Kamis, 12 Juni 2014

Surat An-Nashr: Surat Allah untuk Mukmin yang Sukses

Setiap awal tahun, sebagian orang menjadikannya titik awal menggagas resolusi yang ingin dilaluinya di tahun tersebut. Ada yang bentuknya mempertahankan apa yang sudah diraih, mengembangkannya dan bahkan ada yang ingin terus berusaha meraih sesuatu yang dicita-citakannya, yang belum berhasil di tahun-tahun sebelumnya. Pertanyaannya, adakah di dalam al-Qur’an surat khusus yang membincang ihwal mengapa seorang muslim sulit meraih apa yang dicita-citakannya?

Adalah surat An-Nashr menjadi jawaban untuk pertanyaan di atas. Surat yang, boleh dikatakan, hampir setiap orang muslim sering mendengar dan bahkan menghapalnya. Bila dilihat dari sebab turunnya (asbabunnuzul), surat An-Nashr secara eksplisit tidaklah berbicara ihwal solusi terhadap sulitnya meraih apa yang dicita-citakan. Tapi, bila dikaji dengan metode tafsir isyari, surat An-Nashr sedang membicarakan ihwal apa yang menyebabkan seseorang susah meraih apa yang dicita-citanya serta solusinya.

Penulis berani menilai demikian, karena mengamini apa yang dikatakan Ibnu Atha’illa as-Sakandari di dalam kitab al-Hikamnya. Yaitu, ada tiga cara menggapai kekhusu’an saat membaca al-Qur’an. Salah satunya adalah, bacalah al-Qur’an seakan-akan kamu mendengarkannya langsung dari Allah SWT. Artinya, cobalah pahami surat al-Ashar seakan-seakan kita sedang mendengarkannya langsung dari Allah SWT. Bayangkan seolah-olah Dia sedang mengingatkan kita.

Tafsir Isyari Surat An-Nashr

Allah Swt. berfirman, “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan” (QS. An-Nashr: 1). Ayat ini, sejatinya, sedang mengingatkan orang-orang yang beriman, bahwa yang memberikan kemenangan atau kesuksesan hanyalah Allah Swt. Tanpa pertolongan-Nya tak akan ada seorang pun yang berhasil. Hanya Dia yang membuat manusia bisa berhasil dan sukses.

Sungguh, ayat pertama ini berbicara tentang ketauhidan, bahwa Allah adalah Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Esa. Karena sesuai dengan hakikat Tuhan yang kerap dimafhumi bahwa Dia tidak butuh kepada sesuatu apa pun tapi sesuatulah yang membutuhkan-Nya. Artinya, manusia yang membutuhkan Allah untuk meraih kesuksesannya, bukan Allah yang butuh kepada kesuksesan manusia. Hanya Allah yang bisa membuat seseorang menjadi sukses atau menang, bukan usaha mutlak manusia. Makanya, redaksi ayat ini didahului kata “pertolongan Allah” daripada kata “kemenangan”.

Penafsiran ayat pertama ini yang konsentrasinya membahas tentang ketauhidan selaras dengan apa yang ditafsirkan oleh para ulama di dalam kitab-kitab tafsir. Salah satunya adalah penafsiran Imam al-Qurthuby di dalam kitabnya Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an. Maksud dari ayat tersebut adalah, pertolongan Allah untuk Nabi SAW. terhadap semua orang kafir yang memeranginya, hingga pada akhirnya kemenangan berada di pihak Nabi Saw.

Demikian halnya dengan siapa saja yang ingin meraih kesuksesan. Ia tak akan bisa sukses meraih impiannya tanpa pertolongan Allah. Karena itu, jemputlah pertolongan-Nya dengan menggunakan cara-cara yang sudah dijelaskan-Nya. Jangan pernah melupakan-Nya, karena akan sulit meraih kesuksesan. Sekiranya pun tercapai akan dibayang-bayangi oleh istidraj.

Adalah sunnatullah dalam meraih kesuksesan, bahwa setiap usaha yang dilakukan, biasanya, diawali dengan kesulitan. Bila sudah datang pertolongan Allah SWT., baru kemudahan dan kemenangan itu hadir. Makanya, ayat pertama ini diawali dengan kata “idza”. Dalam kajian linguistik bahasa Arab, kata “idza” adalah khitab (arah pembicaraan) yang menunjukkan kepastian. Ayat ini jelas menunjukkan kepastian datangnya pertolongan Allah SWT dan manusia akan meraih kemenangan atau kesuksesan, jika ia memenuhi syarat yang dianjurkan-Nya.

Muhammad Abduh menuliskan di dalam tafsir Juz ‘Ammanya, bahwa Nabi SAW. dan para sahabatnya merasa pesimis dan mengalami kegoyahan pikiran karena terlalu besarnya rintangan yang mereka hadapi dalam menyampaikan dakwah Islam. Sudah pasti pesimisme kegoyahan tersebut membawa keterlambatan pertolongan Allah terhadap kebenaran yang dibawa oleh Rasulullah SAW. Seolah-olah “terselip” kelalaian terhadap janji Allah yang menguatkan agama-Nya, makanya di dalam surat an-Nashr tercantum anjuran Rasulullah untuk beristighfar dan memuji Allah Swt. “maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan memohon ampun kepada-Nya. Sungguh, dia adalah penerima taubat.” (QS. An-Nashr: 3)

Bila dihubungkan dengan kesuksesan yang ingin diraih, ayat ini memang layak untuk dibaca selalu. Karena ia mengingatkan mekanisme untuk meraih kesuksesan dalam versi agama Islam. Tak ada makhluk yang diciptakan Allah dalam kondisi kegagalan. Hanya saja makhluk yang selalu lalai mengingat Allah sehingga lambat untuk mendapatkan pertolongan-Nya untuk meraih kesuksesan.

Karena itu, mari jemput kesuksesan tersebut dengan memperbanyak bertasbih dan beristighfar. Karena pesimisme kita bisa meraih kesuksesan yang dicita-citakan tanpa disadari telah membuat kita seakan meragukan ke-Mahakuasaan Allah. Padahal, tak ada satu pun yang terjadi di dunia tanpa izin-Nya. Bila Dia sudah menetapkan, maka tak ada satu makhluk pun yang dapat menghalangi.

Bahkan bentuk dari kesuksesan yang diraih pun diajarkan oleh Allah SWT lewat surat ini. Yaitu, firman Allah SWT, “Dan engkau melihat manusia berbondong-bondong masuk agama Allah.” Ayat ini arah pembicaraannya (khitab) tentang keberhasilan dakwah Rasulullah SAW. Di dalam tafsir Ath-Thabari dimaktubkan bukti nyata ramai orang memeluk agama Islam saat itu adalah, dengan berdatangan masyarakat Yaman ke kota Mekah, sekitar tujuh ratus orang, yang langsung menyatakan dirinya beriman dan taat kepada Allah SWT.

Sungguh, ayat ini juga mengajarkan, ketika kesuksesan sudah diraih seseorang maka akan berbondong-bondong orang mendatanginya. Tapi semua itu berhasil berkat kesadaran diri lewat mendekatkan diri kepada Allah. Yaitu, degan selalu memuji-Nya dan memohon ampunan-Nya. Ingatlah selalu, tak ada kesuksesan yang diraih tanpa pertolongan-Nya.

Meski demikian, kesuksesan tetap berada pada dua aturan. Yaitu, berusaha dengan semaksimal mungkin dan diiringi dengan terus memohon ampun kepada Allah atas dosa-dosa yang pernah dilakukan atau keraguan terhadap-Nya yang pernah terlintas di hati. Sehingga ketika kesuksesan berhasil diraih tak pernah lupa bahwa semuanya adalah karunia Allah. Maka tasbih pun akan terlantun dari lisan persis seperti apa yang dimaktubkan di dalam surat An-Nashr. Inilah indahnya meraih kesuksesan dalam bingkai iman kepada Allah SWT.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan