Kamis, 12 Juni 2014

Meneladani Gaya Lebaran Nabi

Bagi umat muslim tentunya hari raya Idul fitri yang jatuh setiap tanggal 1 Syawal disambut dengan kegembiraan. Sehingga berbagai persiapan pun dilakukan untuk menjadikan momentum lebaran sebagai sesuatu yang meninggalkan kesan baik. Terlebih bagi para pelancong yang bekerja jauh dari kampung halaman, maka mudik menjadi hal yang tidak mampu dipisahkan dari tradisi berlebaran masyarakat Indonesia. Tak ayal acara mudik pun kerap dilakukan dengan mempersiapkan segala sesuatu yang serba baru. Seperti; baju baru, kue lebaran, bingkisan lebaran, angpau atau uang fitrah, dan sebagainya.

Di samping itu, meroketnya kebutuhan pokok di bulan Ramadhan dan menjelang lebaran menjadikan masyarakat yang ingin merayakan hari kemenangan merasa khawatir. Apalagi subsidi BBM telah dicabut oleh pemerintah, sehingga harga-harga kebutuhan sandang maupun pangan pun semakin mencekik masyarakat miskin. Sehingga anggaran yang telah dipersiapkan untuk berlebaran terkadang tidak sesuai dengan kebutuhan. seperti; uang transportasi untuk mudik, belanja barang konsumtif yang dikenakan saat hari raya Idul Fitri, dan sebagainya. Dan terkadang gaji bulanan dan uang THR tidak mampu menutup kekurangan dari anggaran yang diperlukan. Oleh karena itu, untuk menutupi kekurangan yang ada masyarakat yang ingin berlebaran mengambil alternatif untuk melakukan pinjaman, baik pada lembaga keuangan perbankan atau perorangan.

Padahal jika ditelisik lebih jauh, tradisi berlebaran semacam itu tidak pernah diajarkan dalam islam. Nabi yang dikenal sebagai pribadi yang sederhana pun merayakan hari kemenangan tidak dengan cara yang berlebih-lebihan. Karena hakikat dari lebaran sebenarnya adalah pengembalian kefitrahan manusia sebagai hamba yang terbebas dari segala dosa, setelah menjalankan ibadah puasa Ramadhan sebulan lamanya. Sehingga hari kemenangan diharapkan mampu meningkatkan nilai ketakwaan seorang hamba kepada Allah.

Begitu pula yang disunahkan Nabi pada umatnya dalam merayakan hari raya Idul Fitri. Umat muslim diperintahkan untuk mengumandangkan takbir ketika matahari tenggelam di malam 1 Syawal. Hal itu dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan ibadah puasa Ramadhan kepada Tuhan dengan rasa syukur menyebut nama Allah. Lalu Nabi pun menyuruh para umatnya untuk pergi menunaikan sholat ied esok harinya sebagai perwujudan dari mengingat Allah.

Dan tentu saja tidak ada aturan yang mengharuskan umat muslim untuk berpakaian baru ketika melaksanakan ibadah sholat Ied. Terlebih memamerkan harta benda yang bersifat duniawi kepada khalayak dan menimbulkan rasa iri hati bagi muslim lainnya. Misalnya dengan mengenakan busana muslim dengan model fashion terbaru ala artis idola dengan harga mahal, menggunakan perhiasan yang berlebihan, membagi-bagikan sedekah dengan tujuan riya’, dan sebagainya.

Karena menyoal penampilan Nabi ketika hendak berangkat melaksanakan sholat Ied. Beliau melakukan mandi sunnah terlebih dahulu, lalu menggunakan pakaian yang paling bagus yang dimiliki (baca: bukan pakaian baru), menyemprotkan wangi-wangian, sarapan pagi dengan makan beberapa butir buah kurma dalam jumlah ganjil, dan memerintahkan untuk membayar zakat fitrah sebagai bentuk penyucian harta. Dan dalam perjalanan menuju tempat ibadah sholat Ied, Nabi tidak henti-hentinya membaca takbir, tahlil, dan tahmid dengan suara lantang. Beliau pun ketika bertemu dengan para sahabat dan umatnya mengucapkan. “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Yang artinya; Semoga Allah menerima amalan saya dan amalan kamu. Hal ini sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Dari sini terlihat jelas bahwa perilaku nabi dalam menyambut hari raya Idul Fitri tentu tidak sebagaimana yang diidentikkan oleh masyarakat muslim di Indonesia. Selain itu, keteladanan yang Nabi tunjukkan tersebut seharusnya mampu membuka ruang pikir masyarakat bahwa segala sesuatu yang berlebih-lebihan tidak disukai oleh Allah. Demikian pula dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Karena yang terpenting dari segala rentetan panjang proses ibadah kepada Allah tersebut ialah niat dalam hati. Kegembiraan menyambut hari kemenangan tentunya adalah luapan kebahagiaan yang bersumber dari hati, karena Allah SWT telah mengampuni segala dosa manusia sehingga ia bagaikan bayi yang terlahir kembali ke dunia.

Oleh karena itu, penting menjadi catatan bagi umat muslim untuk melaksanakan ibadah dengan kesungguhan hati, bukan untuk menunjukkan kapasitasnya sebagai orang yang ingin disegani di lingkungan masyarakat dengan keglamouran yang ditunjukkan dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Terlebih Nabi pun menganjurkan bagi umat muslim untuk menunaikan ibadah puasa selama enam hari di bulan Syawal sebagai bagian dari pengendalian diri dari tindakan berlebihan dalam menyambut hari kemenangan. Tentunya Di samping keutamaan puasa Syawal yang setara degan puasa selama satu tahun tersebut.

Dengan demikian, kita bisa menarik benang merah dari keteladanan nabi dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Apalagi beliau tidak hanya merupakan hamba yang paling takwa dan takut kepada Allah, melainkan hamba yang tidak mempunyai dosa. Tentunya sikap dan perilaku nabi tersebut bisa menjadi bahan perenungan bagi kita agar tidak membelanjakan harta dengan berlebihan, sehingga besar pasak daripada tiang. Dengan kata lain, tidak perlu ada penyesalan di kemudian hari (baca : pasca lebaran) dengan beban utang yang bisa menjadi pionir bagi munculnya persoalan baru yang menjangkiti masyarakat. Itu pula sebabnya hari kemenangan dianggap sebagai titik klimaks bagi seorang muslim untuk mengendalikan hawa nafsunya. Sehingga ibadah selama bulan Ramadhan bukan merupakan ibadah yang sia-sia dan hanya berlapar-lapar tanpa arti.

Oleh : Mayshiza Widya

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan