Sabtu, 07 Juni 2014

Syukur dan Kunci Hidup Bahagia - 1

Andai di sebuah rumah terdapat sebuah lemari penuh dengan makanan lezat tapi terkunci rapat, manakah yang bakal dahulu dipikirkan? Isi lemari atau kunci lemari? Jika berpikiran normal, yang pasti dipikirkan adalah kunci lemari. Mati-matian memikirkan isi lemari hingga ‘ngences’ sekalipun, tak akan terbuka pintu lemari dan tak akan bisa menikmati makanan lezat tersebut.

Sejatinya, kehidupan kita tak jauh beda dengan cerita lemari dan isinya. Di dunia ini Allah telah sediakan beragam fasilitas. Tak ada yang kurang dari kehidupan yang kita jalani. Hanya saja terkadang kita lupa mencari kunci kehidupan ini agar fasilitas demi fasilitas yang disediakan Allah menjadi terasa nikmat.

Masihkah bertanya kuncinya apa? Jawabannya adalah syukur. Ya, s-y-u-k-u-r. Gampang dan mudah didapat kuncinya, hanya kita saja yang terkadang lupa menggunakan kunci tersebut. Sehingga merasa hidup ini seperti menonton kebahagiaan orang lain. Hanya bisa ‘ngences’ melihat apa yang dimiliki orang lain, tanpa pernah berusaha dan berpikir bagaimana agar yang dimiliki juga bisa membuat diri bahagia.

Masih belum yakin kalau syukur adalah kuncinya. Baik. Syukur adalah menerima apa pun yang diberikan Allah kepada kita. Itu pemahaman yang paling gampangnya. Mudah, bukan? Namun nyatanya, terkadang kita masih was-was, masih gelisah, bingung, pening dan sebagainya. Syukur itu pengundang rezeki. Anda ingin memiliki sesuatu yang lebih dari yang dimiliki saat ini, perbanyaklah bersyukur.

Anda memang nggak perlu mempercayai apa yang saya tuliskan ini, tapi saya sangat memohon Anda mempercayai firman Allah SWT. yang termaktub di dalam surat Ibrahim ayat 7, “Dan ingatlah tatkala Tuhanmu memaklumkan sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambahkan nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Oleh karena itu, jika merindukan ingin hidup bahagia dan dapat menikmati hidup dengan baik dan benar, mari kita kuasai empat kunci syukur pengundang nikmat.

Pertama, yakinkan pada diri bahwa semua yang dimiliki adalah milik Allah. Pastinya Anda sudah paham sekali maksudnya, bukan? Tepat, mirip seperti ucapan Aa Gym dalam salah satu ceramahnya. Untuk bisa jadi pribadi syukur kita perlu pinjam pola pikir tukang parkir. Mesti segala kendaraan mewah parkir di halaman parkir yang dijaganya, sama sekali tidak akan membuatnya sombong. Begitupun ketika seluruh kendaraan diambil sampai habis tak akan membuatnya kecewa dan merana.

Tukang parkir sangat sadar bahwa segala yang ada hanya titipan saja, sama sekali bukan miliknya. Demikian seharusnya diri kita. Meski saya tak menganjurkan Anda jadi tukang parkir, tapi pola pikir tukang parkir dalam melihat yang dititipkannya penting untuk diamini.

Kenapa kita terkadang sombong atau nelangsa ketika kehilangan, karena kita merasa memiliki. Padahal, itu bukan milik kita. Bahkan diri kita sendiri pun bukan milik kita. Maka sangat tidak pantas, jika kita tidak bersyukur kepada Allah Swt. Dia percaya menitipkan milik-Nya kepada kita, tapi kita malah tidak amanah.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc
Penulis adalah Pembimbing Ibadah Umroh di PT. Grand Darussalam dan Pengurus  Lembaga Baca Tulis (eLBeTe) Sumut

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan