Kamis, 12 Juni 2014

Ketika Al-Qur’an Bicara Keberkahan Hidup - 1

Di dalam al-Qur’an, Allah Swt. berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raaf: 96). Ayat ini memberikan sinyal bahwa keberkahan yang diberikan Allah Swt, hanyalah kepada orang yang beriman dan bertakwa kepada-Nya.

Layak menjadi pertanyaan, apa arti berkah? Kenapa manusia menginginkan keberkahan? Di dalam kamus Munjid disebutkan, bahwa berkah bermakna “an-nama’ waz ziyadah” (tumbuh dan bertambah). Sehingga dapat dimafhumi bahwa berkah adalah kebaikan yang bersumber dari Allah yang ditetapkan terhadap sesuatu sebagaimana mestinya. Sehingga, apa yang diperoleh dan dimiliki akan selalu berkembang dan bertambah besar manfaat kebaikannya.

Wajar saja jika manusia menginginkannya. Karena sudah kodrati manusia ingin mendapatkan hal yang lebih dan ingin selalu memberi manfaat buat orang lain. Apalagi Rasulullah Saw. sudah berpesan, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi yang lainnya.”

Lantas di mana Allah letakkan keberkahan tersebut? Bila dikaji di dalam al-Qur’an, Allah Swt. meletakkan keberkahan terdapat pada tiga hal. Pertama, berkah dalam keturunan. Memiliki keturunan yang baik adalah keinginan setiap keluarga. Apalagi, Allah Swt. sudah mengingatkan kepada setiap pribadi manusia agar menjaga diri dan keluarganya dari apa neraka. (Qs…) Ini artinya, Allah Swt. menjamin akan ada keberkahan yang diberikan-Nya. jika setiap keluarga mampu menjadikan setiap keturunannya menjadi orang-orang shaleh.

Maka dari itu, setiap orang tua sejak dini sudah dianjurkan untuk mendidik anaknya dengan baik. Cara mendidik anak yang baik pun sudah diajarkan Allah Swt. di dalam al-Qur’an, tepatnya di dalam surat Luqman ayat 12-19. Yang inti ayat tersebut, ada 10 cara mendidik anak yang bakal mendatangkan keberkahan.

Yaitu, (1) ajarkan ia untuk senantiasa bersyukur kepada allah, (2) ajarkan ia untuk tidak pernah sekalipun menyekutukan Allah, (3) ajarkan ia untuk senantiasa berbakti kepada kedua orang tua, (4) didiklah ia hingga menjadikan shalat sebagai kebutuhan bukan kewajibannya. (5) Ajarkan anak untuk senantiasa berbuat baik kepada manusia dan jangan pernah berbuat mungkar. (6) Ajarkan anak untuk tetap bersabar saat menghadapi ujian dari Allah, (7) ajarkan anak untuk tidak sombong terhadap manusia, (8) ajarkan anak untuk tidak menyepelekan orang lain, (9) ajarkan anak untuk senantiasa sederhana dan (10) ajarkan anak untuk berbicara dengan lemah lembut.

Jika sepuluh cara mendidik ini diajarkan kepada anak, yakin dan percaya bahwa keberkahan pada keturunan akan tercipta. Inilah yang terjadi pada keluarga Rasulullah. Beliau mengajarkan kesepuluh cara mendidik anak yang diajarkan di dalam al-Qur’an kepada puterinya, Fatimah ra. Dan sungguh, tak seorang sahabat pun menceritakan tentang keburukan Fatimah. Fatimah binti Rasulullah hadir di dunia ini menjelma menjadi orang yang saat lahir ia menangis orang lain tertawa. Tapi saat ia telah tiada, orang menangis akan kepergiannya sedangkan Fatimah tersenyum karena bisa melakukan apa yang diajarkan oleh ayahnya, Baginda Rasulullah Saw.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

1 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan