Sabtu, 07 Juni 2014

Seputar Shalat Hajat

Dalam agama Islam, ada ibadah yang membimbing umatnya untuk mewujudkan keinginan dengan mendekatkan diri kepada yang Tuhannya. Ia lebih dari sekedar doa. Namanya ibadah tersebut adalah shalat hajat. Shalat ini memang dikhususkan untuk memohonkan apa yang diinginkan. Karena itu dinamakan oleh ulama dengan nama hajat. Hajat yang berasal dari bahasa arab memiliki arti keinginan, kebutuhan, dan harapan.

Dalil Melakukan Shalat Hajat

Adapun dalil yang memperkuat bahwa umat Islam boleh melakukan shalat hajat adalah hadis Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang mempunyai kebutuhan kepada Allah atau kepada salah seorang manusia dari anak cucu adam, maka berwudhulah dengan sebaik-baiknya. Kemudian, shalatlah dua rakaat, lalu memuji Allah dan mengucapkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.” (HR. Tirmidzi)

Hadis ini menjadi stimulus bagi kita bahwa Allah senantiasa akan mendatangkan rahmat-Nya kepada kita, jika kita meminta. Banyak orang yang kurang mempercayai kekuatan shalat hajat ini. Bila ingin dirasionalkan kekuatan hadis di atas cukup mudah. Tak ada orang muslim yang tidak mengetahui bahwa saat terdekat dirinya dengan Tuhannya, kecuali melalui shalat. Dan saat yang paling dekat seorang hamba dengan Tuhannya di dalam shalat adalah ketika ia sedang sujud. Hal ini sesuai dengan ucapan Rasulullah SAW, “Sedekat-dekatnya seorang hamba kepada Tuhannya adalah ketika ia sedang sujud. Maka perbanyaklah doa di dalamnya.”

Artinya, hadis ini menunjukkan bahwa dengan shalat hajat keinginan seorang hamba khusus disampaikan kepada Allah SWT. Apalagi mediasi melalui shalat hajat adalah mediasi yang bersumber dari kekasih Allah SWT, Muhammad bin Abdullah SAW. Karena itu, tak perlu ragu untuk melakukan shalat hajat.

Adapun jumlah rakaat shalat hajat sama seperti shalat sunnah lainnya. Minimal dua rakaat dan maksimal dua belas rakaat. Jika mengikut cara imam al-Ghazali, dianjurkan dua belas rakaat dengan menjadi ayat Kursi dan surat al-Ikhlas sebagai surat bacaan yang dibaca setelah al-Fatihah.

Shalat Hajat Tak Mesti Dilakukan Malam Hari

Bila ditinjau dari hadis di atas, tak ada waktu khusus dalam melakukan shalat hajat. Karena Rasulullah tak menyebutkan waktunya. Artinya, silakan melakukan shalat hajat kapan saja, mau pagi, siang atau malam. Hanya saja, yang tidak boleh dilakukan pada waktu yang dilarang Rasulullah melakukan Shalat.

Ada lima waktu yang dilarang Rasulullah melakukan shalat, termasuk shalat hajat. Yaitu, setelah shalat shubuh, setelah shalat ashar, saat matahari sedang terbit hingga hilang warna kemerahan di sekeliling matahari terbit, saat matahari persis tepat di tengah-tengah langit hingga condong ke sebelah barat, dan ketika lingkaran cahaya mengelilingi matahari telah menguning hingga terbenam matahari.

Namun, bila ada yang menyarankan untuk melakukan shalat hajat di malam hari tak perlu disalahkan. Barangkali ia tetap memegang teguh hadis Rasulullah SAW. yang mengatakan, “Tuhan kita Allah Azza Wajalla turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir, pada saat Dia Berfirman, “Barang siapa yang berdoa kepada-Ku, pasti akan Aku kabulkan. Barang siapa memohon kepada-Ku pasti akan kuberi, dan barang siapa yang meminta ampun kepada-Ku pasti akan kuampuni.”

Makanya, tak perlu menjadi permasalahan dalam waktu pelaksanaan shalat hajat. Intinya yang terpenting, kita mampu memohon kepada Allah semoga keinginan yang kita diwujudkan oleh Allah SWT. Sembari terus berdoa dan shalat hajat, kita jangan lupa untuk bersabar dalam menunggu jawaban dari Allah. Pokoknya, kita tetap mengamalkan perintah Allah SWT.,”Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153).

Oleh : H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan