Sabtu, 07 Juni 2014

Seri Terapi Penyakit Hati (5): Mengetahui Dampak dari Perbuatan Maksiat Terhadap Diri

Seperti sudah disampaikan pada tulisan-tulisan sebelumnya, perbuatan maksiat akan berdampak negatif terhadap diri sendiri. Baik di dunia maupun di akhirat. Namun, hanya Allah yang Maha Tahu secara pasti dampak dari perbuatan maksiat tersebut.

Namun, menurut Ibnul Qoyyim Al-Jauzi sesungguhnya perbuatan maksiat akan menimbulkan dampak pada diri si pelaku. Baik disadarinya atau pun tidak. Adapun dampak dari perilaku maksiat tersebut pada diri pelakunya (menurut Ibnul Qoyyim Al-Jauzi dalam bukunya ‘Terapi Penyakit Hati’) adalah:

a. Menghalangi ilmu
b. Menghalangi rezeki
c. Mengundang kegelisahan
d. Mendatangkan kesulitan
e. Menimbulkan kegelapan hati
f. Melemahkan hati dan badan
g. Menghalangi diri dari ketaatan
h. Mengurangi usia dan mengikis keberkahan
i. Melemahkan kebaikan
j. Terkumpulnya maksiat
k. Merendahkan martabat di sisi Allah
l. Lahirnya kecemasan akibat dosa
m. Mewariskan kehinaan
n. Merusak akal
o. Jika dosa dan maksiat sudah menumpuk, ia akan menjadi stempel dalam hati pelakunya
p. Tidak memperoleh doa Rasulullah
q. Memadamkan keberkahan
r. Menghilangkan malu
s. Kemaksiatan membuat lupa pada Allah swt
t. Menjauhkan sikap ihsan dari pelakunya
u. Melemahkan sifat pengagungan pada Allah swt

Secara keseluruhan, dampak dari perbuatan maksiat adalah membuat hati seorang hamba berat untuk mendekatkan diri pada Tuhan-nya. Ia cenderung asyik dengan tipu daya dunia. Sehingga hatinya semakin sakit dan sulit menerima kebaikan.

Dengan mengetahui dampak dari perbuatan maksiat terhadap diri pelaku, diharapkan kita menjadi lebih waspada. Ketika menemukan gejala tersebut pada diri kita, sedapat mungkin kita segera untuk intropeksi diri. Mengingat kembali, perilaku maksiat apa yang telah dilakukan. Seperti halnya para Salafus sholeh yang selalu menjadikan musibah sekecil apa pun yang terjadi pada dirinya sebagai sarana untuk instropeksi diri.

Mari kita lihat bagaimana Ustman An-Nasaiburi ketika suatu saat dalam perjalanan ke Mesjid untuk melaksanakan Sholat Jum’at. Di perjalanan sandalnya putus. Ia mengatakan bahwa, “ini semua terjadi karena aku tidak mandi untuk sholat jum’at.”

Demikian juga halnya dengan Fudhail bin ‘Iyadh. Ia selalu menjadikan perubahan perilaku binatang tunggangan dan pembantu-pembantunya sebagai alarm (peringatan) bahwa ia telah melakukan kemaksiatan. Fudhail bin ‘Iyadh berkata bahwa, “sesungguhnya jika aku berbuat maksiat maka aku akan melihat perubahan pada perilaku binatang tungganganku dan para pembantuku.”

Nah, bagaimana dengan kita? Apakah mata masih berat untuk bangun di malam hari untuk menunaikan sholat tahajud? Apakah masih senang melalaikan dan menunda-nunda sholat wajib? Apakah masih terasa berat menjalankan puasa sunnah di siang hari. Jika jawabannya masih ‘iya’ boleh jadi diri kita masih bergelimang dengan kemaksiatan. Sehingga kemaksiatan itu menghalangi kita untuk melakukan amal kebaikan.

Bersegeralah untuk memaksa diri meninggalkannya sedikit demi sedikit. Ingat, betapa banyaknya dampak negatif yang akan menghiasi kehidupan kita. Dan betapa sakitnya hati kita jika setiap hari ditutupi oleh kabut dosa. Meninggalkan maksiat adalah salah satu cara terbaik untuk menyembuhkannya.

Oleh: Neti Suriana
Referensi:
Al-Jauzi, I. Q. 2005. Terapi Penyakit Hati. Qisthi Press. Jakarta
Husna, A. 2012. Ketika Merasa Allah Tidak Adil. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan