Sabtu, 07 Juni 2014

Belajar dari Dua Cerita Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib disebut Rasulullah Saw. sebagai gerbang ilmu. Gerbang yang siap memberikan pencerahan bagi umat. Pencerahan yang siap membimbing orang-orang menjadi hamba Allah yang taat. Bimbingan dari Ali bin Abi Thalib bisa dari riwayat yang diceritakannya atau berdasarkan cerita hidupnya yang mendapat komentar dari Rasulullah Saw.

Salah satu contoh ilmu yang bersumber dari riwayat Ali bin Abi Thalib adalah, suatu hari Nabi Saw. kedatangan tamu.

“ Ya Rasul, aku telah berbuat dosa kepada Allah. Sucikanlah aku.”

“Seperti apa Maksiatmu?” tanya Rasulullah.

“Aku malu mengatakannya, ya Rasul.”

“Kamu malu menceritakan dosamu kepadaku, tetapi tidak malu kepada Allah yang selalu melihatmu. Berdiri dan menjauhlah dari sisiku sebelum murka Allah datang.”

Ia pun pergi dengan kondisi merana, putus asa dan menangis.

Tak lama kemudian, malaikat Jibril datang menemui Rasulullah Saw., dan berkata, “Mengapa kau putus asakan orang yang melakukan maksiat yang sebenarnya memiliki penghapus dosa, sekalipun dosanya banyak.”

“Apa penghapus dosanya?” tanya Rasulullah.

“Ia punya anak kecil. Setiap kali dia pulang anak kecil itu menyambutnya. Lantas laki-laki itu selalu membelikan makanan untuknya atau membawa sesuatu yang membuatnya gembira. Jika anak kecil itu bergembira, itu menjadi pelebur dosanya.” Rasulullah Saw. pun segera mencari laki-laki tersebut. Ia meminta maaf dan menceritakan apa yang dikatakan Jibril as. kepadanya.

Dari riwayat bersumber dari Ali bin Abi Thalib ini, layak setiap orang tua yang memiliki anak untuk selalu berusaha membahagiakan anaknya. Carilah cara untuk membuat mereka makin cinta. Jika memungkinkan buat mereka selalu menelepon agar cepat pulang ke rumah dan bermain bersama-sama dengan mereka.

Artinya, kegembiraan anak-anak adalah penghapus dosa dan salah satu yang dapat menyelamatkan diri dari api neraka. Hal ini selaras dengan firman Allah Swt.,”Harta dan anak-anak kalian sesungguhnya adalah cobaan. Sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.” (QS. Al-Anfal [8]: 28)

Selain itu, ada kisah hidup Ali bin Abi Thalib yang layak dijadikan pelajaran, salah satunya yang diriwayatkan oleh Said bin Musayyab.

Suatu hari Ali keluar rumah dan bertemu dengan Salman al-Farisi.

“Apa kabar, Salman?”

“ Wahai amirul mukminin, aku sedang ditimpa empat kesedihan?”

“Kesedihan apa saja itu?”

“Sedih ketika keluargaku meminta roti, tapi aku tak bisa membelikannya. Sedih ketika Allah menyuruhku taat, tapi aku belum bisa taat dengan penuh kepada-Nya. Sedih ketika aku tak bisa menolak ajakan setan. Sedih ketika malaikat maut datang, sedangkan aku belum siap-siap.”

“Berbahagialah, Abu Abdillah,” sahut Ali terhadap kesedihan Salman, “Pada setiap keadaan kau memiliki kedudukan di sisi Allah Swt.”

Setelah terdiam sejenak, Ali berkata kembali tentang kisah Salman yang pernah dialaminya juga.

Suatu hari aku menemui Rasulullah Saw.

“Bagaimana pagimu?” tanya Rasul

Aku menjawab, “Ada empat hal yang membuatku sedih, Ya Rasul. Tak ada yang kumiliki kecuali air. Aku tak memiliki apa pun. Ini membuatku sedih. Tentang ketaatanku kepada Allah, juga membuatku sedih. Sedih tentang balasan amal dan sedih ketika malaikat maut datang mengambil ruhku.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Bergembiralah, Ali. Kesedihan tentang kekuranganmu memenuhi keinginan keluarga menjadi ‘tameng’ di neraka. Kesedihan dari kurang maksimal taat kepada Allah menjadikanmu aman dari azab. Kesedihan dari balasan amal adalah jihad dan lebih utama dari ibadah 60 tahun. Kesedihan akan datangnya malaikat maut tiba-tiba mengambil ruhmu menjadi penghapus dosa. Ketahuilah, rezeki Allah kepada hamba-Nya tidak karena kesedihan itu. Kesedihan tak akan berpengaruh apa-apa kecuali semakin menambah pahala. Jadilah orang yang senantiasa bersyukur dan tawakkal, maka kau akan menjadi kekasih Allah.”

“Dengan apa aku bersyukur, ya Rasul?”

“Dengan Islam.”

“Dengan apa aku taat?”

“Dengan sering membaca laa haulaa wa laa quwwata illa billaahil ‘Aliyyil ‘Adzim”

“Apa yang harus aku tinggalkan?”

“Sifat marah. Dengan bisa meredam marah, maka bisa menghilangkan amarah Allah, memberatkan timbangan dan menuntun ke surga.”

Salman yang mendengar alur dialog Ali bin Abi Thalib dengan Rasulullah tersebut berkata, “Aku sedih memikirkan semua itu, terlebih lagi tentang keluargaku.”

Ali Kwh menanggapinya. Aku pernah mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang tak pernah bersedih atas keluarganya, ia tak berhak mendapatkan surga.”

“Bukankah Rasulullah Saw. bersabda, bahwa pemilik keluarga tak akan bahagia selamanya?” sahut Salman.

“Bukan begitu maksudnya, Salman. Jika pekerjaanmu halal kamu pasti bahagia. Keluargamu juga demikian. Surga akan selalu merindukan orang-orang yang sedih dan susah hatinya (nestapa) mencari harta yang halal.”

Dari cerita Ali bin Abi Thalib dengan Salman Al-Farisi ini, menjadi jelas bahwa kesedihan mencari harta yang halal untuk keluarga lebih baik dari mendapatkan uang dengan jumlah yang banyak, tapi tak lepas dari lingkup syubhat dan haram. Nikmatilah yang sedikit tapi halal dari pada banyak namun syubhat atau haram.

Dengan dua cerita Ali ini, menjadi kabar gembira bagi yang sudah memiliki keluarga dan anak. Karena Allah telah menyediakan peluang tercepat masuk surga. Sekarang tanyakan pada diri, mampukah memanfaatkan peluang tersebut? Ingat, Allah sangat dekat dengan kita. Jangan sampai kita yang menjauhi-Nya.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan