Kamis, 12 Juni 2014

Bentuk Pengabdian Manusia Kepada Allah Swt

Di dalam al-Qur’an, Allah Swt. memaktubkan bahwa tugas hidup manusia adalah beribadah kepada-Nya. “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyat: 56). Lalu timbul pertanyaan, bagaimana sikap manusia terhadap bentuk pengabdian atau ibadah manusia kepada Allah Swt? Apakah cukup hanya dengan sekedar menjalankan ibadah-ibadah dianjurkan untuk dilakukan saja? Apakah cukup dengan menjadikan semua aktivitas yang dilakukan harus mengandung nilai ibadah kepada-Nya?

Bila dikaji di dalam al-Qur’an, seluruh pertanyaan tersebut telah dijelaskan Allah Swt. Ada tiga bentuk pengabdian manusia kepada Allah Swt. Pertama, Ketundukan hati kepada Allah Swt. Para ulama sepakat, bahwa yang dimaksud dengan ibadah adalah tunduk, patuh dan merendahkan diri di hadapan Allah Swt. Artinya, pengabdian manusia semata-mata kepada Allah Swt.

Apa pun yang dilakukan manusia mesti bersandarkan dan berorientasi kepada nilai ketundukan, kepatuhan dan sikap merendahkan diri di hadapan Allah Swt. Dan ibadah, bukanlah sekedar shalat, puasa, zakat dan haji saja. Tapi apa pun yang dilakukan manusia yang mengandung nilai baik bisa dijadikan ibadah kepada Allah Swt. Bagaimana caranya? Rasulullah Saw. telah mengajarkannya melalui sabdanya, “Setiap pekerjaan yang punya nilai tetapi pekerjaan tersebut tidak dimulai dengan Bismillahhirrahmanirrahim, maka pekerjaannya terputus.”

Maksud dari kata terputus, menurut Syeikh Mutawalli Sya’rawi di dalam tafsirnya, hilangnya keberkahan dan pahala dari Allah Swt. Pekerjaan yang dilakukan menjadi tidak sempurna. Orang yang memulai pekerjaannya dengan membaca basmalah, ia tidak hanya mendapatkan balasan materi dari yang dikerjakannya, tapi juga mendapatkan balasan pahala dari Allah Swt. Dan inilah yang membedakan pekerjaan orang Islam dengan orang kafir.

Banyak di antara pribadi muslim kurang menyadari betapa pentingnya mengawali pekerjaan-pekerjaan yang baik dengan membaca basmalah. Padahal, tidaklah perbuatan baik tersebut bisa dilakukan tanpa ada izin Allah Swt. Dengan membaca basmalah, pada dasarnya kita sedang menunjukkan kerendahan diri kita kepada Allah Swt. Hanya Allah yang memberi kekuatan sehingga kita bisa melakukan pekerjaan tersebut.

Kedua, Taat kepada Allah tanpa perasaan berat. Sudah lazim terdengar, ketika seseorang disuruh beribadah kepada Allah kerap menjawab belum mampu atau belum siap. Ibadah kepada Allah tidak ada yang mudah, termasuk mengawali basmalah di setiap melakukan pekerjaan yang baik. Karena yang namanya tunduk, patuh dan menunjukkan sikap rendah diri kepada Allah memang diiringi dengan aturan-aturan yang cukup berat. Shalat shubuh, misalnya. Shalat fardhu yang dilakukan di saat terbit fajar ini berat bagi orang yang tak ingat akan tugas utama hidupnya di dunia ini adalah beribadah kepada Allah Swt.

Bahkan di dalam al-Qur’an, Allah Swt. juga menggambarkan seperti apa orang yang taat, patuh dan memiliki ketundukan hati kepada Allah Swt. “Tidak! Barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, Maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al-Baqarah [2]: 112). Secara singkat, ketundukan hati kepada Allah Swt. membuat seorang muslim tidak merasa berat dalam menjalankan pengabdian, bahkan ia tidak akan bersedih hati bila hal-hal yang tidak menyenangkan menimpa dirinya.

Sungguh, posisi seorang muslim dalam pengabdiannya kepada Allah Swt. juga digambarkan di dalam Al-Qur’an, “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisa: 65)

Artinya, seorang muslim tidak akan memiliki sedikit pun perasaan berat terhadap ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya. Malah, ia merasa mendapatkan kepuasan dari apa yang telah ditetapkan Allah. Pribadi inilah yang termasuk dalam sabda Rasulullah Saw. “Demi Allah Tuhan Ka’bah, sembahlah Allah sampai engkau benar-benar merasakan kepuasan. Jika tidak mampu, hendaklah dalam kondisi sabar saat menghadapi sesuatu yang tidak menyenangkan namun di dalamnya terdapat banyak kebaikan.

Ketiga, menyerahkan diri kepada Allah Swt. Ini adalah bentuk pengabdian manusia yang terakhir. Bentuk pengabdian yang memang menunjukkan bahwa seorang muslim adalah manusia, sehingga ia tidak bisa menentukan secara total apa yang diinginkannya. Ada Allah Swt, Tuhan yang mengatur dan menentukan apa yang pantas untuknya.

Setelah melakukan suatu amal atau pekerjaan, seorang muslim harus tawakkal atau menyerahkan diri kepada Allah Swt. Karena di sinilah nantinya, ia akan menjadi pribadi yang paham tentang siapa dirinya dam apa tujuan ia hidup di dunia ini. Karena tidaklah ada yang dilakukannya di dunia ini kecuali mencari keridhaan Allah Swt.

Inilah yang dijelaskan di dalam al-Qur’an dan juga menjadi bacaan setiap muslim di saat duduk antara dua sujud di setiap rakaat shalat, “Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan seluruh alam.” (Al-An’am: 162)

Karena itu, penting dipahami bahwa seluruh aktivitas yang dilakukan mesti bertujuan meraih keridhaan Allah. Tak ada yang bisa dilakukan di dunia tanpa mendapat izin dari Allah. Melakukan kebaikan pun pada dasarnya atas izin Allah Swt.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan