Sabtu, 07 Juni 2014

Bersahabat dengan Ujian 2: Mengapa Diuji?

Tiada kehidupan tanpa ujian. Adalah mustahil berharap akan terhindar dari ujian dalam hidup ini. karena kehidupan itu sendiri adalah rangkaian ujian demi ujian. Selesai menempuh ujian kesulitan yang menghimpit, Allah menghadapkan kita pada ujian kebaikan yang melegakan. Demikian terus menerus, hingga kita dipanggil kembali menghadap-Nya.

Ketika menghadapi ujian kesulitan yang menghimpit, tidak jarang kita bertanya, “mengapa saya diuji?” Ya, mengapa saya diuji? Mengapa harus saya? Mengapa ujian sederas ini? Lucunya, ketika dihadapkan pada ujian kebaikan yang melegakan dan membahagiakan, kita tidak pernah mempertanyakan semua itu. Bahkan, kita cenderung lupa mengingat Allah yang Maha Memberi.

Baiklah, terlepas dari semua cara pandang kita tentang ujian kebaikan dan keburukan, mari sejenak merenung mengapa dalam hidup ini kita harus diuji? Mengapa harus dipergilirkan antara ujian kebaikan dan keburukan?

Ujian Sebagai Sarana Seleksi

“(Dialah) yang menjadikan kematian dan kehidupan, supaya Dia menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Al Mulk: 2).

Sebagaimana ujian yang dijalani oleh anak sekolah, tujuan akhirnya adalah untuk mengetahui siswa mana yang terbaik dan layak untuk naik ke jenjang pendidikan selanjutnya. Demikian juga dengan ujian kehidupan. Tujuannya tidak lain adalah untuk mengetahui siapa yang terbaik amalnya di sisi Allah SWT?

Ujian Sarana Pembuktian Kebenaran Iman

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan ‘kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut: 2-3).

Ujian juga merupakan salah satu sarana untuk membuktikan kebenaran iman seseorang. Bagaimana ia menyikapi takdir baik dan takdir buruk yang ditetapkan Allah atas dirinya. Muslim yang keimanannya benar, akan menyikapi keduanya dengan proforsional. Bersabar ketika menghadapi ketetapan buruk dan bersyukur ketika dihadapkan pada ketetapan baik.

Ujian Sebagai Sarana Pengingat dan Penyeimbang

“Supaya kamu jangan putus asa atas sesuatu yang hilang dari kamu, dan supaya kamu tidak terlalu berbangga diri atas apa yang telah diberikan kepadamu. Allah tidak menyukai orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (Al Hadid: 23).

Dipergilirkannya ujian kebaikan dan keburukan dalam kehidupan manusia adalah salah satu bukti keadilan Allah. Allah menginginkan kita berjalan di bumi ini secara seimbang. Allah tidak melulu menguji kita dengan kesulitan, akan tetapi juga dengan kesenangan. Ketika Allah menghadapkan kita pada ujian kesulitan, kehilangan dan segala bentuk ketidak nyamanan, sesungguhnya Dia sedang mengingatkan kita agar tidak lengah akan status kita sebagai seorang hamba. Sebaliknya, ketika dihadapkan pada ujian kesenangan dan kegembiraan, sesungguhnya Allah sedang mengingatkan kita agar jangan pernah berputus asa dan berlarut dalam kesedihan. Karena sesungguhnya, Allah selalu ada untuk.

Ujian Sebagai Sarana untuk Memperbaiki Posisi

“…Barangsiapa mendapat peringatan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka apa yang telah diperolehnya dahulu menjadi miliknya dan urusannya (terserah) kepada Allah. Barangsiapa mengulangi, maka mereka penghuni neraka dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al Baqarah: 275).

Yah, ujian adalah sarana yang disiapkan Allah untuk memperbaiki posisi kita dihadapan-Nya. Karenanya, sensitiflah dengan pesan yang disampaikan Allah dalam setiap ujian. Bisa jadi, dalam ujian kesenangan ada peringatan dari Allah. Bisa jadi, dalam ujian kesulitan ada teguran dari Allah. Ketika kita bisa menterjemahkan pesan tersebut dengan baik, kemudian bersegera mengikutinya. Maka keridhaan dan pertolongan Allah akan diberi. Dan posisi kita dihadapan Allah juga akan semakin baik.

Oleh: Neti Suriana

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan