Minggu, 08 Juni 2014

Tafsir Surat An-Naba’ 17-20: Gambaran Hari Perhitungan di Akhirat (2)

Dari sini, dapat dipahami bahwa arah pembicaraan surat An-Naba’ memang bukan khusus untuk orang-orang musyrik Quraisy saja, tapi juga untuk umat muslim. Karena, baik muslim ataupun musyrik, bakal merasakan adanya kebangkitan setelah mati.

Sehingga tepat sekali komentar Sayyid Quthb di dalam tafsir Fi Zhilal al-Qur’an sebelum menafsirkan surat An-Nabaa’ ayat 17-20. Berikut petikan terjemahnya, Sesungguhnya manusia tidak diciptakan dengan sia-sia dan tidak dibiarkan tanpa pertanggungjawaban. Zat yang telah menentukan kehidupan mereka dan menyerasikan kehidupan mereka dengan alam tempat mereka hidup. Tidak mungkin membiarkan mereka hidup tiada guna dan mati dengan sia-sia, membiarkan mereka berbuat kebaikan atau kerusakan di bumi, lantas mereka pergi ke tanah dengan sia-sia begitu saja.

Tidak mungkin Allah membiarkan mereka mengikuti petunjuk jalan yang lurus dalam kehidupan atau mengikuti jalan yang sesat, lantas semuanya dipertemukan dalam satu tempat kembali. Tidak mungkin mereka berbuat adil dan berbuat zalim, lantas keadilan atau kezaliman tersebut berlalu begitu saja tanpa mendapatkan pembalasan.

Sungguh di sana akan ada suatu hari untuk memberikan ketetapan, membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang adil dan yang zalim, antara yang baik dan yang buruk. Dan di sana juga akan diberi keputusan terhadap segala sesuatu. Itulah hari yang sudah ditentukan dan ditetapkan waktunya oleh Allah Swt.

Benarkah Langit Memiliki Pintu?

Ada sebagian orang yang menolak bahwa langit memiliki pintu. Di dalam tafsir At-Thabari disebutkan bahwa yang dimaksud ayat “Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu” adalah langit terbelah kemudian menjadi retak-retak sehingga menjadi jalanan-jalanan, padahal sebelumnya bangunan yang sangat kokoh dan tidak dapat ditembus dan diretakkan.

Berbeda dengan tafsir al-Qurthuby, ayat tersebut memiliki tiga penafsiran. Pertama, ada yang menafsirkan bahwa begitu langit dibuka, seluruhnya menjadi pintu-pintu. Kedua, ada yang menafsirkan pintu-pintu langit adalah jalan-jalan langit yang tersebar hingga menjadi pintu-pintu di langit. Ketiga, bahwa setiap hamba memiliki dua pintu di langit. Satu pintu untuk amalnya, dan satu pintu untuk rezekinya. Apabila kiamat telah tiba, terbukalah pintu-pintu tersebut.

Bagi penulis, lebih baik mengimani di langit ada pintu, tanpa perlu mengkaji lebih dalam seperti apa prosesnya. Mengimani keberadaannya adalah lebih baik, karena dijelaskan di dalam al-Qur’an bahwa di langit ada pintu. Plus, dikuatkan dengan hadis ketika Rasulullah Saw. Isra’ dan Mi’raj.

“Kemudian kami naik ke langit, lalu Jibril meminta izin untuk dibukakan pintu langit. Lalu ada yang berkata, “siapa kamu?” Jibril menjawab, “Jibril”. Ada yang berkata, “Dan siapa yang bersamamu?” Jibril menjawab, “Muhammad.” Ada yang berkata, “Apakah dia telah diutus?” Jibril menjawab, “Dia telah diutus.” Maka dibukakanlah untuk kami.”

Inti dari ayat-ayat ini adalah, bahwa apa pun yang dilakukan di bumi ini akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah. Makanya, hindarilah diri kita dari perbuatan zhalim. Jangan sampai muka atau bentuk kita seperti yang dijelaskan di dalam hadis Rasulullah Saw . di atas. Semoga bermanfaat.

Oleh: H. Rahmat Hidayat Nasution, Lc

0 komentar :

Posting Komentar

 
Template designed by Liza Burhan