Kamis, 12 Juni 2014

Ramadhan dan Bukti Cinta Allah - 1

Pernahkah Anda mendengar lirik lagu Bimbo, “Ada anak bertanya pada bapaknya buat apa berlapar-lapar puasa? Jika pertanyaan di dalam lirik tersebut ditanyakan kepada Anda, apakah yang akan dijawab? Cukupkah hanya dengan menjawab bahwa puasa semata-mata perintah Allah? Tampaknya, layak menjadi perenungan untuk mengkoneksikan pertanyaan yang ada di lirik lagu Bimbo tersebut dengan sabda Rasulullah SAW., “Berapa banyak orang yang berpuasa tetapi tidak mendapatkan apa-apa, kecuali lapar dan haus.”

Apa yang dikatakan Rasulullah tersebut bukanlah tanpa sebab. Tak pelak lagi, hal ini dikarenakan banyaknya orang yang beranggapan, bahwa Ramadhan hanya sekedar perintah puasa. Jika hanya sebagai perintah, mengapa Allah SWT. berfirman di dalam hadis Qudsi,: “Tiap-tiap anak Adam untuknya sendiri amalnya, selain dari puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan pembalasan kepadanya”.

Lantas, apa jawaban yang tepat? Untuk menjawabnya, adalah lebih baik dengan memahami firman Allah SWT. yang menjadi dalil wajibnya puasa. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (QS. Al-Baqarah [2]: 183). Ayat ini diawali dengan sapaan yang sangat menggetarkan. Sapaan yang hanya dikhususkan untuk orang-orang yang beriman. Artinya, Allah ingin mengkhususkan orang-orang yang mengaku beriman kepada-Nya untuk membuktikan keimanan mereka dengan menjalankan ibadah puasa.

Selain itu, ayat tersebut juga ibarat seperti surat khusus untuk orang yang beriman. Di antara milyaran orang yang menghuni jagad raya ini, hanya orang yang beriman yang diperintahkan untuk berpuasa di bulan Ramadhan. Hemat penulis, ayat tersebut ibarat surat ‘cinta’ Allah yang diberikan kepada orang beriman. Karena puasa yang diperintahkan, bertujuan untuk menjadi orang yang bertakwa. Bukankah takwa dikatakan-Nya sebagai sebaik-baik bekal? Bukankah orang yang mulia dan dekat di sisi-Nya adalah orang yang bertakwa?

Karena itu, puasa adalah pembuktian cinta seseorang yang mengaku beriman kepada Allah SWT. Pembuktian tersebut pun tetap memandang kondisi manusia. Sebab Islam adalah agama yang sesuai dengan kemanusiaan. Hal ini terbukti dari prosedur puasa yang dijalani selama Ramadhan. Allah SWT. “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka Barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui,”(QS. Al-Baqarah [2]: 184)

Artinya, ayat ini menunjukkan bahwa cinta Allah kepada orang yang beriman maha dahsyat. Sehingga kondisi manusiawi seperti sakit dan dalam perjalanan pun mendapat banyak keringanan. Prosedurnya tidak berbelit-belit. Jika tidak berpuasa dengan alasan yang disebutkan di dalam ayat tersebut, cukup mengganti di hari yang lain di luar Ramadhan. Jika merasa berat menjalankan puasa lantaran sakit atau sudah sangat tua, Allah sangat menunjukkan kecintaan-Nya dengan menyuruh membayar fidyah, yaitu mengasih makan orang miskin selama sehari penuh.

Oleh: Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan