandang maupun pangan pun semakin mencekik masyarakat miskin. Sehingga anggaran yang telah dipersiapkan untuk berlebaran terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan. seperti; uang transportasi untuk mudik, belanja barang konsumtif yang dikenakan saat hari raya Idul Fitri, dan sebagainya. Dan terkadang gaji bulanan dan uang THR tidak mampu menutup kekurangan dari anggaran yang diperlukan. Oleh karena itu, untuk menutupi kekurangan yang ada masyarakat yang ingin berlebaran mengambil alternatif untuk melakukan pinjaman, baik pada lembaga keuangan perbankan atau perorangan.

Padahal jika ditelisik lebih jauh, tradisi berlebaran semacam itu tidak pernah diajarkan dalam islam. Nabi yang dikenal sebagai pribadi yang sederhana pun merayakan hari kemenangan tidak dengan cara yang berlebih-lebihan. Karena hakikat dari lebaran sebenarnya adalah pengembalian kefitrahan manusia sebagai hamba yang terbebas dari segala dosa, setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan sebulan lamanya. Sehingga hari kemenangan diharapkan mampu meningkatkan nilai ketakwaan seorang hamba kepada Allah.

Begitu pula yang disunahkan Nabi pada umatnya dalam merayakan hari raya Idul Fitri. Umat muslim diperintahkan untuk mengumandangkan takbir ketika matahari tenggelam di malam 1 Syawal. Hal itu dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan ibadah puasa Ramadhan kepada Tuhan dengan rasa syukur menyebut nama Allah. Lalu Nabi pun menyuruh para umatnya untuk pergi menunaikan sholat ied esok harinya sebagai perwujudan dari mengingat Allah.

Dan tentu saja tidak ada aturan yang mengharuskan umat muslim untuk berpakaian baru ketika melaksanakan ibadah sholat Ied. Terlebih memamerkan harta benda yang bersifat duniawi kepada khalayak dan menimbulkan rasa iri hati bagi muslim lainnya. Misalnya dengan mengenakan busana muslim dengan model fashion terbaru ala artis idola dengan harga mahal, menggunakan perhiasan yang berlebihan, membagi-bagikan sedekah dengan tujuan riya’, dan sebagainya.

Karena menyoal penampilan Nabi ketika hendak berangkat melaksanakan sholat Ied. Beliau melakukan mandi sunnah terlebih dahulu, lalu menggunakan pakaian yang paling bagus yang dimiliki (baca: bukan pakaian baru), menyemprotkan wangi-wangian, sarapan pagi dengan makan beberapa butir buah kurma dalam jumlah ganjil, dan memerintahkan untuk membayar zakat fitrah sebagai bentuk penyucian harta. Dan dalam perjalanan menuju tempat ibadah sholat Ied, Nabi tidak henti-hentinya membaca takbir, tahlil, dan tahmid dengan suara lantang. Beliau pun ketika bertemu dengan para sahabat dan umatnya mengucapkan. “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Yang artinya; Semoga Allah menerima amalan saya dan amalan kamu. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Dari sini terlihat jelas bahwa perilaku nabi dalam menyambut hari raya Idul Fitri tentu tidak sebagaimana yang diidentikkan oleh masyarakat muslim di Indonesia. Selain itu, keteladanan yang Nabi tunjukkan tersebut seharusnya mampu membuka ruang pikir masyarakat bahwa segala sesuatu yang berlebih-lebihan tidak disukai oleh Allah. Demikian pula dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Karena yang terpenting dari segala rentetan panjang proses ibadah kepada Allah tersebut ialah niat dalam hati. Kegembiraan menyambut hari kemenangan tentunya adalah luapan kebahagiaan yang bersumber dari hati, karena Allah SWT telah mengampuni segala dosa manusia sehingga ia bagaikan bayi yang terlahir kembali ke dunia.

Oleh karena itu, penting menjadi catatan bagi umat muslim untuk melaksanakan ibadah dengan kesungguhan hati, bukan untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai orang yang ingin disegani di lingkungan masyarakat dengan keglamouran yang ditunjukkan dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Terlebih Nabi pun menganjurkan bagi umat muslim untuk menunaikan ibadah puasa selama enam hari di bulan Syawal sebagai bagian dari pengendalian diri dari tindakan berlebihan dalam menyambut hari kemenangan. Tentunya Di samping keutamaan puasa Syawal yang setara degan puasa selama satu tahun tersebut.

Dengan demikian, kita bisa menarik benang merah dari keteladanan nabi dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Apalagi beliau tidak hanya merupakan hamba yang paling takwa dan takut kepada Allah, melainkan hamba yang tidak mempunyai dosa. Tentunya sikap dan perilaku nabi tersebut bisa menjadi bahan perenungan bagi kita agar tidak membelanjakan harta dengan berlebihan, sehingga besar pasak daripada tiang. Dengan kata lain, tidak perlu ada penyesalan di kemudian hari (baca : pasca lebaran) dengan beban utang yang bisa menjadi pionir bagi munculnya persoalan baru yang menjangkiti masyarakat. Itu pula sebabnya hari kemenangan dianggap sebagai titik klimaks bagi seorang muslim untuk mengendalikan hawa nafsunya. Sehingga ibadah selama bulan Ramadhan bukan merupakan ibadah yang sia-sia dan hanya berlapar-lapar tanpa arti.

Oleh : Mayshiza Widya
 
Template designed by Liza Burhan