Minggu, 08 Juni 2014

Cara Allah Mengabulkan Doa

Rasulullah Saw bersabda, “Tidak ada seorang muslim yang menghadapkan mukanya kepada Allah untuk berdoa, kecuali Allah akan mengabulkannya (memberikannya). Kadang-kadang, pengabulannya dipercepat (on time) dan kadang ditangguhkan (delayed).” (HR. Ahmad dan Hakim)

Doa adalah kata yang sudah sangat familiar bagi kita, bahkan sudah mengetahuinya sebelum kita fasih berbicara. Namun permasalahannya, kita suka bertanya kapan Allah mengabulkan doa yang kita mohonkan kepada-Nya? Padahal di dalam Al-Qur’an, Allah Swt. berfirman, “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran,” (QS. Al-Baqarah: 186)

Adalah hadis di atas menjelaskan mekanisme pengabulan doa. Allah bisa saja mengabulkan doa yang dimohonkan kepada-Nya dengan on time (dipercepat atau tepat waktu). Tentu saja setiap kita pernah mengalaminya. Kita dalam kesusahan lalu kita mohon kepada Allah. Dan segera Allah datangkan pertolongan untuk kita.

Ada riwayat yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. didatangi oleh seorang sahabat. Ia berkata, “Ya Rasulullah, harta saya hilang dan tubuh saya sakit.” Lalu Rasulullah Saw. berkata, “Tidak ada baiknya orang yang tidak pernah hilang hartanya dan sakit badannya. Sesungguhnya jika Allah mencintai hamba-Nya akan dicobanya hamba-Nya dengan berbagai penderitaan.”

Artinya, ketika mengalami musibah segera berdoa kepada Allah. Karena saat ini peluang untuk mendapatkan pengabulan doa on time (disegerakan atau tepat waktu) terbuka lebar. Imam Ja’far As-Shadiq ra. pernah berucap, “Kalau seseorang berada dalam kesedihan, bergegaslah berdoa. Karena pada saat itulah Allah akan mengabulkan doa orang itu.”

Jika ada pengabulan doa on time, berarti adakah pengabulan doa delayed (diperlambat atau ditunda)? Jawabannya ada. Dalilnya adalah sabda Rasulullah Saw. yang dijadikan lead tulisan ini. Plus, coba baca dengan seksama surat al-Baqarah ayat 186 tersebut. Allah berjanji mengabulkan doa atau permohonan hamba-Nya, tapi Allah tak jelaskan waktunya. Semuanya tergantung pada kehendak-Nya.

Lantas pertanyaannya, kenapa Allah menangguhkan pengabulan doa kita? Allah tentunya lebih tahu mana yang pantas untuk kita. Untuk meyakinkan diri kita, Allah sudah memaktubkannya di dalam al-Qur’an, “Bisa saja kamu membenci sesuatu padahal Allah menjadi padanya kebaikan yang banyak.” (QS. An-Nisa: 19)

Namun, bila ingin dikaji lebih serius. Allah mendelayed pengabulan doa yang dimohonkan kepada-Nya adalah, untuk memberikan pemahaman bagi siapa saja, bahwa diperlukan suatu upaya yang semaksimal mungkin dari diri kita masing-masing untuk meraih apa yang ditangguhkan Allah Swt. Artinya, Allah ingin melihat kegigihan kita dalam berdoa dan mencapai apa yang dimohonkan kepada Allah.

Jika kita tetap berusaha dengan gigih, fokus, pantang menyerah, dan selalu bersemangat positif, niscaya doa yang dimohonkan pasti bisa didapatkan. Selama apa pun Allah ‘menangguhkan’ pengabulan doa yang dimohonkan kepada-Nya, jika kita punya kemauan dan keuletan dalam berusaha meraihnya maka doa itu akan terwujud. Karena formula doa itu untuk meraih apa yang diinginkan adalah, 1 % pikiran, 24 % ikhtiar atau usaha, 25 % impian dan keyakinan yang kuat dan 50% doa.

Namun sekiranya doa yang ditangguhkan belum juga dikabulkan Allah hingga wafat, ini artinya bisa jadi doa yang belum dikabulkan Allah menjadi ‘deposito’ amal shaleh di akhirat. Atau bisa jadi pengabulan itu setelah yang berdoa tiada. Seperti kisah yang terdapat di dalam buku al-Akhlaku Lil Banin, “Ada seorang Ayah memiliki 4 orang anak. Dan anak yang pertama memiliki perilaku sangat jahat dan nakal sekali. Bukan hanya keluarganya yang terganggu, tapi masyarakat yang disekitarnya pun ikut terganggu. Sang Ayah berulang kali menasehatinya dan berusaha sekuat tenaga agar ia tidak menjadi anak yang nakal. Apalagi dia anak pertama yang menjadi panutan bagi adik-adiknya. Sang ayah tak luput mendoakan anaknya usai shalat, agar anaknya menjadi anak yang shaleh dan bertanggung jawab terhadap keluarganya. Namun doa tersebut tak dikabulkan Allah hingga sang ayah meninggal. Begitu sang ayah meninggal, anak tersebut berubah total. Ia menjadi anak yang shaleh dan bertanggung jawab terhadap adik-adiknya dan ibunya. Ia yang berusaha keras menyekolahkan dan mendidik adik-adiknya menjadi pribadi yang baik dan dibanggakan keluarganya.

Artinya, bisa jadi doa yang dimohonkan dikabulkan Allah bukan sesuai dengan keinginan kita, tapi sesuai dengan kehendak dan keinginan Allah. Di dalam al-Qur’an Allah SWT. sudah menegaskan hal ini, “Bisa saja kamu membenci sesuatu padahal hal itu baik untukmu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal hal itu buruk bagimu. Dan Allah-lah yang mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216). Karena itu, tetaplah berdoa kepada Allah. Mohonkanlah yang baik-baik, bermanfaat dan masuk akal.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

1 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan