Senin, 16 Juni 2014

Membincang Karakter Orang Fasik - 2 (Habis)

“[ialah] orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS. Al-Baqarah [2]: 27)

Kedua, salah satu orang fasik yang digambarkan di dalam ayat di atas adalah, memutuskan apa yang diperintahkan Allah untuk menyambungnya. Contoh sederhananya, hubungan kasih sayang (shilah al-arhaam) dan hubungan kekeluargaan (al-qaraabat).

Yang dimaksud dengan al-arhaam adalah keluarga dekat, dan Islam sangat menganjurkan untuk memelihara hubungan baik terhadap sanak saudara, dan orang-orang yang memutuskan silaturrahmi sangat dicela di dalam agama Islam. Seperti di dalam firman Allah Swt, “Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) agama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan takutlah dari memutuskan silaturrahmi.” (QS. An-Nisa: 1)

Yang dimaksud dengan al-qarabaat adalah hubungan silaturrahmi yang terbentuk atas dasar kekeluargaan. Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadis Qudsi, “Aku adalah Allah. Aku adalah Dzat yang Maha Pengasih. Aku ciptakan ‘rahim’. Aku ambilkan kata itu dari namaku. Siapa yang membina hubungan dengan sanak famili (silaturrahmi) aku akan menyambungkan ia dengan namaku. Dan siapa yang memutuskannya, aku juga akan memutuskan hubungan dengannya.”

Hal ini selaras dengan apa yang dimaktubkan Allah di dalam al-Qur’an,“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah antara kedua saudaramu.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Rasulullah Saw. juga bersabda, “Wahai manusia, tebarkanlah salam, berikanlah makan dan sambunglah persaudaraan (tali silaturrahmi), dan shalatlah ketika manusia tidur malam, niscaya kalian akan masuk surga.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Bahkan di dalam keterangan riwayat hadis disebutkan bahwa di akhirat kelak, Allah Swt. tidak akan mau melihat wajah beberapa golongan umat manusia. Di antaranya adalah, mereka yang telah memutuskan hubungan silaturrahmi dengan keluarga dan kerabatnya sendiri.

Ketiga, dalam ayat tersebut juga disebutkan bahwa orang-orang fasik seringkali membuat kerusakan, baik yang bersifat fisik maupun moral. Mereka kerap kali menyebarkan fitnah, melakukan maksiat, mengadu domba, dan melakukan perbuatan keji lainnya. Semua yang mereka lakukan tidak ada yang membawa kebaikan maupun manfaat. Sehingga, mereka tergolong orang yang rugi dan terus merugi.

Salah satu bukti nyata orang fasik yang kerap kali kita saksikan adalah, merusak alam dengan pembakaran hutan dan sebagainya. Orang muslim tentu tahu bahwa alam, yang terdapat di dalamnya bumi, sungai dan laut, adalah amanah Allah yang mesti dipelihara. Artinya, hanya orang-orang fasik yang suka merusak alam ini.

Meninggalkan Shalat

Bila dikaji di dalam kitab Lubabun Nuqul fi Asbabun Nuzul karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi dimaktubkan, bahwa sebab turun surat al-Baqarah ayat 27 adalah, ketika kaum munafik mempertanyakan dan memperolok-olok firman Allah Swt yang memberikan perumpamaan di dalam QS. Al-Hajj: 73 dan QS. Al-‘Ankabuut: 41 berupa lalat dan laba-laba, dan menganggap bahwa ayat tersebut bukanlah firman Allah, akan tetapi hanya sebatas ucapan Muhammad bin Abdullah semata.

Padahal, maksud yang sebenarnya dari perumpamaan-perumpamaan tersebut adalah untuk meningkatkan ketebalan iman kaum muslimin. Sehingga, orang-orang yang beriman akan menilai segala apa yang terdapat di dalam al-Qur’an sebagai suatu kebenaran (al-haq). Sedangkan bagi orang fasik yang menolak petunjuk Allah dan tidak dapat menghayati perumpamaan-perumpamaan tersebut, maka mereka akan menjadi semakin sesat.

Mereka mendapatkan kerugian dikarenakan tidak adanya rasa kebahagiaan di dalam hati mereka kecuali hanya terisi dengan hawa nafsu yang menggiring diri mereka menuju kondisi kegelapan jiwa yang dihinggapi rasa was-was yang berlebihan dan keragu-raguan serta kerusakan akhlak.

Dalam disiplin ilmu fikih, bagi seorang muslim yang meninggalkan shalat fardhu dengan sengaja, tanpa ada alasan yang diperbolehkan untuk tidak melaksanakan shalat, maka ia sudah dapat digolongkan sebagai orang kufur atau orang yang mengingkari nikmat-nikmat Allah. Karena shalat merupakan suatu pembeda antara seorang hamba yang beriman kepada Allah dengan seorang makhluk yang kufur kepada-Nya, seperti hadits Nabi Saw dari Jaabir yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi dan Abu Daud, “Garis pemisah antara seorang yang beriman dan seorang yang kufur adalah shalatnya.

Hal tersebut dikarenakan shalat fardhu adalah suatu kewajiban yang harus dilaksanakan umat Nabi Muhammad Saw. pada waktu-waktu yang telah ditentukan, yaitu lima kali sehari semalam dengan tidak adanya satu alasan pun untuk melalaikannya kecuali bila ajal menjemput.

Apalagi, sudah jamak dimafhumi, bahwa shalat nantinya akan menjadi pertanyaan yang pertama kali ditanya oleh Allah Swt. kepada manusia di Hari Kiamat. Hadis Rasulullah Saw. dari Abu Abdullah bin Qurthin menyebutkan, “Yang pertama kali akan ditanyakan bagi seorang hamba Allah di Hari Kiamat adalah masalah shalat. Maka jika shalatnya dinilai baik, seluruh amalnya dipandang baik dan jika shalatnya dinilai buruk, dipandang buruklah semua amalnya. Pertanyaannya sekarang, masihkah kita tidak melaksanakan shalat dengan tidak baik dan benar?

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan