Kamis, 19 Juni 2014

Celakanya Alim Yang Fajir

Jika dituduh sebagai pembohong, tentu manusia akan berhujjah dan segera menunjukkan kepandaiannya dalam berbantah yang tidak lain hanya untuk membela dirinya sendiri. Bahkan tanpa sadar, kemahiran orang untuk berbicara panjang lebar dengan ilmunya akan melahirkan sikap sombong dan congkak. Kesombongan tersebut bisa tampak nyata dan tersirat dari perkataan serta perbuatannya yang seolah-olah laiknya alim yang ahli ibadah.

Dan tak jarang pula ahli ibadah yang menjadi guru agama, ustad, kyai, dan orang-orang yang diberikan kemuliaan justru tidak bisa menunjukkan akhlak yang pantas untuk menjadi suri tauladan yang baik. Sehingga tidak mengherankan jika ahli ibadah malah menjadi sumber pemberitaan di berbagai media massa dengan berbagai macam fitnah dan mereka cenderung menyibukkan diri untuk urusan dunia. Padahal orang yang ahli ibadah sudah seharusnya mengikat dirinya untuk terjaga dari hal-hal yang memperturutkan hawa nafsu, keinginan, syahwat, dan berbagai kesenangan dan kelezatan dunia. Karena hal tersebut menjadi ujung pangkal dari godaan iblis dan bala tentaranya. Itulah mengapa Rosulullah bersabda, “Yang paling utama dari jihad adalah jihad melawan hawa nafsu.”

Sementara dewasa ini, banyak sekali kyai, ustad, dan para ahli ibadah yang memang sibuk dengan berbagai macam kegiatan ritual ibadah dalam majelis-majelis dzikir dan ilmu. Bahkan ada pula yang pandai menafsirkan Al Qur’an dan hafal dengan sunah-sunah yang diajarkan oleh Rosulullah, namun mereka berada dalam keadaan lengah karena kesibukan terhadap dunia dengan segala perhiasannya. Seperti sabda Rosulullah, “Demi Allah! Bukan kefakiran yang aku khawatirkan, tetapi kalau dilapangkan kepadamu dunia ini sebagaimana telah dilapangkan pada orang-orang sebelummu. Lalu kamu berlomba-lomba pada dunia itu sebagaimana mereka telah berlomba-lomba terhadap dunia. Akhirnya dunia mencelakakanmu sebagaimana ia telah mencelakakan mereka.”

Oleh karena itu, tidaklah mengherankan jika Syaqiq Al Balkhi dalam kitab Uyunil Akhbar mengategorikan tiga kebohongan yang kerap dilakukan manusia atas keingkaran dari ucapan mulutnya, yakni; Pertama, mereka berkata,”Kami adalah hamba-hamba Allah.” Namun mereka berbohong karena perbuatannya seperti orang yang merdeka, bukan orang yang menghamba kepada Allah dan takut kepada-Nya. Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah telah berfirman, “Tidak Aku kumpulkan pada seorang hamba-Ku dua buah rasa takut dan tidak juga dua buah rasa aman. Barangsiapa takut kepada-Ku di dunia, maka Aku beri rasa aman di akhirat. Dan barangsiapa yang merasa aman dari-Ku di dunia, maka akan Aku beri rasa takut besok pada hari kiamat.”

Kedua, mereka berkata, “Allah menanggung rezeki kami.” Namun tidak merasa tenang dan tenteram hatinya jika tidak mengumpulkan harta dan mengejar dunia. Kekhawatiran Rosulullah terhadap umatnya tampak jelas dan gamblang dalam sabdanya yang berbunyi, “Bakal datang di akhir massa, orang-orang dari umatku yang datang ke masjid-masjid, mereka duduk di sana bergerombol. Tetapi zikir mereka masalah duniawi dan cinta dunia. Janganlah kamu berkumpul dengan mereka, karena Allah tidak membutuhkan mereka.” Dan dalam hadits qudsi Allah pun berfirman, “Ambillah dari dunia ini untuk sekedar makan, minum, berpakaian. Janganlah kamu menimbun untuk hari esok dan langgengkanlah zikir kepada-Ku.”

Ketiga, mereka berkata, “Kematian adalah suatu hal yang pasti.” Namun perbuatan mereka seperti orang yang tidak percaya kampung akhiran dan lupa terhadap mati. Hal ini pula yang pernah diucapkan oleh Rosulullah ketika ada beberapa orang laki-laki sedang memuji seorang kawan karena kebaikannya. Lalu Rosulullah bertanya, “Bagaimana ingatan kawanmu itu tentang mati?” kemudian dijawabnya, “kami hampir tidak pernah mendengarnya mengingat kematian.” Maka beliau pun bersabda, “Kalau begitu kawanmu itu bukanlah orang yang layak mendapatkan pujian.”

Sehingga hal tersebut sejalan dengan sabda Rosulullah, “Sesungguhnya ada orang alim yang benar-benar disiksa dengan sebuah siksa. Dan mengelilinginya penghuni-penghuni neraka karena menganggap besar terhadap kedahsyatan siksanya, yakni orang alim yang fajir (menyimpang).” Sedangkan dalam sabda yang lain, Rosulullah bersabda, “Akan didatangkan seorang alim pada hari kiamat, lalu dilemparkan ke dalam neraka. Terburailah usus-ususnya, lalu ia berkeliling dengan menyeretnya sebagaimana seekor keledai berputar membawa penggilingan.” Dan gambaran tentang orang tersebut adalah orang yang menyuruh kebaikan, namun dia sendiri tidak mau melakukannya. Sehingga hal ini pula yang mendatangkan rasa was-was dari Umar ra, “Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan diantara hal-hal yang paling aku khawatirkan terhadap umat ini ialah orang munafik yang alim.”

Berangkat dari sini maka sudah sepatutnya ahli ibadah itu mampu menjaga diri dari segala macam kesenangan dunia hingga tidak lahir fitnah terhadap mereka. sehingga akhlak terpuji menjadi identitasnya, kealiman berkat kepandaian ilmunya menjadi penuntun umat pada jalan yang lurus, sedang zuhudnya terhadap dunia menjadikan kefahamannya terhadap agama mengilhami kebenaran yang mengantarkan umat memperoleh taufik dan hidayah dari Allah.

Oleh : mayshiza widya
Sumber; hadits shoheh Bukhari dari kitab Mukasyafatul Qulub, Imam Ghazali.

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan