Minggu, 08 Juni 2014

Murtad dan Indikatornya

“Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu Dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 217)

Ayat tersebut mengingatkan kita tentang dua pesan penting yang disampaikan Allah kepada umat manusia. Pertama, amal ibadah orang murtad selama ia memeluk agama Islam akan dianggap sia-sia. Meski, ia telah beribadah puluhan tahun, maka itu tak bernilai apa pun jika ia telah murtad.

Kedua, orang murtad akan selama-lamanya berada di dalam neraka. Artinya, ia disamakan dengan orang kafir. Tidak ada pengampunan sedikit pun bagi mereka yang telah murtad.

Prof. Dr. M. Quraish Shihab dalam Tafsir-nya menjelaskan bahwa dua hal tersebut akan menimpa seseorang apabila ia mengaku keluar dari Islam hingga ajal menjemputnya. Namun, jika sebelum meninggal ia sempat bertaubat, maka taubatnya akan diterima Allah dan amal ibadahnya tidak menjadi sia-sia. Dengan catatan, tentunya, hal tersebut tidak dilakukan dengan main-main.

Selain itu, beliau juga menjelaskan, jika seseorang telah menunaikan ibadah haji, kemudian ia murtad, dan dia hendak kembali lagi kepada Islam sebelum matinya, maka dia tidak diwajibkan untuk menunaikan ibadah haji lagi. Artinya, haji yang sudah dilaksanakannya dahulu tak perlu diulangi kembali. Pasalnya, kewajiban menunaikan ibadah haji hanya sekali dalam seumur hidup.

Indikator Murtad

Istilah murtad menjadi momok yang menakutkan bagi orang-orang Islam. Siapa pun yang telah dianggap murtad, maka sama artinya menjadi yang terbuang dalam Islam. Meski begitu, tak gampang orang dianggap murtad. Sebab, Islam sangat hati-hati sekali dalam memvonis seseorang sebagai orang murtad. Bisa jadi, kalau justifikasi tersebut salah, maka vonis murtad justru akan kembali kepada orang yang memvonisnya.

Kata ‘murtad’ diambil dari kata bahasa Arab ‘Ar-riddah’, yang berarti kembali. Di dalam kitab Tafsir Ash-Shawi dituliskan bahwa riddah adalah kufurnya seorang muslim dengan ucapan terang-terangan atau ucapan yang menjurus kepada kekafiran atau mengerjakan sesuatu yang mengandung kekufuran. Dalam terminologi Islam, orang murtad didefinisikan sebagai orang yang kembali dari agama Islam kepada kekafiran, baik dengan niat, ucapan, maupun tindakan.

Kalang ulama fikih secara umum berpandangan bahwa bentuk kemurtadan bisa dilihat melalui perkataan, keyakinan, sikap maupun perbuatan. Orang yang secara jelas mengaku telah keluar dari agama Islam, baik dengan perkataan, keyakinan, sikap, maupun perbuatan, maka itu merupakan indikator utama bahwa ia telah murtad dari agama Islam.

Imam Abu Hanifah dan Ahmad bin Hanbal menyatakan, meskipun seseorang melakukan perbuatan riddah dengan iseng dan canda gurau, maka ia tetap bisa terkena hukum riddah. Pasalnya, riddah bisa terjadi karena banyak cara, baik serius, canda maupun karena permusuhan. Segala indikasi yang mengarah pada keingkaran atas semua ajaran agama Islam, maka ia dianggap telah murtad atau kufur.

Para ulama menjelaskan ada empat indikator seseorang mungkin dianggap telah murtad.
  1. Melalui keyakinan
    Bentuk kemurtadan melalui keyakinan, misalnya dengan menyatakan bahwa Allah itu tidak ada, Rasulullah itu bukan utusan Allah dan lain sebagainya. Caranya dilakukan dengan mengingkari segala hal yang sudah tetap dalam Islam. Misalnya dengan mengingkari keharaman khamar, mengingkari keharaman daging bagi dan sebagainya. Singkatnya, pengingkaran yang dilakukan karena hilangnya keimanan seseorang kepada Allah Swt.
  2. Melalui keraguan
    Bentuk kemurtadan melalui keraguan adalah dengan meragukan semua dalil-dalil qath-‘i. Misalnya, ragu bahwa Allah itu esa, ragu bahwa Muhammad bin Abdullah adalah Rasulullah, atau ragu bahwa shalat diwajibkan untuk semua umat Islam.
  3. Melalui perkataan
    Bentuk kemurtadan melalui perkataan adalah disebutkan secara jelas dan tanpa ada aling-aling bahwa dia sudah tidak mengakui Islam lagi sebagai agama dan tuntunan hidup. Misalnya, Seseorang yang mengatakan bahwa Isa adalah anak Allah, Muhammad bukanlah nabi dan lain sebagainya. Sekali lagi, ia baru dianggap murtad ketika ucapannya tersebut benar-benar jelas.
  4. Melalui Perbuatan
    Bentuk kemurtadan yang dilakukan dengan perbuatan adalah dengan mengingkari apa yang telah diwajibkan kepadanya dan melakukan apa yang benar-benar diharamkan. Misalnya dengan melakukan misa di gereja, sembahyang di Pura. Lagi-lagi, ia baru dapat diklaim murtad jika perbuatannya benar-benar mengikuti apa yang dilakukan oleh agama lain tanpa ada beda sedikitpun.

Meskipun demikian, berbeda dengan imam Syafi'i dan ulama mazhab Az-Zahiri. Menurut mereka, bentuk kemurtadan baru terjadi jika dibarengi dengan niat. Jika tidak dibarengi dengan niat, maka tidak dianggap murtad. Hal ini berdasarkan hadis Nabi Saw.”Sesungguhnya setiap amal harus dibarengi dengan niat.” (HR. Bukhari dan Muslim). Wallahua’alam.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan