Senin, 09 Juni 2014

Enam Kiat untuk Hidup Lebih Baik

Al-Qur’an sebagai kalamullah sejatinya merupakan petunjuk yang terbaik. Kita bukan lagi hidup di zaman Rasul yang apabila mempunyai masalah dapat bertanya langsung kepada beliau, suri tauladan kita. Oleh karena itu, pendekatan kepada kalamullah dan menjalankan ajaran Rasul adalah jalan terbaik yang mutlak harus kita tempuh. Ada banyak cara untuk melakukannya, salah satunya yaitu dengan metode penafsiran ayat demi ayat tersebut.

Sejalan dengan itu Dr. Zainal Arifin Zakaria dalam Tafsir Inspirasi yang beliau tulis memaparkan motivasi-motivasi mengenai enam kiat dalam memaknai kehidupan yang terdapat pada surah Al-Fatihah ayat 1-7.

Kiat pertama, yaitu “Mulai dengan nama Allah”, dimaknai dari ayat pembuka yang tak asing lagi terdengar, “Bismillaahirrahmaanirrahiim”. Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih Maha Penyayang. Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Apapun yang kita lakukan jika dimulai dengan nama Allah, insya Allah keridhaan Allah senantiasa bersama kita.

Ayat kedua dalam surah ini memiliki arti yang sangat bermakna, mengajarkan kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah Ia karuniakan kepada kita. Seperti nikmat kesehatan, rezeki, ketenangan jiwa dan lain sebagainya. “Manusia yang bijak adalah manusia yang tahu berterima kasih dan bersyukur”. Maka dari itu dalam ayat ini menjadikan “Bersyukur dan Kerja Maksimal” sebagai kiat keduanya.

“Harus lebih baik dan tebar kasih”. Kiat yang ketiga ini menjadi makna dari ayat ketiga, “Arrahmaanirrahiim”. Dengan mengulang kembali nama terbaik-Nya, yaitu Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Rahmat dan kasih-Nya setiap saat kita rasakan. Sebagaimana Allah memiliki sifat pengasih dan penyayang maka patutlah bagi kita menghendaki sifat serupa pada sesama untuk menebarkan kasih-Nya.

“Maalikiyaumiddin”. Diwajibkan bagi kita mengimani hari akhir yang telah kita ketahui sebagai salah satu rukun iman yang kelima, karena hanya Allah-lah yang mengetahui kapan hari pembalasan itu akan terjadi sehingga kita harus mempersiapkan diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap saat. Dengan demikian “Orientasi jauh ke depan, yaitu akhirat” adalah kiat keempat dalam surah ini.

Kiat kelima ialah “Hidup ini adalah pengabdian pada Allah”. Sebagai ciptaan-Nya sudah sepantasnya bagi kita untuk memuji dan meminta pertolongan hanya kepada Allah. Jika kita pahami, kebergantungan kita terhadap-Nya merupakan suatu kebahagiaan, lain halnya jika kita bergantung dengan makhluk lain yang justru akan merugikan dan menyengsarakan kita di dunia maupun di akhirat nantinya.

“Ihdinashiraatalmustaqiim”. Sesiapapun di antara kita menginginkan jalan yang lurus serta kemudahan dalam menjalani hidup ini. Tetap dalam naungan Islam merupakan suatu ikhtiar untuk mendapatkan itu semua. Pada kiat keenam ini “Doa kesuksesan: tetap dalam Islam” memberikan penegasan bahwa Islam merupakan rahmat bagi seluruh alam.

Keenam kiat di atas disempurnakan oleh ayat penutup atau ayat terakhir dalam surah ini, yaitu pada ayat ketujuh yang merupakan doa para hamba-Nya agar senantiasa ditunjukkan jalan yang lurus seperti orang-orang terdahulu yang telah Allah beri nikmat dan dijauhkan dari jalan orang-orang yang dimurkai Allah terlebih jalan orang-orang yang sesat.

Referensi: Arifin Zakaria, Zainal. Tafsir Inspirasi. Medan: 2012.
Oleh: Mursyidah Lathifah

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan