Sabtu, 07 Juni 2014

Mengenal Ekonomi Syariah dan Perbedaannya dengan Ekonomi Konvensional

Konsep ekonomi syariah baru diperkenalkan kepada masyarakat Indonesia pada tahun 1991 ketika Bank Muamalat Syariah berdiri, kemudian diikuti oleh lembaga-lembaga keuangan lainnya. Apabila Ilmu Ekonomi merupakan ilmu yang mempelajari prilaku manusia dalam kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi barang dan jasa untuk mencapai kesejahteraan manusia. Ekonomi syariah juga memiliki pengertian yang sama, namun tujuannya tidak hanya mencapai kesejahteraan manusia saja, tetapi juga kebahagiaan akhirat. Secara ringkas yang menjadi tujuan ekonomi syariah adalah untuk mencapai kebaikan atau falah. Falah sendiri mencakup kepada maslahah. Sedangkan maslahah merupakan hal penting bagi manusia dan wajib untuk dilindungi. Adapun yang termasuk ke maslahah adalah: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Jadi secara singkat ekonomi syariah memiliki tujuan untuk mencapai kebaikan di dunia dan diakhirat dan juga terjaganya maslahah tadi.

Ekonomi syariah berbeda dengan kapitalisme, sosialisme, maupun negara kesejahteraan (Welfare State). Berbeda dengan kapitalisme karena islam menentang eksploitasi oleh pemilik modal kepada para buruh dan melarang penumpukan harta kekayaan. Oleh karena itu, investasi sangat dianjurkan oleh islam, dan investasi yang diperbolehkan hanya pada instansi atau instrumen yang tidak melanggar ketentuan islam atau sesuai dengan syariah.

Makna syariah secara harfiah adalah Asy-Syari’atu yang berarti jalan menuju mata air, dan pengertian secara teknis adalah sistem hukum dan aturan prilaku yang sesua dengan Al-quran dan hadist. Terdapat beberapa prinsip dalam ekonomi syariah yang menjadi perbedaan yang jelas dengan ekonomi konvensional. Adapun prinsip-prinsip itu adalah:

1. Riba

Riba secara bahasa bermakna ziyadah atau tambahan. Maksudnya terdapat tambahan dari harta pokok atau modal yang diambil secara batil. Riba ini sendiri dapat dibagi menjadi riba piutang dan riba jual beli. Adapun riba piutang diakibatkan peminjam tidak mampu membayar hutangnya sesuai dengan waktu yang ditentukan. Oleh karena itu si peminjam diberi tambahan waktu dengan tambahan biaya dari harta pokok yang dipinjamkan. Riba ini juga dapat disebut sebagai riba jahiliyah.

Riba jual beli sendiri dibagi dua, yaitu riba fadhl dan riba nasiah. Riba fadhl merupakan pertukaran antar barang sejenis dengan takaran yang berbeda. Sedangkan riba nasiah merupakan penangguhan penyerahan atau penerimaan antar barang ribawi.

2. Zakat

Keadilan dan kesetaraan sangat dipandang dalam islam. Melalui zakat hal ini dapat terealisasi dengan baik. Oleh karena itu zakat diwajibkan kepada umat muslim dari zaman Rasul sampai saat ini. Karena dengan dana zakat yang terkumpul dapat di bagikan kepada umat muslim lain yang kekurangan. Sehingga penyebaran harta dapat dilakukan dengan lebih merata. Umat muslim yang miskin pun dapat memenuhi kebutuhannya dari bantuan zakat ini, dengan begitu pembatas antara yang kaya dan miskin dapat dihapus dengan adanya zakat.

3. Haram

Segala sesuatu yang haram jelas sangat dilarang dalam agama islam. Oleh karena itu, dibutuhkan suatu badan pengawas syariah atau DPS (Dewan Pengawas Syariah) di masing-masing lembaga keuangan syariah. Tujuan dari DPS adalah untuk mengawasi, memberi masukan atau nasihat di setiap kegiatan investasi yang dilakukan agar tetap sesuai di jalur aturan islam. Karena itu, lembaga keuangan syariah dilarang berinvestasi di instrumen yang haram. Contohnya saja minuman keras, daging babi, obat terlarang, dll.

4. Gharar dan Maysir

Maysir atau perjudian juga dilarang dalam islam, dan Allah dengan tegas melarang segala bentuk judi di dalam Alquran (Q.S 5:90-91). Gharar merupakan sesuatu yang tidak jelas baik itu asalnya atau hasilnya sendiri. Maksudnya, apabila melakukan suatu usaha bisnis, seseorag melakukan usaha tersebut tanpa mengetahui sama sekali seberapa besar resiko yang akan ia hadapi, selain itu terdapat unsur ketidakpastian yang biasanya sering dipakai oleh para pebisnis untuk melakukan spekulasi.

5. Takaful

Takaful berasal dari kafala, yang berarti memperhatikan kebutuhan seseorang. Kata ini pada praktik para partisipan bersama-sama menjamin diri terhadap kerusakan atau kerugian. Konsep ini dipakai di dalam asuransi syariah.

Inilah beberapa pengertian dan kaitan yang menjadi pembeda antara ekonomi syariah dan ekonomi konvensional. Dengan mengetahui kelebihannya dibanding ekonomi konvensional diharapkan kita dapat meninggalkannya dan beralih kepada yang sesuai syariah.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan