Minggu, 08 Juni 2014

Perjanjian Hudaibiyah (5): Hikmah dari Perjanjian Hudaibiyah

“Tidak pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah islam kemenangan yang lebih besar dari kemenangan ini –perjanjian hudaibiyah--. Peperangan membuat manusia saling bertemu dan membunuh. Maka, ketika ketenangan itu tiba, peperangan itu tidak diperlukan lagi. Manusia merasa aman, sebagian dari mereka dapat berbicara dengan sebagian yang lainnya. Mereka bertemu sambil berdiskusi, berbicara dan sanggah menyanggah. Tidak ada seorang pun yang berbicara tentang islam dan memikirkan sesuatunya, kecuali ia akan masuk islam. Orang yang masuk islam selama dua tahun itu sama banyaknya dengan orang yang masuk Islam sebelum Perdamaian atau bahkan lebih.” (Imam Ibnu Shihab az-Zuhri)

Perjanjian Hudaibiyah memang telah menghasilkan kesepakatan yang secara logika merugikan kaum muslimin pada masa itu. Namun, Rasulullah sebagai pemimpin sekaligus Rasul terus menyemangati dan meyakinkan kaum muslimin bahwa ini adalah sebuah kemenangan bagi mereka. Bahkan Allah pun menguatkan keyakinan Sang Rasul dengan menurunkan wahyunya QS. Al Fath ayat 1-3. Dalam ayat tersebut Allah menegaskan bahwa ini adalah kemenangan yang nyata bagi kaum muslimin.

Kaum muslimin pada masa itu telah membuktikan bahwa perjanjian hudaibiyah merupakan sebuah kemenangan yang besar yang semakin mengukuhkan penyebaran agama islam di Jazirah Arab. Jika dikaji, minimal ada lima hikmah besar dari disepakatinya perjanjian ini, yaitu:

1. Pengakuan kaum Quraisy terhadap kedudukan kaum muslimin.

Dengan disepakatinya perjanjian ini menunjukkan bahwa kaum kafir Quraisy mengakui kedudukan kaum muslimin. Mereka bukan lagi penduduk Makkah yang terusir, melainkan masyarakat yang berdaulat dan memiliki kedudukan yang pantas diperhitungkan keberadaannya.

2. Ketenangan dan kaum muslimin beristirahat dari peperangan yang tidak ada awal dan akhirnya.

Perjanjian Hudaibiyah memberi jaminan keamanan dan ketenangan bagi kaum muslimin maupun kaum musyrik. Mereka sudah sepakat untuk tidak saling menyerang satu sama lain. Kesepakatan ini memungkinkan kaum muslimin beristirahat dari peperangan panjang yang melelahkan raga dan jiwa mereka.

3. Perdamaian memungkinkan kaum muslimin dan kaum musyrikin bergaul dengan leluasa. Sehingga kaum musyrikin bisa menyaksikan akhlak dan kemuliaan islam.

Dengan adanya kesepakatan damai ini memungkinkan kaum muslimin dan kaum musyrik di Makkah maupun Madinah bergaul dengan leluasa. Sehingga kaum muslim bebas mengekspresikan akhlak dan perilaku kehidupan mereka setelah beriman. Kaum musyrikin pun bisa menyaksikan keindahan akhlak kaum muslimin. Ternyata ini adalah sarana dakwah yang sangat efektif untuk menyentuh hati kaum musyrikin untuk mengenal dan memeluk islam.

4. Semakin banyak kaum musyrikin yang masuk islam.

Masa perdamaian yang telah memungkinkan interaksi yang harmonis antara kaum muslimin dan kaum musyrik ternyata telah banyak membuka pintu hidayah bagi kaum musyrikin untuk memeluk islam.

5. Orang-orang lemah yang telah beriman di Kota Makkah mulai berani menampakkan keislamannya

Sejarah kemudian mencatat bahwa Perjanjian Hudaibiyah merupakan bentuk kemenangan terbesar bagi kaum muslimin. Bukan sebaliknya seperti yang ditakutkan oleh para sahabat dan kaum muslimin.

Oleh: Neti Suriana
Referensi:
Abul Hasan ‘Ali al-Hasani an-Nadwi. Sirah Nabawiyah, Sejarah Lengkap Nabi Muhammad Saw. Mardiyah Press. Yogyakarta.

1 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan