Kamis, 12 Juni 2014

Larangan Riba Dalam Islam

Seperti yang diketahui riba merupakan tambahan dari modal yang dimiliki tanpa melalui usaha seperti bekerja ataupun berdagang. Contoh usaha yang mengandung riba adalah rentenir yang meminjamkan uangnya kepada yang membutuhkan dengan pengembalian uang yang dipinjamkan beserta bunganya. Riba telah lama dikenal mulai zaman Rasulullah SAW dahulu.

Larangan riba telah tertulis secara eksplisit di dalam Al-qur’an. Yaitu:

“Tuhan menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS 2:275)

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba, jika kamu orang-orang yang beriman” (QS 2:278-281)

Kaum Kafir Quraisy terkenal dengan kemampuan berdagangnya. Sehingga Mekah yang merupakan pusat peribadatan di jazirah arab menjadi tempat yang cukup strategis untuk berdagang. Karena setiap saat banyak turis maupun penduduk lokal Mekah yang bertransaksi di pasar Mekah. Namun, perlu diperhatikan penduduk Mekah telah terbiasa dengan sistem jual beli ataupun utang dengan cara riba. Adapun jenis-jenis riba yang dimaksud adalah:

  1. Riba Utang (riba duyun).

    Riba utang ini kerap dipraktekkan oleh para tengkulak dan rentenir pada saat ini. Keuntungan dari rentenir adalah tambahan bunga yang ditetapkan oleh rentenir sebelumnya. Biasanya jika peminjam tidak dapat membayar sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan maka bunganya akan bertambah. Hal ini dilakukan rentenir sebagai punishment kepada yang berutang untuk tepat waktu membayar utangnya. Namun, kenyataannya hal ini dilakukan untuk memeras harta peminjamnya. Saat ini banyak rentenir meminjamkan uangnya kepada orang miskin yang jelas-jelas memiliki kesulitan untuk membayar utang. Kemudian begitu utangnya telah menggunung rentenir tersebut akan menyita aset orang miskin dengan mengambil tanah, sawah, bahkan rumahnya sekalipun.
  2. Riba Jual-Beli (riba buyu’).

    Dalam riba jual-beli terdapat Riba Fadhl dan Riba Nasi’ah.

    • Riba Fadhl, merupakan tambahan atau kelebihan. Riba ini terjadi ketika terjadi penukaran barang dengan kuantitas yang tidak sesuai. Pada masa Rasulullah SAW terjadi hal ini. Ketika seseorang ingin memiliki sekeranjang kurma baik, kemudian dia ingin menukarkan 2 keranjang kurmanya yang memiliki kualitas biasa. Namun, Rasulullah SAW melarang hal tersebut. Karena terdapat kelebihan jumlah kuantitas dalam hal yang mau dipertukarkan. Oleh karena itu, Rasulullah SAW kemudian menyuruh kepada pemilik 2 keranjang kurma biasa ini untuk menjualnya terlebih dahulu kemudian baru membeli kurma yang baik kepada penjual lainnya.
    • Riba Nasi’ah, memiliki makna penundaan atau penangguhan. Riba ini biasa dilakukan karena ketidakmampuan peminjam dalam memenuhi kewajibannya dalam membayar sesuai dengan tempo waktu yang diberikan. Sehingga diberikan tambahan dari penangguhan tersebut sebagai kompensasi.

Jenis-jenis riba di atas masih dapat kita temui di kehidupan sehari-hari saat ini. Walaupun dalam bahasa dan istilah yang berbeda-beda. Rasulullah SAW melarang keras riba karena riba memiliki dampak yang sangat buruk kepada peminjam dan yang meminjamkan. Bagi yang meminjamkan akan selalu was-was karena haramnya harta yang ia miliki. Ia tidak akan pernah puas dan biasanya kasar terlebih kepada orang miskin yang meminjam, juga pelit dan tidak mau berbagi. Sedangkan bagi yang menerima pinjaman, akan terus dililit utang dan terus bergantung kepada utang. Kehidupannya sulit membaik karena aset yang ia miliki suatu saat akan disita.

Karena banyaknya mudharat yang ditimbulkan dari riba ini islam melarang dengan keras praktek riba dalam segala aspek kehidupan. Terlebih saat ini banyak praktek riba yang tersamarkan dan memiliki arti yang berbeda-beda. Bunga bank juga termasuk riba sesuai dengan fatwa MUI bahwa bunga bank termasuk riba dan itu haram. Oleh karena itu, sebagai umat muslim kita harus sadar betapa pentingnya mengenal jenis riba dan menghindarinya dari kehidupan kita sehari-hari agar kita terbebas dari laknat Allah SWT.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan

1 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan