Kamis, 12 Juni 2014

Mengenal Strategi Setan Menggoda Manusia - 1

Di dalam al-Qur’an disebutkan bahwa Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia “Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu”. (QS. Al-Baqarah: 168). Sedangkan Setan sendiri setelah dimurkai Allah SWT bertekad untuk menggoda dan menyesatkan manusia dengan beragam cara. Hal ini diceritakan Allah di dalam al-Qur’an, “(Iblis) menjawab, ‘Karena Engkau telah menyesatkanku, pasti aku akan selalu menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raaf: 16-17)

Di dalam tafsir Ibnu Katsir dimaktubkan pernyataan Ibnu Abbas ra. yang menyebutkan ada empat strategi Setan dalam menyesatkan manusia. Pertama, menggoda dari depan dengan cara menanamkan keraguan tentang kehidupan akhirat. Efek sampingnya, manusia tidak yakin adanya hari berbangkit dan tidak menyiapkan perbekalan untuk menghadapi hari penghisaban atau hari kiamat kelak dengan amal shaleh yang banyak sehingga akan memperoleh azab dari Allah Swt.

Proses penggodaan Setan dari depan ini bisa melahirkan dua ‘wajah’ manusia. Yaitu, menjadi kafir atau menjadi muslim yang gemar berbuat maksiat. Menjadi kafir akan menghantarkan mereka seperti orang kafir Quraish ketika Rasulullah SAW. menyampaikan adanya hari berbangkit, namun mereka menolak dengan mentah-mentah. Inilah yang dipaparkan Allah SWT. di dalam surat An-Naba’ ayat 1-30. Sedangkan orang muslim yang berbuat maksiat, ia tetap menyatakan keimanan tentang hari akhirat hanya saja ia tidak aktif atau menyibukkan dirinya dengan amal ibadah untuk menghadapi hari tersebut. Ia seolah-olah berpikir bahwa hidup di dunia ini yang paling penting, karena hidup di akhirat tidak tahu kapan dialaminya. Sehingga persiapan yang dipikirkannya adalah. hanya persiapan apa yang dihadapinya saat ini.

Karakter pribadi seperti ini hanya akan sibuk dengan apa yang dibutuhkannya saja. Orang yang seperti ini pun akan senantiasa memandang baik perbuatan buruk. Kadar kepercayaannya terhadap hari akhir ada, tapi lebih mendominasi keraguannya tentang terjadinya tersebut. Inilah yang dijelaskan Allah Swt. di dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, Kami jadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan mereka (yang buruk), sehingga mereka bergelimang dalam kesesatan.” (An-Naml: 4)

Kedua, menggoda dari belakang dengan menumbuhkan rasa cinta terhadap dunia. Ini adalah penyakit terbesar dari manusia, termasuk umat Islam. Bahkan bisa menghilangkan kekuatan umat sehingga umat ini, seperti makanan lezat yang diperebutkan orang yang lapar.

Kondisi ini pernah terjadi di masa Rasulullah SAW. Yaitu, umat Islam memenangkan peperangan dalam perang Badar dengan jumlah mereka yang sedikit yaitu 313 pasukan menghadapi pasukan kaum Musyrikin Quraisy yang berjumlah 1000 pasukan. Akan tetapi pada waktu peperangan Uhud, umat Islam dengan jumlah sekitar tujuh puluh pasukan Muslim yang gugur sebagai martir. Pada waktu perang Uhud, pasukan Muslim berjumlah 700 orang, sementara kaum Musyrik berjumlah 3000 orang. Dalam peperangan tersebut, kaum Muslim menderita kekalahan karena sebagian kaum muslim, yaitu regu pasukan pemanah, melanggar perintah Rasulullah SAW. agar tetap pada posisinya di atas benteng Uhud sebagai benteng pertahanan, baik ketika teman-teman mereka memperoleh kemenangan atau kekalahan.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution
(Bersambung)

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan