Jumat, 06 Juni 2014

Hijab: Antara Syar’i dan Fashionable

Hijab? Mungkin ada sebagian orang yang masih asing ketika mendengar kata hijab. Jika kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia, hijab berarti penutup. Dalam kehidupan sehari-hari hijab lebih sering diartikan sebagai jilbab.

Beberapa tahun silam, bagi sebagian masyarakat Indonesia berhijab merupakan sesuatu yang bisa dibilang “old fashioned” alias kuno. Berhijab lebih identik dengan ibu-ibu majlis ta’lim dan ibu-ibu PKK. Bahkan, sebagian kalangan berpendapat berhijab itu susah, menghambat aktifitas, dan tidak fashionable. Itu semua adalah pendapat yang sangat keliru.

Dewasa ini, hijab tidak lagi didominasi oleh ibu-ibu pengajian. Hijab kini telah bertransformasi merasuki setiap sendi-sendi kehidupan seorang muslimah. Wanita berhijab kini bisa ditemukan di hampir semua tempat, seperti kantor, pasar, bank, dan tentu saja di sekolah-sekolah. Karyawati di bank yang dulu lebih identik dengan kecantikan dan keminian pakaiannya kini telah banyak yang berhijab dan terlihat lebih cantik tentunya. Demikian juga dengan sekolah-sekolah, banyak sekolah yang siswinya berhijab.

Maraknya penggunaan hijab di kalangan wanita muslimah dengan segala tingkatan usia kini juga telah menginspirsi designer-designer untuk merancang berbagai model hijab yang trendi dan modis tentunya. Di pasaran kini berbagai model hijab telah menjamur, baik yang sederhana maupun yang fashionable. Fenomena ini tentu mengundang berbagai kontroversi. Di satu sisi, menjamurnya hijab berbagai model tentu berdampak positif karena mengundang selera anak muda sekarang untuk memakai hijab. Tapi di sisi lain timbul sebuah pertanyaan. Apakah model hijab yang lagi booming saat ini sesuai dengan syariat? Tentu saja ini masih perlu pembahasan lebih dalam.

Dalam Al Quran surat An Nur [24]:31 yang artinya “Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” tersebut jelas perintah bagi muslimah untuk berhijab dan hijab yang diperintahkan dalam surat An Nur adalah hijab yang menutupi dada. Dengan kata lain hijab yang menutupi dada bisa disebut hijab syar’i.

Sekarang cobalah kita mengaca pada diri sendiri. Mengaca pada kenyataan yang terjadi saat ini. Hijab yang lagi booming di pasaran saat ini apakah sudah sesuai dengan syariat? Hijab yang dipakai oleh kita setiap hari apakah sudah sesuai dengan syariat? Tentu belum, bahkan masih jauh.

Kini hijab sudah kehilangan jati diri. Hijab sudah kehilangan citra kemuliannya hanya karena dimodifikasi mengikuti arus modernisasi. Hijab yang akhir-akhir ini sangat digemari justru hijab yang tipis bahkan transparan dan ukurannya pun jauh dari batas yang telah ditentukan oleh syariat. Tak heran lagi meski seorang muslimah sudah berhijab, rambut tetap terbayang dari balik hijabnya. Ini artinya hijab telah keluar dari garis fungsinya yang utama yaitu sebagai penutup.

Meski demikian, memang ada hijab yang lebar hingga menutupi dada jika dikenakan, ada pula hijab yang berlengan sehingga hampir tampak seperti baju. Namun, apakah hijab yang demikian itu ada peminatnya? Tentu ada tapi jarang peminatnya. Banyak para remaja yang tidak menyukai hijab yang lebar hingga menutupi dada dengan alasan panas dan sebagainya. Apalah artinya panas di dunia jika kita mengingat bagaimana panasnya api neraka.

Pandangan bahwa hijab kuno memang perlu dihilangkan, tapi jangan sampai kita menghilangkan citra fisik hijab itu sendiri. Jangan sampai hijab yang suci ternodai oleh arus modernisasi. Upaya untuk mengajak saudara-saudara kita sesama muslimah untuk berhijab pun perlu dilakukan, tapi lakukanlah dengan jalan yang diridhai Allah SWT. Jangan hanya karena ingin membumikan hijab, kita lantas membuat hijab yang tidak sesuai syariat.

Yakinlah bahwa syariat mengatur kehidupan kita untuk kebaikan dan kemashlahatan dunia dan akhirat. Jika kita belum mampu untuk berhijab sesuai syariat dan masih berstandard pada modis, maka belajarlah sedikit demi sedikit beralih memakai hijab yang sesuai syariat (syar’i). Kita sebagai warga muslimah di Indonesia juga patut bersyukur karena negara kita menghormati kita sebagai muslimah dengan membebaskan kita untuk berhijab setiap saat. Sungguh kasihan saudari-saudari kita yang menjadi kaum minoritas di luar negeri. Coba bayangkan bagaimana sedihnya saudari-saudari kita di luar negeri yang dilarang masuk sekolah jika mereka masih bersikukuh mempertahankan hijab yang membalut kepala mereka. Bersyukurlah karena kita dibebaskan untuk berhijab. Oleh karena itu, cintailah hijab dengan cara mengunakan hijab yang sesuai syariat.

Oleh: Nur Rokhanah

1 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan