Sabtu, 07 Juni 2014

Mengenal Fiqih Mustahik

Islam sangat menganjurkan untuk bekerja. Karena dari hasil pekerjaan itu manusia memperoleh pendapatan yang dapat mencukupi kebutuhannya sehari-hari. Harta yang diperoleh bukanlah semata-mata milik pribadi secara utuh, melainkan ada hak orang lain akan harta tersebut. Hal ini terdapat dalam Al-qur’an...
“Dan pada harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian” (Q.S An-naziat: 19).
Oleh karena itu zakat menjadi kewajiban bagi semua umat muslim yang memiliki harta. Karena dengan zakat harta yang ada telah dibersihkan dari kewajiban akan hak orang lain, sehingga pemilik harta tersebut dapat memakai hartanya dengan tenang.

Mustahik merupakan golongan orang yang berhak menerima harta zakat. Ada juga kelompok muzakki yang mengeluarkan zakat dan menyerahkannya ke BAZ untuk dikelola oleh amil dan nantinya diserahkan kepada umat muslim yang membutuhkan. Para mustahik ini dibagi ke dalam 8 asnaf, antara lain:

1. Fakir

Menurut Imam at-Tabari kaum fakir adalah orang yang kekurangan namun mampu menjaga dirinya dari meminta. Kaum fakir dapat diberikan zakat untuk mencukupi kebutuhan hidupnya maupun keluarganya. Sehingga zakat yang umumnya diberikan bersifat konsumtif untuk mencukupi kebutuhan hidupnya saat itu juga.

2. Miskin

Sedangkan miskin adalah orang yang memiliki pendapatan, namun tidak mampu mencukupi kebutuhannya sehari-hari dan ia suka meminta-minta. Golongan ini juga umumnya diberikan zakat konsumtif. Namun, untuk fakir maupun miskin dapat diberikan zakat produktif dengan pembinaan dari amil.

3. Amil

Amil merupakan orang yang mengurus dan membagikan harta zakat kepada yang membutuhkan. Menjadi amil harus mengerti tentang zakat. Selain itu ia juga dapat dipercaya, sehingga tidak ada kecurigaan kelak terhadap dirinya dalam mengelola harta zakat.

4. Muallaf

Merupakan orang kafir yang baru memeluk agama islam. Diberikan harta zakat kepada kaum ini dikarenakan untuk menjaga keimanannya dan mencegah mereka untuk kembali kepada kekafirannya. Karena pada zaman Rasullullah SAW, orang yang baru memeluk agama islam biasanya meninggalkan semua hartanya demi mengikuti ajaran agama islam yang telah diyakini mereka dengan benar. Untuk menjaga para muallaf dari kesulitan yang dikarenakan tidak adanya harta mereka, maka harta zakat dapat dialokasikan untuk menjaga keimanan mereka.

5. Riqob (Hamba Sahaya)

Hamba sahaya merupakan budak muslim yang biasa diperjualbelikan pada masa Rasullullah SAW. Namun, pada saat ini praktik perbudakan sudah tidak ada lagi atau riqob juga dapat digunakan untuk membebaskan orang muslim yang menjadi tawanan perang. Bagaimana seandainya jika dana zakat dari diberikan kepada negara muslim untuk membantu mereka mengusir penjajahan?. Menurut Sayyid Rasyid Ridha, Syekh mahmud Syaltut dan Yusuf Qardhawi hal ini diperbolehkan karena berdasarkan kemaslahatan umat muslim di negara tersebut.

6. Gharimin

Gharimin merupakan orang yang memiliki hutang dan ia tidak mampu membayar hutangnya. Gharimin sendiri dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu:

a. Orang yang berhutang untuk kemaslahatan diri atau keluarganya.

Hal ini diriwayatkan oleh oleh Imam Mujahid. Bahwa orang ada tiga kelompok orang yang berutang, yaitu: orang yang hartanya dibawa banjir, orang yang hartanya hilang karena kebakaran, dan orang yang berhutang untuk menafkahi keluarganya.

b. Orang yang berhutang untuk kemaslahatan orang lain.

Contohnya adalah orang yang terpaksa berhutang karena sedang mendamaikan dua pihak yang bertentangan dan untuk menyelesaikan pertentangan tersebut membutuhkan biaya yang besar.

7. Fii Sabilillah

Kelompok ini yang dimaksudkan adalah orang-orang yang berjihad membela agama Allah. Karena masa Rasullullah SAW orang yang berperang adalah sukarelawan yang tidak memiliki gaji tetap sampai pada zaman Umar bin Khattab barulah tentara diberi gaji tetap oleh pemerintah. Oleh karena itu, zakat diberikan kepada kelompok umumnya diserahkan kepada keluarga yang ditinggalkan oleh tentara yang sedang berperang. Karena yang ikut berperang pada umumnya adalah laki-laki, sehingga keluarga yang ditinggalkan dikhawatirkan tidak memiliki penghasilan apapun kecuali melalui para pria yang berangkat ke medan perang.

8. Ibnu Sabil

Ibnu Sabil merupakan orang muslim yang sedang dalam perjalanan. Namun, di tengah jalan ia kehabisan bekal untuk melanjutkan perjalanannya. Kelompok ini berhak diberi zakat dikarenakan pada umumnya yang bepergian jauh ada zaman dahulu adalah orang-orang yang mau menuntut ilmu kepada ulama yang berada di berbagai tempat. Sehingga diharuskan untuk bepergian dalam waktu yang lama dengan tujuan agar Ibnu Sabil ini membawa manfaat ketika ia kembali ke daerahnya nanti.

Oleh : Ahmad Azhari Pohan

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan