Kamis, 12 Juni 2014

Menggagas Masyarakat yang Baik Versi al-Qur’an

Tak ada seorang rakyat di muka bumi ini yang tak ingin memiliki lingkungan yang diberkahi. Lingkungan tersebut hanya bakal terwujud bila berada di poros yang diajarkan oleh agama. Di dalam Islam, konsep masyarakat yang baik sudah diajarkan di dalam al-Qur’an. Hanya tinggal, mau atau tidak umat muslim untuk merujuk dan mengamalkannya.

Allah Swt. berfirman, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, Maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (QS. Ali Imran: 159)

Ayat ini sejatinya mengajarkan tiga faktor tentang terciptanya masyarakat yang baik dan diberkahi Allah.

  1. Pemimpin Yang Lemah Lembut Dan Pemaaf

    Kenapa penilaian terhadap pemimpin yang menjadi garis start untuk terciptanya masyarakat yang baik? Jawabannya, karena pemimpin yang paling bertanggungjawab. Maka dari itu, pemimpin harus bisa menjadi orang yang tetap lemah lembut dan pemaaf meski rakyat melakukan kesalahan.

    Namun, sifat lemah lembut dan pemaafnya bukanlah menjadi alasan utama untuk tidak bertindak tegas. Pemimpin mesti tegas, namun memaafkan. Inilah yang dicontohkan Rasulullah Saw. saat mengalami kekalahan dalam Perang Uhud.

    Yaitu, di saat pasukan pemanah yang berada di puncak bukit Uhud lupa dengan tugasnya di saat para pasukan muslim yang berada di bawah bukit Uhud mengambil harta-harta yang dimiliki masyarakat kafir yang kalah berperang saat itu.

    Para pasukan pemanah terpesona dengan harta tersebut hingga ikut turun dan akhirnya diketahui oleh kaum kafir yang dikomandoi oleh Khalid bin Walid. Akhirnya, kaum kafir pun melakukan serangan balik sehingga pasukan muslim pun mengalami kekalahan.

    Dengan kekalahan ini, Rasulullah Saw. tetap bertindak tegas. Ia mengingatkan apa yang menyebabkan pasukan muslim mengalami kekalahan, namun ia tetap memaafkan kesalahan para pasukannya. Sungguh, sikap seperti ini yang mesti dimiliki oleh seorang pemimpin. Tegas, namun tak lupa memberikan kemaafan agar rakyatnya bisa memperbaiki dirinya. Karena Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang tidak memiliki sikap lemah lembut, niscaya dia akan diharamkan dari segala kebaikan.”

    Karena itu, untuk mewujudkan masyarakat yang baik, maka rakyat mesti memiliki pemimpin yang lemah lembut dan pemaaf. Ia tak mudah emosional dan tak mudah mengeluh. Apa yang terjadi meski disikapi dengan bijak. Ia mesti memimpin karena Allah, bukan karena yang lainnya.
  2. Menegakkan Asas Musyawarah

    Sebagai pemimpin dalam mengambil keputusan harus dilakukan dengan cara bermusyawarah. Musyawarah yang dilakukan lebih mempertimbangkan kepentingan masyarakat banyak. Jika pun harus melakukan keputusan yang sulit, namun ia tetap melihat pada sisi sedikitnya kesulitan atau mudharat yang diterima masyarakat yang dipimpinnya. Artinya, pemimpin senantiasa mengambil kebijakan pada kemaslahatan atau kebaikan yang sangat bermanfaat bagi masyarakatnya.

    Ini juga dicontoh oleh Rasulullah Saw. Beliau selalu memanggil dan mengajak para sahabatnya untuk bermusyawarah dalam problem atau masalah yang tidak dijelaskan hukumnya lewat wahyu. Bahkan, Beliau pun tak segan untuk mengikuti pendapat sahabatnya. Misalnya dalam perang Badar. Rasulullah Saw. mengikuti pendapat Hubbab bin Munzir yang memberikan masukan kepada Rasulullah Saw. untuk menguasai dan menempati daerah Badar yang mengandung banyak air.

    Namun dalam bermusyawarah, hendaklah pemimpin mencari teman bermusyawarah yang takut kepada Allah. Bukan bermusyawarah kepada orang yang ingin mengambil keuntungan. Karena itu memang tidak diajarkan di dalam agama. Carilah yang benar-benar takut kepada Allah. Sehingga ketika memberi pendapat, fokusnya mutlak pada kemashlahatan. Pantas sekali bila Umar bin Khattab berkata, “Minta nasihatlah kepada orang-orang yang takut kepada Allah!”
  3. Tawakkal kepada Allah

    Setelah ditempa pemimpin yang selalu lemah lembut, pemaaf dan suka bermusyawarah, hendaklah pemimpin dan masyarakat yang dipimpin senantiasa bertawakkal kepada Allah. Segala kejadian yang terjadi dan segala keputusan yang diambil tetap diserahkan kepada Allah. Ingatlah selalu bahwa apa pun yang dilakukan dan terjadi tak luput dari qudrat (kuasa) Allah. Apalagi, Allah di dalam al-Qur’an sudah menegaskan, jika bertawakkal kepada-Nya akan dibukakan jalan keluar.

    Allah Swt. berfirman, “Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar”. (QS. Ath-Thalaq: 2)

    Tawakkal di sini bukan saja diperuntukkan kepada pemimpin, tapi juga kepada masyarakat. Tawakkal sendiri pun bukan hanya dibangun di saat hasil musyawarah ditetapkan, tapi bangunlah di saat masalah muncul. Sehingga kesiapan diri menerima apa yang sudah ditakdirkan Allah menjadi jalan untuk terbukanya solusi. Sungguh, pemahaman tawakkal yang tepat akan membentuk kualitas iman yang baik dan terbuka dengan lebarnya jalan keluar terhadap masalah tersebut.

Inilah tiga faktor penting yang mesti dimiliki oleh pemimpin dan rakyat bila ingin memiliki lingkungan dan negara yang diberkahi Allah. Bila keluar dari ketiga ini, tak mengherankan bila terjadi banyak musibah dan bencana. Musibah dan bencana bukanlah tanda tidak sayang Allah kepada makhluknya. Tapi kehadirannya adalah, untuk mengingatkan kembali ihwal ketauhidan kepada Allah SWT., dan mengingatkan ketiga faktor penting yang mampu menciptakan masyarakat yang baik. Wallahua’lam.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan