Sabtu, 07 Juni 2014

Menjadi Seorang Muslim? Jangan Berbangga Hati!

Menjadi seorang muslim merupakan suatu kesyukuran tersendiri bagi kita. Dimana sedari lahir Allah telah memperkenankan kita memeluk agama yang berada di jalan-Nya. Jaminan masuk surga, sudah ada di tangan. Muara yang benar pun tengah kita jalani. Namun, apa hanya menjadi seorang muslim telah membuat kita siap menghadapi hidup? Apa hanya menjadi seorang muslim telah cukup menjadikan kita pribadi yang sukses? Apa hanya menjadi seorang muslim pasti akan terhindar dari segala gangguan duniawi?

Tidak. Tentu tidak.

Dari sumber yang saya dapatkan di internet, dalam presentasi 100% otak manusia bekerja maksimal dengan 20% IQ dan 80% SQ, EQ. Jadi di samping cerdas, kita harus punya etika yang baik dan spiritual yang kuat. Hanya menjadi seorang muslim yang mengandalkan kepintaran otak, tidak menjamin pencapaian yang luar biasa dalam diri kita. Hanya menjadi seorang muslim tanpa punya prinsip, tidak menjamin ketahanan kita dalam menjalani kerasnya kehidupan. Hanya menjadin seorang muslim tanpa memberi manfaat bagi orang lain, tidak akan mengatarkan kita pada makna sukses yang sebenarnya. Hanya menjadi seorang muslim dengan membiarkan kita terlarut dalam putaran roda kehidupan, tidak mempertangguh keimanan kita dalam menghadapi terjerumusnya keadaan sosial.

Lalu, harus bagaimana?

Mari kita ambil contoh dari seorang yang sangat dimuliakan oleh Allah, Muhammad SAW. Rasulullah rupanya telah mencerminkan teladan baik bagi kita lewat perilaku-perilakunya, bahkan sejak beliau masih belia. Dahulu, Muhammad kecil telah menjadi contoh bagi sesamanya karena beliau tak pernah menggantungkan hidup pada orang lain. Muhammad kecil hanyalah seorang yatim yang menggembala kambing. Di samping itu, beliau juga sosok empunya kemuliaan sifat. Seperti pemaaf, ulet, cerdas, dapat dipercaya dan tentunya sangat memberi manfaat bagi orang lain.

Hmm.. Apa hubungannya dengan masa kini?

Bisa kita simpulkan bahwa remaja muslim sekarang telah terjerumus oleh perubahan zaman. Mereka juga telah mereduksi nilai-nilai agama. Gaya hidup orang luar negeripun tak luput dianggap trend yang harus diikuti. Dan pencerminan perilaku Rasulullah sudah jarang kita temukan dalam diri remaja muslim era masa kini. Dimana mereka sekarang hanya puas menjadi seorang muslim tanpa khawatir akan arus globalisasi yang tanpa mereka sadari, bermisi memupus budaya teladan secara perlahan.

Lantas, apa yang harus kita lakukan?

Kita harus menjadi pribadi yang hanif, solutif dan produktif. Yang mana ketiga kata tersebut telah mewakili jiwa seorang muslim yang sukses.

Hanif, solutif, Produktif? Apa itu?

Hanif adalah lurus dan selalu berada di jalan Allah. Sedangkan solutif adalah sikap kemampuan memecahkan masalah yang harus ada pada diri masing-masing manusia. Serta produktif merupakan sebutan bagi sifat kreatif dan ulet yang dapat menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain. Seorang hanif, pasti akan bersikap solutif dan akan menjadi produktif bagi orang lain. Karena itulah, kronologis kata-kata tersebut menjadi satu-kesatuan dan tidak dapat dipisahkan.

Mengapa harus hanif, solutif dan produktif?

Karena bisa dipastikan seorang yang hanif adalah pribadi pemaaf, penyabar dan sangat beriman kepada Allah. Dimana setelah memiliki kepribadian seperti itu, seorang yang hanif akan memandang masalah secara jernih dan timbulah sikap solutif yang dapat memecahkan prakara kehidupan. Dari sikap ini, pribadi yang hanif akan dapat membantu oraang lain lewat kemampuan memecahkan masalahnya dan motivasinya. Karena itu, pribadi hanif yang telah bersikap positif akan menjadi sosok produktif pemberi manfaat positf bagi orang lain lewat apa yang ia kerjakan.

Jadi apa yang harus dilakukan agar kita menjadi pribadi yang hanif, solutif dan produktif?

Sama seperti pekerjaan lain yang kita lakukan.
1. Pasang niat! Niatlah bahwa kita menjadi pribadi yang selalu mengedepankan Allah. Niatlah bahwa kita akan meletakkan kata ‘Islam’ di depan segala sesuatu yang kita kerjakan. Niatlah apa yang kita lakukan ini hanya demi mendapatkan ridho Allah. Niatkan, ini akan menjadi prinsip hidupmu!
2. Laksanakan segala sesuatunya secara konsisten dan sungguh-sungguh. Sehingga kita selalu dapat melaksanakan apapun secara maksimal dan memetik hasil yang maksimal pula.
3. Refleksikan apa yang telah kita lakukan dengan fikiran jernih. Koreksilah, apa yang masih salah, dan apa yang harus dipertahankan. Dari sini kita dapat menilai telahkah kita menjadi sosok yang produktif apa belum.
4. Berdoa dan memohon perlindungan kepada-Nya. Ini penting. Karena segala sesuatunya pasti kita kembalikan kepada Allah SWT.

Jika saya adalah seorang remaja, tapi belum berpribadi seperti itu, apa yang harus saya lakukan? Sudah terlambatkah?

Tidak. Tidak ada kata terlambat dalam hidup ini. Semuanya butuh proses. Dan saat ketika kita sadar mana yang terbaik bagi kita, mulailah dengan membiasakan perilaku itu dalam keseharian. Pelajarilah apa yang dulu menjadi kesalahanmu, perbaikilah dan hindarin segala sesuatu yang dapat menjerumuskan kita dalam kesalahan kita yang dahulu ataupun kesalahan kita yang terpengaruh perubahan zaman. Mulailah dari diri sendiri, kemudian terapkan pada keluarga, lalu turalilah lewat masyarakat dan terakhir.. Baktikanlah dirimu pada negaramu.

Sudahkah kamu mengoreksi diri? Apa kamu sudah berpribadi hanif? Apa kamu telah bisa bersikap positif? Dan menjadi produktif bagi orang lain?

-Temukan potensi diri terbaikmu, kembangkanlah sebagai modal berpribadi hanif, bersikaplah solutif dan bersiaplah menjadi produktif bagi orang lain- Khoirul Farit, S.Pdi

Referensi : http://www.google.co.id (materi dan gambar)
Pak Khoirul Farit, S.PdI

Oleh : Ruri Alifia

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan