Sabtu, 07 Juni 2014

Dua Pilar Utama Menuju Bahagia

Dalam hidup ini, sejatinya kita sebagai manusia selalu dihadapkan pada dua keadaan, yakni suka dan duka. Suka tidak selamanya mengiringi laju perjalanan hidup kita. Begitupun dengan duka, tidak selamanya pula mengikuti langkah kaki kita. Keduanya silih berganti menyapa. Tak ada seorang pun manusia yang dalam hidupnya selalu merasa bahagia, karena roda kehidupan itu senantiasa berputar. Ada masanya ia berada di bawah, ada masanya juga ia berada di atas. Oleh karena itu, dalam sebuah kehidupan rasa syukur dan sabar itu harus senantiasa kita jaga dan dilaksanakan secara berdampingan dalam kondisi apapun.

Seperti Rasulullah SAW bersabda :

Karakter pribadi seorang muslim yang baik itu adalah apabila diberi nikmat ia bersyukur, apabila ia diberi musibah ia bersabar.

Bicara tentang syukur, entah sudah berapa banyak nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita, mungkin sudah tidak terhitung lagi jumlahnya. Dari semenjak kita berada dalam buaian rahim seorang ibu, kemudian diberikan kesempatan untuk menatap dunia-Nya yang begitu indah dengan keadaan fisik tanpa kekurangan suatu apapun, beserta fasilitas lainnya untuk menunjang kehidupan kita. Bayangkan jika matahari yang setiap hari kita gunakan kita itu berbayar, air yang kita gunakan setiap hari itu berbayar, udara yang kita hirup setiap detik itu berbayar? Berapakah uang yang harus kita keluarkan sampai detik ini? Mungkin kita tidak akan pernah sanggup untuk membayarnya. Kebanyakan orang mengira, bahwa cobaan hanya datang dalam bentuk kesulitan saja. Mereka tidak menyadari bahwa melimpahnya nikmat juga merupakan ujian yang diberikan Allah. Sehingga banyak memang yang dapat melalui cobaan dan bersabar ketika mendapatkan kesulitan namun sangat sedikit yang mampu melampaui ujian berupa kenikmatan dunia.

Begitu baiknya Allah SWT yang telah memberikan jutaan nikmat yang begitu banyaknya. Tugas kita sebagai manusia adalah hanya mensyukuri apa yang sudah ada, bukan mengeluhkan apa yang tidak ada. Jika menengok saudara-saudara kita di luar sana, banyak sekali diantara mereka yang hidupnya tidak seberuntung kita. Misalnya saja banyak orang yang ketika terlahir ke dunia dengan kondisi fisik yang tidak sempurna, hidup di bawah garis kemiskinan, tidak makan seharian, tidak berpendidikan, tidur di kolong jembatan. Masihkah kita tidak bersyukur atas apa yang sudah Allah anugerahkan kepada kita? Bahkan di dalam Al-Qur’an surat Ar-Rahman Allah SWT mengulang-ngulang ayat yang terjemahannya Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan? karena begitu banyaknya Allah memberikan limpahan nikmat-Nya pada kita.

Rasulullah SAW bersabda :

Kebahagiaan duniawi merupakan sesuatu yang ganas ; maka jinakkanlah ia dengan kebersyukuran.

Sedangkan Allah berfirman dalam Al-Quran :

“Niscaya jika kalian bersyukur (atas nikmatKu), maka akan Aku tambah (nikmatKu), dan jika kalian kufur sesungguhnya siksa-Ku sangat pedih.” (Q.S Ibrahim: 7)

Janji Allah itu selalu benar dan tidak pernah ingkar. Seperti halnya pada ayat di atas yang menjelaskan, bahwa barangsiapa yang bersyukur atas pemberian Allah maka akan Allah tambahkan nikmat-Nya, namun jika manusia kufur terhadap pemberian Allah, sesungguhnya siksa-Nya amat pedih. Dan Allah begitu mencintai orang-orang yang bersyukur.

Selain karunia nikmat-Nya yang berlimpah, tak jarang Allah juga memberikan ujian kepada setiap hamba-Nya. Baik berupa kegagalan yang mengakibatkan kekecewaan yang sangat mendalam maupun kehilangan dunia yang meninggalkan tangis kesedihan. Semua itu tak lain adalah bentuk kasih sayang Allah terhadap kita, persoalannya mampukah kita menghadapinya dan sejauh mana kita mampu memaknainya. Yakinlah, bahwa segala sesuatu yang telah menjadi keputusan Allah itu pasti mengandung banyak hikmah meskipun kita tidak menyadarinya. Kita juga harus percaya bahwa Allah tidak akan memberikan cobaan di luar kesanggupan kita memikulnya, karena segala sesuatu yang tercipta di muka bumi ini pasti mempunyai makna, tidak tercipta sia-sia. Seperti halnya sebuah ujian, karena dengan ujian itulah Allah hendak meninggikan derajat kita.

Jika dalam menjalani hari-hari kita, kerap kali dihadapkan pada masalah-masalah yang pelik. Berbaik sangkalah kepada Allah yang mempunyai kunci jawaban dari setiap persoalan. Seringkali seorang manusia mempertanyakan mengapa Allah tidak jua mendengar doanya? Padahal ia rajin berpuasa senin kamis, rajin bersedekah, selalu tepat menjalankan shalat 5 waktu, selalu mengerjakan qiyamul lail, tak pernah lupa untuk shalat dhuha. Pada akhirnya, mereka seolah menyalahkan takdir yang sudah tersurat dan menganggap Allah tidak adil.

Seperti yang pernah dikatakan Syekh Abdul Qadir Al-Jailani :

Betapa anehnya kau marah kepada Tuhanmu ; menyalahkan-Nya, menganggap-Nya tidak adil, menahan rezeki dan tak menjauhkan musibah. Tidaklah kau tahu bahwa setiap kejadian ada waktunya, dan setiap musibah ada akhirnya?

Apabila ikhtiar sudah kita lakukan semaksimal mungkin, sebenarnya kuncinya hanya satu, bersabarlah. Man Shabara Zafira, barangsiapa yang bersabar ia akan beruntung. Jika doa yang senantiasa kita panjatkan tidak juga diijabah, bukan berarti Allah menolaknya. Hanya saja Allah sedang menguji kesabaran kita. Barangsiapa yang mampu melewatinya maka dia lah yang menjadi pemenang, maka kelak sabar itu akan berbuah manis.

Tak ada satupun insan di dunia ini yang luput dari ujian, seperti halnya kisah Nabi Zakaria dan Nabi Ibrahim. Allah berikan ujian kepada keduanya dalam penantian yang panjang demi memperoleh keturunan. Bahkan keduanya dianugerahi keturunan ketika usianya telah lanjut. Sungguh luar biasa bukan indahnya kesabaran?

Allah Maha Tahu atas apa yang Dia berikan kepada setiap hamba-Nya. Boleh jadi, apa yang kita anggap baik namun buruk bagi-Nya, dan apa yang kita anggap buruk itu baik bagi-Nya. Menganggap Allah tidak adil itu salah besar. Perlu kita ketahui bahwa ujian itu ada untuk membuat kita menjadi pribadi yang kuat apabila Allah kembali memberikan ujian yang jauh lebih dahsyat. Besi saja perlu ditempa terlebih dahulu untuk menjadi pedang. Begitupun kita sebagai manusia, Allah berikan ujian terlebih dahulu yang dalam proses mengatasinya akan membentuk kita sebagai pribadi yang unggul.

Syukur dan sabar memang selalu ada dalam keadaan yang bertolak belakang. Namun dua hal itulah yang merupakan pilar utama untuk mencapai bahagia baik di dunia maupun di akhirat.

oleh : Aini Nur Latifah

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan