Kamis, 12 Juni 2014

Orangtua, Pintu Jannah Yang Paling Tengah

Akhir-akhir ini begitu marak pemberitaan di televisi, tentang seorang anak tega membunuh orangtuanya sendiri hanya karena masalah sepele, misalnya saja hanya karena orangtua tidak sanggup memenuhi apa yang si anak mau. Mungkinkah pertanda akhir zaman? astagfirullahal’adzim. Di mana rasa terima kasih sang anak kepada orangtua yang telah membesarkan serta mendidik kita dengan penuh kasih sayang? Bahkan ketika kedua orangtua kita baru saja menikah kehadiran kita jua lah yang sangat mereka tunggu-tunggu. Tak henti-hentinya kedua orangtua kita mengucap syukur ketika kita baru ada tanda tanda ada dalam rahim seorang ibu.

Detik-detik ketika kita akan terlahir seorang ibu rela bertaruh nyawa hanya demi melihat kita merasakan keindahan dunia. Ibu yang tak pernah mengeluh menggendong kita ke mana mana bahkan sejak kita berada dalam kandungan, ibu yang mengajarkan kita berjalan dari mulai proses merangkak, berdiri hingga kita mampu berjalan dengan sempurna, ibu yang pertama kali mengajarkan kita bicara, ibu yang memandikan kita setiap hari, ibu yang menyuapi kita dengan tepat waktu sekalipun tanpa kita minta karena khawatir anaknya jatuh sakit, ibu yang rela terjaga ketika kita tertidur karena harus menyusui kita, ibu yang memeluk kita ketika kita menangis karena terjatuh. Sementara ayah seakan tak pernah lelah mencukupi segala kebutuhan untuk kita – anaknya, bekerja dari pagi hingga malam hari dan tak jarang dari pagi hingga pagi lagi, terkadang semalaman tidak tidur. Ayah selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk kita - anaknya, berapa pun biayanya. Dari mulai biaya persalinan, perlengkapan bayi, susu formula. Saat kita mulai menginjak usia 5 tahun biaya yang harus dikeluarkan orangtua pun semakin besar karena ditambah lagi dengan biaya pendidikan. Disekolahkan mulai dari sekolah taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas bahkan hingga ke perguruan tinggi, belum lagi les privat sana sini. Tak lupa, orangtua juga membekali kita dengan pendidikan agama. Selain disekolahkan, tak jarang seorang anak juga diajarkan mengaji, dipesantrenkan agar kita tidak hanya menguasai ilmu dunia tapi juga paham dengan ilmu akhirat agar kelak kita dapat memberi syafa’at untuk keduanya di hari yang sudah dijanjikan dalam Al-qu’an.

Pernahkah seorang ibu mengungkit-ngungkit jasanya terhadap kita agar dilakukan hal serupa ketika ibu sudah mulai beranjak tua? Pernahkah seorang ayah merinci total seluruh biaya yang sudah dikeluarkannya dari semenjak kita terlahir ke dunia sampai detik ini untuk kita ganti? Jangankan mengganti, untuk menghitungnya saja, mungkin kita tidak akan pernah bisa karena biaya yang dikeluarkannya sudah tidak terhingga.

Karena itulah orangtua adalah pintu jannah, bahkan pintu yang paling tengah diantara pintu-pintu yang lain. Nabi Muhammad SAW bersabda :

“Orangtua adalah pintu jannah yang paling tengah. Terserah kamu telantarkan ia apa kamu hendak menjaganya” (HR Tirmidzi)

Al-Qadhi berkata, “maksud pintu jannah yang paling tengah adalah pintu yang paling bagus dan paling tinggi, Dengan kata lain sebaik-baik sarana yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam jannah dan meraih derajat yang tinggi adalah dengan menaati orangtua dan menjaganya”.

Bersyukurlah jika kita masih memiliki orangtua, karena di depan kita ada pintu surga yang lebar menganga. Terlebih bila orangtua berusia lanjut, dalam kondisi tidak berdaya atau bahkan pikun atau tak mampu merawat dirinya sendiri seperti bayi yang baru lahir.

Rata-rata manusia begitu antusias dan bersuka cita tatkala memandikan bayinya dan merawatnya dengan wajah ceria. Berbeda dengan sikapnya terhadap orangtuanya yang kembali menjadi seperti bayi. Rasa malas, bosan mungkin kesal seringkali terungkap dalam kata dan perilaku. Mengapa? Mungkin karena ia hanya berorientasi kepada dunia. Si bayi bisa diharapkan nantinya produktif, sementara orangtua yang renta tidak diharapkan lagi kontribusinya. Andai saja kita berorientasi akhirat. Sungguh kita akan memperlakukan orangtua kita yang tua renta dengan baik, karena hasil yang akan kita panen lebih banyak dan lebih kekal.

Sungguh terlalu, orang yang mendapatkan orangtuanya berusia lanjut, tapi ia tidak masuk jannah, padahal kesempatan begitu mudah baginya. Rasulullah SAW bersabda :

“Sungguh celaka…sungguh celaka… sungguh celaka…”, lalu dikatakan, “Siapakah itu wahai Rasulullah?” Beliau bersabda, “ Yakni orang yang mendapatkan salah satu orangtuanya berusia lanjut namun ia tidak masuk jannah.” (HR Muslim)

Ia tidak masuk jannah karena tidak berbakti, tidak menaati perintahnya, tidak berusaha membuat senang hatinya, tidak meringankan kesusahannya, tidak menjaga kata-katanya dan tidak merawatnya saat mereka tak mampu lagi hidup mandiri. Saatnya kita berkaca diri, sudahkah kita layak disebut sebagai anak berbakti?

Oleh : Aini Nur Latifah
Referensi : Majalah Arrisalah (Abu Umar.A)

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan