Kamis, 12 Juni 2014

Kode Etik Hakim dalam Islam - 1

Secara sederhana, hakim adalah oknum yang memiliki wewenang untuk memutuskan suatu perkara di pengadilan dengan bukti-bukti dan keyakinan yang ada. Sebagai muslim layak mengkaji bagaimana saat Rasulullah Saw. menjadi hakim dan kode etik hakim berdasarkan al-Qur’an dan hadis Rasulullah Saw.

Dengan adanya pengkajian kode etik hakim, diharapkan menjadi ‘terang’ cara menetapkan keputusan yang dilakukan oleh hakim yang beragama Islam. Karena hal ini bisa mengagas diri hakim sebagai hakim yang masuk surga, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, “Hakim itu ada tiga tipe. Satu masuk ke dalam surga dan dua lagi masuk ke dalam neraka. Hakim yang masuk ke dalam surga adalah hakim yang paham dan mengerti akan yang benar dan memutuskan hukum dengan benar. sedang dua hakim yang masuk ke dalam neraka adalah hakim yang mengerti akan kekuasaan, lalu dilakukannya penindasan dalam menetapkan hukum dan hakim yang menghukum manusia karena ketidaktahuannya.”

Artinya, dua hakim yang masuk ke dalam neraka adalah hakim yang mau disuap agar tidak memenangkan pihak yang benar dan hakim yang tidak tahu mengenai hukum terhadap perkara yang dihadapi namun dengan berani ditetapkannya hukum. Dan yang masuk surga adalah hakim yang tahu dan paham tentang hukum secara benar dengan bukti-bukti yang kuat dan memutuskan dengan benar. Hakim yang masuk surga adalah hakim yang tak menerima intervensi dari siapa pun. Ia hanya menetapkan hukum dengan bukti dan keyakinan yang ada pada dirinya.

Maka wajar, bila para ulama takut menjadi hakim, bila masih ada yang lebih pantas. Ini pernah terjadi di masa Khalifah Utsman bin Affan. Ia pernah meminta Ibnu Umar menjadi hakim namun ia tidak mau karena masih ada yang lebih patut dan dia takut jika tidak bisa memutuskan dengan benar. Demikian halnya juga terjadi di khalifah al-Mansyur. Ia meminta imam Abu Hanifah untuk menjadi hakim, namun ditolaknya hingga akhirnya ia dipenjarakan.

Hukum Menjadi Hakim

Menurut disiplin ilmu fikih, hukum menjadi hakim adalah fardhu kifayah. Jika ada yang layak menjadi hakim dan dia bersedia, maka lepas tuntutan masyarakat dari kewajiban tersebut. Namun yang menjadi hakim mesti orang yang mumpuni di bidang hukum, karena ada keputusan yang dilakukan oleh hakim berdasarkan ijtihadnya.

Kasus seperti ini pernah terjadi pada Mu’az bin Jabal ketika diutus Rasulullah Saw. ke Yaman. “Bagaimana caramu mengadili?” tanya Rasulullah Saw. Mu’az menjawab, ‘Aku menghukum dengan apa yang ada di dalam kitab Allah’. lalu Rasulullah Saw. bertanya lagi, “Jika tidak ada di dalam kitab Allah?” Mu’az menjawab, “dengan Sunnah Rasulullah?” Rasulullah kembali bertanya, “Jika tidak ada di dalam sunnah Rasulullah?” Mu’az menjawab, “aku berijtihad menurut pikiranku. Rasulullah Saw menjawab, ‘Alhamdulillah yang telah memberi taufik terhadap utusanku.”

Karena berhubungan dengan ijtihad, maka hukum menjadi hakim fardhu kifayah. Tidak semua orang dapat berijtihad. Ia harus memiliki syarat-syarat mujtahid dan cara mujtahid menetapkan hukum. Namun, akan menjadi berdosa suatu masyarakat bila tidak ada seorang pun yang mau menjadi hakim.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan