Sabtu, 07 Juni 2014

Perjanjian Hudaibiyah (1): Makkah, Ka’bah dan Air Mata Kerinduan Kaum Muhajirin

Sudah begitu panjang bilangan tahun orang-orang Muhajirin meninggalkan kampung halamannya, Makkah. Tahun demi tahun berlalu telah menumbuhkan benih-benih rindu di hati mereka. Rindu yang sangat kuat pada tanah kelahiran yang telah menorehkan kenangan dan kecintaan yang begitu kuat di hati mereka. Apalagi ketika islam sudah menjadi jati diri mereka. Hati dan kecintaan mereka semakin terpaut dengan Ka’bah.

Namun apa daya penghalang antara mereka dengan Makkah begitu kokoh. Kerinduan itu hanya mereka simpan di dalam hati, sambil berharap semoga tidak lama lagi masa penantian itu.

Sehingga, ketika Rasulullah menceritakan mimpinya bahwa Beliau memasuki kota Makkah dan bertawaf di Ka’bah, para sahabat bergembira mendengarnya. Semangat kerinduan itu muncul kembali. Dengan penuh semangat mereka mempersiapkan diri untuk berangkat bersama Rasulullah Saw ke Makkah.

Akhirnya, Rasulullah bersama 1500 kaum muslimin berangkat meninggalkan madinah pada bulan Dzulqaidah tahun keenam Hijriah untuk berumrah ke Madinah, bukan untuk tujuan perang. Rasulullah mengutus Khirasy al-Khuza’I sebagai mata-mata untuk mengetahui kondisi kaum Quraisy. Informasi dari mata-mata ini diketahui bahwa orang-orang Quraisy ternyata telah mendengar informasi tentang keberangkatan Rasulullah dan Kaum muslimin ke Makkah. Salah seorang tokoh Quraisy Ka’ab bin Luay mengumpulkan orang-orang dari berbagai kabilah untuk berkumpul dan merencanakan pembunuhan serta pengusiran terhadap Rasulullah Saw.

Kaum Quraisy terkejut sekaligus panik dengan berita akan masuknya rombongan Rasulullah ke Makkah. Mereka langsung berkumpul dan menyusun rencana untuk menghalangi kedatangan kaum muslimin.

Sementara Rasulullah, ketika mendengar laporan dari Khirasy tentang kondisi dan reaksi kaum kafir Quraisy segera mengambil tindakan. Rasulullah segera mengutus salah seorang sahabat –Ustman bin Affan-- kepada kaum Quraisy. Beliau bersabda, “Beritahulah mereka bahwa kita datang bukan untuk berperang. Kita datang untuk berumrah dan menyeru mereka pada islam.” Rasulullah juga berpesan agar Ustman bin Affan mendatangi laki-laki dan perempuan yang sudah beriman di Makkah, dan mengabari kepada mereka bahwa Allah akan menampakkan agama-Nya di kota Makkah.

Lalu, berangkatlah Ustman bin Affan menuju kota Makkah, menemui Abu Sofyan dan para pembesar Quraisy guna menyampaikan pesan Rasulullah. Setelah mendengar pesan dan membaca surat dari Rasulullah pembuka Quraisy itu berkata kepada Ustman bin Affan, “Jika engkau ingin tawaf di Ka’bah silahkan bertawaflah!”

Ustman menjawab, “Aku tidak bertawaf sebelum Rasulullah bertawaf.”

Ketika Ustman kembali kepada kaum muslimin, beberapa kaum muslimin yang lemah hatinya sempat cemburu. Mereka menduga Ustman bin Affan telah bertawaf mendahului mereka di Ka’bah. Beberapa diantara mereka pun bertanya, “Apa engkau telah melakukan tawaf di Ka’bah wahai Abu Abdullah?”

Ustman menjawab, “Sungguh buruk persangkaan kalian. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya aku berada di sana satu tahun, dan Rasulullah masih di Hudaibiyah, maka aku tidak akan bertawaf sebelum Beliau –Rasulullah—sampai dan bertawaf di sana.”

Oleh: Neti Suriana
Sumber:
Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi. Sirah Nabawiyah, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad Saw. Mardiyah Press. Yogyakarta.

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan