Kamis, 12 Juni 2014

Puasa Ramadhan bukan sekedar ritual peribadatan

Pada prinsipnya puasa adalah salah satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah untuk mencapai derajat ketakwaan seorang hamba. Sehingga dengan berpuasa tersebut seseorang bisa terhindar dari segala perbuatan yang dilarang oleh agama, apalagi dewasa ini hal-hal yang ditentang keras oleh Allah, bahkan jelas di nash oleh Al Qur’an sebagai suatu perbuatan yang haram hukumnya jika dilakukan tapi justru menjadi bagian gaya hidup dari masyarakat urban yang menamakan dirinya sebagai masyarakat yang berbudaya. Seperti; mabuk-mabukan, berjudi, berzina, berkelahi, konsumerisme yang berdampak pada tumbuhnya paradigma hedonis, dan lain sebagainya.

Padahal Allah telah mengatur tentang bagaimana seseorang menjalankan ibadah puasa sebagaimana yang disyari’atkan oleh agama dalam Al Qur’an; 183, yakni; “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan bagimu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertakwa.” Sehingga jelas bahwa tujuan dari berpuasa ialah meningkatkan ketakwaan seorang hamba kepada Tuhannya agar mempunyai akhlakul karimah dan beristiqomah dalam beribadat.

Apalagi puasa Ramadhan merupakan ibadah wajib yang harus dilaksanakan oleh umat muslim. Dan dalam hadits Abu Hurairah RA yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim telah diterangkan bahwa, “Jika Ramadhan telah tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan syaithan-syaithan dibelenggu.” Bahkan dalam riwayat yang sama (baca: Al Bukhori dan Muslim), Rasulullah bersabda, “Barang siapa mendirikan puasa Ramadan dengan penuh keimanan dan kebaikan, maka akan diampunilah dosa-dosanya yang telah lalu.”

Akan tetapi fenomena yang terjadi dalam masyarakat muslim dewasa ini justru berkebalikan dari ajaran agama tentang puasa Ramadhan. Hanya sedikit dari mereka (baca: kaum muslim) yang sungguh-sungguh menjalankan ibadah puasa yang diniatkan untuk ibadah hanya untuk Allah Ta’ala. Karena bulan suci Ramadhan bagi sebagian yang lain bukan merupakan bulan istimewa yang mampu menjadikan manusia terhindar dari perbuatan maksiat dengan melakukan berbagai pendekatan kepada Allah. Misalnya, ada yang menunaikan ibadah puasa di siang hari, namun mereka juga tetap melakukan perzinahan di malam hari; ada yang menunaikan ibadah puasa hanya untuk tujuan-tujuan tertentu, misalnya menarik perhatian lawan jenis, dan seterusnya. Dan bagi orang-orang yang demikian tentunya Allah tidak akan menerima ibadah puasanya, karena Rasulullah pernah bersabda “Siapa yang tidak mampu meninggalkan perkataan dan perbuatan yang tidak terpuji, maka bagi Allah SWT tidak ada artinya dia meninggalkan makan dan minumnya (percuma dia berpuasa).” (Hadits riwayat Al Bukhari dari Abu Hurairah RA).

Oleh karena itu, sebagai umat muslim hendaknya kita mengerjakan amal ibadah dengan sungguh-sungguh dan niat yang tulus, karena sesungguhnya tidak ada satu hal pun di dunia ini yang bisa disembunyikan oleh manusia dari penglihatan Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surat Al-Haqqoh ; 18, “Pada hari itu kamu sekalian akan di hadapkan (kepada Tuhan kamu untuk diperiksa dan dimintai pertanggungjawaban atas segala amal perbuatan kamu), tiada sesuatu pun dari keadaan kamu yang tersembunyi (bagi Allah betapapun ia kamu rahasiakan).”

Maka mengerjakan ibadah puasa pun seharusnya bukan hanya sebagai ritual atau seremonial tentang perbuatan yang memerintahkan kaum muslim untuk tidak makan dan minum semata, melainkan sebuah bentuk keberserahan seorang hamba untuk bisa mengendalikan hawa nafsu, perbuatan keji dan segala kemaksiatan yang membawa kita pada kemadhorotan. Karena bagi orang-orang yang hanya menahan makan dan minum, tapi masih melakukan perbuatan yang ditentang oleh agama, maka tidak ada gunanya ia berpuasa.

Selain itu, diharapkan puasa mampu menjaga seseorang untuk tetap beristiqomah menunaikan kewajibannya kepada Allah, yakni melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan niscaya jika semua orang muslim mengerti tentang hakikat berpuasa dan betapa banyaknya keutamaan dari menjalankan ibadah puasa, maka tidak akan ada satu pun dari kita semua yang ingin berbuat dholim kepada sesamanya dan tentunya kita akan berlomba-lomba untuk melaksanakan kebaikan demi mencari keridhoan Allah Ta’ala. Karena Rasulullah pun pernah mengingatkan umatnya untuk senantiasa berpegang teguh pada ajaran agama, “Bersegeralah kamu beramal shaleh, karena akan datang (terjadi) fitnah-fitnah seperti serpihan malam gulita, di mana seseorang pada pagi hari beriman, namun sore harinya kafir, sore hari beriman pada pagi harinya kafir. Ia rela menjual agamanya dengan harta benda dunianya.”

Dan hadits tersebut harusnya menjadi renungan bagi umat muslim yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan agar mengerjakan amal sholeh seolah-olah kematian ada di depan matanya. Sehingga yang terpenting saat ini adalah bagaimana menciptakan kehidupan keberagamaan yang membawa umat islam menjadikan Rahmatan Lil Alamin, sehingga tidak ada tidak kejahatan yang membawa mereka pada perbuatan yang merugi. Hal ini terkandung dalam pesan moral yang termaktub dalam surat Al-’Ashr; 1- 3. Allah SWT berfirman, “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati menaati kebenaran dan nasehat-menasehati agar selalu bersabar.”

Oleh : Mayshiza Widya

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan