Sabtu, 07 Juni 2014

Mengapa Harus Mempertanyakan Keadilan-Nya?



Ketika takdir yang menyapa tidak sesuai dengan harapan.
Ketika cobaan datang bertubi-tubi
Ketika doa belum juga dikabulkan.
Ketika kegelisahan tak kunjung berubah menjadi kenyamanan.
Ketika impian tak kunjung menjadi kenyataan.
Adakah Anda kemudian berpikir bahwa Allah tidak Adil?
Aura Husna dalam buku ‘Ketika Merasa Allah Tidak Adil’ terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2012).

Yah, hidup ini tidak melulu bahagia. Terkadang kisah sedih dan cobaan perih juga melanda. Doapun terkadang tidak dijawab seketika. Perlu kesabaran dan kesungguhan hingga impian menjadi nyata.

Dalam buku ‘Ketika Merasa Allah tidak Adil’, Aura Husna mengungkap potret insan yang sempat mempertanyakan keadilan Allah dalam hidupnya. Dan, semua kisah itu menunjukkan alur yang sama. Yaitu, ketidak sabaran menjalani episode kesulitan yang datang mendahului episode bahagia.

Adalah sunnatullah, ketika cerita sedih dan bahagia dipergilirkan. Keduanya adalah keniscayaan dalam hidup ini. Justru, pergiliran keduanyalah yang menjadi bukti keadilan Allah. Lalu, mengapa masih saja manusia meragukan keadilan Allah? Ada beberapa faktor yang menyebabkan manusia meragukan keadilan Allah, yaitu:

Pertama: hati yang berpenyakit

Hati yang berpenyakit, akan sulit merasakan keadilan Allah. Mengapa? Karena hati itu dipenuhi dengan hal-hal negatif yang menuntun pikiran dan perasaannya untuk bersikap negatif. Termasuk pada ketetapan Allah yang hadir pada dirinya.

Kedua: Tidak sabar menjalani proses

Untuk mencapai jenjang kehidupan yang lebih tinggi, manusia terkadang harus melewati tanjakan yang tidak mudah. Tidak jarang, ia harus jatuh kemudian bangun dan jatuh lagi. Keringan dan air mata adalah sebuah keniscayaan dalam sebuah perjuangan. Hanya pribadi yang tangguh dan berjiwa besar yang mampu bertahan dan memamerkan senyum manis menghadapi setiap ujian. Sebaliknya, mereka yang lemah dan enggan menjalani proses akan melewatinya dan hati dan sikap negatif. Dan tidak jarang menyalahkan pihak lain, lingkungan bahkan mempertanyakan keadilan Allah terhadap dirinya.

Ketiga: terlalu berorientasi pada hasil

Ini adalah penyakit manusia saat ini. Terlalu berorientasi pada hasil dan enggan menjalani proses. Ini adalah salah satu ciri manusia bermental instan. Ketika hasil menjadi tujuan, maka kekecewaan akan dengan mudah tercipta. Terutama, ketika sebuah kerja keras tidak memberikan hasil sesuai harapan. Kekecewaan yang amat sangat, akan menggiring hati untuk mempertanyakan keadilan Allah. Mengapa harus begini? Mengapa hasilnya hanya seperti ini? Mengapa tidak seperti mereka? Padahal…? Dan seterusnya.

Tiga hal tersebut merupakan penyebab lahirnya perasaan kecewa dan mempertanyakan keadilan Allah dalam hidup kita. Selain itu, masih banyak penyebab-penyebab lain yang bisa menggiring manusia pada sikap dan perasaan negatif ini. Anda bisa menemukannya lebih lengkap dalam buku ‘Ketika Merasa Allah tidak Adil’ terbitan Gramedia Pustaka Utama ini. Termasuk tips-tips terbaik menjadi hamba Allah yang senantiasa merasa beruntung dan mengenyahkan semua sikap dan perasaan negatif dari hati.

Oleh: Neti Suriana

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan