Minggu, 08 Juni 2014

Membincang Karakter Orang Fasik - 1

“[ialah] orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 27)

Ayat ini merupakan kelanjutan dari satu ayat sebelumnya. Yaitu, ayat yang menyatakan tentang orang fasik. Jika diwujudkan dalam bentuk pertanyaan, “Siapakah yang disebut dengan si fasik?”. Karena pada akhir ayat ke-26, Allah Swt. menyindir tentang eksistensi orang fasik. Di ayat tersebut disebutkan, bahwa Allah akan menyesatkan orang-orang yang tergolong fasik. Setidaknya, pada ayat ini menjadi penjabaran ihwal tiga sifat orang yang tergolong fasik. Ketiga sifat ini, lantas, menjadi karakter dasar yang mereka miliki.

Pertama, orang fasik adalah orang yang senantiasa melanggar perjanjian Allah. Yang dimaksud dengan perjanjian (‘ahd) di sini adalah aturan Allah yang tertuang dalam al-Qur’an maupun hadis Nabi Saw. Orang fasik itu yang semula menjalankan ajaran agama dengan patuh dan taat, kemudian ia melanggar perjanjian tersebut semaunya sendiri. Yaitu, perjanjian untuk taat dan patuh terhadap aturan-aturan Allah Swt.

Bila kita membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia yang dikarang oleh S. Wojowasito, maka kata Fasik diartikan sebagai sifat dan tindakan yang tidak sungguh-sungguh dalam menjalankan agamanya, dan ketika ia beragama Islam maka keislamannya hanya simbol belaka.

Dalam kitab Min Ma’aanil Qur’an yang ditulis oleh Abdurrahim Faudah, dimaktubkan bahwa penyebutan kata Fasik di dalam al-Qur’an merupakan bentuk penyimpangan dari kebenaran dan bentuk penyelewengan dari jalan yang lurus. Plus, setiap pembangkangan atau pendurhakaan terhadap apa yang telah diatur dan diperintahkan Allah Swt. Maka, dapatlah ditarik kesimpulan bahwa fasik adalah keluar dari jalan yang benar.

Oleh sebab itu, bila ada orang yang mengaku muslim, tapi tidak percaya adanya siksa kubur, maka dapat digolongkan sebagai orang fasik. Atau, tidak percaya dengan adanya surga dan neraka, juga dapat digolongkan sebagai orang fasik. Bahkan mencemooh orang-orang yang suka berzikir kepada Allah, mengajak orang untuk bersedekah, bertahajjud, shalat dhuha, atau meremehkan segala hal-hal yang berkaitan dengan amal saleh dan kebaikan, maka dapat dikategorikan sebagai orang fasik.

Selain itu, juga dapat dikategorikan sebagai orang fasik adalah orang yang mengaku beriman kepada Allah dan para Nabi dan Rasul Allah serta kitab-kitab mereka, namun tidak mau mengikuti sunnahnya, maka dapat dikategorikan sebagai orang yang fasik. Misalnya, tidak mau melaksanakan sunnah yang biasa Nabi Muhammad Saw. kerjakan semasa hidupnya, termasuk di dalamnya melecehkan hadis-hadis Nabi. Tidak percaya dengan apa yang disaksikan Rasulullah Saw. saat isra' mi’raj. Atau mengklaim perilaku Rasulullah Saw. dengan klaim negatif juga dapat digolongkan sebagai orang fasik, dan akan menjadi orang yang merugi baik, dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.

Karena di dalam QS. Ali Imran: 81, Allah Swt. memaktubkan, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para Nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah, kemudian datang kepadamu seorang rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.”

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan