Sabtu, 07 Juni 2014

Seri Terapi Penyakit Hati (3): Istighfar dan meninggalkan Dosa

“Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mengoreksi diri dan beramal saleh untuk akhiratnya. Sedangkan orang yang lemah ialah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya, sementara ia berharap baik memperoleh imbalan dari Allah swt.”

Manusia adalah mahluk Allah yang lemah. Di satu sisi, ia memiliki kecenderungan untuk berbuat jahat, namun di sisi lain ia juga memiliki kecenderungan untuk berbuat kebaikan. Dua kecenderungan itulah yang saling tarik menarik dan mengisi perjalanan hidup manusia.

Ketika kecenderungan berbuat baik menghiasi, maka manusia tersebut berada dalam kebaikan. Hatinya bening dengan cahaya kebaikan dan keimanan. Namun, ada kalanya hatinya dipenuhi oleh dorongan nafsu dan kecenderungan berbuat jelek. Sehingga perjalanan hidupnya pun dihiasi oleh keburukan. Hatinya dipenuhi oleh keburukan, tertutup oleh nafsu dan kemaksiatan.

Kecenderungan pada keburukan yang terus menerus berpotensi membuat hati menjadi sakit dan semakin sakit. Sulit menerima cahaya kebaikan dan lama kelamaan bisa menjadi mati. Oleh karena itu, hati yang sakit ini perlu diterapi melalui istighfar sebagai pembersih hati dan menjauhkan diri dari perbuatan dosa.

Istighfar memohon ampun kepada Allah

Sungguh, Allah Maha Pengampun. Ia Maha baik terhadap makhluk-Nya dan paling mengerti dengan kebutuhan hamba-hambaNya. Manusia memang memiliki kecenderungan melakukan kesalahan. Allah Maha Tahu itu, dan Dia (Allah) menyediakan fasilitas istighfar sebagai penghapusnya.

Seperti kita tahu, kemaksiatan, kesalahan dan kelalaian merupakan penyebab utama hadirnya kemurkaan Allah. Penyebab utama hadirnya kemudaratan (bahaya, kesulitan, keburukan dan kecelakaan) baik di dunia atau pun di akhirat.

Oleh karena itu, Allah melalui Rasul-Nya (Muhammad Saw) mengajarkan, ketika seorang hamba terlanjur melakukan dosa dan kesalahan, agar segera mengiringinya dengan taubat dan istighfar. Memohon ampun pada Allah atas semua kesalahan yang telah dilakukan.

Meninggalkan dosa dan kesalahan

“Jika kalian meninggalkan dosa-dosa besar yang kamu dilarang atas-nya, maka kami akan menghapus kejelekan-kejelekan (dosa-dosa) kecil kalian.” (QS. An-Nisa’: 31).

Sungguh, perbuatan dosa yang terus menerus tidak hanya mendatangkan kemurkaan dari Allah. Akan tetapi juga dapat membuat hati menjadi sakit, hitam dan sulit menerima kebenaran. Oleh karena itu, ikhtiar untuk menterapi penyakit hati tidak cukup hanya dengan istighfar saja. Akan tetapi harus diikuti dengan keseriusan untuk meninggalkan semua dosa dan kemaksiatan tersebut.

Ibnul Qoyyim Al-Jauzi dalam bukunya mengatakan bahwa, mengulang dosa secara terus menerus dapat menghalangi terhapusnya dosa tersebut. Karenanya, tidak ada pilihan lain bagi kita selain berusaha untuk terus mawas diri. Menjauhkan diri dari dosa dan kemaksiatan. Sehingga, dosa dan kesalahan yang sama tidak terus terulang menyakiti hari.

Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa penyebab dihapusnya dosa ada dua yaitu:
Pertama: kesungguhan meninggalkan dosa-dosa besar.
Kedua: kesungguhan untuk mengiringinya dengan ketaatan.

Keduanya harus seiring sejalan. Dan, itulah yang disebut dengan jalan menuju taqwa. Sungguh, derajat tertinggi seorang hamba di sisi Tuhannya adalah derajat taqwa. Semoga kita semua bisa mencapai derajat tersebut.

Oleh: Neti Suriana
Referensi:
Al-Jauzi, I. Q. 2005. Terapi Penyakit Hati. Qisthi Press. Jakarta
Husna, A. 2012. Ketika Merasa Allah Tidak Adil. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan