Sabtu, 07 Juni 2014

Seri Terapi Penyakit Hati (4): Mengetahui Pintu Masuknya Kemaksiatan dan Berusaha Menjaganya

Dalam bukunya, ‘Terapi Penyakit hati’ Ibnu Qoyyim Al-jauzi mengatakan bahwa kemaksiatan itu masuk dalam diri manusia melalui empat pintu, yaitu:

a. Pandangan (mata)

“Jangan engkau menyusuli pandangan dengan pandangan (berikutnya – pen). Untukmu hanya (pandangan) yang pertama, sedang yang kedua bukan untukmu.” (HR. Tirmidzi). Seperti kata pepatah, mata adalah jendela hati. Jadi, apa yang dilihat oleh mata pada akhirnya akan masuk ke dalam hati. Pada umumnya pandangan selalu melahirkan dorongan untuk melakukan sesuatu. Bisa berupa dorongan kebaikan dan bisa juga dorongan kejelekan.

Ketika yang dilihat adalah sesuatu yang dilarang oleh syariat, biasanya cenderung akan mendorong seseorang untuk melakukan kemaksiatan. Itulah yang disebut dengan dorongan syahwat.

Oleh karena itu, menjaga pandangan merupakan benteng pertama untuk menjaga hati dari dorongan syahwat dan menjaga diri dari melakukan kemaksiatan. Bahkan, Rasulullah saw telah mengingatkan bahwa sesungguhnya pandangan itu merupakan panah iblis. “Pandangan itu panah yang berbisa di antara panah-panah iblis. Orang yang memejamkan matanya dari wanita, Allah mewariskan dalam hatinya iman (keindahan) sampai pada hari saat bertemu dengan-Nya.” (Al-Hadits).

b. Lintasan hati (hati)

Lintasan hati ini bisa memunculkan kehendak angan-angan dan kemauan. Sehingga Ibnul Qoyyim kemudian mengatakan bahwa angan-angan yang diperturutkan merupakan bentuk kerendahan hati. Namun, ketika angan-angan tersebut dikendalikan dengan kecerdasan dan ketinggian jiwa maka ia akan berubah menjadi bayangan positif yang dapat menumbuhkan kemauan keras untuk mewujudkannya.

Bayangan-bayangan positif tersebut menurut Ibnul Qoyyim diantaranya yaitu:

  • Bayangan tentang manfaat keduniaan
  • Bayangan untuk menangkal hal-hal negatif yang dapat merugikan dunia
  • Bayangan tentang kemaslahatan akhirat
  • Bayangan untuk menangkal semua hal yang dapat merugikan akhirat.


Sedapat mungkin kita harus beusaha menjaga agar bayangan-bayangan yang hadir dalam diri kita adalah bayangan-bayangan positif tersebut. Sehingga bayangan tersebut hanya melahirkan gerak kebaikan dalam lisan dan langkah perbuatan manusia.

c. Ucapan (lisan)

Ucapan merupakan segala sesuatu yang tersimpan di dalam hati, kemudian diucapkan melalui lisan. Jadi apa yang diucapkan oleh lisan bisa menjadi parameter kualitas hati kita. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw dalam salah satu haditsnya:

“Tidak akan lurus iman seseorang hingga hatinya lurus (menjadi lurus) dan hatinya tidak akan lurus hingga lurus pula lidahnya.” (HR. Ahmad).

Yahya Ibnu Mu’adz mengumpamakan hati itu seperti panci. Kemudian, lidahlah yang berfungsi sebagai pengais atau pengambilnya untuk kita. Dan kita mengetahui apa yang ada di dalam hati melalui apa yang ditampilkan oleh lisan, demikian juga dengan orang lain. Sebagaimana kita mencicipi makanan dengan lidah.

d. Langkah (perbuatan anggota tubuh)

Langkah disini bisa diartikan sebagai tindakan atau apa yang kita lakukan atau ekspresikan dalam kehidupan sehari-hari. Anggota tubuhlah yang mengekspresikan kemaksiatan dalam perbuatan. Oleh karena itu, gerak langkah anggota tubuh juga harus dijaga agar senantiasa melakukan hal-hal yang baik dan enggan bergerak dalam kemaksiatan.

Empat hal inilah yang menjadi pintu masuknya maksiat dalam diri manusia. Pintu-pintu inilah yang harus dijaga agar hanya memasukkan hal-hal yang diridhoi oleh Allah. Ingat, bukan ditutup, karena pintu ini selain menjadi tempat masuknya kemaksiatan juga menjadi tempat masuknya kebaikan dan ketaatan. Jadi, tugas kita hanyalah menjaga, bukan menutup.

Oleh: Neti Suriana
Referensi:
Al-Jauzi, I. Q. 2005. Terapi Penyakit Hati. Qisthi Press. Jakarta
Husna, A. 2012. Ketika Merasa Allah Tidak Adil. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan