Rabu, 18 Juni 2014

Kode Etik Hakim dalam Islam - 2(Habis)

Kode Etik Hakim

Hakim adalah penentu selamat atau lepasnya seseorang dari perkara. Karena itu seorang hakim harus sungguh-sungguh dalam menetapkan keputusan atau hukuman dengan seadil-adilnya. Ia harus menjadi firman Allah SWT, “Dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan seadil-adilnya.” (QS. An-Nisa’ [4]: 58), sebagai pedoman dalam menetapkan keputusan.

Bila ditelusuri sumber hukum, baik al-Qur’an dan Hadis, ada lima hal. Pertama, wajib mencari keadilan dalam mengadili manusia. Perilaku ini dicontohkan Allah Swt. di dalam al-Qur’an, “Dan (Ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, ketika keduanya memberi keputusan mengenai ladang, karena (ladang itu) dirusak oleh kambing-kambing milik kaumnya. Dan kami menyaksikan keputusan (yang diberikan) oleh mereka itu. Maka Kami memberikan pengertian kepada Sulaiman (tentang hukum yang lebih tepat), dan kepada masing-masing Kami berikan hikmah dan ilmu…” (QS. Al-Anbiya’ [21]: 78-79)

Menurut riwayat Ibnu Abbas, kisah yang dimuat di dalam ayat tersebut muncul disebabkan ada sekelompok kambing telah merusak tanaman pada waktu malam. Pemilik tanaman mengadukan hal tersebut kepada Nabi Daud as. Ia memutuskan bahwa kambing-kambing itu harus diserahkan kepada pemilik tanaman sebagai ganti tanaman yang rusak. Tetapi Nabi Sulaiman as. memutuskan agar kambing-kambing itu diserahkan sementara kepada pemilik tanaman untuk diambil manfaatnya. Dan pemilik kambing diharuskan mengganti tanaman itu dengan tanaman yang baru. Apabila tanam yang baru telah dapat diambil hasilnya, pemilik kambing itu boleh mengambil kambingnya kembali. Keputusan Nabi Sulaiman as. yang lebih tepat.

Artinya, keadilan dalam mengadili manusia harus menjadi prioritas utama hakim dalam menetapkan keputusan, sehingga ia tidak melakukan kesalahan. Karena menjadi hakim itu sesuatu yang sangat berat. Maka wajar bila Rasulullah Saw. bersabda dengan diksi yang tegas, “Siapa yang dijadikan hakim di antara manusia maka sungguh ia telah disembelih dengan tidak memakai pisau.”

Kedua, harus memiliki kesopanan dalam menghukum. Artinya, hakim harus tetap sopan santun. Ia tidak boleh memutuskan perkara dalam kondisi marah. Karena marah dapat menimbulkan kezaliman. Rasulullah Saw bersabda, “Hakim tidak boleh menjatuhkan hukuman kedua orang yang berperkara ketika ia sedang marah.” Selain itu, tidak boleh juga hakim menjatuhkan hukuman dalam kondisi lapar, sakit, mau buang air dsb. Karena bisa mengurangi keseriusannya dalam menetapkan hukum.

Ketiga, hakim juga harus menyamakan pertanyaan, tempat duduk dan sebagainya antara dua orang yang berperkara. Hal ini dilihat dari tindakan Rasulullah Saw. saat menjatuhkan hukuman terhadap dua orang yang berselisih atau berperkara di depannya. Keempat, harus mendengarkan dengan baik keterangan dua belah pihak secara bergantian. Hal ini dapat dilihat dari perilaku Ali bin Abi Thalib yang selalu melakukan pengadilan di depan khalayak ramai.

Kelima, hakim dilarang menerima suap karena bisa memengaruhi perkara yang diadili. Bahkan Rasulullah Saw. dengan tegas mengutuknya, “Rasulullah Saw. mengutuk orang yang memberi suap, atau yang menerimanya dalam perkara hukum.”

Jika kelima kode etik ini dipegang dengan kuat oleh hakim, maka ia tergolong orang yang mampu mengamalkan firman Allah Swt. “Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Maaidah [5]: 8). Semoga di hari Kehakiman tahun ini menjadi jalan bagi hakim muslim untuk berlaku adil dalam memutuskan perkara. Amin

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan