Sabtu, 07 Juni 2014

Perjanjian Hudaibiyah (2): Kesaksian Para Perantara dan Utusan

Rasulullah Saw bersabda:

“Kami tidak datang untuk membunuh seseorang, akan tetapi kami datang untuk berumrah. Kaum Quraisy telah membuat kalian lelah berperang, dan mendatangkan kerugian karena itu. Jika mereka ingin agar aku membuat masa perdamaian dengan mereka, sehingga tidak ada suatu apa pun antara aku dan orang-orang, atau jika mereka ingin masuk islam, maka lakukanlah, atau jika tidak mereka bebas berkumpul. Dan jika mereka enggan kecuali ingin berperang, maka demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, aku akan memerangi mereka sampai lega tenggorokanku atau Allah melakukan kehendak-Nya.”

Kaum muslimin berada dalam ketidakpastian di Hudaibiyah. Mereka harap-harap cemas menunggu kabar dari Ustman bin Affan yang di utus oleh Rasulullah untuk menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka ke Makkah. Namun, menunggu bukanlah perkara yang menyenangkan. Apalagi ketika muncul selentingan kabar tidak bertanggung jawab bahwa Ustman bin Affan dibunuh.

Melihat kegelisahan kaum muslimin, Rasulullah kemudian menyeru kepada kaum muslimin untuk ber-baiat (sumpah setia). Kaum muslimin kemudian menghadap Rasulullah untuk berbaiat. Rasulullah membaiat mereka untuk tidak lari. Bait ini dilakukan di bawah sebatang pohon di hudaibiyah, dan kemudian dikenal dengan istilah Bai’atur Ridhwan.

Di saat kaum muslimin berada dalam kondisi demikian, datanglah Budail bin Waraqa’ al Khuza’I dari bani Khuza’ah. Ia menghadap Rasulullah dan menanyakan maksud kedatangan rasulullah ke Makkah. Rasulullah kemudian menjawab sebagaimana sabdanya di atas.

Budail kemudian kembali kepada kaumnya dan menyampaikan pesan Rasulullah. Urwah bin Mas’ud ats-Tsaqafi kemudian berkata, “Sungguh telah ditawarkan pada kalian rencana yang mulia, maka terimalah. Biarkan aku yang mendatanginya.”

Kemudian Urwah pun mendatangi Rasulullah dan berbicara dengan beliau. Ia pun melihat bagaimana akhlak dan penghormatan para sahabat beserta kaum muslimin terhadap Rasulullah Saw. Semua itu membuat ia kagum.

Kemudian ketika kembali ke tengah-tengah kaumnya ia berkata, “ Kaum apakah mereka? Demi Allah, aku sudah pernah diutus kepada para Raja. Kepada Raja Kisra, Kaisar hingga Najasyi. Namun, demi Allah Aku belum pernah melihat seorang raja yang sangat dihormati oleh pengikutnya sebagaimana para pengikut Muhammad menghormati Muhammad.

Kemudian ia menceritakan apa yang dilihat dan didengarnya selama berada di tengah-tengah Rasulullah dan para sahabatnya kepada mereka. Urwah menceritakan tidaklah ketika Rasulullah Saw meludah mengenai tangan salah seorang sahabatnya, mereka –para sahabat tersebut—akan menggosok-gosokkannya ke kulit dan wajah mereka. Jika Rasulullah memerintah, maka mereka akan bersegera melaksanakannya. Jika Rasulullah berwudhu maka mereka saling berebut dengan sisa air wudhunya. Mereka tidak pernah meninggikan suaranya di hadapan Rasulullah Saw. Mereka juga tidak mengangkat pandangan terhadap beliau sebagai salah satu bentuk penghormatan.

“Sungguh telah disampaikan rencana mereka kepada kalian, maka terimalah.” Kata Urwah menutup kabarnya.

Oleh: Neti Suriana
Sumber:
Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi. Sirah Nabawiyah, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad Saw. Mardiyah Press. Yogyakarta.

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan