Kamis, 12 Juni 2014

Muslim Mesti Bekerja Seperti Rasulullah Saw - 1

Percayakah Anda jika Allah menjadikan bumi ini memang untuk manusia? Jika benar, seharusnya hidup kita sejahtera. Namun, sudahkah kita menjadi manusia sejahtera? Jika belum, kita pantas bertanya pada diri sendiri kenapa kita belum bisa sejahtera? Kenapa hidup terasa amat susah dan tidak berada di posisi nyaman? Kenapa rasanya ingin selalu berpangku tangan kepada orang lain?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, pantas rasanya bila kita membaca dan merenungi firman Allah Swt. yang termaktub di dalam surat al-Mulk ayat 15, “Dialah zat yang menjadikan bumi ini mudah buat kamu. Karena itu berjalanlah di permukaannya dan makanlah dari rezekinya.” Artinya, Allah yang Maha Pengasih dan Maha Pemberi Rezeki mewajibkan kita memanfaatkan bumi ini. Menjadikan bumi ini sebagai lahan untuk mencari anugerah Allah berupa rezeki yang halal.

Ayat tersebut sebenarnya ‘menyentak’ kita, bahwa tidak halal bagi seorang muslim bermalas-malasan dalam mencari rezeki dengan dalih karena sibuk beribadah atau tawakkal kepada Allah. Tidak halal juga bagi seorang muslim hanya menggantungkan dirinya dari sedekah orang. Orang yang seperti ini yang disetarakan Rasulullah dengan orang yang sedang memungut bara api. Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang meminta-minta padahal tidak begitu memerlukan, sama halnya dengan orang yang memungut bara api.” (HR. Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah)

Jangan bingung jika ada yang menyatakan, tugas manusia yang diperintahkan Allah Swt. cuma beribadah. Benar, bekerja juga bisa menjadi sesuatu yang bernilai ibadah jika dilaksanakan dengan niat yang ikhlas, cara yang benar dan tujuannya untuk mendapatkan ridha Allah Swt. Ketiga hal inilah etos kerja Islami.

Kita bakal menjadi manusia yang sejahtera manakala kita bisa memanfaatkan bumi dengan baik. Caranya adalah, dengan bekerja karena Allah Swt. Tak sedikit di antara kita yang memiliki pola pikir bahwa bekerja hanya untuk hasil saat itu juga. Jelas ini akan menyiksa diri. Tak akan pernah membuat diri kita sejahtera. Tapi bekerjalah dengan sebaik-baiknya, masalah hasil bisa dinikmati sekarang atau tidak, itu urusan belakangan.

Bahkan, bisa jadi hasil dari kerjanya tersebut tidak dinikmatinya secara langsung, mungkin generasi kemudian yang menikmati hasil atau makhluk Allah yang lainnya. Hal ini bisa disebut sedekah bagi dirinya yang bekerja. Bahkan, menurut Rasulullah Saw., seandainya seseorang sudah memiliki bibit yang hendak ditanam sementara kiamat akan segera terjadi, dia harus tetap menanamnya. Allah akan menilai kerja bukan hasilnya. Rasulullah Saw. bersabda, “Tidak seorang Muslim menanam tanaman kecuali dia mendapat pahala sedekah dari apa yang bisa dimakan dari tanaman tersebut. Apa yang dicuri dari tanaman tersebut adalah sedekah bagi penanamnya. Apa yang dimakan oleh binatang buas dari tanamannya tersebut adalah sedekah bagi penanamnya. Apa yang dimakan oleh burung adalah sedekah bagi penanamnya, dan tidaklah makan itu dikurangi (dirusak) oleh serangga melainkan menjadi sedekah bagi penanamnya.” (HR. Muslim)

Makanya, pantas bila kita senantiasa mengingat-ingat firman Allah Swt, “Dan katakanlah, ‘Bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah [9]: 105), sebelum bekerja. Tujuannya, agar kita senantiasa produktif dalam bekerja.

Bersambung ke Bagian 2

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan