Kamis, 12 Juni 2014

Mengenal Orang Pintar di Dunia dan di Akhirat - 2 (Habis)

Abdullah bin Salam adalah salah satu orang yang menjuluki para sahabat Nabi dengan sebutan bodoh. Ia dan kawan-kawannya dari komunitas rahib (pendeta) di Madinah menilai bodoh kaum Muhajirin karena dianggap terlalu gegabah memusuhi kaum dan keluarga di Mekah, serta rela meninggalkan kampung halaman hanya untuk ikut Muhammad. Kaum Anshar juga diklaim bodoh oleh mereka, lantaran rela membagikan harta benda dan rumah mereka untuk menolong kaum Muhajirin.

Ejekan dan cacian Abdullah bin Salam ini sejatinya sama seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang kafir di Mekah. Sebab, pikiran mereka tidak waras. Pikiran mereka membalikkan pengertian sebenarnya. Masalah yang baik dianggap mereka buruk, dan masalah yang buruk mereka anggap baik. Inilah bentuk safih (bodoh) mereka. Hal ini disebabkan karena mereka tidak tahu apa manfaat iman. Mereka hanya melihat apa yang tampak di depan mata saja.

Ketika kaum Muhajirin rela meninggalkan kota Mekah demi mengikuti jejak Muhammad hijrah ke Madinah, maka inilah yang dianggap bodoh oleh kaum Munafik. Begitu juga dengan apa yang dilakukan kaum Anshar yang rela berbagi kehidupan dengan kaum Muhajirin. Ini juga dikategorikan tindakan bodoh oleh orang-orang munafik dan fasik di masa Rasulullah Saw.

Padahal, apa yang diduga oleh mereka tersebut adalah salah besar. Ahmad Mustafa al-Maraghi di dalam kitab Tafsir al-Maraghi justru memaktubkan bahwa kaum Muhajirin dan Anshar adalah kelompok orang beriman yang sangat pandai. Mereka adalah orang yang mengikuti akal sehat, sebab telah menapaki jalan kebenaran yang hakiki. Orang seperti ini di dadanya penuh dengan perasaan iman, yang menjadi tumpuan segala perbuatan. Mereka adalah kelompok orang yang pintar di dunia dan di akhirat.

Diklaim sebagai kelompok yang pintar di dunia, karena mampu meyakini bahwa apa yang mereka miliki adalah milik Allah. Harta adalah dunia. Kaum muhajirin dan Anshar meyakini bahwa harta tersebut di akhirat akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah. Mereka meninggalkan harta demi agama Allah, kelak di akhirat jika ditanya ke mana harta tersebut dinafkahkan, dengan serta-merta kaum Muhajirin dan Anshar dengan mudah menjawab. Yaitu, Digunakan di jalan Allah.

Selain itu, kaum Muhajirin dan Anshar juga telah mendengar sabda Rasulullah Saw, “Dua perkara yang paling ditakuti anak Adam. Yaitu, mati. Padahal, mati itu lebih baik dari ujian. Harta yang sedikit. Padahal, harta yang sedikit tersebut akan meringankan hisab di hari penghisaban kelak.” Iman yang menjadi barometer kaum Muhajirin dan Anshar sehingga mereka siap berhijrah dan berbagi dengan sesama kaum mukminin. Iman juga yang menjadikan mereka menjadi kaum yang pintar di dunia dan di akhirat.

Pelajaran yang Dapat Dipetik

Adalah menjadi pelajaran bagi kita saat ini, bahwa Allah Swt. telah menunjukkan seperti apa karakter orang pintar dan bodoh. Orang pintar adalah orang yang tetap menapaki jalan yang telah ditetapkan Allah, baik melalui kitab yang diturunkan-Nya maupun dari hadis yang tuturkan oleh nabi-Nya, Muhammad Saw.

Jika ada yang melenceng dan menilai orang yang tetap dan senantiasa berpegang kepada apa yang diatur oleh Allah Swt. sebagai orang bodoh, maka sejatinya ia sendiri telah menjadi orang bodoh. Karena ia telah menapaki jalan kaum munafik dan fasik yang disebutkan Allah Swt. di dalam surat Al-Baqarah ayat 13. Malah, dengan tegas Allah Swt menyebutkan di dalam ayat tersebut bahwa kaum munafik dan fasik yang sebenar-benarnya orang bodoh, hanya saja mereka tidak menyadari dan mengetahuinya. Wallahu ‘alam.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan