Sabtu, 07 Juni 2014

Seri Terapi Penyakit Hati (1): Setiap Penyakit Ada Obatnya

“Sesungguhnya Allah tidak menimpakan suatu penyakit kecuali memberikan pula obatnya, kecuali satu penyakit. Para sahabat bertanya, ‘Wahai Rasulullah, penyakit apakah itu?’ Rasulullah Saw menjawab, ‘penyakit tua’.” (Al Hadist).

Sesungguhnya Allah lah yang menurunkan penyakit, dan Dia juga telah menurunkan obatnya. Jadi, sebagai hamba Allah yang beriman, kita tidak perlu khawatir ketika ditimpa musibah berupa penyakit. Kita hanya perlu berikhtiar sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan kita. Memanfaatkan setiap potensi yang kita miliki. Misalnya potensi ilmu dengan membuat ramuan obat sendiri, potensi harta dengan berobat kepada ahlinya, potensi hati dengan berdoa pada Dzat yang Maha Menyembuhkan. Dan, Allah sendiri yang akan menghadirkan kesembuhan melalui ikhtiar yang kita lakukan.

Sebagaimana Hadist Rasulullah Saw yang diriwayatkan oleh Jabir ibn Abdillah:
“Untuk setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat sesuai dengan penyaakit, ia akan sembuh dengan izin Allah.”

Berbicara tentang penyakit, dalam islam selain penyakit fisik, kita juga dikenalkan pada penyakit non-fisik. Penyakit non-fisik ini kemudian dikenal dengan istilah penyakit hati. Mengapa? Karena, penyakit ini menggerogoti hati dan nurani manusia. Sehingga ia menjadi kerdil, sakit dan tidak mampu menuntun raganya untuk tunduk dan mengabdi pada Tuhan-Nya.

Jika penyakit fisik, bisa diidentifikasi dari pengamatan secara lahiriah. Ia akan tampak pada penampilan fisik yang menunjukkan kesakitan atau ketidaknyaman. Namun, penyakit hati tidak. Secara fisik, boleh jadi ia tampak biasa-biasa saja bahkan sangat sehat. Namun, sesungguhnya hatinya sakit, membutuhkan pengobatan dan terapi yang intensif.

Namun demikian, penyakit hati bisa diidentifikasi melalui beberapa cara, yaitu:

Pertama: melalui muhasabah yang jujur oleh hati itu sendiri.

Nah, untuk upaya ini diperlukan keseriusan dan kesungguhan pribadi itu sendiri. Ia harus dengan sungguh-sungguh dan jujur pada diri sendiri. Apa sifat-sifat dan perasaan negatif yang selama ini berkembang dalam dirinya.

Nah, jika muhasabah ini dilakukan dengan jujur, maka penyakit-penyakit yang bersarang dalam hati kita akan tampak jelas dalam ingatan. Lebih baik lagi jika ditulis dalam selembar kertas. Agar kita punya panduan untuk mengobatinya satu persatu.

Kedua: bercermin pada sahabat yang bisa dipercaya.

Ya, teman sejati adalah cermin, tempat kita bertanya tentang diri kita sendiri. Siapa dan bagaimana diri kita di matanya. Karena itu, sempatkan waktu sekali-sekali untuk bertanya dari hati ke hati dengan sahabat sejati. Tanyakan padanya tentang sifat-sifat kita yang dibencinya, tentang prilaku kita yang tidak disukainya.

Ketiga: mendengarkan komentar orang yang memusuhi atau membenci kita.

Ternyata sekali-kali perlu juga lho kita memperhatikan perkataan orang-orang yang membenci kita. Apa yang mereka ucapkan bisa menjadi sarana refleksi dan evaluasi bagi kita, sekaligus sarana untuk belajar menerima kritikan dari musuh sekalipun.

Keempat: bertanya pada orang yang sholeh.

Biasanya, orang-orang alim dan sholeh memiliki mata hati yang tajam. Ia mampu menebak kepribadian seseorang dari bahasa tubuhnya saja. Oleh karena itu, sempatkan waktu kita untuk bersilaturahmi dengan orang-orang sholeh, alim ulama untuk mendapatkan wejangan berharga dari mereka.

Setelah menginventaris penyakit-penyakit hati yang menjangkiti hati kita. Jangan bersedih dengan banyaknya penyakit hati yang menggerogoti, yang perlu kita lakukan adalah terus berusaha untuk mengobati. Karena sesungguhnya setiap penyakit pasti ada obatnya, termasuk penyakit hati.

Bagaimana cara mengobati penyakit hati? Akan kita bahas pada tulisan-tulisan selajutnya!

Oleh: Neti Suriana
Referensi:
Al-Jauzi, I. Q. 2005. Terapi Penyakit Hati. Qisthi Press. Jakarta
Husna, A. 2012. Ketika Merasa Allah Tidak Adil. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan