Sabtu, 07 Juni 2014

Sukuk

Keberadaan ekonomi syariah di Indonesia menimbulkan berbagai bentuk perubahan baru di segala sektor perekonomian. Akan tetapi, yang menjadi fokus utama ekonomi syariah adalah sektor riil. Karena sektor riil menjamin bentuk investasi dan bentuknya dapat secara nyata dinikmati oleh banyak pihak. Sektor moneter juga penting. Namun, saat ini Indonesia lebih tepat jika dikembangkan lebih kepada sektor riil, bukan hanya sektor moneter semata. Selain aliran investasi ditanamkan dengan pasti di Indonesia, kita juga memperoleh rasa aman apabila investor dalam suatu waktu ingin menarik dana investasinya dalam jumlah yang besar. Jika hanya sektor moneter saja, terdapat kekhawatiran akan jatuhnya perekonomian negara jika investor menarik dananya.

Ekonomi syariah memberikan bentuk baru di dalam pasar modal di dunia. Pasar modal menyerupai saham, dan obligasi (surat hutang). Bentuk awal dari saham dan obligasi syariah menyerupai konvensional. Namun, di dalam pengelolaan dan tujuan baik dari perusahaan yang membutuhkan modal dan investor haruslah sesuai dengan ketentuan syariah. Sehingga bentuk investasi di sektor yang terindikasi adanya riba, gharar, maysir (judi), dll harus dihapuskan.

Sukuk merupakan istilah bagi obligasi syariah. Obligasi syariah atau sukuk merupakan surat hutang yang keluarkan oleh perusahaan atau pemerintah (emiten) untuk menyerap dana dari investor dan mengelolanya tanpa melanggar ketentuan syariah. Keuntungan pemegang sukuk adalah bagi hasil/ margin/ fee yang dibayarkan ketika telah jatuh tempo. Tidak seperti riba, dan sukuk termasuk kepada surat berharga jangka panjang.

Sukuk juga dikenal dengan berbagai jenis yang secara internasional dan telah mendapatkan endorsement dari Accounting and Auditing Organisation for Islamic Financial Institution (AAOIFI) dan diadopsi dalam UU No. 19 Tahun 2008 tentang SBSN, antara lain:

a. Sukuk Mudharabah. Yaitu sukuk yang berdasarkan akad mudharabah di mana satu pihak yang menyediakan modal dan pihak lain sebagai pekerja yang memiliki keahlian. Keuntungan dari kerja sama ini berdasarkan nisbah (persentase) bagi hasil yang telah ditetapkan bersama dan apabila mengalami kerugian maka pemilik modallah yang menanggung sepenuhnya. Sedangkan pekerja rugi waktu dan manajemen pengelolaan.

b. Sukuk Musyarakah. Yaitu sukuk yang diterbitkan berdasarkan akad musyarakah. Di mana kedua belah pihak bekerja sama menggabungkan modal untuk membangun proyek baru, atau mengembangkan proyek yang sudah ada, atau membiayai suatu usaha. Keuntungan maupun kerugian ditanggung bersama sesuai dengan jumlah ketersediaan modal dari masing-masing pihak.

c. Sukuk Ijarah. Yaitu sukuk yang diterbitkan berdasarkan perjanjian atau akad Ijarah di mana satu pihak bertindak sendiri atau melalui wakilnya menjual atau menyewakan hak manfaat atas suatu aset kepada pihak lain berdasarkan harga dan periode yang disepakati, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan aset itu sendiri. Sukuk Ijarah dibedakan menjadi Ijarah Al Muntahiya Bittamlik (Sale and Lease Bank) dan Ijarah Headlease and Sublease.

d. Sukuk Istisna. Sukuk ini diterbitkan berdasarkan akad istisna di mana para pihak menyepakati jual beli dalam rangka pembiayaan suatu proyek/ barang. Adapun harga, waktu penyerahan, dan spesifikasi proyek/ barang ditentukan terlebih dahulu berdasarkan kesepakatan.

Selain itu ada juga Sukuk Mudharabah Konversi, yaitu sukuk syariah yang diterbitkan oleh emiten berdasar prinsip mudharabah dalam rangka menambah kebutuhan modal kerja, dengan opsi investor mengkonversi obligasi menjadi saham emiten pada saat jatuh tempo (maturity).

Oleh : Ahmad Azhari Pohan

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan