Sabtu, 07 Juni 2014

Perjanjian Hudaibiyah (3): Perjanjian, Perdamaian dan Cobaan

Kaum Quraisy kemudian mengutus Suhail bin Amr untuk kepada Rasulullah untuk melakukan perjanjian. Perjanjian ini menimbulkan banyak kekecewaan di kalangan kaum muslimin, mengingat hampir semua isi perjanjian menguntungkan pihak Quraisy dan merugikan kaum muslimin. Yang lebih menyakitkan lagi adalah kerinduan kaum Muhajirin yang tinggal selangkah lagi untuk bertawaf di Ka’bah harus dikubur dalam-dalam. Karena isi perjanjian itu tidak memungkinkan mereka untuk datang berkunjung dan bertawaf di Ka’bah.

Hal ini sungguh menjadi masalah besar bagi mereka. Sampai-sampai hampir menghancurkan kebersamaan yang selama ini mereka bangun. Bahkan sahabat sekaliber Umar bin Khattab pun hampir goyah.

“Bukankah Rasulullah Saw telah mengabarkan bahwa kita akan memasuki kota Makkah dan bertawaf di Ka’bah?” tanya Umar bin Khattab.

Rasulullah memahami keresahan Umar dan menjawab, “Benar! Apakah aku mengabarkan padamu bahwa kita akan mendatanginya tahun ini?”

Umar menjawab, “tidak.”

“Sungguh, engkau akan mendatanginya dan bertawaf di sana.” Rasulullah menghibur Umar.

Namun bagaimana pun, kekecewaan itu begitu dalam. Bagaimana tidak? Mereka berangkat dari madinah dengan suka cita dan pengharapan yang sangat. Tanpa ada keraguan sedikitpun untuk memasukinya. Namun, ketika kaki tinggal selangkah lagi memasuki kota kelahiran yang mereka rindukan dan Ka’bah yang telah menjadi jantung hati mereka, sekarang semua harapan itu hilang tanpa bekas. Mereka seperti ibu kehilangan anaknya. Sampai-sampai mereka hampir saja tidak mematuhi perkataan Rasulullah Saw. Ketika Rasulullah Saw memerintahkan untuk menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut tidak seorang pun diantara mereka yang bergerak untuk melaksanakannya. Hingga kemudian Rasulullah Saw mendatangi hewan kurban dan kemudian menyembelihnya. Setelah itu beliau duduk dan mencukur rambutnya. Barulah kemudian para sahabat mengikuti apa yang dilakukan oleh Rasulullah. Menyembelih hewan kurban dan mencukur rambut mereka.

Setelah itu, Rasulullah dan kaum muslimin kembali ke Madinah. Di tengah perjalanan turunlah wahyu dari Allah yang berbunyi:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepada-Mu terhadap dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (QS. Al Fath: 1-3)

Mendengar ayat ini Umar bin Khattab yang hatinya masih menyisakan kekecewaan kemudian bertanya, “Apakah ini yang dimaksud Allah dengan kemenangan wahai Rasulullah?”

“Benar!” Jawab Rasul dengan tegas.

Pada saat itu, mata lahiriah kaum muslimin belum bisa meraba sebuah kemenangan. Mereka melihat dan merasakan apa yang mereka alami saat itu adalah sebuah kekalahan yang sangat menyakitkan. Karena apa yang menjadi tujuan awal, harapan awal mereka belum terwujud. Namun, Allah dan Rasul mengatakan justru itulah awal dari kemenangan yang akan mereka raih. Hanya saja Allah belum berkehendak kemenangan seperti yang mereka impikan bukan saat itu. Tapi, suatu saat mereka pasti akan menaklukkan Makkah dan bertawaf di Ka’bah. Dan waktunya itu tidak akan lama lagi.

Oleh: Neti Suriana
Sumber:
Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi. Sirah Nabawiyah, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad Saw. Mardiyah Press. Yogyakarta.

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan