Sabtu, 07 Juni 2014

Surat al-Kahfi: Surat Untuk Mengoreksi Diri - Habis

Kedua, Allah menginginkan umat Muhammad untuk selalu mengoreksi metode berfikirnya. Artinya, sesudah memiliki akidah yang lurus, dituntut oleh Allah untuk harus berfikir yang benar. Segala sesuatu yang dikatakan dan dilakukan harus dengan landasan yang jelas dan benar. Bukan berdasarkan anggapan-anggapan yang tidak berdasar, apalagi sekedar ikut-ikutan. Hal ini tertuang dalam surat al-Kahfi ayat 27. Allah SWT berfirman, “Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, Yaitu kitab Tuhanmu (Al Quran). tidak ada (seorangpun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain dari padanya.”

Artinya, Jadikan rujukan dalam beribadah selalu bersandarkan kepada al-Qur’an dan Sunnah. Jika tidak dapat memahaminya, segeralah bertanya kepada orang yang lebih mengetahuinya, yaitu para ulama. Karena Allah SWT. mengatakan, “Tanya kamulah para ahli zikir (ulama) jika kamu tidak mengetahui.”

Cukup banyak umat Islam melakukan ibadah yang, terkadang, mereka tidak mengetahui. Misalnya, ketika membaca firman Allah surat al-Ahzab ayat 56 sebelum azan. Seorang muazzin sebenarnya harus paham, bahwa ayat tersebut bukanlah bagian dari azan. Jika ia yakini bahwa ayat tersebut bagian dari azan, maka ia telah melakukan bid’ah. Dia harus meyakini bahwa yang dibacanya hanyalah ayat qur’an. Karena tidak ada larangan al-qur’an maupun hadis seseorang membaca ayat atau surat dari al-Qur’an sebelum azan. Artinya, jika muazzin membaca ayat atau surah lain sebelum azan, maka kita tidak boleh menyalahkan. Karena tidak ada satu hadis pun yang menyatakan mesti membaca ayat tertentu sebelum azan.

Ketiga, Allah selalu mengingatkan umat Muhammad SAW. untuk selalu mengoreksi norma-norma yang berlaku dalam kehidupan. Karena di dalam kehidupan ini segala sesuatu memiliki tolok ukur kebenaran dan kebaikan. Melalui surat al-Kahfi, Allah SWT. mengingatkan umat Islam agar jangan sampai terjebak pada penilaian dan tolak ukur yang bersifat duniawi. Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya. Dan Sesungguhnya Kami benar-benar akan menjadikan (pula) apa yang di atasnya menjadi tanah rata lagi tandus”. (QS. Al-Kahfi [18]: 7-8))

Artinya, umat Muhammad harus selalu mengingat bahwa dunia itu adalah tempat bercocok tanam, bukan tempat untuk memetik hasil. Oleh karena itu, Allah langsung menunjukkan contohnya melalui surat al-Kahfi dengan mengingatkan nabi Muhammad SAW. dengan tidak boleh terpengaruh dengan orang-orang kafir yang senantiasa mengiming-imingi Rasul dengan hal-hal yang bersifat duniawi.

Hal ini terkait, dengan kemauan para pembesar Quraish yang menyatakan bahwa mereka mau masuk Islam kalau Rasulullah mengusir sahabat-sahabat yang memiliki martabat manusiawi yang rendah, seperti Bilal, Suhaib, Ammar, Khabbab, dan Ibnu Mas’ud atau membuatkan majlis tersendiri untuk mereka. Karena itu, Allah memaktubkan di dalam al-Qur’an, “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. Dan Katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir". Sesungguhnya Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al-kahfi [18]: 28-29)

Oleh karena itu, seorang muslim harus aktif membaca surat al-Kahfi setiap jumat supaya bisa menjadikan surat tersebut sebagai bahan koreksi diri. Jangan sampai terperdaya oleh kehidupan duniawi. Karena umat Muhammad telah dilatih setiap hari dengan shalat lima waktu, setiap pekan dengan shalat jumat, setiap tahun dengan puasa Ramadhan dan sekali seumur hidup dengan ibadah haji. Tujuannya, hanya untuk mengoreksi diri dan memperbaiki akidah.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc
Penulis adalah Anggota Komisi Informasi, Komunikasi dan Hubungan Luar Negeri MUI Kota Medan

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan