Sabtu, 07 Juni 2014

Bersahabat dengan Ujian 3: Belajar dari Ketegaran Nabi Ayyub as

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika ia menyeru Rabb-nya (wahai Rabb-ku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah yang Maha Penyayang di antara semua penyayang. Maka kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al Anbiya’: 83-84).

Anda pernah diuji dengan sakit? Pernah diuji dengan kemiskinan? Pernah diasingkan? Mungkin pernah, namun apakah semua terjadi dalam waktu bersamaan?

Kita patut belajar bersabar dari ketegaran Nabi Ayyub as. Dalam Al quran Allah menggambarkan bagaimana kesabaran nabi Ayyub dalam menghadapi ujian kesulitan yang bertubi-tubi. Nabi Ayyub pada awalnya adalah seorang Nabi yang memiliki kekayaan yang luas. Ia memiliki banyak binatang ternak, berpetak-petak tanah pertanian. Ia juga dikaruniai banyak anak dan tempat tinggal yang menyenangkan.

Allah kemudian menguji Nabi Ayyub dengan semua yang dikaruniakan pada dirinya. Semua yang dimikinya itu kemudian diambil satu per satu oleh Allah SWT. Semua habis tanpa sisa. Tidak hanya itu, ia juga diuji oleh penyakit yang menggerogoti seluruh anggota tubuhnya. Hanya hati dan lisannya saja yang masih sehat dan selalu mengabdi, berdzikir pada Rabb-nya.

Karena penyakitnya itu, orang-orang pun kemudian menjauhinya. Hingga puncaknya, nabi Ayyub di asingkan oleh masyarakatnya ke tempat yang jauh. Tak satu pun dari orang-orang itu yang merasa belas kasihan pada beliau.

Nabi Ayyub terus bersabar dan bertawakal pada Allah. Dalam Al quran surat Al Anbiya’ ayat 83 Allah berfirman tentang bagaimana Nabi Ayyub berdoa mohon kesembuhan yang sempurna pada-Nya.

“Wahai Rabbku, sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang.”

Di tengah-tengah kesedihan, kesakitan dan dikucilkan, Nabi Ayyub terus bersabar dan menggantungkan seluruh harapannya pada Allah Tuhan yang Maha Pengasih. Sungguh, cobaan yang dialaminya sangat berat. Hanya orang-orang terpilih yang mampu menghadapinya dengan penuh kesabaran. Dan, sejarah telah membuktikan bahwa Nabi Ayyub memang manusia terpilih, hamba Allah yang terbaik. Ia mampu melewati ujian itu dengan gemilang.

Nabi Ayyub tidak sedikitpun berputus asa dan terus berharap pertolongan dari Allah. Ia terus berdoa bertahun-tahun, meski tanda-tanda pertolongan itu tak kunjung datang. Ia terus berdoa dan berdoa. Setelah 13 tahun berdoa tiada henti pada Allah swt, Allah kemudian menurunkan pertolongannya pada Nabi Ayyub. Seperti digambarkan pada firmannya dalam Al quran Surat Al Anbiya ayat 84:

“Maka kami pun memperkenankan seruannya itu, lalu kami melenyapkan penyakit yang ada padanya dan kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.” (Al Anbiya’: 84).

Semoga kita termasuk orang-orang yang bisa mengambil pelajaran dari kisah Nabi Ayyub ini. Bahwa, sebagaimana halnya kesenangan yang bisa berakhir, demikian juga hanya dengan kesulitan. Tidak ada yang abadi. Hanya Allah sebaik-baiknya tempat untuk mengadu dan berserah diri.

Oleh : Neti Suriana

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan