Minggu, 08 Juni 2014

Energi Syukur dan Sabar Dalam Doa - 1

Setiap muslim berdoa kerap mengaklamasikan permohonan, “Ya Tuhan kami, berikanlah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201) Doa yang dimohonkan, sungguh, menunjukkan permintaan yang bersifat kebahagiaan dan kesuksesan. Karena dibalik kebaikan pasti ada nada kebahagiaan dan kesuksesan. Namun, acap kali berdoa dengan melantunkan ayat tersebut, hingga kini tak sedikit dari kita belum merasakan kebaikan yang dimohonkan kepada Allah? Padahal, dalam ayat yang lain Allah berfirman, “…berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (QS. Al-Mukmin: 60)

Adalah baik bila kita menelusuri kenapa yang kita mohonkan kepada Allah belum diperkenankannya. Padahal, yang dimohonkan kepada-Nya senantiasa mengandung kebaikan dan minus keburukan, apalagi kezhaliman. Lalu, di mana letak kesalahannya? Sejatinya, tak ada yang salah dari isi doa dan firman Allah tersebut. Yang salah adalah, prosesi kita dalam berdoa. Ada yang kurang dari unsur berdoa yang kita lakukan.

Doa yang dimohonkan kepada Allah harus diiringi dengan syukur dan sabar. Artinya, doa, syukur dan sabar harus disatupadukan, tak boleh dipisahkan. Kalau boleh ditamsilkan, ketiga hal tersebut ibarat air, gula dan teh. Tak akan tercipta teh yang manis, jika tidak ada air. Tak akan bisa dikatakan teh, jika hanya berisi komponen air dan gula. Demikian juga dengan permohonan kita. Doa yang dihaturkan kepada Allah harus dibarengi syukur dan sabar.

Sudahkah kita bersyukur kepada Allah usai memanjatkan doa yang kita inginkan? Atau, sudahkah kita bersabar setelah Allah mengingatkan diri kita untuk senantiasa melantunkan doa tersebut kepada-Nya? Jarang sekali kita usai berdoa merasa bersyukur kepada Allah, karena masih bisa memohonkan hal yang baik bagi kita dan orang lain. Kita terkadang lupa bersabar saat masa penantian doa yang dimohonkan kepada Allah untuk diwujudkan-NYa.

Energi Syukur

Syukur bukanlah sekedar banyak-banyak membaca Alhamdulillah. Hanya saja, pengucapan Alhamdulillah adalah sebagian kecil dari wujud syukur. Di dalam buku “Silsilah Amalan Hati” dimaktubkan, hakikat syukur adalah memperlihatkan pengaruh nikmat Ilahi yang melekat dalam diri kita. Artinya, melalui kalbu yang beriman, melalui lisan dengan pujian dan sanjungan, melalui anggota tubuh dengan melakukan amal saleh dan ketaatan.

Jika konsep syukur berdasarkan definisi tersebut direalisasikan dalam kehidupan, seyogyanya sedikit saja nikmat yang diberikan Allah, sudah menginspirasi kita untuk sebanyak mungkin bersyukur. Apalagi ketika nikmat yang dianugerahkan Allah berlimpah ruah maka kesyukuran kita semakin berlipat ganda. Sehingga kita lakukan prosesinya, dengan mengucapkan Alhamdulillah dengan lisan. Kita tanamkan dalam hati yang terdalam kesyukuran itu, kemudian kita bagikan kesyukuran itu, jika berbentuk materi, kepada orang lain.

Inilah energi syukur. Seharusnya, kita memuji Allah bukan saja dalam doa yang dilantunkan, tapi juga setelah berdoa. Kita bersyukur kepada Allah dengan lisan karena hanya bermunajat kepada-Nya, kita bersyukur dengan hati karena hanya Allah yang mampu mewujudkan keinginan kita, dan kita bagikan kesyukuran itu, jika memiliki harta, dengan bersedekah ataupun dengan senyum yang menunjukkan refleksi kebahagiaan.

Jika sudah melakukan aktivitas berdoa yang dibarengi dengan kesyukuran, insya Allah apa yang dimohonkan segera hadir, Bukankah Allah memaktubkan di dalam surat al-Baqarah ayat 152, “Maka, ingatlah kepada-Ku, Aku akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”? Karena itu, bersyukur usai berdoa akan memuluskan proses doa yang dimohonkan kepada Allah. Inilah energi syukur yang harus dilakukan.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan