Sabtu, 07 Juni 2014

Perjanjian Hudaibiyah (4): Ketika Perdamaian itu Berbalik Menjadi Kemenangan

Seperti kita ketahui dalam Perjanjian Hudaibiyah tersebut kedua belah pihak sepakat untuk:

1. Tidak berperang selama 10 tahun
2. Barang siapa mendatangi Muhammad Saw dari kaum Quraisy tanpa izin walinya, ia akan dikembalikan kepada mereka.
3. Barang siapa yang mendatangi Quraisy dari kalangan pengikut Muhammad Saw, ia tidak akan dikembalikan kepada beliau.
4. Barang siapa ingin masuk dalam perjanjian dan persekutuan dengan Muhammad Saw maka dipersilakan
5. Dan barang siapa yang ingin masuk dalam perjanjian dan persekutuan dengan kaum Quraisy juga dipersilakan.

Walau berat, Rasulullah dan kaum muslimin kemudian kembali ke Madinah. Di tengah perjalanan turunlah wahyu dari Allah yang berbunyi:

“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata, supaya Allah memberi ampunan kepada-Mu terhadap dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang serta menyempurnakan nikmat-Nya atasmu dan memimpin kamu kepada jalan yang lurus, dan supaya Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak).” (QS. Al Fath: 1-3)

Sesampainya Rasulullah Saw di Madinah datanglah Abu Bashir seorang laki-laki Quraisy yang baru saja masuk islam. Kaum Quraisy kemudian mengirim dua utusan untuk memintanya dengan berkata, “Sesuai perjanjian yang kau buat dengan kami.” Rasulullah kemudian menyerahkan Abu Bashir pada utusan tersebut.

Namun, Abu Bashir yang hatinya sudah terpaut dengan islam tidak rela kembali pada kemusyrikan. Di tengah perjalanan ia memperdaya kedua utusan tersebut, sehingga ia berhasil membunuh salah seorang diantaranya dan utusan yang seorang lagi melarikan diri karena ketakutan. Abu Bashir kemudian pergi menetap di sebuah tempat di tepi laut. Setelah itu tidak seorang pun yang keluar dari Quraisy yang masuk islam kecuali menyusul Abu Bashir dan membentuk sebuah komunitas yang kuat. Kelompok ini menghadang setiap kafilah dagang kaum quraisy yang keluar menuju Syam, membunuh dan merampas hartanya. Kondisi ini menyebabkan kaum Quraisy merasa tidak aman. Kemudian mereka –pemimpin Quraisy—mengirim utusan kepada Rasulullah untuk meminta agar Rasulullah mengirim pesan pada kelompok Abu Bashir, bahwa siapa saja –dari kaum Quraisy—yang datang pada beliau, maka ia akan aman –tidak dikembalikan pada kaum Quraisy--. Ini artinya kaum kafir Quraisy dengan sendirinya membatalkan perjanjian yang telah mereka buat dengan Rasulullah Saw.

Peristiwa-peristiwa terakhir setelah perjanjian itu membuktikan bahwa perjanjian Hudaibiyah yang terkesan menyudutkan kaum muslimin, justru kemudian membawa kemenangan dan keberuntungan bagi kaum muslimin. Hal ini semakin meningkatkan keimanan dan memperteguh ketaatan mereka pada Rasulullah Saw. Perjanjian ini juga yang membuka pintu kemenangan besar bagi kaum muslimin dan semakin luasnya penyebaran islam di Jazirah Arab. Perjanjian ini juga yang membuka pintu kota Makkah bagi kaum muslimin.

Oleh: Neti Suriana
Referensi:
Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi. Sirah Nabawiyah, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad Saw. Mardiyah Press. Yogyakarta.

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan