Kamis, 12 Juni 2014

Mengenal Orang Pintar di Dunia dan di Akhirat - 1

“Apabila dikatakan kepada mereka, “Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman, “mereka menjawab: “Akankah kami beriman sebagaimana orang-orang bodoh itu beriman?” Ingatlah, sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh, tetapi mereka tidak tahu.” (QS. Al-Baqarah: 13)

Di dalam kitab Lubabun Nuqul fi Asbaabin Nuzul, Imam Jalaluddin as-Suyuthi menuliskan bahwa ayat ini mengutarakan ihwal ejekan dan cemoohan kaum munafik dan fasik terhadap orang-orang yang beriman. Yang dimaksud munafik adalah orang yang bermuka dua. Sedangkan yang dimaksud dengan fasik adalah orang yang senang mencampuradukkan perkara yang haq dengan yang bathil. Di zaman Nabi, ketika Nabi Saw. dan para sahabat tinggal di Madinah, banyak kaum Munafik Madinah menyebut kelompok Islam sebagai orang bodoh. Ketika para sahabat mengajak kaum pribumi Madinah untuk meninggalkan agama terdahulu dan kemudian beriman kepada Allah dan rasul-Nya, mereka tak menggubrisnya sedikitpun. Malah, mereka menilai bahwa ajakan tersebut adalah seruan kebodohan. Oleh Allah Swt., peristiwa ini dimaktubkan di dalam al-Qur’an.

Siapa yang Bodoh?

Kata ‘as-sufaha’ (orang-orang bodoh) yang termaktub di dalam surat Al-Baqarah ayat 13 adalah bentuk jamak dari kata tunggal safihun. Kata ini persis seperti kata ‘ulama (orang-orang pintar) merupakan bentuk jamak dari kata ‘aalimun. Secara bahasa, kata safihun berarti bodoh secara akal, lemah pikiran dan tidak bisa mengetahui mana yang berguna dan mana yang berbahaya. Dengan masuknya alif lam ta’rif pada kata sufaha’, maka menunjukkan bahwa orang bodoh yang dimaksud tidak keseluruhan, melainkan pada sebagian atau kelompok tertentu.

Kata as-sufaha’ juga disebutkan di dalam al-Qur’an pada surat An-Nisa’ ayat 5. Namun, di dalam ayat tersebut, para ulama tafsir sepakat bahwa kata sufaha’ ditujukan kepada kaum wanita dan anak-anak kecil, karena mereka lemah akal dan tak banyak tahu tentang baik dan buruk dalam mengelola harta kekayaan.

Yang membedakan surat al-Baqarah ayat 13 dengan surat An-Nisa ayat 5 adalah pembicaraan ayat sebelumnya. Surat an-Nisa’: pembicaraannya tentang harta kekayaan, sedangkan Al-Baqarah: 13 pembicaraannya tentang perilaku orang munafik. Salah satunya adalah sindiran dan cemoohan mereka terhadap kaum Muhajirin dan Anshar.

Ibnu Katsir mengemukakan pendapat ini di dalam kitab Tafsir-nya. Yang mengucapkan tuduhan tersebut adalah, orang munafik yang tinggal di Kota Madinah. Bagi mereka, para sahabat Nabi dianggap membelot dari ajaran nenek moyang kaum Arab. Itulah sebabnya umat Islam dianggap bodoh. Senada dengan pandangan ini adalah Ibnu Abi Hatim dalam kitab Tafsirnya, Imam As-Suyuthi dalam kitab Ad-Durr al-Mantsur dan Asy-Syaukani dalam kitab Fath al-Qadiir.

Para ulama tafsir sepakat lantaran ditopang oleh beberapa riwayat hadis. Salah satunya adalah riwayat yang dikemukakan oleh Ibnu Abbas. Kata Ibnu Abbas, yang dimaksud dengan ‘orang-orang bodoh’ pada ayat tersebut adalah tuduhan orang munafik kepada para sahabat Nabi, lantaran mereka iri terhadap perkembangan umat Islam yang begitu pesat di Madinah.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan