Sabtu, 07 Juni 2014

Bank Syariah vs Bank konvensional

Belakangan ini istilah Syariah mulai marak terdengar. Baik melalui media maupun melalui seminar dan bahasan sederhana masyarakat awam. Melalui media yang ada, dikabarkan bahwa ekonomi syariah akan berkembang dengan sangat pesat, terutama di Indonesia. Hal ini dikarenakan selain Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya beragama islam, Indonesia sendiri juga memiliki keunggulan dengan perkembangan perekonomian yang baik beberapa tahun belakangan ini.

Namun, tidak banyak masyarakat yang tahu bahwa perkembangan ekonomi di Indonesia lebih banyak dari sektor moneter (pasar uang) bukan melalui sektor riil (pasar tenaga kerja). Jadi, dikhawatirkan jika para investor suatu saat nanti menarik dananya dalam jumlah yang besar. Maka Indonesia akan kelimpungan yang dikarenakan kehilangan dana yang cukup besar. Yang paling ditakutkan adalah perekonomian Indonesia akan lumpuh.

Sebenarnya suatu negara dikatakan memiliki perekonomian yang baik jika persentase sektor riil dan sektor moneter sekitar 70:30. Sehingga perekonomian pun menjadi kuat dan sulit tergoyahkan jika suatu saat nanti para investor menarik dananya secara mendadak dan dalam jumlah yang cukup besar.

Bank memiliki berbagai macam fungsi. Termasuk sebagai lembaga intermediasi. Maksudnya bank berperan sebagai penghubung antara pihak yang memiliki dana dengan pihak yang membutuhkan dana. Tetapi, selama ini kita ketahui jika meminjam di bank umum biasa kita diwajibkan mengembalikan dana pinjaman tersebut beserta bunga yang telah ditetapkan oleh bank. Tentu kita diharuskan menyerahkan agunan. Contohnya surat tanah, surat motor, dan lain-lain yang dianggap cukup berharga sehingga dapat dijadikan sebagai agunan atau jaminan.

Berbeda dengan bank syariah. Sebenarnya bank syariah sama sekali tidak meminta agunan sebagai jaminan atas pinjaman yang dilakukan oleh peminjam. Namun, dari pihak BI sendiri membuat peraturan atas wajibnya agunan baik untuk bank konvensional maupun bank syariah. Hal ini dikarenakan masyarakat Indonesia belum dapat dijamin secara menyeluruh dalam kemampuannya mengembalikan pinjaman ke pihak bank.

Selain itu, bank syariah diharamkan akan bunga. Karena bunga dianggap sebagai riba. “Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.” (Q.S 2:275). Ayat tersebut menyatakan secara tersurat bahwa segala bentuk riba adalah haram, dan jual beli itu bukanlah termasuk riba. Kebolehan penambahan harga sebagai keuntungan dalam jual beli diperbolehkan, dikarenakan dari pihak penjual mengemban resiko dan perawatan untuk barang dagangannya. Hal inilah yang sangat mendasar sebagai perbedaan antara bank syariah dan bank konvensional.

Seperti yang disinggung tadi bahwa bunga adalah riba. Tidak banyak yang mengetahui bahwa 60% inflasi yang terjadi disebabkan oleh bunga bank. Jika inflasi yang terjadi tidak dapat dikendalikan akan terjadi hiperinflasi. Maka Indonesia akan kembali ke masa terburuknya. Dimana krisis moneter melanda Indonesia dan menyebabkan kelumpuhan ekonomi dalam jangka waktu yang lama. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan sistem ekonomi baru yang dapat menyelamatkan dunia dari ancaman kebangkrutan yang disebabkan inflasi tersebut serta memajukan kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh. Solusi yang disediakan adalah ekonomi syariah atau lebih dikenal di luar negeri sebagai ekonomi islam.

Ekonomi Syariah menawarkan berbagai macam solusi yang dapat menjawab berbagai persoalan ekonomi yang ada saat ini. Berlandaskan kepada hukum yang berasal dari Al-qur’an dan Hadist yang telah diakui secara luas oleh umat muslim secara umum dan umat lainnya secara khusus. Keabsahan hukum dan kepedulian sosial yang tinggi terjalin dalam setiap akadnya baik di perbankan maupun non perbankan. Sehingga pemerataan ekonomi dapat terealisasi lebih nyata dibandingkan ekonomi konvensional.

Bunga bank ataupun riba sangat dilarang dalam ekonomi islam. Karena bunga diibaratkan seperti uang yang berkembang sendiri tanpa adanya usaha dari pemilik uang tersebut. Islam sangat menyarankan investasi. Baik itu investasi di bank syariah dan badan usaha lainnya yang tidak melanggar ketentuan islam. Dan bentuk return yang diperoleh oleh nasabah merupakan bagi hasil bukan persentase bunga yang ditetapkan oleh bank konvensional. Sehingga setiap return yang diperoleh nasabah bisa berbeda-beda. Jika pihak bank syariah memperoleh pendapatan yang cukup besar, maka nasabah bank syariah pun memperoleh return dalam jumlah yang besar. Begitu sebaliknya apabila bank syariah memperoleh pendapatan yang kecil maka nasabah pun akan menerima return dalam jumlah yang lebih kecil dari yang ia peroleh sebelumnya.

Oleh: Ahmad Azhari Pohan

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan