Sabtu, 07 Juni 2014

Surat al-Kahfi: Surat Untuk Mengoreksi Diri - 1

Di dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW. Bertutur, “Siapa yang membaca surat al-kahfi pada hari jumat, akan menyinarinya cahaya antara dua jumat.” Apa makna kandungan hadis ini? Mengapa umat Islam disunnahkan untuk membaca surat al-Kahfi setiap hari Jumat? Apa keistimewaan surat al-Kahfi hingga menempati posisi teratas untuk dibaca di hari jumat?

Adalah sebagai seorang muslim, kita boleh memikirkan apa yang dianjurkan untuk dilakukan, namun bukan untuk merusak eksistensi atau keberadaan ibadah tersebut. Memikirkan masalah seperti ini penting agar melahirkan perenungan atau pentadabburan yang sangat bijaksana. Sehingga, ketika membaca surat al-Kahfi, kita tidak hanya memikirkan keistimewaannya, tapi juga mampu menangkap pesan yang tersimpan di dalam surat tersebut.

Di antara kitab tafsir yang cukup luas mengupas pertanyaan tersebut adalah, tafsir Fi Zilal al-Qur’an yang ditulis oleh Sayyid Quthb. Ia mengatakan, bahwa tema sentral yang dapat ditangkap dalam surat al-Kahfi ada 3 hal. Ketiga hal tersebut menjadi penilaian penting, karena isinya mengungkapkan tentang koreksi diri.

Pertama, koreksi Akidah. Jika dibaca surat al-Kahfi dengan komplit, ia diawali dan diakhiri dengan menyoroti persoalan akidah. Karena bedanya Islam dengan agama yang lain, salah satu persoalannya terletak pada konsep akidahnya. Dengan diawalinya surat al-Kahfi dengan pujian terhadap diri Allah SWT., secara nyata untuk mengingatkan umat Islam layaknya meyakini bahwa hanya Allah yang memberi rezeki. Dari rezeki memiliki akidah yang diakui Allah SWT. hingga rezeki bisa menghirup udara.

Jika ditelusuri, sejarah penamaan al-Kahfi tak luput dari kisah ada beberapa orang pemuda yang mempertahankan akidahnya dari tuntutan menserikatkan Allah. Mereka tidak ingin dipaksa oleh penguasanya Dikyanus untuk mengakui dirinya sebagai Tuhan. Akhirnya, mereka pun lari ke gua. Hingga Allah menidurkan mereka selama 309 tahun di dalamnya.

Bila dirujuk pada awal surah Allah SWT berfirman, “segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al kitab (Al-Quran) dan Dia tidak Mengadakan kebengkokan di dalamnya.” Artinya, Allah mengingatkan bahwa di dalam al-Qur’an tidak ada yang berlawanan dan tidak ada juga penyimpangan dari kebenaran. Malah, pada ayat selanjutnya, Allah juga mengingatkan akan siksa yang sangat pedih serta pesan bijak, siapa yang mengerjakan kebajikan akan mendapat balasan yang baik. Jika diperhatikan, bukankah Allah mengingatkan umat Muhammad SAW. tentang ketauhidan: hanya Allah yang harus disembah dan hanya kepada-Nya tujuan beribadah?

Membincang masalah tauhid, saat ini kita memang layak untuk selalu memperbaharui ‘merenovasi’ nilai-nilai akidah kita. Caranya, dengan selalu mengakui bahwa Allah Tuhan Yang Maha Esa. Hanya Allah Tuhan yang layak disembah. Dan Allah jugalah yang menjamin hidup di dunia ini. Dalam kehidupan kita sehari-hari sudah cukup banyak fenomena yang mulai melenceng dari akidah yang murni. Banyak orang menjadi pekerjaan yang menjamin rezekinya. Ia lupa bahwa yang memberi rezeki adalah Allah. Pekerjaan adalah usaha untuk mendapatkan rezeki. Seharusnya, habis bekerja segera berdoa kepada Allah agar dimudahkan rezeki. Bukan menghitung-hitung tanggal kapan menerima gaji.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc
Penulis adalah Anggota Komisi Informasi, Komunikasi dan Hubungan Luar Negeri MUI Kota Medan

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan